
Azkia menunjukkan jari manisnya pada Ardila. Ardila histeris, bahagia melihat Azkia yang sudah resmi dilamar oleh Kevin.
"Serius ini, Ki? Ya ampun, aku seneng banget lihatnya! Akhirnya kamu bisa dilamar sama Kevin juga. Terus bagaimana? Semua lancar?" tanya Ardila dengan semangat.
"Lancar kok, Di. Ibuku juga sudah setuju. Ibu memberikan keputusan padaku. Aku juga berharap Kevin bisa memenuhi janjinya untuk seterusnya."
"Selamat ya, Ki. Aku nggak tahu harus berkata apa. Terus gimana? Kevin itu warga negara mana?" tanya Ardila. Ternyata pikirannya sama dengan Azkia.
"Itu dia yang bikin aku bingung. Entah aku atau Kevin, salah satu dari kami harus mengalah soal itu." Azkia merasa sedih karena akan menemukan kesulitan masalah kewarganegaraan.
"Kean gimana? Apa sudah setuju?"
"Hm. Aku belum bilang sama Kean. Tapi nanti aku telpon dia." jawab Azkia, hatinya kembali merasa gelisah.
"Pelan - pelan aja, Ki. Nanti Kean juga paham." sahut Ardila menenangkan hati Azkia yang gelisah.
"Kemarin kamu mau bicara apa?" Azkia ingat, kemarin Ardila mau membicarakan sesuatu tapi tidak bisa membicarakannya di telpon.
"Nico, Ki. Kemarin dia sempat telpon aku nanyain kamu. Tapi langsung aku cut supaya nggak nanyain kamu dan biarkan kamu bahagia di jalannya sendiri." cerita Ardila. Azkia menghela napas dan teringat ketika Nicolas mengikutinya.
"Dia menguntit aku, Di."
"Hah? Serius?"
"Iya, Di. Dia ngikutin aku kemana aja. Alasannya dia mau bicara sama aku. Tapi Kevin sempat mergokin dia lagi ngomong sama aku. Ya kamu tahu sendiri, Kevin nggak akan ngebiarin itu semua. Kevin sempat ngajak aku muter - muter, nunggu kira - kira Nico pergi dari rumahku. Dan amazingnya, dia nungguin aku sampai aku pulang jalan sama Kevin, Di! Itu sekitar jam sepuluh malam!" cerita Azkia dengan penuh antusias.
"Aku jadi gimana ya, Ki. Dulu memang aku sempat pro sama Nico karena kasihan dia nyari kamu kemana - mana tapi nggak ada hasil. Aku juga waktu itu cuma dengar cerita dari dia aja. Sekarang setelah aku tahu bagaimana kehidupanmu dan bagaimana dia hanya mementingkan perasaannya, aku jadi kontra lagi sama dia, Ki."
"Aku sepakat sama Kevin untuk mengabaikan Nico. Karena aku pikir ya Nico hanya masa lalu dan aku bangkit untuk kehidupanku ke depannya." kata Azkia mengakhiri ceritanya pada Ardila. Ardila menganguk mengerti. Bagaimanapun masa lalunya, sekarang Azkia hanya perlu fokus pada Kevin.
"Iya, Ki. Sebisa mungkin aku membantumu. Kalau kamu membutuhkan bantuanku, kamu nggak usah sungkan ya. Aku memang lebih banyak kerja di lapangan. Tapi kalau ada hal yang mendesak, aku bisa kok mengusahakan datang." Ucapan Ardila membuat hati Azkia menjadi hangat. Ia terharu mendengar Ardila mengatakan itu. Dipeluknya Ardila dengan erat.
"I love you, Di. Thank you for being my bestfriend, Di." kata Azkia dengan romantis. Ardila tidak mau merusak suasana yang sedang baik ini. Jadi Ardila hanya perlu menanggapi perkataan Azkia.
"Semoga kehidupanmu lebih baik kedepannya. Dan doakan aku agar cepat dapat pasangan sepertimu ya." Ardila tentu saja tidak bersungguh - sungguh mengatakannya. Karena sebenarnya sudah ada seseorang yang sedang dekat dengannya.
"Aku lupa! Gimana kisah percintaanmu, Di?"
Ardila memang belum sempat menceritakan tentang percintaannya. Tapi Ardila memaklumi jika terkadang Azkia melupakannya. Karena apa yang Azkia alami terlalu berat. Berbeda dengan dirinya. Azkia yang hidup berpindah - pindah sembari menata ulang hidupnya yang sempat hancur, pastilah sangat sulit. Berbeda dengan dirinya, lulus sekolah langsung diterima di perguruan tinggi. Ardila merasa takjub dengan kebesaran hati Azkia selama ini.
