Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Dibawah derasnya hujan


__ADS_3

Hari demi hari Azkia menghindari Nicolas. Ia lebih sering naik ke lantai atas menggunakan lift barang daripada lift penumpang. Mungkin Azkia merasa belum siap harus bicara apa pada Nicolas atau bagaimana menghadapinya.


"Kamu cukup sering naik dengan lift barang." kata Kevin ketika bertemu dengan Azkia di suatu pagi.


"Iya, Pak. Saya lebih nyaman lewat lift barang daripada lift penumpang."


Di lantai lima, lift barang itu terhenti dan ada cleaning service masuk membawa troli untuk bebersih. Kevin harus sedikit bergeser ke arah Azkia dan itu membuat mereka berdekatan.


"Maaf, ya. Ada troli ini." kata Kevin.


Azkia tersenyum dan menunduk. Ia merasa gemetar dan agak merinding didekati oleh Kevin.


Ia mencoba menggeser badannya sedikit agar tidak terlalu berdekatan dengan Kevin.


"Maaf, ya, Azkia. Are you okay?"


"Iya, Pak. Nggak apa - apa."


Ketika pintu lift terbuka, Azkia langsung keluar dan menuju toilet. Kevin memperhatikannya dengan kebingungan.


Azkia mengalami hal seperti ini bukan hanya sekali ataupun dua kali. Cukup sering ia mengalaminya.


****


13 tahun lalu (sebelum pergi ke Kediri)


Azkia masuk ke dalam kamar mandi. Ayah heran melihat Azkia yang mandi hampir jam sembilan malam. Sudah dua puluh menit Azkia di dalam dan Ayah sangat khawatir dengan putrinya.


"Ki, Kia! Kia! Kamu kenapa, Nak? Keluar Nak!" panggil Ayah dari luar kamar mandi.


Terdengar suara tangis Azkia dari dalam, Ayah semakin khawatir dengan Azkia.


"Kia, buka pintunya, Kia! Buka sayang!" teriak Ayah menggedor pintu. Ibu pun khawatir begitu juga dengan Seruni, adik Azkia.


Ctik!


Pintu terbuka dan Azkia keluar dengan basah kuyup. Ia berlutut memegangi kaki Ayah dan menangis.


"Ayah, ampuni Kia, Ayah.. Ampun, Ayah..."


Ayah bingung dengan sikap Azkia yang tidak seperti biasanya ini.


"Kia, ada apa, Nak? Kenapa kamu seperti ini?"


Ibu menutupi badan Azkia dengan handuk dan membangunkan Azkia yang tengah menangis.


"Pelan - pelan cerita, Nak. Ada apa? Bangun, Sayang." ujar Ibu membangunkan Azkia. Azkia merasa lemas dengan kakinya, ia berusaha untuk bangun dan mengikuti Ibu duduk di sofa.


Setelah duduk dengan nyaman dan tenang di sofa, Ayah mulai bertanya.

__ADS_1


"Ada apa, Kia? Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Ayah dengan suara tenang.


Mendengar suara Ayah, sudah membuat hati Azkia hancur.


"Ayah..." Azkia mulai bersuara, tetapi suaranya tercekat. Ia merasa tidak sanggup mengatakannya.


"Ayah, Ayah boleh tidak menganggap Azkia anak Ayah lagi..."


"Ada apa, Kia? Kenapa kamu bicara begitu?" Ibu sedikit marah karena Azkia berbicara seperti itu. Azkia tidak bisa menahan hatinya lagi. Ia menangis dan berusaha mengatakan yang sebenarnya.


"Ayah, Ibu, Azkia hamil..."


Bagai tersambar geledek, hati Ayah dan Ibu hancur begitu mendengar Azkia hamil.


"Kia minta maaf, Bu, Yah. Azkia tidak bisa menjaga diri Kia...."


Ayah tidak menjawab apapun. Ayah bangkit dan langsung meninggalkan ruang tamu.


"Gantilah baju dulu. Dan tunggu di kamar."


Ibu pun sama. Meninggalkan Azkia di ruang tamu.


Dikamar, Ayah duduk lemas. Jelas sekali bahwa hatinya hancur dan kecewa.


Ibu datang pada Ayah dan duduk disampingnya.


"Bagaimana, Yah..." Ibu tidak kuasa menahan air matanya, ia menangis dan memegangi dadanya yang sesak.


"Sama, Bu. Ayah malu, Bu. Bagaimana masa depan anak kita, Bu..."


