
Azkia tidak bisa konsentrasi bekerja hari ini. Bertemu dengan Nicolas tadi di lobby membuatnya terbayang dengan masa lalu. Masa lalu yang ingin ia lupakan dan tidak ingin ia ingat lagi.
Tidak, aku harus melupakannya. Tidak mungkin aku bisa bertemu dengan lelaki bejat itu lagi. Mana mungkin....
Berbeda dengan Nicolas. Justru ia ingin tahu apa yang terjadi pada Azkia tiga belas tahun silam. Kemanakah Azkia? Mengapa ia menghilang tanpa kabar? Mungkin terdengar klise. Tapi Nicolas memang pada saat itu belum wisuda sekolah dan masih banyak yang harus ia lakukan. Terkadang, perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
****
Teman-teman sekelas Azkia tidak mendengar kabar dari Azkia sama sekali. Ardila pun tidak bisa menjawab apapun terlebih lagi Nicolas memohon padanya ketika untuk mengantar sekiranya dimana Azkia berada.
"Tolong, Di, tolong aku, dimana Azkia sekarang." kata Nicolas.
"Aku nggak tau, Kak Nico. Azkia juga nggak kasih kabar apapun ke aku. Kalau aku tahu aku juga nggak akan khawatir." jawab Ardila.
"Azkia nggak ketemu kamu atau apa, Di? Dia nggak cerita apapun?" tanya Nicolas.
"Hmm..." Ardila ragu dan mempertimbangkan apakah ia harus menceritakannya atau tidak.
"Pasti ketemu kan, Di? Ceritain, Di, bagaimana kondisi dia? Gimana Azkia waktu ketemu kamu?"
Ardila tidak sampai hati untuk menceritakannya pada Nicolas. Tentu ia tidak berpikir bahwa Nicolas akan sekhawatir ini untuk ukuran pria "yang mau enaknya saja".
"Kak, apa yang kakak lakukan sama Azkia?"
Nicolas terdiam. Ia memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawabnya. Belum sempat Nicolas menjawab, Ardila bertanya lagi.
"Apa Kakak sayang sama Azkia? Maksudku dalam artian sebenarnya. Bukan hanya emosi sesaat."
"Gini, Di. Aku memang bersalah karena sudah kelewat batas pada Azkia. Aku juga nggak tahu pada saat itu kami terbawa suasana." Nicolas tidak berani menjawab sambil menatap Ardila.
"Kapan kejadiannya?" Ardila menatap Nicolas dengan serius.
"Itu.. sekitar dua minggu lalu. Dan kami juga sempat membicarakan ini..."
"Membicarakan apa?"
"Azkia positif hamil, Di... Dan aku bukannta tidak mau bertanggung jawab. Tapi aku masih sekolah dan saat aku mau menjawab tentang bagaimana kita seharusnya, Azkia tidak memberiku kesempatan, Di..."
Ardila lemas mendengar pernyataan Nicolas. Iya memang semalam Azkia datang untuk menceritakan apa yang terjadi. Tetapi Azkia melewati bagian dimana ia positif hamil.
"Aku akan coba cari dimana Azkia semampuku, Kak. Tapi kalau aku nggak ketemu Azkia, itu salah kakak. Entah sampai kapan, suatu saat nanti kakak harus tanggung jawab atas semua yang terjadi."
Nicolas merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi dan ia tidak bisa menjawab apapun perkataan Ardila.
__ADS_1
Ardila dan Nicolas mencari kemanapun tempat yang sekiranya Azkia datangi tapi tidak menemukannya. Bahkan mereka sempat datang ke rumah Azkia, tetapi rumah itu kosong. Tidak ada siapapun. Esoknya lagi, Ardila dan Nicolas mencoba mendatangi rumah Azkia lagi. Lagi-lagi kosong. Begitu pula dengan keesokan harinya lagi.
"Kosong terus rumahnya, Kak."
"Gimana sama hapenya?" tanya Nicolas mulai putus asa.
"Mati, Kak. Mungkin memang sengaja."
Nicolas meremas kepalanya dan ia tidak bisa mencari Azkia dimanapun.
*****
Nicolas meraih hapenya dan menelpon Ardila. Mungkin sudah agak lama Nicolas tidak menelpon Ardila. Terakhir kali ia masih menanyakan dimana keberadaan Azkia.