****
"Kean..." sapa Azkia dari ujung telpon. Kean merasa gembira dari nada bicaranya ketika Azkia menelponnya.
"Bu, gimana kabar Ibu?" tanya Kean dengan logat Jawa yang kental.
__ADS_1
"Baik, Le, gimana kabar kamu? Sekolahmu gimana?" Azkia tersenyum karena Kean sudah memanggilnya 'Ibu'. Walau senyumnya tidak bisa dilihat oleh Kean, tapi ia merasa senang.
"Baik, Bu. Cuma ya begitu. Kean itu kan anggota OSIS. Jadi repot ya di OSIS itu, Bu." cerita Kean.
"Nggak apa - apa, Le. Biar ada kegiatan, kamu biar punya banyak teman juga." sahut Azkia.
"Iya, Bu. Kean coba atur waktu antara kegiatan sekolah dan belajar. Mbah juga terkadang kondisinya membaik. Kadang juga kambuh lagi. Aku juga sambil urus Mbah." Kean sudah semakin terbiasa berbicara dengan Azkia. Awalnya mungkin memang terasa canggung, tapi lama - kelamaan jadi biasa.
"Kamu bantu jaga, Mbahmu. Mbah wes cape, Le. Sudah tua. Kalau butuh apa - apa, kamu jangan sungkan ya telpon Ibu. Ada apa - apa telpon Ibu." kata Azkia kemudian ia teringat kalau Kevin suka berkirim pesan dengan Kean.
"Kamu itu suka kirim pesan apa, Le, sama Om Kevin?" tanya Azkia penasaran.
"Hehehe.. ya bukan pesan apa - apa, Bu. Cuma pesan lagi cerita - cerita aja."
"Cerita apa?"
"Yo nggak, Bu, paling cerita tentang sekolah aja."
"Jangan bicara macam - macam ya, Le, sama Om Kevin."
"Nggak, Bu. Lapo macem - macem. Cuma Bu, kalo Om Kevin jadi ayahe Kean, yo wuenak, Bu."
"Lapo sih, arek iki, ko mbahas - mbahas dadi ayahe."
"Heheheh... ya nggak apa - apa toh, Bu. Daripada Ibu sendirian. Om Kevin iku lho apik, Bu." sahut Kean dengan cengirannya yang sudah pasti tidak bisa dilihat oleh Azkia.
"Tapi memang kamu setuju kalo Ibu itu sama Om Kevin?" tanya Azkia menjadi penasaran.
"Lapo, Bu, ga setuju. Wonge apik koyo ngono. Tapi ya terserah Ibu. Memang kenapa, Bu?"
"Iya ya. Hehehe... nggak apa - apa sih. Ibu cuma tanya." Azkia hanya tertawa kecil. Ia senang sekali jika Kean memiliki pendapat yang sama tentan Kevin.
"Bu, aku ada futsal. Aku tutup dulu ya, Bu. Nanti telpon lagi ya, Bu."
"Yowes hati - hati ya, Le.."
Kemudian telpon ditutup oleh Kean. Azkia merasa lega karena semua orang memberikan respon yang positif terhadap Kevin. Azkia kembali membayangkan ucapan ditelpon bersama Kean. Persis sekali dengan Nicolas yang menyukai banyak kegiatan. Walaupun begitu, Azkia hanya bisa memberinya support dengan kegiatan anaknya. Agar bisa lebih percaya diri dan memupuk pertemanan.
****
Azkia berjalan menyusuri jalanan komplek rumahnya. Ia membawa beberapa belanjaan buah yang sudah dipesan oleh Ibunya. Hari ini Kevin tidak mengantarnya karena masih ada meeting. Azkia memakluminya dan mengerti keadaan Kevin.
Di ujung jalan, Azkia melihat Nicolas yang sedang duduk di bangku taman. Azkia menghampirinya. Entah apa yang akan Nicolas katakan kali ini.
"Nico, kamu sedang apa?" tanya Azkia menghampirinya dengan hati - hati.
__ADS_1
Nicolas berdiri menghampiri Azkia dengan wajah yang tidak karuan.
"Aku mau ijin pamit, Ki." kata Nicolas tiba - tiba.
"Maksud kamu?"
