Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Kebodohan Nicolas


__ADS_3

Azkia berdiri di depan pintu ruang Kevin. Terdengar suara ribut dari dalam. Azkia masih bingung memutuskan untuk masuk ke dalam atau tidak.


Diana melangkah lebih dekat ke arah Kevin.


"Bahkan sejak kedatanganku kemari, kamu sama sekali tidak menyambutku, Kev. Tidak bisakah kamu lebih perhatian padaku?" kata Diana memelankan suaranya.


Kevin terasa sesak dengan tubuhnya yang didekati oleh Kevin. Ia memundurkan langkahnya dan mencari ruang untuk bernapas.


"Aku hanya belum sempat menyapamu. Dan aku masih cukup sibuk, belum bisa punya waktu luang sekarang ini." kata Kevin.


"Kenapa kejam sekali, Kev? Kamu hanya meluangkan waktu makan siang saja tidak bisa." kata Diana tidak terima dengan pernyataan Kevin barusan.


"Sekarang sudah selesai kan masalah water heater? Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja apalagi alasanmu karena alasan pribadi. Aku mau kembali bekerja dan kamu boleh lanjut dengan pekerjaanmu, Diana." ucap Kevin sudah tidak tahan dengan sikap Diana.


"Jadi sekarang kamu mau mengusirku?"


"Diana, this is my office. Please be a professional!"


Diana merengut kesal dan menghentakkan kakinya.


"Okay, i'll go."


Diana membuka pintu ruang Kevin dan disana sudah ada Azkia yang berdiri di depan pintu.


"Hei, ngapain kamu disini? Kamu nguping pembicaraan saya dengan Kevin?"


"Tidak, Bu." Azkia menundukkan kepalanya.


Kevin masih memperhatikan Diana yang membuat keributan di depan ruang kerjanya. Kevin pun menghampiri Diana dan membuka pintunya sedikit lebih lebar.


"Ada apa, Diana? Kenapa kamu ribut sekali?" tanya Kevin.


"Bagaimana sih kamu mengajari karyawan kamu? Kok bisa - bisanya dia nguping pembicaraan bosnya?" kata Diana.


Kevin menatap Azkia yang berdiri menunduk di depan pintu.


"Tadi aku manggil dia. Tapi karena kamu terlalu banyak bicara, mau nggak mau dia nunggu di depan. Sekarang cepat pergilah!"


Diana menatap Azkia dengan kesal kemudian berlalu dari ruang Kevin. Setelah Diana pergi, Kevin meminta Azkia untuk masuk ke ruangannya.

__ADS_1


"Masuklah."


Azkiapun mengikuti arahan Kevin.


Setelah masuk ke ruangan Kevin, Azkia mulai melontarkan pertanyaan yang sejak tadi sudah ia tahan didalam kerongkongannya.


"Apa benar dia mau membatalkan orderannya, Kev?" tanya Azkia begitu pintu ruangan ditutup.


"Kamu nggak udah dengerin dia. Dia memang begitu. Suka ngomomg sesuka hatinya." jawab Kevin.


"Begitukah yang namanya Diana yang tadi kamu ceritakan?" Azkia mulai mengalihkan pembicaraannya.


Kevin membalikkan badannya dan melihat Azkia yang berdiri mematung.


"Azkia. Maafkan aku. Aku belum sempat memberitahu tentang Diana yang lain. Aku nggak mau kamu menjadi salah paham seperti ini." Kevin berjalan menghampiri Azkia. Bukannya marah, tapi Azkia tersenyum.


"Nggak apa - apa, Kev. Aku nggak apa - apa, kok. Kita sudah janji untuk memulainya secara perlahan kan?" kata Azkia.


Azkia menyentuh bahu Kevin dan berusaha untuk bersikap senormal mungkin.


"Kembali kerja ya. Syukurlah kalau mggak ada masalah. Ku kira ada masalah apa."


"Kalau gitu aku kerja lagi ya." kata Azkia berlalu dari hadapan Kevin.


Wangi aroma tubuh Azkia tercium jelas di hidung Kevin. Membuatnya ingin selalu berada di dekat Azkia.


****


"Di, siapa kira - kira saudara Azkia yang lagi sakit ya?" tanya Nicolas begitu bertemu dengan Ardila.


