Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Hati Azkia yang Rapuh


__ADS_3

Kevin mengantar Azkia pulang sampai di depan rumahnya. Sekarang ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Belum terlalu malam karena masih ada beberapa orang yang menjajakan jualannya di pinggir jalan. Kevin berusaha bersikap sebaik mungkin pada Azkia dan tidak ingin membuatnya kecewa.


"Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa besok." kata Azkia.


Kevin mengulas senyum diwajahnya membuat hati Azkia selalu berdebar ketika melihatnya.


Kevin memasukkan tangannya ke kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dalam.


"Ulurkan tanganmu." kata Kevin.


Azkia merasa heran melihat sisi lain dari Kevin yang selalu bersikap manis terhadap dirinya.


Azkia mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya. Kevin memberikan beberapa bungkusan warna kuning dan berukuran kecil.


"Itu dark choco."


Azkia menatap Kevin.


"Aku hanya ingin berbagi makanan yang aku suka." lanjutnya.


"Baiklah. Aku akan memakannya." kata Azkia.


"Dan, besok kamu nggak usah membawakan makanan lagi untukku." kata Kevin. Azkia terkejut dengan apa yang Kevin baru saja katakan. Ia khawatir jika masakannya tidak sesuai dengan selera Kevin.


"Apakah masakanku tidak enak?" tanya Azkia.


"Masakanmu enak. Aku suka."


Azkia menghela napas lega karena ternyata Kevin menyukai masakannya.


"Tapi aku ingin besok kita makan bersama saja." kata Kevin kembali membuat Azkia terkejut. Entah mengapa, Kevin selalu saja membuatnya khawatir dengan apa yang diucapkannya.


"Tidak bisa. Bagaimana kalau karyawan lain tahu?"


"Kita bisa keluar setelah jam makan siang." jawab Kevin.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak khawatir?" tanya Azkia.


"Aku hanya ingin makan bersamamu. Itu saja."


Azkia masih menatap Kevin dengan bingung. Kevin mulai salah tingkah ditatap seperti itu oleh Azkia.

__ADS_1


"Baiklah. Aku hanya ingin mencoba memasuki ruang hatimu saja." jawab Kevin akhirnya dengan jujur.


Azkia terlihat mempertimbangkan permintaan Kevin. Ia tidak membalas apapun apa yang Kevin katakan. Hatinya selalu berdebar mendengar Kevin mengucapkan kata - kata yang menurutnya hatinya akan terus berdesir hangat.


"Baiklah. Kita makan bersama."


Kevin tersenyum bahagia mendengar jawaban Azkia. Azkia tidak mencoba menghindari Kevin karena masih terperangkap dengan masa lalunya. Sebaliknya, ia mencoba membuka hatinya untuk pria yang berusaha mengobati luka hatinya yang selama ini membeku.


****


Ardila baru saja pulang dari kos Nicolas. Melihat keadaan Nicolas selalu membuat Ardila merasa kasihan. Ia tahu persis bagaimana Nicolas mencari Azkia selama ini, rasanya sudah gatal ia ingin ikut campur dalam masalah Nicolas dan Azkia.


Tapi tetap saja Nicolas melarangnya. Ia ingin menyelesaikannya sendiri dengan Azkia. Setelah Ardila pulang, Nicolas meraih obat yang Azkia bawakan tadi siang. Setelah meminumnya, ia teringat wajah Azkia yang sedih dan menangis karenanya. Hatinya tersayat pedih mengingat wajah Azkia.


Ia merasa cukup telah menemukan Azkia dan meminta maaf padanya. Sekarang, kondisi Azkia baik - baik saja dan itu membuatnya tenang. Tapi logika dan hati memang selalu bertentangan.


Meskipun logika Nicolas berkata seperti itu, tapi tidak dengan hati Nicolas. Nicolas mengatakan masih ada yang mengganjal dalam hati, terlebih ia melihat air mata yang jatuh ke pipi Azkia.


Ia menengadahkan kepalanya di dipan tempat tidurnya. Ia merasa sudah tidak bisa menahan rindu pada Azkia. Melihatnya saja, ia ingin memeluknya. Tapi apa daya. Ia sudah menyakiti hati Azkia begitu dalam. Bagaimana mungkin ia mengatakan rindu setelah tiga belas tahun tidak bertemu?


Nicolas hanya bisa mengurai air matanya, membiarkan hatinya beristirahat setelah pencarian panjang dalam hidupnya.


