
Ardila terdiam. Ia bingung bagaimana harus menanggapi cerita Azkia. Disatu sisi, ia bahagia karena Azkia masih mempunyai sifat manusiawi dengan tidak menggugurkan janinnya. Tapi disatu sisi ia merasa bahwa sikap Azkia tidak tepat. Mengapa ia menyembunyikannya dari Nico?
"Kenapa kamu nggak cerita sama Nico soal anak kamu, Ki?" tanya Ardila.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau dia tidak mencoba peduli dengan keadaanku, Di? Dulu dia sudah menolakky dengan tidak bisa bertanggung jawab, apakah setelah tiga belas tahun lamanya dia mau berusaha untuk itu?" Azkia mulai gemetar mengatakan itu semua.
"Aku sudah bilang pada Nico..."
"Sudahlah, Di. Kalau memang dia benar peduli, dia tidak seharusnya bersikap begitu. Seharusnya ia mencoba memperhatikan bagaimana keadaanku selama ini. Entah apa pembicaraanmu dengan Nico. Aku hanya tidak ingin mengaitkan anakku dengan dia. Anakku sudah besar. Dia akan segera mengerti nanti." Azkia bangkit dari duduknya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh ke pipinya.
Ardila menahan Azkia untuk segera pergi.
"Ki..."
Azkia menghentikan langkahnya.
"Aku minta tolong, Ki.. beri Nico kesempatan lagi. Aku yakin dia pasti berusaha lebih keras.. terutama untuk kamu dan anakmu." kata Ardila memohon.
"Aku sudah ada pacar, Di. Tolong jangan kaitkan lagi Nico dalam kehidupanku. Aku nggak mau mengecewakan orang lain karena Nico." jawab Azkia menghapus airmatanya.
Ardila tidak dapat mengatakan apapun lagi. Ia melepas tangannya dari tangan Azkia. Azkia pergi tanpa menoleh ataupun berpamitan pada Ardila. Ardila pun sama. Ia terduduk lemas di kursinya. Memijat dahinya yang tidak terasa pusing.
Ardila baru saja teringat dengan cerita Nicolas. Bahwa ia mendengar Azkia berbicara dalam bahasa Jawa dan mengatakan kata "rumah sakit". Mungkinkah itu anaknya Azkia yang sedang sakit?
****
Azkia datang ke kantor dengan sangat terlambat. Obrolannya dengan Ardila benar - brnar menyita waktu. Setelah selama ini ia hidup tenang dari Nicolas, mengapa ia bertemu lagi dan membuat hidupnya banyak terkena masalah.
"Kamu terlambat, Ki?" tanya Mia membawa gelas berisi air.
"Aku habis ketemu klien tadi. Jadi sedikit telat." jawab Azkia tanpa menatap Mia. Mia memperhatikan wajah Azkia yang tampak lelah.
"Habis ketemu klien kok wajahmu murung? Ada kendala?" tanya Mia.
__ADS_1
"Nggak, Mi. Aku cuma cape aja semalam kurang istirahat." dusta Azkia yang jarang sekali ia lakukan.
"Santai saja. Selamat bekerja ya, Ki..." jawab Mia sambil berlalu dari meja kerja Azkia.
Azkia memegangi kepalanya. Terasa sakit sekali ketika ia membicarakan masa lalunya dengan Ardila. Tidak mudah ia membagi rahasianya pada Ardila. Walau ia sendiri tahu, suatu saat nanti, cepat atau lambat akan banyak yang tahu bahwa Azkia melahirkan seorang anak tanpa suami.
Sedih, merasa hina dan kotor. Itulah yang ada dipikiran Azkia. Tapi tidak. Kean sudah besar. Ia lebih mempedulikan apa reaksi Kean daripada orang lain. Terutama Kevin. Haruskah ia melanjutkan hubungannya dengan Kevin? Selama ini Kevin selalu berkata jujur dan tidak pernah membohongi Azkia. Sedangkan Azkia? Ia menyembunyikan sesuatu yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya begitu saja.
****
Diana duduk di meja kerjanya. Sejak kedatangannya ke Indonesia, Diana hanya ingin terjun dalam dunia bisnis dimana ada Kevin didalamnya. Tapi sesekali ia merasa kesal dengan karyawan yang bernama Azkia.
"Permisi, Bu." panggil sekretaris Diana yang membawa beberapa file dan langsung menyerahkannya pada Diana.
