Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Keraguan masa lalu


__ADS_3

"Benar dugaanku."


Azkia bingung dengan apa yang baru saja Ardila katakan.


"Maksud kamu, apa, Di?"


"Kamu membuat keputusan disaat kamu emosi dan aku juga tidak menyalahkan pada saat itu kamu juga pasti panik dan depresi belum lagi masalah sekolah kamu. Kamu terburu - buru hingga pergi meninggalkan Jakarta ke Kediri." ucap Ardila.


"Ya, memang benar. Pada saat itu aku emosi. Siapa yang bisa terima kalau aku hamil pada saat usiaku masih tujuh belas..."


Azkia tersenyum kecut mengingat masa lalunya yang membuat dirinya tampak begitu bodoh.


"Aku harap suatu saat nanti kamu bisa bicara sama Nico lagi baik - baik, Ki. Enggak sekarang. Tapi suatu hari nanti..."


Azkia tidak menjawab perkataan Ardila. Sudah jelas keraguan Azkia pada saat itu hanyalah emosi sesaat.


"Ini nomor telponku. Kamu harus simpan nomorku dan kamu harus hubungi aku. Jangan coba - coba menghilang tanpa kabar lagi."


Azkia jadi teringat pada seseorang bernama Tiara. Ia juga mengenal Azkia tetapi Azkia tidak terlalu mengingat siapa itu Tiara.


"Kemarin juga ada yang bertemu temanku. Katanya satu sekolah sama aku dulu. Aku lupa dia siapa. Tapi dia kasih nomor telpon." Azkia mengeluarkan hapenya dan menunjukkan foto Tiara pada Ardila.


"Oh, Tiara. Nggak usah dipikirkan. Dia cuma berusaha membuat hubungan kamu sama Nico hancur. Pokoknya jangan dekat - dekat dia."


Azkia mengangguk dan menyimpan nomor Ardila di hapenya.


****


Setelah bertemu dengan Azkia, Ardila bertemu dengan Nicolas. Di kafe yang berbeda, Nicolas sudah menunggunya.


"Kamu udah lama?"


"Nggak kok. Aku juga tadi ada lembur sedikit." ucap Nicolas sedikit berbohong. Sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk mendengar kabar Azkia.


"Jadi, bagaimana kabar Azkia?" tanya Nicolas tidak sabar.


"Tunggu dulu. Aku baru sampai, lho."


"Ayolah, Di..."


Ardila mengambil sedikit camilan yang Nicolas pesan. Tadi ia terlalu banyak bicara dengan Azkia sampai lupa memakan camilannya.


"Azkia baik. Seperti yang kamu lihat." jawab Ardila.


"Terus, dimana dia tinggal selama ini?"


"Di Kediri."


"Kediri? Tempat siapa?" Nicolas semakin penasaran.


"Nggak tahu, aku nggak banyak tanya. Aku baru pertama kali ketemu dia lagi setelah sekian lama. Aku cuma meluruskan kesalahpaham antara kalian aja tadi." jawab Ardila masih fokus dengan camilannya.


"Kesalahpahaman yang mana?"

__ADS_1


Ardila mulai gemas dengan Nicolas yang tidak mengerti juga dengan maksud Ardila.


"Aku harap setelah ini kalian ketemu ya. Aku cuma menanyakan apa dia benar yakin kalau kamu pada saat itu benar nggak mau tanggung jawab? Dan dia ragu. Benar atau nggak."


Nicolas terdiam. Seolah teringat dengan kehamilan Azkia yang belum sempat ia ketahui.


"Dan lagi. Tiara bertemu dengan Azkia. Aku harap Tiara nggak bikin masalah lagi deh, khususnya sekarang."


"Tiara? Kok bisa?"


"Entahlah. Kenapa kue ini enak banget."


"Makan, Di. Makan yang banyak." kata Nicolas menyodorkan lagi kue miliknya.


Ardila terus memakan kue coklat yang meleleh dengan lahap.


****


Esoknya Azkia bekerja seperti biasa dan mampir sebentar ke ruang Kevin untuk memberikannya kotak makanan.


"Permisi, Pak."


"Iya, silakan." jawab Kevin dari dalam ruangannya.


"Maaf saya mau memberikan ini, Pak."


