
Nicolas tertegun dengan apa yang Ardila katakan di telpon. Kali ini, Ardila terdengar emosional, tidak seperti biasanya. Nicolas mengira ada pembicaraan lain dengan Azkia selain yang disebutkan Ardila. Jika tidak, tidak akan Ardila bernada emosional seperti itu.
Tapi ada benarnya juga dengan apa yang Ardila katakan. Mungkin dia memang harus berusaha lebih keras lagi jika ia masih mau bersama dengan Azkia.
Tapi kenapa cinta di hatinya tidak membara seperti dulu pada Azkia? Apakah ia ingin mendekati Azkia karena benar - benar masih menyukainya ataukah karena rasa bersalahnya selama ini?
****
Kevin langsung pulang begitu mengantarkan Azkia. Azkia agak lelah hari ini dan ingin segera beristirahat. Kevin mengerti dan ia tidak banyak tanya. Azkia terkadang merasa bersalah dengan Kevin, disamping itu Kevin tidak pernah banyak menuntut Azkia, membuat Azkia cukup nyaman di samping Kevin.
Azkia langsung masuk ke kamarnya, merebahkan diri di kasur. Hari ini terasa panjang ditambah ia sudah mengaku pada Ardila mengenai Kean.
Tok.. tok.. tok..
Seruni membuka pintu kamar Azkia dan mendapati Azkia sedang tiduran di kasurnya.
"Kak.." panggil Seruni mendekati langkahnya dan ikut rebahan disamping Azkia.
"Iya, Run."
Seruni membawa amplop putih dan ia akan memberikan pada Azkia.
"Ini." Seruni menyodorkan amplop putih itu pada Azkia.
"Apa ini?"
"Kemarin, sebelum pulang kesini, Kean nitipin itu sama aku. Katanya itu untuk kakak."
Azkia langsung duduk dan membuka dengan perlahan amplop dari Kean. Ia merasa dirinya telah diisi baterai lagi setelah mendengar Seruni bercerita tentang Kean.
"Itu hasil rapor Kean kemarin. Katanya dia nggak mau menyia - nyiakan uang yang kamu kirimkan ke Kediri. Dia mau memberikan hasil yang terbaik dan agar tiap uang yang kamu kirimkan ke Kediri ada hasilnya." kata Seruni.
Azkia sangat bahagia dengan apa yang dikatakan Seruni. Mendengar cerita tentang Kean selalu membuatnya merasa bangga.
"Selama aku disana, sikap Kean selalu membuatku merinding." ucap Seruni.
"Kenapa?" tanya Azkia penasaran dengan Seruni.
"Mana ada, Kak, jaman sekarang anak yang benar - benar memikirkan pendidikannya apalagi sudah ada gadget. Kean juga benar - benar santun. Nggak sekalipun ia berbicara dengan nada tinggi dan selalu lembut jika bicara."
Azkia tersenyum bahagia mendengar cerita dari Seruni.
"Terkadang aku berandai - andai kalau Kean ke Jakarta dan tinggal disini..."
Seruni langsung menyadari perubahan wajah dari Azkia yang tiba - tiba terasa sedih.
"Maaf, Kak, bukan maksudku..."
__ADS_1
"Aku ngerti, Run..." jawab Azkia.
"Siapa yang nggak senang dengan anak seperti Kean. Berusaha membalas budi dengan tidak mengecewakan aku, santun, pintar, cerdas. Siapa yang nggak suka anak seperti itu. Pastilah semua orang suka." lanjut Azkia.
"Tapi kita sudah memberikannya pada Bulik Sri. Mana mungkin kita tiba - tiba memintanya? Terlebih Kean sudah besar. Bagaimana kalau dia sakit hati padaku dan tidak ingin menemuiku lagi? Aku nggak mau serakah, Run. Seperti ini sudah cukup bagiku." kata Azkia dengan sedih. Ia menitikkan airmatanya dan Azkia segera menghapusnya.
"Iya, Kak. Runi paham."
Seruni tidak bicara banyak. Ia hanya mengelus punggung Azkia dengan sedih sekaligus bangga. Azkia selalu berbesar hati menerima keadaan ini walau terkadang ia menangis semalaman karena merindukan Kean.
****
Kevin baru saja sampai di apartemennya. Ia lelah sekali dan ingin cepat beristirahat. Tetapi ia melihat pemandangan yang tidak biasa ketika dia akan memasuki apartemennya.
"Diana?"
Diana tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Kevin.
"Hai, Kevin!"
"Kamu ngapain disini?" Kevin segera menekan pascode apartemennya tapi ia memastikan dulu bahwa Diana tidak melihat nomor yang ditekan.
Kevin membuka pintu apartemen dan masuk diikuti oleh Diana.
"Sudah malam. Ngapain kamu di tempat orang malam - malam gini?" kata Kevin menaruh jasnya di atas kursi.
