
Kevin berjalan menyusuri taman yang luas. Ia mengikuti langkah anak laki - laki berusia sekitar lima sampai enam tahun. Anak laki - laki itu terlihat bahagia, bermain, canda tawa bersama Kevin. Kevin tertawa bahagia bersamanya. Tapi tiba - tiba senyum anak laki - laki itu hilang. Ada bayangan lain di belakang Kevin. Entah siapa itu. Kevin terbangun dari mimpinya.
Azkia menelponnya. Sudah jam setengah tujuh dan Kevin baru bangun.
"Kev, kamu udah dimana? Aku lagi buat sarapan. Makan di rumah ya?"
Kevin masih agak pusing karena bangun tiba - tiba.
"Iya Azkia. Maaf aku baru bangun." jawab Kevin dengan suara kantuknya.
"Oh okay. Aku tunggu kamu ya. Mandi dulu aja." jawab Azkia kemudian menyudahi telponnya.
Kevin kembali mengingat mimpinya. Siapakah anak kecil itu dan siapakah wanita itu? Kevin kembali melihat jam. Ia segera bangun dari tempat tidurnya.
Tidak lama kemudian Kevin sudah datang ke rumah Azkia dengan wajah segarnya.
"Kev, apa kita nggak terlambat? Ini sudah jam delapan kurang." kata Azkia khawatir karena hari ini Kevin cukup terlambat.
"Ya. Nggak apa. Bilang aja kamu habis meeting di luar." jawab Kevin dengan senyum dan mengedipkan matanya sebelah.
Azkia nggak tahu harus berkomentar apa. Mungkin ini sisi lain enaknya jadi pacar bos.
Azkia segera menyiapkan spageti bolognaise buatannya. Ini merupakan hidangan favorit Kevin.
"Kamu terlihat lelah. Ada apa, Kev?" tanya Azkia melihat wajah Kevin yang tidak seperti biasanya.
"Aku nggak apa - apa. Aku cuma memimpikan mimpi yang sama selama beberapa hari ini." jawab Kevin mengusap wajahnya.
"Mimpi yang sama? Mimpi apa?"
"Mimpi ada anak kecil sekitar enam tahun. Dia main sama aku. Tapi aku nggak tahu anak itu siapa. Tapi tiba - tiba aku terbangun ketika ada bayangan wanita datang dari belakangku. Belum sempat melihat wajahnya, aku terbangun."
Azkia menyimak cerita Kevin.
"Mungkinkah kamu pernah bermimpi seperti itu?" tanya Kevin.
"Mungkin kamu gelisah dengan sesuatu, Kev. Dan tanpa sadar kamu memikirkannya." ucap Azkia.
"Aku nggak yakin."
__ADS_1
"Tenanglah, Kev. Kalau memang ada sesuatu pasti nanti ada petunjuk lagi. Sekarang kita fokus saja dulu sama kehidupan kita yang nyata. Sarapan dulu baru berangkat kerja, ya." kata Azkia senyum dan mengelus punggung Kevin.
Kevin kembali tersenyum melihat Azkia. Betapa nyamannya jika sedang bersama Azkia.
****
Jam kantor sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Azkia meminta Kevin agar terlebih dulu naik ke keatas agar tidak terlalu kelihatan jika mereka datang bersama. Tanpa basa - basi, Kevin menurutinya.
Hape Azkia yang bunyi sedari tadi, akhirnya bisa ia angkat. Ardilla. Ada apa dia menelpon? Tumbenan sekali.
"Iya, Di?"
"Kamu dimana, Ki?"
"Aku baru sampai kantor. Kenapa?"
"Ketemu diluar sebentar yuk. Ada yang mau aku omongin sebentar. Aku didepan kantor kamu kok."
"Oke, baiklah." Azkia bingung apa yang ingin dikatakan Ardila. Mengapa mendadak sekali? Apa ada sesuatu yang penting?
Mereka bertemu di kafe sebelah kantor Azkia. Azkia terlihat terburu - buru.
"Iya, Di? Ada apa?"
"Iya. Tadi aku ada meeting diluar." dusta Azkia.
"Aku udah nunggu kamu daritadi. Oke nggak apa - apa. Aku cuma mau tanya, kemarin Nico udah ngomong banyak sama kamu?" tanya Ardila.
