
Kean sudah kembali sehat. Ibu dan Seruni dibawakan banyak oleh - oleh dari Kediri. Ibu sudah mengatakan bahwa tidak perlu banyak membelikan ini itu. Bukannya Bulik Sri yang menjawab, tapi Kean.
"Bawain aja buat Budhe, Uti. Ndak apa - apa. Sesekali. Biar Budhe juga main kesini juga besok."
Bulik Sri pintar sekali, ketika Ibu menolak makanan yang sudah dibelikan untuk dibawa, ia meminta Kean untuk bicara. Jelas saja Ibu tidak pernah bisa menolak dengan apa yang Kean katakan.
Seruni juga menyelipkan amplop untuk Kean. Kean sudah bersikeras menolak tapi Bulik Sri memaksa Kean untuk menerimanya.
"Ndak baik menolak pemberian orang. Lebih lagi kalau Budhe Kia atau Bulik Runi yang berikan." itu yang selalu Bulik Sri katakan pada Kean.
Setelah siap dengan bawaannya, Kean menarik tangan Seruni dan membisikkan sesuatu. Seruni mengelus sekali lagi kepala Kean dan memeluknya.
"Hati - hati ya, Le. Jaga kesehatanmu. Kalau ada waktu, Bulik main kesini lagi nengokin kamu. Kamu butuh apa, telpon aja. Bulik pasti usahakan." kata Seruni sambil meneteskan air matanya.
"Salam buat Budhe Kia, ya Lik. Nanti aku kirimkan foto dan juga hasil aku belajar." ucap Kean.
Seruni menganggukkan kepalanya.
"Belajar yang rajin ya, Le..."
Setelah melambaikan tangan, Ibu dan Seruni akhirnya naik mobil dan Keanpun menatap mobil Buliknya yang semakin lama semakin menjauh.
****
Nicolas diberitahu Ardila rumah Azkia yang sekarang ditinggali. Masih banyak salah paham yang harus ia luruskan dan tidak seharusnya Nicolas egois seperti itu. Nicolas mencari - cari rumah sesuai petunjuk Ardila. Dan akhirnya ia menemukannya.
Rumahnya cukup bagus dan asri. Tetapi, sial sekali. Nicolas datang di waktu yang tidak tepat. Seorang pria berbadan tinggi berdiri menghadap Azkia dan meraih tangannya. Azkia pun tidak terlihat menghindarinya. Ia tersenyum dan sesekali merapikan rambutnya. Pria itu meraih pinggang Azkia dan mengecup dahi Azkia. Tidak lama, pria itu berpamitan dan pulang dengan mobilnya.
__ADS_1
Selang waktu sekitar dua puluh menit, Nicolas datang dan menekan bel yang ada di samping pintu. Azkia membuka pintu dengan wajah yang masih merah merona, berubah dengan tatapan tajam ketika melihat Nicolas datang.
Nicolas duduk di sofa berhadapan dengan Azkia. Azkia melipat tangan dan menyilangkan kakinya. Dalam bahasa isyarat, dia telah menolak kedatangan Nicolas.
"Ada apa kemari?" tanya Azkia dingin.
"Maaf kemarin aku hanya bicara tanpa memikirkan perasaanmu." jawab Nicolas.
"Maksud kamu?"
"Aku hanya fokus pada rasa bersalahku selama ini. Aku lupa dengan keadaanmu yang pada saat itu sedang hamil muda." ucap Nicolas dengan sedikit ragu.
Azkia sontak membelalakan matanya ketika Nicolas menyinggung masalah kehamilannya dulu.
"Sudah lama berlalu. Lupakan semuanya." kata Azkia membuang wajahnya.
"Aku tidak bisa melupakan begitu saja, Azkia. Aku hanya ingin tahu. Mengapa kamu tidak menceritakan padaku?" tanya Nicolas.
"Sungguh dulu aku tidak berpikir sejauh itu. Tolong maafkan aku, Azkia. Aku benar - benar khilaf dan aku tidak memikirkanmu."
"Cukup, Nic. Semua sudah berlalu. Sudah terlalu lama aku menjalani keadaan yang mengerikan itu sendiri. Sekarang, aku tidak punya urusan lagi denganmu. Urusan kita sudah selesai, Nic." kata Azkia tidak ingin lagi Nicolas ikut campur dengan masalah dirinya.
