
Nicolas bekerja sebagai staff karyawan biasa. Kehidupannya termasuk standarisasi seperti pada umumnya. Walau bekerja sebagai staff design, Nicolas tergolong karyawan yang biasa dan selama bertahun - tahun, hasil karyanya tidak secemerlang dulu. Pada awal bekerja, Nicolas menumpahkan banyak ide yang tidak terbatas sampai banyak yang memuji hasil karyanya. Tapi sekarang, desain yang Nicolas hasilkan cenderung monoton dan tidak berwarna.
"Kenapa, Nic? Lagi nggak ada ide?" tanya rekan kerjanya yang memperhatikan Nicolas sejak tadi hanya mengotak - atik mouse dan keyboardnya. Nicolas menghelas napas dengan mata yang sedikit mengantuk.
"Iya. Aku jadi ngantuk kalau nggak ada ide begini."
"Yasudah, ke tangga dulu aja sebatang, nanti balik lagi biar ada ide."
"Yasudah. Sebentar ya nanti aku balik lagi." kata Nicolas beranjak dari duduknya. Di tangga darurat, biasanya suka ada beberapa karyawan yang mengambil istirahat sejenak untuk sekedar merokok atau mengobrol. Walaupun terkadang sudah dilarang oleh pihak gedung, tapi masih saja ada beberapa karyawan yang mengambil kesempatan.
"Ikutan merokok, Mas." kata salah satu karyawan lain.
"Iya, silakan, Mas." jawab Nicolas tersenyum.
Setelah menyalakan sebatang rokok, Nicolas mulai mengisapnya.
"Dari perusahaan mana, Mas? Saya nggak pernah lihat di lantai ini." tanya Nicolas pada pria itu.
"Saya dari perusahaan iklan Go!Iklan, Mas. Saya cari klien - klien via telpon." jawab pria itu yang juga mengisap rokoknya.
"Ohh iya, Go!Iklan. Perusahaan lantai ini juga ya." sahut Nicolas paham.
"Iya. Mas. Mas sendiri?" tanya pria itu.
"Saya dari Web Spider, Mas. Kita ngedesain web milik orang gitu." jawab Nicolas menerangkan.
"Oh, berarti Mas nya sudah bikin banyak web orang gitu ya, Mas." ucap pria itu menanggapi.
"Iya, Mas. Tapi saya lagi kehabisan ide, Mas. Sudah beberapa hari ini."
"Kenapa, Mas?"
"Iya. Ada sesuatu yang mengganjal hati saya, jadi pikiran saya lagi buntu."
"Oh, biasa itu, Mas. Nanti juga dapat ide lagi. Biasanya habis merokok juga ada ide lagi, Mas." kata pria itu memberi support untuk Nicolas.
"Iya, Mas, mudah - mudahan, kalau hati saya membaik biasanya otak saya jalan lagi." jawab Nicolas tertawa kecil.
"Memang kalau Web Spider itu punyanya orang mana, Mas? Kalo Go!Iklan punyanya orang Sumatra sana saya denger - denger." pria itu mencoba memancing pembicaraan dengan Nicolas lebih dalam lagi.
"Wah nggak tahu deh saya, Mas. Yang saya tahu dia suka ngomong pakai bahasa Inggris gitu. Tapi nggak tahu juga. Memang kenapa, Mas?" Nicolas semakin menyambut baik dengan obrolan pria yang baru ia temui.
"Siapa tahu, Mas, kalau saya tawari iklan, saya bisa dapet komisi gede gitu. Namanya juga usaha, Mas. Ya kan?" jawab pria itu dengan tawa yang renyah.
"Betul juga, Mas. Wah, Mas, saya masuk dulu ya. Nggak enak lama - lama ninggalin kantor." kata Nicolas.
"Iya, Mas, nggak apa - apa. Saya sebentar lagi baliknya." sahut pria itu.
"Oke. Saya duluan, Mas." Nicolas kemudian meninggalkan pria itu di tangga darurat sendiri. Setelah menyemprotkan sedikit parfum agar tidak terlalu bau nikotin, Nicolas kembali bekerja dalam suasana hati yang cukup baik.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, pria itu meninggalkan tangga darurat dan berjalan menuju lift.