"Bagaimana tentang penyelidikan latar belakang yang bernama Azkia itu?" tanya Diana.
Sekretaris itu sedikit diam kemudian mau tidak mau ia akan membuka suaranya.
"Ini belum lengkap, Bu." kata Sekretaris itu
"Azkia, dulu tinggal bersama ayah, ibunya dan adiknya. Tapi sekarang ia tinggal bersama adik dan ibunya saja. Ayahnya sudah meninggal karena sakit." jelas Sekretaris itu.
Diana mengangguk pelan.
"Ada lagi?"
"Saya sedang cari info lagi, Bu. Nanti akan saya kabari jika saya sudah mendapat info." kata Sekretaris kemudian pamit dari Diana.
Diana mengangguk. Ia masih belum merasa ada yang janggal dari pemeriksaan tersebut. Ia masih memaklumi gadis yang bernama Azkia itu.
****
Nicolas tidak sabar menunggu kabar dari Ardila. Tadi pagi Ardila menelponnya dan bilang bahwa ia akan bertemu dengan Azkia. Nicolas membolak balikkan hapenya. Ia membuka layar kunci hapenya, siapa tahu ia melewatkan panggilan telpon dari Ardila. Tapi ia tidak melewatkan apapun. Akhirnya, Nicolas merasa gemas sendiri karena Ardila tidak juga memberi kabar.
__ADS_1
Nicolas membuka kunci layar hapenya dan menelpon Ardila. Dering telpon sekali dua kali masih berbunyi. Tapi kenapa Ardila mengangkat telponnya lama? Tumben. Nggak biasanya begini.
Nicolas semakin gelisah. Ia mematikan telponnya dan menelpon Ardila lagi. Kali ini Ardila mengangkat telponnya.
"Di."
"Iya kenapa Nic?"
"Kenapa? Kok lama angkat telponnya?"
"Aku tadi meeting." jawab Ardila singkat.
"Gimana? Kamu tadi jadi ketemu sama Azkia?" tanya Nicolas dengan harap - harap cemas. Ardila tidak langsung menjawab pertanyaan Nicolas. Ia terdiam sesaat.
"Di? Kamu dengar aku?" tanya Nicolas merasa heran.
"Iya denger kok. Tadi aku jadi ketemu Azkia, Nic." jawab Ardila terdengar ragu.
"Terus bagaimana? Kamu bicara apa sama dia?" Nicolas semakin penasaran dengan apa yang Ardila bicarakan.
"Nggak lama aku ketemu Azkia karena memang sudah jam kantor." Ardila terdengar seperti mengulur pembicaraan.
"Lalu?"
"Tadinya memang aku mau bicarakan kalian berdua. Tapi Azkia diburu - buru waktu akhirnya aku nggak jadi ngomong apa - apa." dusta Ardila. Ia bohong padw Nicolas, maka dari itu ia mengulur - ulur pertanyaan Nicolas.
"Oh begitu."
"Nic, saran aja ya. Kalau kamu mau lebih bisa kenal Azkia lebih baik jangan melalui aku. Kamu udah kepala tiga Nic. Masa mau ajak ngobrol Azkia aja kamu harus lewat aku?"
"Bukan itu maksudku..." kata Nicolas membela diri.
"Nic. Wajar kalau menurutku Azkia bersikap begitu. Dulu kamu menolak bertanggung jawab atas bayi yang dia kandung. Setelah sekian lama dia menghilang dan kamu menemukan dia lagi, kamu bukannya mencemaskan keadaannya, bagaimana dia menjalani hidup, tapi kamu lebih mementingkan diri kamu yang bersalah. Lupakan itu semua, Nic. Utamakan perasaan Azkia kalau kamu mau mendapatkan dia lagi. Itu kuncinya." kata Ardila panjang lebar pada Nicolas. Ia memang sudah lama kesal sekali dengan Nicolas yang bersikap seperti anak kecil begini.
__ADS_1
"Loh, Di. Aku sudah bicara padanya, tapi dia membentakku juga."
"Semua yang ingin kamu dapatkan nggak selalu ada di jalan yang mulus, Nic. Kalau kamu mau mendapatkan berlian , wajar aja kalau kamu harus melewati batu besar ataupun jalan berlubang." kata Ardila yang langsung menancap di hati Nicolas.