Azkia duduk di meja belajarnya menunggu apapun yang Ayah katakan. Ia harus siap dan menerima konsekuensinya sekalipun Ayah mengusirnya dari rumah. Azkia menghapus air matanya. Memegangi perutnya yang sudah dihadiri makhluk lain selain dirinya.


Pintu kamar Azkia terbuka. Mata Azkia sembab dan tidak bisa menahan air mata ketika melihat wajah Ayah dan Ibu. Ia merasa berdosa sekali.


Ketika Ayah dan Ibu masuk, Azkia sudah mempersiapkan telinganya untuk mendengar apa saja yang akan Ayah katakan.


"Ki, duduklah." pinta Ayah untuk duduk di pinggir ranjang. Ayah sempat menepuk tempat yang akan Azkia duduki.


Azkia menunduk malu tidaj berani menatap wajah Ayahnya.


"Bagaimana dengan lelaki itu?"


"Aku tidak tahu, Ayah. Aku tidak yakin dia mau bertanggung jawab." ucap Azkia dengan sesak.


"Dengarkan Ayah, Kia. Hidup sudah cukup sulit. Jangan kamu persulit dengan apa yang seharusnya tidak kamu lakukan."


Azkia diam dan tidak menjawab perkataan Ayahnya.


"Ayah hanya berharap kedepannya kamu tidak melakukan kesalahan. Buatlah Ayah dan Ibu bangga padamu, Nak. Ingat adikmu."

__ADS_1


"Maafin, Kia, Ayah..."


"Yang terjadi biar terjadi. Tapi Ayah yakin kamu tidak akan sanggup datang ke sekolah lagi. Bereskan barang - barangmu. Kita datang ke rumah yang ada di Kediri. Kita tinggal disana sampai kamu tenang dan bisa melahirkan anak itu."


"Tapi Ayah..."


"Ayah tidak ingin masa depanmu hancur, Nak. Ayah ingin menjaga masa depanmu. Boleh kan?" pinta Ayah pada Azkia.


"Tapi bagaimana anak ini..."


"Pikirkan nanti. Sekarang kita tenangkan dirimu dulu."


Azkia segera membereskan baju dan bukunya. Ia memasukkan yang sekiranya perlu dibawa, begitupun dengan Seruni. Ia terpaksa mengikuti keinginan keluarganya.


****


Sudah jam pulang kantor dan hujan cukup deras. Azkia tidak bisa pulang dan masih menunggu hujan reda di lobby.


Hari semakin sore dan hujanpun belum juga reda. Tiba - tiba, ada sesuatu di tangan Azkia dan ternyata Nicolas menyelipkan payung lipat di tangan Azkia.


"Nico.."


"Pulanglah. Nunggu hujan reda terlalu lama." Nicolas tersenyum dan pergi meninggalkan Azkia, menerobos hujan yang masih cukup deras.


Azkia memandang payung lipat yang diselipkan di tangan Azkia.


Kevin yang sejak tadi menunggu sedikit lebih lama untuk mengajak Azkia pulang bersama, mengurung niatnya. Azkia sudah pergi dari lobby dengan payung yang diberikan Nicolas.


Azkia terlihat seperti mengejar Nicolas diantara hujan deras. Kevin hanya bisa memandanginya tanpa bisa berkomentar apapun.


"Nicoo!" panggil Azkia yang ternyata mengejarnya. Nico menoleh dan melihat Azkia yang mengejarnya. Ia langsung meneduh di bawah halte bis di dekat kantor.


"Pakailah payung ini. Aku masih bisa pulang." kata Azkia menutup payung itu.


"Kamu sudah lama nunggu di lobby dan hujan masih deras. Kalau kamu terlalu lama pulang, Ayah Ibu pasti khawatir."


Azkia menatap Nico yang kebasahan karena hujan. Ya. Benar. Ibu pasti khawatir.


"Kia, pulang saja."


"Terus kamu pakai apa?"


"Jangan pikirkan aku. Aku masih bisa pulang kok. Aku sudah terbiasa."


Azkia menelan ludah melihat Nico yang memaksakan diri untuk pulang tanpa payung atau sesuatu yang melindunginya.


Azkia membuka payung itu dan mengarahkannya pada Nicolas.


"Kita pulang bareng aja."

__ADS_1


Nicolas menatap Azkia dengan kerinduan yang teramat dalam. Azkia yang ia kenal, Azkia yang selalu mengkhawatirkan dirinya. Akankah Azkia kembali seperti dulu?


__ADS_2