
"Kemarin Nico ke rumahku lagi." kata Azkia setelah sudah sampai di depan rumah Azkia. Kali ini Kevin turun dari mobil dan mengantar Azkia masuk ke dalam teras.
"Lalu, apa yang dikatakannya?"
"Sepertinya benar. Dia terobsesi padaku. Dia nggak tahu apa yang dia lakukan. Seperti orang bodoh berlari kesana - kemari tanpa tujuan yang jelas." jawab Azkia.
Kevin mengangguk paham dengan apa yang Azkia katakan.
"Kev. Apa kamu bisa selalu sabar menghadapi Nico seperti ini? Kalau aku jadi kamu mungkin aku udah nggak sabar." kata Azkia mengajak Kevin duduk di kursi teras rumah. Setelah duduk dengan nyaman, Kevin menanggapi perkataan Azkia.
"Pria mana yang tidak kesal melihat wanitanya diganggu seperti ini, Azkia?" tanya Kevin dengan tatapan mata yang lembut.
"Aku bisa jadi marah. Tapi untuk apa menunjukkannya dengan emosi? Bagiku mengatasi Nico tidak semudah mengeluarkan kata - kata." ucap Kevin.
"Lalu maksudmu?"
"Aku punya dua pilihan. Kita pindah kantor dari gedung itu dan menyewa kantor baru atau Nico yang dimutasi ke cabang kantor lain dari perusahaan itu."
Azkia terdiam, terlihat berpikir bagaimana seharusnya ia menjawab.
"Bagaimana bisa kamu punya rencana seperti itu?" Azkia merasa khawatir dengan rencana Kevin.
"Karena selama kamu dan Nico satu gedung, Nico akan terus mencari keberadaanmu." jawab Kevin dengan santai.
"Aku nggak yakin. Kalau suatu saat nanti dia tahu kamu yang merencanakan kepindahannya bagaimana?"
"Nggak akan. Karena aku langsung bermain dengan yang punya perusahaan. Akan sangat mudah kalau yang punya perusahaan bicara langsung sama aku." jawab Kevin.
"Aku tidak menghalangi rencanamu. Dan aku setuju. Tapi ingat, kamu harus hati - hati. Namanya manusia tidak akan pernah tahu bagaimana hatinya." kata Azkia mengingatkan.
Kevin mendekati Azkia dan meraih tangannya.
"Aku hanya perlu dukunganmu saja, Azkia. Percayalah. Jika aku tidak melakukan ini, kita tidak akan tahu bahaya apa yang lebih besar kalau Nico tetap berusaha menemuimu." kata Kevin terdengar masuk akal. Azkia memeluk Kevin, tatapan matanya selalu membuat hatinya luluh dengan semua perkataannya. Azkia ragu semua rencana Kevin tidak akan berjalan lancar. Tapi ia percaya bahwa Kevin pasti melakukan yang terbaik.
*****
Karyawan wanita di Web Spider berbisik - bisik di meja kerjanya. Bos mereka memang terlihat tampan karena mempunyai keturunan Inggris. Jadi tidak heran setiap kali Bosnya datang, mereka akan selalu membicarakan ketampanannya. Karyawan laki - laki tidak pernah merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh karyawan wanita. Mereka hanya bergeleng - geleng kepala ketika melihat tingkah mereka yang sudah diliar batas kewajaran.
"Mereka itu kenapa ya. Nggak pernah bisa lihat laki - laki yang ganteng." kata salah seorang karyawan disana.
"Lho, kita juga sama lho. Kalau kedatangan istrinya Bos yang bening, pasti kita bisik - bisik."
"Iya, tapi nggak senorak mereka kan. Pake teriak Aaa Aaa.. duh kayak lagi nonton konser."
Nicolas tidak mempedulikan apa yang mereka gosipkan. Ia sedang fokus membuat desain untuk web kliennya.
"Selamat pagi." salam Kevin kepada pemilik Web Spider yang ternyata pemiliknya adalah kakak kelasnya pada saat di London dulu.
"Lho Lincoln? Mr. Lincoln?" Pemilik Web Spider tidak percaya bahwa ia bertemu dengan adik kelasnya saat di London dulu.
__ADS_1
"Max Smith?" tanya Kevin tidak percaya.
