
Azkia mempersiapkan cutinya untuk menengok keadaan Kean. Begitupula Kevin. Ia beralasan mempunyai bisnis di luar kota. Terkadang Azkia merasa sangat beruntung berdampingan dengan Kevin. Mau minta cuti langsung di approve tanpa melalui HRD.
"Kev. Ada temanku mau ikut. Apa boleh?" tanya Azkia setelah Kevin sampai dirumahnya.
"Temanmu? Siapa?"
Kemudian Ardila keluar dari dalam rumah Azkia dan tersenyum manis pada Kevin. Sejenak, Ardila tertegun melihat Kevin yang tampan rupawan, tinggi dan juga putih. Ardila tidak bisa melepas pandangannya dari Kevin yang merupakan blasteran Indonesia-Inggris seperti yang sudah diceritakan Azkia. Azkia menyenggol Ardila agar tidak terlalu terpesona pada Kevin.
"Oh iya. Saya Ardila. Sahabat Azkia sejak sekolah. Kalau boleh, saya mau ikut." Ardila memperkenalkam diri dengan mengulurkan tangannya.
Kevin terlihat bingung karena sebelumnya Azkia tidak mendiskusikannya dengan Kevin.
"Kamu tidak bilang padaku kalau temanmu ikut." ucap Kevin.
"Iya, maaf, Kev. Aku lupa kalau kemarin Ardila juga mau bertemu dengan Kean." Kemudian Kevin menyambut uluran tangan Ardila dengan senyum.
"Tapi aku cuma pesan dua tiket. Gimana?" tanya Kevin.
"Oh nggak apa - apa, kok. Aku juga sudah pesan tiket. Naik pesawat kan ke Surabaya dulu? Mungkin nanti kita beda tempat duduk aja. Tapi seperti yang diinfo, maskapainya tetap sama." jawab Ardila dengan tersenyum.
"Iya Ardila. Nggak usah senyum - senyum begitu. Biasa aja ya..." kata Azkia memperingati Ardila yang masih mengagumi ketampanan Kevin.
"It's okay. Nggak apa - apa. Barang kamu sudah siap?" tanya Kevin pada Azkia.
"Sudah, Kev. Kita tinggal naik taksi aja kan?" ujar Azkia senang. Tidak lama, Ibu keluar dari rumah dan melihat Ardila dan juga Kevin.
"Azkia, kenapa tidak diajak masuk teman - temannya?" tanya Ibu yang kemudian tertegun melihat Kevin.
__ADS_1
"Ini nak Kevin yang kamu ceritakan itu ya?" tanya Ibu pada Azkia. Wajah Azkia merona merah dengan pertanyaan Ibu.
"Halo, Tante. Perkenalkan, saya Kevin." sapa Kevin.
"Oh iya, iya, Nak Kevin. Kamu tampan sekali ya. Kamu siapanya Azkia?" tanya Ibu dengan polosnya.
"Azkia belum cerita ya, Tante, hehehe..." Kevin melirik Azkia dengan senyum palsunya.
"Udah kok. Bu, Kia kan udah kasih tahu kalau Kia dekat sama Kevin." jawab Azkia takut sekali jika Kevin berpikiran macam - macam lagi.
"Oalah. Ini yang namanya Kevin yang dekat dengan Kia ya.. Kia.. kamu siapkan yang mau dibawa termasuk punya Nak Kevin ya." kata Ibu meminta Azkia meninggalkannya dengan Kevin.
Setelah Azkia masuk ke dalam bersama Ardila, Ibu meraih tangan Kevin.
"Nak, kamu tahu Azkia ke Kediri ini mau nengok siapa Nak?" tanya Ibu khawatir kalau Kevin tidak tahu mengenai Kean.
"Sudah, Tante. Sudah cerita Azkia. Ke Kediri mau nengok anaknya." jawab Kevin dengan senyum yang tulus.
"Sudah, Tante. Tante tidak perlu khawatir. Sudah ada pembicaraan antara saya dan Azkia mengenai masa lalunya. Dan bagi saya, saya harus bisa menerima Kean. Bagaimanapun Azkia adalah Ibunya." kata Kevin terdengar tulus.
"Nak. Jika suatu saat nanti kamu tidak sanggup menghadapi situasi Azkia, tidak apa - apa, Nak. Ibu mengerti. Ibu hanya berharap kamu bisa betul - betul mengerti keadaan Azkia." ucap Ibu.