"Aku nggak tahu, Nic. Aku belum ketemu Azkia lagi. Lagipula, kemarin kenapa kamu ngomong begitu? Bukannya seharusnya kamu tanya dulu bagaimana keadaan Azkia selama ini?" tanya Ardila.


"Selama ini aku hanya berpikir untuk minta maaf pada Azkia."


Ardila sedikit menggebrak meja membuat Nicolas sedikit terkejut.


"Kenapa, sih, Di? Bikin kaget aja."


"Kenapa sih kamu berpikir sempit banget, Nic? Coba pikir. Selama ini Azkia menghilang nggak tahu kemana. Bagaimana kehidupannya. Bagaimana dia hidup. Dan yang paling penting dia hilang pada saat dia sedang hamil. Kamu sama sekali nggak tanya bagaimana kehamilannya saat itu?" Ardila mulai merasa kesal dengan Nicolas yang bertindak gegabah seperti ini.

__ADS_1


Nicolas mulai tersadar. Ada hal yang ia lewatkan daripada sekedar meminta maaf pada Azkia.


"Kehamilannya?" tanya Nicolas.


"Iya. Kamu pernah nggak tanya tentang kehamilannya saat itu? Sejak awal sampai saat ini kamu nggak peduli sama kehamilannya, Nic? Astaga. Apa setiap kata harus aku kasih tau ke kamu, kamu harus tanya apa dan harus bicara apa sama Azkia?" Ardila mulai mengomel panjang lebar. Kesal sekali dengan sikap Nicolas yang mementingkan perasaannya sendiri.


"Terus gimana, Di? Aku harus bagaimana? Kemarin aku sudah membuatnya menangis dan aku sama sekali tidak mempedulikan tangisnya itu."


Ardila menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Entah apalagi yang harus aku bicarakan sama kamu, Nic. Kenapa kamu tidak berpikir lebih luas lagi." Ardila memijat keningnya yang terasa pusing.


****


Diana duduk di meja kerjanya dengan perasaan yang jengkel. Ia melemparkan badannya ke kursi kerjanya dan menyandarkan kepalanya. Teringat jelas bagaimana Kevin memandang karyawan wanitanya yang bernama Azkia. Lembut dan penuh arti. Terlebih ketika di basement tadi ia melihat Kevin mencium Azkia di dalam mobil.


"Aaaaa!!!" Diana kesal mengingat Kevin yang jatuh hati pada wanita lain. Sudah sejak lama ia berusaha menarik perhatian Kevin tapi tidak pernah berhasil. Dan baru saja sebentar di Indonesia, dia sudah jatuh hati dengan wanita lain.


Sekretaris Diana masuk ke ruangan Diana meminta beberapa berkas untuk di tanda tangani. Dia segera membaca dan mengecek satu persatu berkas itu.


"Rey, apakah kita bisa melakukan pemeriksaan latar belakang?" tanya Diana pada sekretarisnya.


"Di Indonesia, jarang sekali dilakukan pemeriksaan latar belakang. Kalaupun bisa, itu akan memakan waktu yang cukup lama." jawab sekretarisnya yang dipanggil Rey itu.


"Oh begitu."


"Maaf, Bu. Apakah Ibu mau melakukan pemeriksaan latar belakang seseorang?" tanya Rey.


"Apa bisa?"


"Bisa, Bu. Saya usahakan. Siapa namanya, Bu?"


Diana tersenyum dan bahagia sekali, sekretarisnya terlalu bisa diandalkan.


Diana membuka album foto di hapenya. Banyak sekali foto Kevin yang ia ambil diam - diam. Memang, sudah lama ia menyukai Kevin. Tetapi perasaan Diana pada Kevin bagai angin berlalu.


****


Azkia membenahi hatinya untuk kesekian kali. Ia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada dirinya dan juga Kevin. Entah benar atau salah dia menutupi keberadaan Kean di dalam hidupnya atau ia harus menceritakannya. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana Nicolas mengingat. Nicolas tidak terlalu peduli pada keadaannya sejak tiga belas tahun lalu hingga detik ini.

__ADS_1


Tetapi Kevin, bagaimana ia akan menjelaskan keadaan yang sesungguhnya pada Kevin? Azkia duduk dengan posisi yang tidak nyaman. Perasaannya pada Kevin sekarang membuat hatinya semakin gelisah. Didalam hatinya, ia ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Kevin. Tapi, bagaimana caranya?


__ADS_2