"Wow. Kamu rapi juga tinggal disini." komentar Diana.
"Ada apa kami kesini, Diana?" tanya Kevin duduk di sofa. Kemudian Diana ikut duduk di sofa sebelum Kevin mempersilakannya.
"Ya ampun, semenjak aku datang kesini belum sekalipun aku ngobrol sama kamu. Aku cuma mau ngobrol aja kok. Apa kamu cuma mau membicarakan soal pekerjaan sekarang?" tanya Diana dan membuka tutup botol minumannya.
"Iya. Apa yang mau kamu obrolin?" sahut Kevin dengan malas.
"Kamu udah terlihat berbeda sekarang, Kev. Dulu kalau aku datang ke rumahmu kamu selalu menyediakan apa saja yang ada di rumahmu. Sekarang kamu cuma kasih aku air?" kata Diana merasa kecewa.
"Aku cuma punya itu. Lagipula aku tidak tahu kamu datang jadi aku nggak beli apa - apa." jawab Kevin dengan cuek.
"Jadi, bagaimana dengan bawahanmu yang bernama Azkia itu? Apa aja yang kamu sudah tahu tentang keluarganya?" tanya Diana langsung mengalihkan pembicaraannya.
Sesuai dugaan Diana. Kevin langsung melirik dan menatap Diana. Diana tersenyum melihat reaksi Kevin.
"Benar kan dugaanku. Kamu jatuh cinta sama Azkia itu. Aku nggak pernah salah."
Kevin menutup botol minumannya dan meletakkannya di meja.
"Lalu kenapa, Di? Aku nggak boleh suka sama orang?"
__ADS_1
Awalnya, Diana ingin memergoki Kevin dan membuat Kevin salah tingkah dengan tebakannya. Tapi sekarang, reaksi Kevin diluar dugaannya.
"Oh. Nggak apa - apa kalau kamu suka. Nggak ada yang melarang." jawab Diana yang sekarang jadi berbalik dia yang salah tingkah.
"Kamu jangan ganggu - ganggu Azkia ya, Di. Kalau sampai aku tahu kamu ganggu Azkia, habis kamu." kata Kevin memperingati Diana.
"Mengganggu apa maksudmu?" kata Diana mulai kesal Kevin membela wanita itu dihadapanya.
"Sejak di London, aku menyukai gadis manapun, kamu berusaha untuk menjelek - jelekkan gadis itu sampai aku putus hubungan dengannya. Jangan kamu pikir sikapmu itu membuatku nyaman ya, Di. Bisa saja kamu sok baik tapi ternyata tidak."
"Maksudmu sok baik apa?"
"Kamu selalu saja memberitahu keburukan gadis yang aku sukai. Kamu mencari tahu latar belakang gadis itu dan mencaru kelemahannya. Ingat ya, Di. Dengan siapapun aku menjalani hubungan, itu urusanku dengan wanita yang aku pilih. Kamu nggak perlu ikut campur." kata Kevin panjang lebar.
Diana tidak bisa berkata - kata. Ia merasa lemah jika Kevin sudah berbicara seperti itu.
"Aku nggak mencari tahu tentang Azkia." jawab Diana yang ternyata ia telah membuka rahasianya sendiri.
"Aku tidak bilang kamu mencari tahu tentang Azkia." sahut Kevin, kini ia tahu rencana Diana.
Diana terdiam.
"Pulanglah, Di. Aku ingin istirahat."
Kevin menyandarkan badannya di sofa. Hari ini terasa lelah dan bertemu dengan Diana adalah sesuatu yang salah bagi dirinya.
Diana bangkit dari duduknya dan keluar dari apartemen Kevin.
Setelah memasuki mobilnya yang ada di basement, Diana memukul kemudi mobil dengan berteriak.
"Ah!! Keviiin! Selalu selalu dan selalu aja! Kenapa sih dia nggak pernah bisa menyukaiku sedikit saja!"
Diana menyalakan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gasnya.
****
Nicolas mencoba mengikuti saran dari Ardila. Ia akan mulai pelan - pelan untuk menghubungi Azkia. Ia tidak menelponnya atau mendatangi rumah Azkia seperti kemarin. Nicolas mencoba berpikir tenang, tidak terburu - buru dan memulainya dengan perlahan.
Hai, Ki. Bagaimana kabarmu?|
Nicolas mencoba mengetik pesan singkat tetapi ia hapus lagi pesan itu.
Sedang apa, Ki?|
Beberapa kali ia mencoba untuk membuka percakapan dengan Azkia. Ia selalu merasa gugup.
Sudah tidur?|
__ADS_1
Nicolas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa kesal dengan diri sendiri yang tidak bisa bersikap seperti laki - laki pada umumnya.
Ia melempar hapenya ke kasur dan tidak sengaja layar hapenya tertekan "kirim" pesan itu kepada Azkia.