"Saya tidak percaya bertemu dengan kamu disini." ujar Max dengan semangat. Ruangannya terlihat lebih besar dari Kevin, terdapat sofa yang bisa menjadi tempat ternyaman di ruangan ini.
"Saya juga. Apa kabarmu Smith?" tanya Kevin.
"Baik. Bagaiamana? Katanya kamu menjalankan usaha ayahmu di Indonesia. Tapi saya tidak tahu kalau perusahaan kamu berada di sekitar ini juga." kata Max dengan ramah pada Kevin.
"Iya, sudah beberapa bulan belakangan ini saya menjalankan usaha Ayah saya dan peminatnya cukup baik di sini." jawab Kevin.
"Saya terkejut ketika ada yang mau menemui saya. Ketika saya lihat kartu namanya dan itu nama kamu, saya ragu, apakah benar ini Kevin Lincoln yang oada saat itu satu sekolah dengan saya atau tidak." ujar Max dengan semangat.
"Saya juga tidak menyangka kalau saya bertemu dengan kakak kelas saya pada saat di London dulu."
"Jadi, bagaimana, Lincoln, apakah kamu mau berkerja sama dengan perusahaan saya?"
"Tidak masalah. Akan lebih baik jika kita bisa bekerja sama. Saya sebenarnya juga butuh web untuk perusahaan saya sendiri. Tapi saya punya satu masalah." kata Kevin.
"Apa itu?" Max terdengar penasaran dengan apa yang akan Kevin katakan.
"Saya mau desainer web yang berkompeten. Saya tidak mau asal - asalan."
"Sudah pasti itu. Kamu tidak perlu khawatir." kata Max dengan percaya diri. Kevin membuka hapenya yang sejak tadi bergetar. Ia membuka sebentar dan mengecek hapenya. Setelah selesai mengecek hapenya, ia meneruskan pembicaraan dengan Max.
"Kudengar, ada salah satu karyawan disini yang sudah cukup lama tidak bisa mendesain dengan baik. Bahkan terlalu banyak klien yang komplain dengan hasil desainnya."
"Entahlah. Aku hanya mendengar kabar saja. Tapi pastikan websiteku nanti ditangani oleh desainer terbaij dari perusahaanmu ya." kata Kevin tertawa.
"Tenang saja soal itu. Kamu tahu, aku tidak akan mempekerjakan desainer yang tidak berkompeten. Tentu aku akan menyeleksi mereka semua untuk mengerjakan websitemu." ujar Max dengan ramah.
"Baiklah. Aku permisi, Smith, semoga harimu menyenangkan." kata Kevin berpamitan pada Max.
"Aku berterima kasih telah dipercaya olehmu untuk membuat website perusahaanmu." Max menjabat tangan Kevin. Sungguh, kepribadian Max ini sangat menghargai setiap klien yang datang padanya.
"Aku permisi ya, Smith. Oh ya. Telpon aku Kita bisa makan - makan nanti di luar." ujar Kevin.
"Pasti, pasti. Aku akan mencari waktu luang. Terima kasih, Lincoln."
Kemudian Kevin pamit dan berjalan meninggalkan ruangan Max. Hampir saja ia menyebutkan nama Nicolas di depan Max. Kalau tidak, ia akan menjatuhkan pekerjaan seseorang dan Azkia akan marah jika Kevin melakukan hal itu. Sejak sebelum masuk ruangan Max, Azkia sudah mengirim banyak pesan agar Kevin tidak melakukan hal yang gegabah. Biarkan Max memeriksa karyawannya sendiri. Mana yang berkompeten dan mana yang tidak. Itu bukan urusan Kevin. Ia hanya meminta desainer yang handal. Itu saja. Wajar kan jika klien ingin situa websitenya terlihat lebih baik?
Max memanggil manajernya. Berdasarkan dari ucapan Kevin, ia meninjau kembali hasil kerja para desainer. Karena desainer adalah tombak kedua setelah marketing di dalam perusahaannya. Jika klien sudah membayar mahal tetapi websitenya terlihat sederhana, itu akan merugikan perusahaannya.
"Yes, Mr?"
"Buat penilaian dari para designer disini. Berikan mereka score atas hasil kerja mereka. Jangan sampai klien kecewa karena designer mereka tidak berjalan dengan baik. As soon as possible." kata Max dengan tegas pada sekretarisnya. Max kembali duduk di meja kerjanya dan menghadap laptopnya.
