
Hari ini Nicolas menunggu lagi kedatangan Azkia ke kantor. Lagi - lagi bersama pria itu, batin Nicolas. Nicolas selalu menunggu saat dimana Azkia datang ke kantor sendiri tapi tidak pernah ada kesempatan.
Jika melihat dari penampilannya, pria yang selalu bersama Azkia, tidak bisa dipungkiri lagi ketampanannya. Dibanding dengan dirinya, Nicolas memang tidak sebanding dengan Kevin.
"Senyum kenapa?" tanya Azkia melihat Kevin yang senyum sendiri.
"Nggak. Cuma ada pesan lucu aja." jawab Kevin masih menahan senyumnya.
Azkia semakin penasaran dengan apa yang Kevin baca di hapenya.
"Lihat." Azkia ingin segera meraih hape Kevin, tapi Kevib langsung menariknya.
"Nggak. Ini pesan antara lelaki."
"Antara lelaki apa maksud kamu?"
Kevin menyodorkan hapenya kemudian melihat Kean yang mengirimi pesan denga sebuah foto.
"Sejak kapan kamu punya nomor hape Kean?"
Kevin langsung mengambil hapenya kembali dari tangan Azkia.
"Rahasia dong." Kevin mulai bercanda tawa dengan Azkia di lobby gedung kantornya. Nicolas hanya bisa merengut melihat Azkia asyik tertawa bersama kekasihnya.
****
Pulang kerja, Nicolas masih belum menyerah untuk mengambil kesempatan agar ia bisa bicara dengan Azkia. Ia menunggu Azkia di lobby, jika dia berhasil, Azkia akan turun ke lobby tanpa Kevin. Biasanya, jam pulang kantor, Azkia jarang sekali pulang bareng Kevin.
"Azkia.." panggil Nicolas begitu berhasil mendapati Azkia di lobby sendiri tanpa Kevin.
"Kenapa, Nic?" tanpa curiga apapun, Azkia menanggapi Nicolas seperti biasanya.
"Aku mau bicara, boleh?" tanya Nicolas dengan sopan.
"Ngomong aja."
"Nggak disini tapi, Ki. Ikut aku yuk." kata Nicolas yang ingin segera meraih tangan Azkia. Tapi terlambat. Kevin lebih dulu menarik tangan Azkia.
"Kevin..." Azkia terkejut dengan datangnya Kevin yang tiba - tiba. Karena tadi dia bilang ada meeting dengan Marco sebentar.
Kevin menarik Azkia agar berdiri disampingnya dan menggenggam erat tangan Azkia.
"Aku penasaran siapa yang selalu mengawasi kami berdua dari kejauhan. Ternyata ini orangnya." kata Kevin. Azkia bingung dengan apa yang Kevin katakan.
"Mengawasi? Maksudnya apa, Kevin?" tanya Azkia.
"Siapa dia, Azkia?" tanya Kevin menatap tajam Nicolas yang berdiri kaku di hadapan Kevin dan juga Azkia.
Azkia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Kevin.
"Azkia, kamu kenal dia kan? Siapa dia?" Suara Kevib terdengar tegas dan tidak seperti biasanya. Apakah Kevin tahu kalau Nicolas adalah mantan kekasihnya pada saat sekolah dulu?
"D..dia.. Nico. Mantan pacarku waktu sekolah dulu." ucap Azkia pelan.
DEG! hati Kevin bagai tersambar petir. Ternyata dugaannya benar bahwa lelaki inilah mantan kekasihnya.
"Hai. Saya Nico." Nicolas mengulurkan tangannya pada Kevin. Kevin menatap Nicolas dengan tajam, enggan menyalami Nicolas. Tapi Kevin menyembunyikan perasaannya sekarang. Tidak mungkin ia menunjukkan rasa cemburunya ditempat seramai ini.
"Kevin." ucap Kevin membalas uluran tangan Nicolas.
"Kenapa kamu mengikuti kami?" tanya Kevin semakin tajam.
"Saya cuma mau ngobrol sama Azkia..." jawab Nicolas terdengar ingin berbicara santai dengan Kevin.
__ADS_1
"Kalau mau ngobrol, nggak perlu kan mengawasi kami setiap datang dan pulang kerja?" tanya Kevin geram.
"Ya, saya cuma mau ngobrol sama Azkia aja, apa nggak boleh?" tanya Nicolas sedikit tertawa.