"Iya, lumayan. Dia udah minta maaf dan juga menyesal."
"Ada lagi selain itu, Ki?"
"Ada apa, Di? Apa ada sesuatu?" tanya Azkia bingung dengan pertanyaan Ardila yang sudah mulai tanya macam - macam.
"Kemarin aku sempat ngobrol sama Nico. Aku tegur dia kenapa dia hanya fokus sama kesalahan dia aja. Kenapa nggak berusaha nanyain keadaan kamu pada saat itu."
Azkia terdiam. Ia mulai merasa gelisah.
"Harusnya kalau memang sayang kamu, dia harus lebih peka dong. Iya nggak? Nanyain kabar kamu , basa basi apa, atau pura - pura nanya gitu udah makan atau belum. Ini tuh nggak." Ardila kesal sekali dengan tingkah Nicolas.
__ADS_1
"Di.."
"Iya?"
"Kamu dekat banget ya sama Nico? Selama ini maksudku. Karena kamu seperti nggak ada jarak sama dia gitu." tanya Azkia mulai penasaran dengan gaya bicara Ardila.
"Iya selama kamu menghilang, Ki. Kami berdua selalu kontak satu sama lain kalau - kalau nemuin informasi kamu. Karena kita emang bener nyari kamu selama ini dan kita nggak tahu kamu dimana. Yang bikin Nico frustasi itu setelah kalian berantem, kita datangi rumah kamu dan itu kosong banget, Ki." jelas Ardila.
"Apa sebegitunya kalian cari aku, Di?"
"Iya, Nico mulai sadar setelah kamu pergi. Aku juga kebingungan kamu tiba - tiba menghilang. Karena malam sebelumnya kamu itu kan datang ke rumahku dan bilang kalau kamu itu hamil..."
Ardila menghentikan ucapannnya. Ia menyadari wajah Azkia sudah mulai berubah.
"Aku juga waktu itu kalut, Di. Nggak tahu harus berbuat apa. Ayahku marah besar dan nggak bicara sama sekali. Malah aku disuruh sabar terus sama Ibu. Seruni juga nggak berani ngomong apa - apa." kata Azkia.
"Lalu bagaimana kehidupanmu disana, Ki?"
Azkia tersenyum. Entah harus menjawab apa. Ardila meraih tangan Azkia, menggengamnya dan menatap Azkia dengan dalam.
"Ki. Apapu keputusan kamu dimasa lalu, aku yakin itu telah melewati pemikiran yang panjang. Bagaimanapun kamu, kamu tetap sahabat aku, Ki. Bagaimanapun keadaan kamu, sesulit apapun, ayo Ki, kita berjuang sama - sama. Aku nggak pernah ada, Ki, selama ini buat kamu. Kamu susah atau sedih, bahagia atau ketawa, aku sama sekali nggak tahu. Aku mohon, Ki. Let's share. Kita bagi sama - sama. Beban kamu, Ki." kata Ardila dengan serius. Azkia menitikkan air matanya yang sejak tadi ia tahan.
"Sekarang, kamu mau terbuka sama aku, Ki? Apa yang udah terjadi sama kamu? Kalau kamu belum siap nggak apa - apa. Aku nggak akan maksa kamu. Aku tahu itu...." ucapan Ardila terputus ketika Azkia kembali menggengam tangan Ardila hingga cengkramannya menjadi semakin kuat.
"Aku memutuskan melahirkan anak itu, Di..." kata Azkia. Ardila terbelalak kaget tapi belum bisa menjawab perkataan Azkia.
"Tapi aku tidak mengasuhnya. Demi masa depanku karena sekolahku belum selesai. Ayahku berusaha semaksimal mungkin memulihkan aku dari diriku yang dulu kotor. Aku nggak akan lupa itu."
Ardila masih shock dengan apa yang Azkia katakan.
"Kamu serius, Ki?"
"Tolong jangan bilang Nico dulu. Aku masih belum siap..."
"Dimana anak kamu sekarang?"
"Di Kediri, Di..."
"Kediri?"
__ADS_1
"Iya, kemarin dia juga sakit. Dan aku sempat frustasi karena nggak bisa melihat dia."
Ardila terdiam. Entah bagaimana ia harus menanggapinya. Sedihkah? Atau bahagia?