Pulang kerja, Azkia dan Kevin mampir di sebuah kedai makanan bersuasana garden. Udaranya sejuk membuat Azkia betah berlama - lama berada disana.
"Maaf ya, Azkia. Aku nggak pertimbangkan itu sebelumnya." kata Kevin merasa menyesal.
__ADS_1
"It's okay. You did it well." ucap Azkia tersenyum.
"Aku janji nggak akan melakukannya lagi. Aku salah, Azkia."
"Sudahlah, Kev. Jangan diperpanjang. Lebih baik kita sekarang kita fokus pada hal - hal yang perlu aja untuk kita. Bagaimana?" tawar Azkia pada Kevin.
"Maksud kamu apa?"
Azkia tersenyum. Entah bagaimana harus menjawabnya.
"Bagaimana ya..."
"Apa, Azkia?" Kevin terlihat mulai penasaran dengan apa yang akan Azkia katakan.
"Kev. Bagaimana kalau mulai sekarang kamu sering main ke rumah? Ehm. Maksudku, ya ngobrol sama Ibuku dan adikku juga." kata Azkia dengan hati - hati. Mata Kevin langsung berbinar dengan bahagia dengan apa yang baru saja Azkia katakan.
"Maksud kamu, aku boleh mengantar kamu sampai masuk ke dalam rumah?" tanya Kevin tidak percaya. Azkia mengangguk. Ia tidak percaya reaksi Kevin akan sebahagia ini.
"Iya, Kev. Kamu bisa mendekatkan diri kamu sama keluarga aku."
Kevin memeluk Azkia dengan erat karena bahagia. Karena terlalu erat, Azkia sampai kesulitan bernafas.
"Kev... Kev...."
"Maaf, maaf." Kevin melepas pelukannya dan Azkia mencoba untuk mengambil udara untuk bernafas.
"Mungkin aku terlalu bahagia. Maaf ya." kata Kevin kemudian memakan kentang gorengnya lagi. Hidangannya sudah dingin karena mereka terlalu banyak bicara.
"Beberapa hari, Ibu nanyain kamu. Nanyain kamu. Katanya kamu nggak pernah ke rumah lagi."
Raut wajah Kevin terlihat bahagia.
"Jangan besar kepala dulu ya. Ibu baru nanyain kamu. Belum mau merestui hubungan kita." kata Azkia memudarkan senyum diwajah Kevin.
"Iya. Aku paham. Kan sudah dari awal aku bilang pelan - pelan." sahut Kevin terdengar kesal.
Azkia kembali tertawa melihat Kevin. Iya, mungkin inilah yang terbaik bagi Azkia maupun Kevin. Agar tidak ada yang sama - sama terluka, mereka hanya akan fokus pada hubungan mereka saja. Sejenak, Nicolas terlupakan. Azkia pun tidak ingin mengingat bahkan membicarakan tentang Nicolas. Ia hanya berharap kedepannya hanya fokus pada Kevin dan Kean saja. Bagi Azkia, semua itu sudah lebih dari kata cukup.
Di telpon, Azkia dan Ardila saling tertawa. Menertawakan pekerjaan dan juga ulah rekan kerja yang terkadang tidak masuk akal.
"Jadi, akhirnya Ibu nanyain Kevin? Wah selamat deh kalau begitu. Sebentar lagi kamu akan mendapat lampu hijau dari Ibu dan akan segera naik ke pelaminan." ujar Ardila bahagia mendengar cerita dari Azkia.
"Masih lama. Tapi kalau memang jadi, kamu jadi bridesmaid aku ya!" kata Azkia sambil tertawa.
"Amin! Aku doakan. Weekend ini aku pengen banget ke rumah kamu. Bisa nggak ya? Kevin ngajak jalan nggak ya nanti?" tanya Ardila.
"Jangan weekend deh. Pulang kerja aja mainnya. Aku tahu kamu pasti mau ngomongin orang kan?" tanya Azkia sembarangan.
"Ya iya dong, sama siapa lagi aku ngomongin orang lain kalau bukan sama kamu?" kata Ardila sambil tertawa, begitupula dengan Azkia.
__ADS_1