"Azkia wanita saya. Apapun yang Azkia lakukan, saya harus tahu." jawab Kevin tegas.
"Wah.. Anda protektif sekali pada Azkia..." Nicolas mencoba tertawa menanggapi Kevin.
"Setidaknya saya tidak membuatnya menangis apalagi putus asa menjalani hidupnya." balas Kevin. Nicolaspun merubah ekspresinya. Awalnya ia hanya ingin bercanda dan bersikap santai. Tapi semua itu terbantahkan oleh tatapan Kevin yang tajam. Setajam lidahnya.
"Maksud Anda apa? Maksud Anda, saya hanya bisa membuatnya menangis?" Nicolas merasa tidak terima bahwa ada yang lebih baik mengungguli hatinya Azkia.
"Saya nggak bilang begitu. Lagipula, hubungan kalian sudah selesai. Mau apalagi?"
Nicolas terdiam dan tidak bisa menanggapi perkataan Kevin. Ia pun menatap Kevin dengan tajam.
"Kevin, ayo pulang." Azkia menarik tangan Kevin berulang kali, tapi Kevin tidak meresponnya. Azkia mulai merasa malu dilihat oleh banyak orang.
Nicolas tetap menatapnya, kebencian mulai tumbuh dihatinya dan melihat Azkia yang peduli pada Kevin, membuatnya semakin membencinya.
Setelah di dalam mobil, Kevin memukul stir mobil. Baru sekali ini Azkia melihat Kevin marah.
"Kenapa kamu nggak bilang dia orangnya?" tanya Kevin dengan kesal.
"Aku seperti orang bodoh nggak tahu apa - apa!"
Azkia hanya diam melihat Kevin memarahinya. Azkia tahu itu hanyalah ungkapan kecewa dari Kevin karena Nicolas tiba - tiba muncul.
Azkia ******* - ***** jemarinya, ia tidak bisa menjawab Kevin yang sedang marah ataupun membantahnya.
"Aku sudah menduga sejak awal dialah orangnya. Tapi aku tunggu sampai kamu cerita." Kevin menurunkan nada bicaranya. Melihat Azkia yang hanya diam menunduk.
"Maaf."
Nicolas melempar tasnya diatas kasur. Ia duduk dan meremas kepalanya. Hatinya kesal seperti terbakar oleh bara api. Melihat Azkia bersama lelaki lain ia pikir awalnya ia bisa merelakannya. Tetapi ternyata tidak. Ia tidak rela jika Azkia bersama lelaki lain. Nicolas meraih hapenya dan menyalakan hapenya. Foto Azkia yang dipasang sebagai wallpapernya membuat hatinya menjadi rindu lagi kepada Azkia.
Mobil Kevin terparkir di depan rumah Azkia. Tapi suasananya tidak menyenangkan seperti biasa.
"Kamu harus hati - hati pada Nico." kata Kevin.
Azkia tidak mengerti maksud Kevin.
"Selama beberapa hari dia menguntitmu. Mungkin dia mencari kesempatan untuk bicara denganmu. Tapi karena aku selalu ada bersama denganmu, dia tidak berani mendekatimu." lanjut Kevin menatap Azkia.
"Aku baru tahu tadi kalau dia mengikutiku, Kev. Sebelumnya aku nggak tahu apa - apa." jawab Azkia.
"Iya. Nggak apa - apa. Aku hanya memberitahumu. Mungkin dia nggak terima kalau aku pacaran sama kamu jadi dia menguntitmu. Itu bahaya. Kamu jangan sampai sendirian." sahut Kevin.
"Aku minta maaf, Kev..."
"Untuk apa?"
"Aku belum sempat kasih tahu yang mana yang namanya Nico." ucap Azkia merasa bersalah.
"Aku udah tau kok. Cuma mau tau dari ceritamu aja " jawab Kevin nada bicaranya sudah terdengar seperti biasa. Azkia meraih tangan Kevin dan menggenggamnya.
"Kalau begitu aku boleh pegang tangan ini lagi dong?" tanya Azkia dengan senyum di wajahnya..
Kevinpun tersenyum melihat Azkia yang terlihat bersinar dimatanya. Kevin kembali menggenggam tangan Azkia.