"Aku di mutasi dari perusahaanku ke daerah Bandung. Mungkin aku akan tinggal disana juga."
Azkia menatapnya dengan sedih. Bukan karena Nicolas ingin pindah dari Jakarta. Tapi ia bertanya - tanya. Mungkinkah ini akibat dari pertemuan Kevin dengan bos perusahaan Nicolas? Tapi tidak mungkin. Kevin sudah menyesalinya.
"Begitu."
"Aku berterima kasih pernah dipertemukan oleh wanita sebaik kamu." ucap Nicolas kemudian mengulurkan tangannya.
"Aku hanya ingin berjabat tangan. Ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu." kata Nicolas. Azkia kemudian menyambut baik uluran tangan Nicolas dan menjabat tangannya.
"Aku pamit ya, Ki."
Tanpa banyak bicara lagi, Nicolas langsung pergi meninggalkan Azkia. Azkia hanya menatap punggung Nicolas dengan sedih. Keadaan Nicolas tidak secemerlang dulu.
Dulu rasanya ia mudah saja mendapatkan apa yang ia mau. Tapi sekarang, Nicolas seperti lelaki lusuh yang kehilangan arah entah harus kemana. Azkia tidak berusaha untuk memanggilnya atau apapun. Semakin lama, bayangan Nicolas menghilang dan Azkiapun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
****
Kean menghadiri pernikahan Azkia. Penampilannya disulap menjadi anak remaja yang tampan dan menarik perhatian. Azkia memeluk dan menciumi Kean berkali - kali. Tapi Kean sangat malu dan menghindari Azkia sesekali. Pernikahan itu dilangsungkan di Bali, tempat kelahiran Ibunya Kevin.
"Terima kasih ya, Sayang. Selama ini sudah bertahan tanpa Ibu disamping Kean." ucap Azkia pada Kean dengan tatapan yang hangat.
"Iya, Bu. Nggak apa - apa. Kean masih berada dalam satu keluarga sudah cukup untuk Kean. Kean masih bisa sekolah, masih bisa merasakan tidur di tempat yang nyaman, Kean masih sangat bersyukur, Bu." Kata - kata Kean membuat hati Azkia semakin terharu. Kean anak yang baik, sopan dan juga bisa menyenangkan orang lain. Kali ini Azkia bertekad tidak akan mengabaikannya lagi.
Kevin mengucap janji sucinya di depan penghulu dan para tamu undangan. Kini, Kevin tidak ragu lagi mengikat Azkia dengan sebuah ikatan pernikahan dalam mahligai rumah tangga. Ia selalu berusaha menjadi pria yang pantas untuk Azkia begitu pula sebaliknya.
Setelah mengucap janji pernikahannya, Kevin dan Azkia saling bertatapan satu sama lain dan tersenyum.
"Thank you for being apart of my life, Azkia." ucap Kevin.
"I love you, Kevin." Azkia tersenyum dengan tatapan mata yang indah. Semua terasa sempurna untuk dirinya kini.
"I love you, too, Azkia Lincoln." Kevin memamerkan gigi putihnya, mencium Azkia tepat di bibirnya. Meraih pinggang Azkia yang ramping dan para tamu yang datang meriuhkan suasana dengan tepukan tangan yang meriah.
Kean tersenyum melihat Ibunya berbahagia lagi dan Seruni merangkul Kean dengan senyuman.
"Terima kasih, ya, Le, sudah sabar menghadapi Ibumu. Selama ini Ibumu mengalami hidup yang sulit. Sekarang nggak apa - apa kan, Ibu bahagia?"
"Iya, Bulik. Kean bahagia kalau Ibu bahagia."
__ADS_1
Kean tersenyum dengan gembira melihat Ibunya melemparkan buket bunga kepada tamu undangannya. Mereka berebut mengambil buket bunga itu, balon - balon pun di terbangkan ke atas langit. Kini luka Azkia sudah dibalut dengan rapi oleh sebuah cinta yang tulus tanpa memandang bagaimana masa lalunya. Pahit, manis, asam, bukan itu tujuan Kevin menginginkan Azkia.
Terlepas dari masa lalu Azkia, Azkia tetaplah seorang wanita cerdas, pandai memasak dan juga bisa menyenangkan hati Kevin dengan kata - katanya yang lembut. Mencoba melihat sisi positif dari kesalahan masa lalu seseorang bukanlah hal yang salah. Setiap orang pernah mempunyai kesalahan dan setiap orang berhak memperbaiki kesalahan itu untuk masa depan yang lebih cemerlang.