****


Sebenarnya sudah jelas, siapa yang akan Azkia pilih, tapi Azkia masih mencoba menjalaninya dengan Kevin. Dan berharap suatu hari hatinya terbuka untuk Kevin.


Ia memasukkan coklat yang Kevin berikan dalam toples kecil. Memandanginya dengan perasaan yang berbunga.


Seruni masuk ke dalam kamar Kakaknya, yang sedang tersenyum memandangi toples kecil di atas meja. Seruni bahagia akhirnya bisa melihat Azkia tersenyum lagi setelah sekian lama.


"Lihat apa, Kak?" tanya Seruni duduk dipinggir tempat tidur menyamakan posisinya dengan Azkia.


"Aku baru memasukkan coklat ini ke toples." jawab Azkia menyembunyikan rasa bahagianya.


"Dari yang tadi antar Kakak pulang?" tanya Seruni dengan polos.


"Kamu lihat ya?"


Seruni tersenyum dan meraih tangan Azkia.


"Kak. Runi seneng kalau lihat Kakak bisa bahagia dan tersenyum lagi. Siapapun berhak untuk itu, Kak."

__ADS_1


Azkia yang tadinya tersenyum, memudarkan senyumnya. Ia merasa bersalah dengan masa lalunya yang selalu menjerat hatinya selama ini.


"Kakak belum tahu bisa atau nggak, Runi." Azkia menarik tangannya dari Seruni tapi Seruni menariknya kembali.


"Kak. Percaya Runi. Kean sudah ada yang menjaganya. Sekarang dia sudah besar. Dan aku minta Kakak jangan merasa bersalah dengan masa lalu."


Azkia tidak menjawab perkataan Seruni yang menghujam jantungnya.


"Semua sudah berlalu. Sudah tiga belas tahun, Kak. Sudah seharusnya Kakak bisa membuka hati untuk orang lain."


Azkia membayangkan bagaimana ia harus bertahan hidup setelah melahirkan Kean dan berpisah darinya. Awalnya ia sangat merindukan Kean karena Kean terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Seiring berjalannya waktu, Azkia bisa merelakan semuanya.


"Kakak bertemu dengan Nico." kata Azkia.


"Terus, Kak?"


"Dia minta maaf selama ini mengabaikan Kakak." jawab Azkia dengan bibir yang gemetar.


"Apa Kakak memaafkannya?"


"Entahlah. Kakak langsung pergi."


Seruni memeluk Kakak satu - satunya. Mengelus rambutnya dengan perlahan. Air mata kembali jatuh dipipi Azkia.


"Cukup, Kak. Aku nggak bisa lihat Kakak tersiksa lagi karena dia." Seruni tidak tahan melihat Azkia yang menangis karena Nicolas. Tidak hanya Azkia, Seruni pun menjatuhkan air matanya.


Azkia memeluk Seruni dan mengeluarkan air matanya sebanyak mungkin. Berteriak dan menghabiskan tenaganya malam ini. Seruni tidak pernah lelah menemani Azkia sepanjang malam. Mungkin Seruni lelah, tapi Azkia lebih lelah karena harus menanggung semua ini.


Sebagai adik, Seruni hanya bisa mendukungnya. Memastikan bahwa suatu hari nanti Azkia haruslah hidup bahagia dengan masa depannya.


Seruni menemaninya hingga Azkia tertidur. Ia menatap sedih atas penderitaan Kakaknya, terlebih ia masih ingat jelas bagaimana ia merindukan Kean, anaknya yang diasuh oleh keluarga Ayahnya.


****


Azkia terkulai lemas diatas tempat tidur setelah berjuang dengan sekuat tenaga. Badannya terasa remuk dan matanya lelah. Suara tangis bayi yang menyambut dunia baru terdengar jelas di telinga Azkia. Ayah mengadzaninya dan Ibu mengucap syukur yang tiada habisnya karena Azkia melahirkan bayinya dengan sehat.


Azkia belum sempat melihat bayinya yang baru saja lahir ke dunia, ia memejamkan matanya karena berusaha melahirkan selama dua jam lebih. Setelah mengeluarkan ari - ari dan membersihkan darahnya, Azkia hanya mendengar Ibu sayup - sayup berkata padanya.


"Ikhlaskan ya, Sayang. Semoga anakmu mendapat kehidupan yang baik dan layak disini. Ayahmu akan selalu memberikan tunjangan untuk anakmu."


Azkia mengangguk dengan lemah dan semakin terasa berat membuka matanya. Akhirnya Azkia tertidur dengan pulas.

__ADS_1


__ADS_2