Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Mengalahkan masa lalu


__ADS_3

Diana mendatangi apartemen Kevin pagi - pagi. Ia menekan tombol apartemen berkali - kali agar Kevin cepat membukanya. Kevin yang baru saja selesai berpakaian, dengan kesal melihat di monitor siapa yang datang. Diana ternyata. Ia langsung menekan tombol untuk membuka pintu. 


Setelah pintu dibuka, Diana langsung menerobos masuk ke apartemen Kevin. 


"Kevin! Kevin!" panggil Diana. Ia terlihat gusar dan merasakan sesuatu jika Kevin dekat dengan Azkia. 


"Ada apa Diana? Kenapa pagi - pagi sekali kamu datang?" tanya Kevin mengancingkan kancing di lengannya. 


"Astaga, Kevin. Kamu harus tahu sesuatu." kata Diana dengan wajah merasa iba dihadapan Kevin. 


"Apa? Ada apa?" 


Diana mengeluarkan kertas informasi yang dia dapatkan dari Sekretarisnya. Ia menunjukkan kepada Kevin. 


"Ini informasi yang tepat Kevin. Dan aku tidak berbohong." kata Diana. 


Kevin mengambil kertas itu dan membacanya. Dalam kertas itu tertulis bahwa Azkia pernah berpacaran dengan seorang lelaki pada masa remajanya. Tapi entah mengapa ada keributan besar yang membuat Azkia tiba - tiba menghilang. Teman - teman Azkia berasumsi bahwa Azkia hamil diluar nikah dan lelaki itu tidak mau bertanggung jawab. Sampai saat ini, kebanyakan teman - teman Azkia tidak mengetahui keberadaan Azkia. 


Selesai membaca kertas dari Diana, Kevin mengembalikannya. Azkia sudah memberitahu soal ini terlebih dulu. Tentu saja Kevin sudah tidak kaget. 


"Bawa lagi kertasmu itu." kata Kevin.


"Kevin, kamu nggak merasa kalau Azkia wanita yang tidak baik? Dia sempat menghilang dari teman - temannya. Dia juga hamil diluar nikah, Kev! Apa kamu nggak merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Azkia?" tanya Diana mendesak Kevin.


"Kamu yang tidak beres!" Kevin membentaknya. Diana terkejut sekali ketika Kevin membentaknya. 


"Siapa Azkia, bagaimana Azkia itu urusanku! Bukan urusanmu! Setiap manusia punya alasan jika dia harus menghilang selama bertahun - tahun atau kenapa Azkia bisa hamil diluar nikah itu juga pasti ada alasan. Kamu tidak berhak menghakimi kehidupan orang lain dengan informasi tidak berdasar itu!" Kevin marah dan sangat jengkel dengan Diana. Bisa - bisanya Diana membuat keributan dengan informasi mengenai Azkia. 


"Buka matamu, Kevin! Kita tidak tahu Azkia mengaborsi atau melahirkan anak itu. Kalau dia mengaborsi, itu bukan jadi masalah! Tapi kalau dia melahirkan anak itu, itu akan jadi masalah! Karena sampai kapanpun dia pasti akan punya hubungan juga dengan ayahnya anak itu!" 


Kevin terdiam sesaat dengan kalimat terakhir Diana. Mungkin ada benarnya juga. Apakah ada yang belum Azkia ceritanya mengenai ayahnya anak itu? Atau mungkin kemarin Azkia belum selesai bercerita?


Jika mengenai anaknya, Kean, Azkia sudah bercerita sedikit. Tapi tentang ayahnya anak itu, Azkia belum cerita sama sekali. 


"Pulanglah. Aku mau kerja. Pagi - pagi sudah bikin ribut dirumah orang!" 

__ADS_1


Diana menganga tidak mengerti dengan apa yang dipikiran Kevin. Apakah Azkia sudah meracuni Kevin dengan segala macam hingga Kevin tidak mau mendengarnya lagi? 


*****


Kevin menyetir mobilnya dengan perlahan. Ia tidak bicara ataupun memegang tangan Azkia seperti biasanya. 


"Kev.. Ada apa?" 


Kevin masih belum merespon Azkia yang memanggilnya. 


"Kevin?" 


Kevin mengarahakan mobilnya ke pinggir jalan, ia tidak bisa menahan diri untuk menanyakan tentang masa lalu Azkia dengan mantan kekasihnya. 


"Azkia. Apa kamu kemarin sudah cerita semuanya?" tanya Kevin. 


Azkia merasa hatinya berdebar lagi ketika Kevin menanyakan itu.