"Baik. Aku tidak akan ikut canpur lagi, Ki. Aku hanya ingin tahu satu hal dan mohon kamu jawab pertanyaanku." tanya Nicolas dengan tatapan tajam pada Azkia.
"Apa?"
"Bagaimana kehamilanmu pada saat itu?"
__ADS_1
Deg! Azkia merasa berdebar ketika Nicolas menanyakannya. Sejak Nicolas tidak mau bertanggung jawab atas dirinya dan kehamilannya pada saat itu, disitulah ia berjanji bahwa apa yang terjadi pada dirinya dan Kean hanyalah sebatas urusan keluarganya saja. Orang lain termasuk Nicolas, Azkia sudah memutus tali antara Nicolas dan Kean.
"Aku tidak melahirkan anak itu." dada Azkia terasa nyeri ketika ia harus mengucapkan ini.
"Benarkah? Apa yang terjadi padamu, Kia? Pada saat kamu hamil? Apakah sesuatu terjadi padamu?" tanya Nicolas berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia membahas kehamilannya.
"Pulang sekarang, Nic. Kamu cuma mau tahu pada akhirnya aku melahirkan anak itu atau tidak. Sekarang sudah ku jawab. Pulang sekarang, Nico!" Azkia kehilangan kesabarannya pada Nicolas. Nicolas tidak bisa menjawab apapun lagi. Ia bangun dari duduknya kemudian pamit pada Azkia.
"Baiklah. Aku pamit. Jaga dirimu baik - baik, Ki." ucap Nicolas ketika berpamitan pada Azkia. Azkia tidak menjawab atau menatap Nicolas sedikitpun. Ia memalingkan wajahnya.
Setelah Nicolas pergi dari rumahnya, pertahanan Azkia hancur. Ia lemas sejadi - jadinya dan terjatuh di lantai.
Azkia menangis, menepuk dadanya yang terasa sesak. Ia tidak ingin hidupnya ada hubungannya lagi dengan Nicolas. Lelaki yang selama ini menyakiti hati dan hidupnya hanya karena belum siap bertanggung jawab.
Kerongkongan Azkia tercekat, ia berusaha mengeluarkan tangisan yang ada didalam hatinya. Seribu kalipun ia menyangkalinya, Nicolas tetaplah ayah dari Kean.
Selama ini, Azkia berusaha seorang diri agar Kean tetap hidup. Menahan perihnya ketika Kean harus memanggilnya "Budhe". Ingin sekali ia memeluk Kean dan membawanya ke Jakarta. Tapi apakah mungkin? Bulik Sri pasti akan sangat sedih dan Paklik Saritopun juga akan menangisi Kean.
Bagaimana bisa Azkia begitu tega pada keluarganya sendiri? Azkia harus kuat sampai akhir. Ini sudah menjadi pilihan hidupnya.
****
Nicolas pulang dengan kehampaan. Tatapan, nada bicara dan sikap Azkia seolah - olah tidak ingin melihatnya lagi. Hati Nicolas hancur dan ia tidak punya harapan lagi pada Azkia. Ia merelakan semuanya dan apapun yang terjadi itu sudah menjadi keputusan Azkia.
Tetapi kenapa hati Nicolas terasa sakit sekali ketika mendengar ucapan Azkia bahwa ia tidak melahirkan anaknya. Apakah mungkin Azkia sekejam itu untuk membunuh makhluk hidup yang ada didalam tubuhnya? Nicolas tidak mau menduga - duga. Karena sampai saat ini ia yakin, bahwa Azkia adalah wanita yang baik. Sikapnya tadi hanyalah pertanda bahwa setiap orang pasti akan merasakan sakit hati. Ya. Nicolas sadar. Ia telah memberikan rasa sakit yang dalam bagi Azkia. Wajar jika Azkia bersikap seperti itu.
Nicolas membuka dompetnya. Menatap foto dirinya dan Azkia pada masa remaja. Azkia memang sudah terlihat cantik sejak masih muda. Dan sekarangpun kecantikannya masih terlihat jelas.
__ADS_1
Nicolas hanya bisa menangis mengingat Azkia. Rasa bersalahnya telah membuat hatinya selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Ingin sekali ia menebus kesalahannya yang lalu. Tapi rasanya sudah terlambat bagi dirinya memperbaiki segalanya.