Kevin hanya mengangguk mendengarkan apa yang Ibu bicarakan.
"Syukur - syukur Nak Kevin bisa dengan lapang dada menerima kekurangan masa lalu Azkia. Kalau tidak bisa, Ibu ucapkan dari awal, lepaskan saja. Daripada jadi beban untuk kamu nanti." kata Ibu. Diluar dugaan, Kevin kembali menggenggam erat tangan Ibu Azkia.
"Diluar masa lalu Azkia, Azkia adalah orang yang baik, Tante. Bisa mengatur emosinya dengan baik, tidak terlalu banyak menuntut saya apalagi Azkia juga pintar masak, Tante. Saya ingin sekali bisa bersama Azkia. Terlepas dari bagaimanapun masa lalunya, Tante. Tolong izinkan saya untuk menjadi orang yang selalu ada untuk Azkia, Tante." Kevin mencium tangan Ibu dan meminta restu darinya. Apa yang Kevin katakan terdengar tulus. Membuat hati Ibu terasa hangat. Tidak terasa air mata jatuh dipipi Ibu.
__ADS_1
"Terima kasih, Nak, kalau kamu berpikir seperti itu, nanti kamu panggil saja Ibu ya, jangan panggil Tante." ucap Ibu mengelus kepala Kevin.
Azkia yang mendengar pembicaraan Ibu dan Kevin dari dalam, menghapus airmatanya. Sebegitu takutnya Ibu mengecewakan orang lain sampai harus berbicara seperti itu. Azkia mengerti mengapa Ibu berbicara begitu. Karena ketika Azkia merasakan rasa sakit dihatinya, Ibu merasakan rasa sakit berpuluh - puluh kali lipat. Maafkan Azkia, Bu.
Azkia keluar dengan koper berukuran sedang dan juga kotak makanan. Tas kecil berisi dompet dan hape sudah diselempangkan di badannya.
"Sudah siap. Yuk kita berangkat." ujar Azkia bahagia. Ardila juga mengeluarkan koper berukuran sedang.
"Sudah siap semua, Ki? Taksinya sudah datang?" tanya Ibu.
"Oh iya. Kia lupa. Yaudah Kia pesan dulu taksinya." Azkia langsung memencet beberapa pilihan di hapenya untuk memesan taksi online.
"Duduklah sambil menunggu." ucap Ibu kemudian masuk ke dalam rumah. Ardila tidak banyak bicara karena merasa sungkan dengan Kevin. Ia hanya memainkan hape sambil menunggu taksi online datang.
****
Perjalanan terasa menyenangkan dan lancar karena Kevin tidak hentinya memberi perhatian pada Azkia mulai dari makan, minum hingga membawakan koper. Ardila hanya merengut melihat Azkia dan Kevin yang begitu mesra. Salahkah dia ikut dengan keduanya saat ini? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Tetap saja kalau ditunda, Azkia akan tetap pergi bersama Kevin.
Perjalanan ke Surabaya hanya satu jam menggunakan pesawat. Kemudian dilanjut dengan mobil menuju Kediri. Terkadang Kevin mengagumi perjalanannya menuju Kediri dan sesekali Azkia mengajak Kevin untuk makan makanan di sepanjang jalan.
Terkadang Azkia dan Ardila tertawa melihat reaksi Kevin saat mencicipi pentol di pinggir jalan. Mungkin memang karena tidak pernah memakannya dan baru sekali ini mencobanya.
Tidak lama kemudian, sampailah di kota Kediri. Dimana Kean tinggal, dimana Kean berada. Hati Azkia berdebar ketika ingin bertemu dengan Kean. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengannya.
Ardila menggenggam tangan Azkia yang sedikit gemetar. Ia merasakan Azkia sedikit gelisah bertemu dengan Kean.
Kevin melihat Ardila yang menenangkan Azkia, kemudian Azkiapun tersenyum.
__ADS_1
"Tenanglah, Ki. Semua akan baik - baik saja." kata Ardila. Sebentar lagi perjalanan mereka menuju rumah Kean akan segera sampai. Kevinpun juga merasa sedikit gugup. Seperti apakah Kean? Bagaimana rupanya? Apakah bisa ia menyeimbangi Azkia untuk Kean nantinya?
Ah, Kevin tidak mau banyak berpikir dulu. Saat ini cepat sampai dan bertemu dengan Kean lebih penting.