"Apa ada yang belum kamu ceritakan?" 


Azkia mengangguk dan tidak mempunyai celah lagi untuk berbohong pada Kevin.


"Ceritalah. Hatiku selalu gelisah tentang itu, Azkia " 


"Maaf, Kevin.. Aku mau cerita tapi aku masih agak takut kalau kamu marah sama aku..." jawab Azkia. 


Azkia mengatur napasnya, mencoba memilih kata agar apa yang ia ceritakan tidak membuat Kevin marah ataupun sakit hati lagi.


"Beberapa waktu lalu aku bilang kalau aku lebih suka naik lift barang daripada lift penumpang. Itu karena beberapa kali aku tidak sengaja bertemu dengan mantanku di lift penumpang." 


Kevin diam. Ia menatap Azkia dengan tajam. 


"Jadi, mantan kamu satu gedung kantor dengan kita?" 


Azkia merasa ragu. Kemudian dia mengangguk.

__ADS_1


"Apa kamu naik lift barang untuk menghindari dia?" tanya Kevin. Azkia mengangguk lemah. 


"Maaf Kevin, maafkan aku. Aku belum sempat menceritakan ini sama kamu. Maaf, maafkan aku..." Azkia menggenggam tangan Kevin. Berharap Kevin bisa mengerti keadaannya. 


Kevin diam tidak menjawab Azkia. Ia melanjutkan perjalanannya dengan perlahan. Kevin menarik tangannya dari Azkia. Azkia tidak bisa mengatakan apa - apa lagi. Azkia paham betul pastilah Kevin kecewa. 


****


Kevin tetap berjalan berdampingan dengan Azkia melalui lift barang. Tetapi Kevin tidak banyak bicara. Semakin lama hati Azkia merasa takut bahwa hubungan yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Azkia baru sekali mengalami ini. Bukan. Bukan karena Kevin CEO di perusahaannya. Tapi karena Kevin terlalu baik, polos dan jujur untuk Azkia. Itulah yang membuat Azkia tidak merasa nyaman dengan semua ini. 


Azkia bertemu dengan Ardila siang ini. Sejak tadi Kevin tidak mengiriminya pesan atau apapun. Azkia memberikannya waktu sedikit untuk Kevin untuk menenangkan diri. 


"Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu?" tanya Ardila. 


"Yah begitu - begitu saja. Baru - baru ini aku mengaku tentang masa laluku. Aku mengatakan bahwa ada Kean. Sejauh aku menceritakan tentang Kean, dia baik - baik saja. Tapi tadi pagi aku menceritakan Nicolas yang bekerja satu gedung dengan kami. Ekspresinya berubah dan dia diam." cerita Azkia.


"Iya sudah pasti. Bagaimanapun Nico itu ayahnya Kean. Mungkin beda cerita kalau kamu nggak pernah bertemu lagi dengan Nico. Tapi kalau Nico satu gedung denganmu, habis sudah." timpal Ardila. 


"Iya. Aku hanya bisa memberikannya sedikit waktu karena aku baru saja menceritakan tentang Nico." 


"Lalu bagainana Kean? Baik - baik aja?" 


"Kean baik, Di. Kemarin dia mengirimiku hasil rapor semesternya. Aku merasa bahagia sekali melihat hasil belajar Kean." Azkia tersenyum bahagia ketika Ardila membahas Kean. 


"Coba ku lihat fotonya." Azkia langsung menyodorkan hapenya dan menunjukkan foto Kean pada Ardila. 


"Wah manisnya.. Nggak percaya ini anakmu! Sama siapa dia di Kediri?" tanya Ardila. 


"Sama Bulikku. Sejak awal aku memang meminta Bulikku untuk merawatnya atas permintaanku sendiri. Karena waktu itu aku harus melanjutkan studiku dan mengejar sarjanaku." jawab Azkia sedih menceritakan ini pada Ardila. 


"Berarti Kean tahu atau tidak kamu ibunya?" 


"Sejauh ini belum." 


"Kean sudah besar. Beri saja pengertian. Nanti juga paham." kata Ardila. Ardila tidak menyangka setelah kejadian tiga belas tahun, masih banyak lagi hal yang membuat Ardila tidak tega untuk memarahi Azkia. Karena keputusan yang diambilnya pastilah sangat berat. Azkia hanya mengangguk dan menyeruput minumannya. 

__ADS_1


"Kapan kamu rencana mau ke Kediri lagi? Aku mau ikut." 


Azkia menatap Ardila tidak percaya. 


__ADS_2