Telponpun diangkat dan suara Ardila terdengar di ujung telpon.
"Di..."
"Iya, Kak, kenapa Kak?"
"Aku ketemu Azkia, Di..."
*****
Tapi langkah Azkia terhenti ketika ia bertemu dengan Ardila di depan gedung kantornya.
Ardila menatap Azkia yang tergesa-gesa membawa tas dan beberapa dokumen. Ardila merasakan kerinduan yang amat dalam pada Azkia. Sahabatnya yang tiba - tiba menghilang entak kemana, sekarang ia bersyukur bisa mnemukan sahabatnya kembali.
"Ardila...."
Ardila menghampiri Azkia dan memeluk Azkia dengan erat. Rasa sedih di hatinya meluap dan tangis Ardila pecah saat itu juga.
"Azkia... kamu kemana saja..."
Azkia merasa canggung dengan Ardila. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu.
Sebisa mungkin Azkia tidak memperlihatkan kecanggungannya pada Ardila.
Ardila mengajak Azkia ke sebuah kafe agar lebih nyaman berbincang. Ia masih belum bisa melepas Azkia begitu saja karena selama tiga belas tahun ia menghilang tanpa kabar.
"Jadi, bagaimana kabarmu sekarang, Ki?" tanya Ardila yang sudah memesankan kopi dan beberapa camilan untuk mereka. Azkia berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Aku baik, Di. Kalau kamu sendiri gimana?"
__ADS_1
"Aku juga. Sekarang kamu kerja disana Ki? Di perusahaan apa?"
"Aku di perusahaan yang memproduksi pemanas air, Di. Kamu sendiri, Di?"
"Aku digital marketing. Kok kita canggung gini ya. Aku jadi nggak biasa."
Azkia tersenyum kecil.
"Kamu tau dari mana aku kerja disitu?"
"Dari Nico."
Azkia terdiam dan tidak berkomentar apapun.
"Jangan kaget ya, Ki. Aku sama Nico emang udah nyari kamu kemana-mana. Tapi nggak ketemu. Tiga belas tahun, Ki, aku nyari kamu. Kamu menghilang gitu aja." kata Ardila menyeruput kopinya.
"Aku..." Azkia terbata. Entah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ardila.
"Jadi aku boleh dong tanya, kamu kemana aja selama ini?"
"Aku di Kediri, Di."
"Hah? Dimana?" Ardila terkejut dan tidak percaya dengan jawaban Azkia.
"Iya. Aku tinggal disana beberapa lama untuk menyelesaikan sekolah SMA ku."
"Ada apa, Ki? Itu semua terjadi tiba - tiba. Apa ada hubungannya sama Nico?"
"Aku nggak tahu, Di..."
"Ki. Sorry ya aku bukan mau ikut campur sama urusan kalian. Tapi aku rasa ada salah paham disini antara yang Nico maksud dan kamu." Ardila mencoba meluruskan kesalahpahaman yang tidak kunjung selesai selama ini.
"Aku nggak mau dengar apapun tentang, Nico, Di. Aku udah nggak mau sakit hati atau apapun." jawab Azkia sebelum Ardila membela Nicolas dihadapannya.
"Kamu hamil. Aku bener kan? Dan kamu meminta Nico tanggung jawab, posisi kamu juga labil dan frustasi. Sama. Nico juga begitu. Dia bingung harus apa. Sedangkan dia juga belum lulus sekolah. Terus pertanyaanku, apa kamu yakin Nico benar - benar nggak mau tanggung jawab sama kamu? Coba kamu jawab aku."
Azkia terpaku. Ia seolah - olah ditusuk dengan pisau tajam tepat di jantungnya. Pertanyaan Ardila membuatnya tidak bisa berkutik apapun.
Ia berpikir lagi, mungkinkah Nicolas tidak berpikir demikian tiga belas tahun lalu?
"Aku..." Azkia ragu menjawab pertanyaan Ardila.
Ardila masih menunggu apa yang akan Azkia katakan. Terlihat jelas keraguan tersirat dari mata Azkia ketika membicarakan Nicolas.
__ADS_1
"Aku... Aku sebenernya nggak yakin.." jawab Azkia menunduk dan perasaannya sekarang menjadi campur aduk tidak karuan.