"Bagaimana?" tanya Kevin pada pria suruhannya.
"Dia bicara banyak, Pak. Saya akan membuat proposal seolah - olah saya menawarkan pemasangan iklan digital kemudian saya bisa masuk ke perusahaannya." jawab pria itu.
"Good. Bersikaplah senatural mungkin. Usahakan jangan sampai ketahuan."
"Baik, Pak." pria itu mengangguk dan meninggalkan ruangan Kevin.
Azkia hendak menuju ruangan Kevin, tapi pintu dibuka seseorang dari dalam membuat Azkia sedikit terkejut. Pria itu tersenyum saat berpapasan dengan Azkia.
Azkia memasuki ruangan Kevin dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
"Siapa itu, Kev? Aku nggak pernah lihat." tanya Azkia bingung. Kevin langsung tersenyum melihat Azkia datang dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat menjadi natural.
"Cuma suruhanku untuk mengerjakan beberapa proyek. Dokumen apa itu?" tanya Kevin melihat kertas yang dibawa Azkia.
"Ini sales order dari marketing lain. Tolong tanda tangani, Kev." kata Azkia menyerahkan tumpukan kertas sales order.
"Wah, sekarang gampang sekali ya kamu minta tanda tanganku. Tidak pakai bahasa formal sedikitpun." kata Kevin sembari duduk di kursi kerjanya.
"Harus bagaimana lagi. Kan nggak ada karyawan lain disini." jawab Azkia tertawa kecil duduk di kursi meja depan Kevin.
"Iya, aku juga cuma bercanda." Kevin tertawa sambil menandatangani sales order.
"Kamu lihat Nico itu masih mengawasi kamu?" tanya Kevin. Azkia yang baru saja menyadarinya, langsung melihat ke kana dan ke kiri, takutnya ada bayangan Nicolas di sekitar mobil Kevin.
"Aku nggak tahu, kamu lihat dimana?" tanya Azkia.
"Dia selalu berada di lobby. Hari ini nggak usah pulang dulu yuk." kata Kevin.
"Mau kemana?" Azkia penasaran.
"Aku yakin, Nico pasti berada disekitar rumahmu setelah ini. Kita buat dia lelah sedikit. Kamu ke rumahku saja dulu. Kita beli bahan untuk bikin spageti ya." Kevin terdengar bahagia sekali hari ini. Tidak ada alasan untuk menolak Kevin yang terlihat senang hari ini.
"Yuk. Sekalian kita beli ayam goreng ya."
Kevin tertawa bahagia. Azkia selalu menyempurnakan hatinya yang sedang merasa senang. Kevin akan menuruti apapun yang akan Azkia beli nanti. Karena dibalik itu semua, sebentar lagi rencana Kevin untuk menyingkirkan Nicolas dari gedung perkantoran itu, selesai sudah.
****
Azkia meletakkan kantung belanjaan di atas meja dapur. Bahan makanan yang dibeli hanya cukup untuk berdua dan ia akan membuatkan sedikit stok makanan untuk Kevin. Kevin membantunya memasak mulai dari merebus spageti dan juga mengupas bawang. Karena Kevin tidak terlalu ahli dalam mengupas bawang, ia menyerahkannya pada Azkia, Azkia tertawa kecil karena Kevin tidak mahir menggunakan pisau.
"Duduklah, aku akan membuatkannya untukmu." pinta Azkia. Kevin hanya bisa menurutinya saja, karena memang benar, jika urusan dapur, Kevin menyerah sama sekali.
Setelah duduk di meja dekat dapur, Kevin mulai memperhatikan Azkia yang sedang memasak.
"Azkia."
__ADS_1
"Iya."
"Kamu tahu tidak? Aku jauh - jauh dari London kesini untuk bekerja. Tapi entah kenapa aku malah jatuh cinta dengan kamu." kata Kevin menopang dagunga dengan kedua tangannya.
"Lalu bagaimana? Apa nanti orang tuamu marah padaku?"
Kevin tertawa kecil mendengar tanggapan dari Azkia.
"Mana mungkin marah kalau aku bertemu wanita baik dan cerdas sepertimu." jawab Kevin membuat Azkia tersenyum kecil.