"Jangan lepas tanganku, ya. Aku janji aku akan ada terus buat kamu." ucap Kevin memandangi Azkia yang juga menatapnya.
Azkia tersenyum dan memeluk Kevin dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kenapa waktu terasa cepat hari ini?" tanya Azkia, Kevin membalas pelukan Azkia.
"I love you, Kev." ucap Azkia di telinga Kevin membuat Kevin bahagia mendengarnya. Kevin menciumi rambut Azkia yang terasa wangi.
"I love you, too, Kia..."
****
Nicolas terkadang masih tetap mengawasi Azkia dari jauh. Walau begitu, Kevin juga tetap berhati - hati menjaga Azkia. Suatu hari, Kevin sudah jengah dengan sikap Nicolas yang selalu mengawasi Azkia diam - diam. Dibicarakan baik - baik tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kevin mulai berpikir bahwa Nicolas bukan mencintai Azkia dengan tulus. Tapi itu hanyalah obsesinya Nicolas karena tidak bisa menerima dengan sepenuhnya kalau Azkia sudah berpaling darinya.
Tok. tok. tok.
Pintu ruangan Kevin dibuka. Seorang pria dengan pakaian seragam pekerja, masuk ke dalam ruangan Kevin.
"Selamat siang, Pak." sapa pria itu.
"Masuk." jawab Kevin membuka lacinya.
"Bapak ada perlu dengan saya?"
Kevin memberikan selembar foto yang sudah ia cetak dan diberikan pada pria itu.
"Cari tahu orang ini kerja di perusahaan apa dan buatkan janji temu saya dengan pemiliknya." perintah Kevin.
Pria itu mengangguk.
"Baik, Pak."
"Lakukan dengan mulus ya. Saya tidak ingin ada yang curiga." ucap Kevin.
"Tenang, Pak. Bapak bisa mengandalkan saya."
Kevin mengangguk dan memberikan amplop berisi uang padanya.
"Itu uang muka. Selebihnya saya berikan kalau saya sudah bisa bertemu dengan yang punya perusahaan."
"Baik, Pak." jawab pria itu.
"Berikan kartu nama saya." Kevin menyodorkan kartu namanya dan memberikannya pada pria suruhan itu.
Tidak lama, pria suruhan itu pergi meninggalkan ruangan Kevin membawa foto Nicolas.
Di meja karyawan, Joana dan Mia mengintimidasi Azkia yang selama inu menyembunyikan bahwa dirinya sudah memiliki hubungan dengan bosnya.
"Jadi selama ini kamu sudah berpacaran ya dengan Pak Kevin?" tanya Mia berbisik.
Azkia hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan mereka.
"Kemarin yang lain juga lihat kamu sempat di lobby bareng Pak Kevin, terus Pak Kevin lagi adu mulut sama siapa gitu aku nggak tahu." timpal Joana.
"Jadi gimana nih, Jo? Azkia masih nggak ngaku juga padahal udah ketangkep basah." sahut Mia gemas sekali.
"Iya, OB juga udah sering lihat tuh Azkia sama Pak Kevin keluar dari lift barang bareng - bareng. Ngapain coba nggak pakai lift penumpang." Joana semakin memanas - manasi Azkia agar cepat mengaku.
"Udah. Udah. Iya. Kalau aku ada hubungan emang kenapa? Kalian kayak nggak pernah pacaran aja deh. Lagian aku kan pacarannya juga diluar jam kerja." jawab Azkia pada akhirnya. Telinganya sudah merasa bising dengan omongan teman - temannya.
"Ya sebenarnya sih nggak apa - apa ya kalau kamu mau pacaran sama siapa aja. Tapi hati - hati aja jangan sampai ganggu kinerja kamu." kata Joana.
"Enggak kok. Selama ini aku oke oke aja kan kerjanya? Nggak merasa terganggu atau apa?" Azkia mencoba membela dirinya sendiri sekarang.
"Iya sih..."
"Yasudah kembali kerja ya, Nona - nona Cantik..." Azkia mengusir mereka perlahan dari mejanya, berharap tidak diganggu lagi oleh Joana maupun Mia.
__ADS_1
Terkadang karyawan lain berbisik - bisik tentang Azkia yang dekat dengan Kevin. Tapi karena sebagian besar belum melihat secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Azkia dan Kevin sering datang dan pulang berbarengan, mereka tidak bisa bergosip lebih lanjut.