"Tapi aku serius. Aku tidak pernah menanyakan tentang orangtuamu. Sebenarnya aku juga ingin tahu, tapi aku takut itu adalah privasimu. Jadi aku menunggu kamu cerita saja." kata Azkia sambil menumis daging giling dan menaburkan beberapa bumbu seperti lada dan garam.
"Ibuku orang Indonesia. Ayahku orang London. Aku memang menetap lama di London, tapi terkadang Ibuku mengajakku berbicara dengan bahasa Indonesia." kata Kevin.
"Lalu, dimana Ibu dan Ayahmu sekarang?"
"Mereka di London. Aku juga punya adik seusia Seruni, adikmu. Tapi dia perempuan dan suka membuat masalah. Aku selalu marah ketika adikku membuat masalah. Akhirnya aku diminta ke Indonesia untuk mengurus perusahaan disini yang awalnya dijalani Ayahku. Kemudian Ibuku akan fokus pada adikku itu." cerita Kevin.
"Apakah Ibumu sama sekali tidak marah kalau kamu berpacaran denganku?" tanya Azkia masih khawatir.
"Mana mungkin. Awalnya Ibuku kesal karena Diana terus ke rumahku. Sampai menginap. Kata Ibuku daripada Diana bersikap seperti itu terus, lebih baik aku menikahinya. Ya bagiku mana mungkin aku menikahi Diana karena aku tahu sifatnya suka menjatuhkan orang lain dan membuat masalah juga." lanjut Kevin membuat Azkia mengerti sedikit kehidupan Kevin.
"Apa Diana memang suka seperti itu?"
"Iya. Dia memang menyukaiku. Tapi jujur saja, caranya menyukaiku tidak terlihat sportif dimataku. Dia selalu saja menjelekkan wanita lain dengan mencari tahu masa lalunya. Maka dari itu, aku memintamu agar tidak terpengaruh dengan apa yang Diana katakan. Seburuk apapun itu, aku akan tetap percaya padamu." kata Kevin menatao Azkia, membuatnya sedikit salah tingkah.
"Aku juga tidak tahu kalau selama ini kamu bisa sekuat itu menghadapi aku dengan Nico. Aku pikir kamu akan segera meninggalkanku setelah aku menceritakan tentang masa laluku." Azkia mulai memasukkan spageti dengan bumbu bolognaise dicampur dengan daging giling.
"Aku sudah bilang kan, setiap orang mempunyai masa lalu? Aku menganggap dia itu hanyalah masa lalumu yang belum tuntas. Jadi unntukku, buat apa aku meninggalkanmu hanya karena masa lalumu? Bagiku yang terpenting kamu bisa move on dari masa lalumu, itu sudah sangat berarti untukku." ucap Kevin mencium aroma sedap dari masakan Azkia.
"Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih padamu atas kesabaranmu selama ini padaku." Azkia tersenyum, sesekali ia mengaduk spagetinya yang sebentar lagi matang.
"Aku minta piring ya, Kev."
"Baik, Nyonya."
Lagi - lagi Azkia tersenyum dengan candaan Kevin yang selalu membuat hatinya terasa hangat. Kevin memberikannya sebuah piring dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya melingkari pimggang Azkia yang seketika bergidik geli. Kevin menciumi pipi Azkia dengan lembut.
"Sebentar lagi selesai." ucap Azkia tertawa kecil.
Kevin terus saja memeluknya, menciuminya dengan kasih sayang. Setelah Azkia memberikan piringnya untuk Kevin, akhirnya mereka bersiap untuk makan.
"Entah kenapa, pasta di restoran tidak pernah membuatku semangat untuk memakannya." kata Kevin yang langsung melahap spageti buatan Azkia.
"Karena pasta buatanku lebih enak." sahut Azkia dengan cepat.
Azkia tersenyum melihat Kevin yang makan pasta buatannya dengan lahap. Semakin lahap Kevin memakan pasta buatan Azkia, Azkia semakin ingin memasak.
Canda dan tawa antara Kevin dan Azkia memang membuat hubungan mereka semakin berkualitas. Kevin yang selalu mengutamakan Azkia, membuat Azkia ingin berbuat lebih banyak lagi untuk Kevin.
__ADS_1