Kevin memandangi kotak makanan yang Azkia bawa dan menimbangnya, mau menerimanya atau tidak.


Azkia merasa khawatir. Mungkinkah masakan kemarin tidak cocok dengannya.


"Iya Pak."


"Kenapa sayur yang kemarin rasanya asam? Apakah sudah basi?"


Azkia ingin tertawa tapi ia menahannya. Tentu itu bukan sayur yang sudah basi.


"Maaf, Pak. Itu namanya sayur asam. Tapi itu tidak basi kok, Pak. Memang disini namanya sayur asam dan enak kalau dimakan pakai sambel dan ayam goreng." jelas Azkia.


"Apakah orang Indonesia suka dengan sayur yang asam seperti itu?" tanya Kevin bingung.


"Iya, Pak. Itu enak dan menyegarkan."


"Lalu bagaimana dengan yang kamu bawa?"


Azkia meletakkan kotak makanan diatas meja dan membukanya.


"Ini steak daging dengan mash potato fan sayuran. Semoga Bapak tidak asing dengan menu hari ini."


"Baiklah, ini lebih baik. Terima kasih Azkia."


Azkia pamit dan segera meninggalkan ruangan Kevin. Ketika ingin membuka pintu , Kevin memanggil Azkia.


"Nanti malam coba antar saya ke restaurant di Jakarta sini. Saya belum pernah mencoba makanan di sekitar sini." Kevin tersenyum dengan manis membuat hati Azkia cepat meleleh.

__ADS_1


"Baik, Pak." Azkia membalas senyum Kevin dan menutup pintu dengan perlahan.


****


Sepulang kerja, Azkia berjalan bersama Kevin menyusuri lobby. Tentu saja banyak yang memperhatikan mereka.


Tepat di pintu lobby, Azkia mendapati bayangan Nicolas yang sudah menunggu Azkia.


Azkia teringat dengan pembicaraannya bersama Ardila kemarin. Mungkinkah masih ada keraguan diantara mereka?


Azkia minta ijin sebentar pada Kevin untuk menemui Nicolas dan Kevinpun menunggu di parkiran mobil.


"Kamu menungguku?" sapa Azkia pada Nicolas. Nicolas terkejut dan mendapati Azkia tepat dihadapannya.


"Azkia."


"Aku sudah bertemu dengan Ardila kemarin."


"Aku cuma mau mau tahu keadaanmu." jawab Nicolas pelan.


"Aku baik. Seperti yang kamu lihat."


Nicolas sedih mendengar jawaban Azkia. Ada nada bahwa ia tidak suka bertemu dengannya.


"Baiklah. Aku pamit dulu."


Nicolas pergi meninggalkan Azkia di dekat pintu lobby. Angin yang menyapu rambut Azkia membuat rambutnya sedikit berterbangan. Ia menatap punggung Nicolas yang semakin lama semakin menjauh.


Jahatkah ia pada Nicolas? Azkia masih belum tahu bagaimana harus menghadapi Nicolas. Ia masih terbayang masa lalu harus melewati penderitaan tanpa Nicolas. Ardila benar. Suatu hari nanti, ia memang harus bicara pada Nicolas.


****


"Ini steak salmon kesukaan saya, Pak. Kalau Bapak suka, Bapak bisa makan disini." kata Azkia menunjukkan makanan di sekitar kantor.


"Saya tidak pernah jalan - jalan atau apapun disini. Saya juga tidak bisa meminta Marco karena dia terlalu rewel."


Azkia tertawa sedikit mendengar apanyang Kevin katakan.


"Betul kan? Marco seperti itu. Selalu saja bicara yany tidak penting." sambung Kevin sambil memotong dan melahap steak salmonnya.


Disatu sisi, Azkia merasa sedih karena bertemu kembali dengan masa lalu yang menyedihkan. Disatu sisi pula, ia merasa bahagia dan nyaman ketika berada di dekat Kevin.


Azkia tidak menafsirkan bahwa dirinya menyukai boss - nya. Hanya saja, Azkia merasa terhibur dengan lelucon bossnya.


Sesekali Azkia tertawa mendengar pengucapan Kevin yang agak berantakan. Tapi Azkia memaklumi karena Kevin bukanlah orang Indonesia asli.


"Bungkuslah untuk orangtuamu." ucap Kevin.


"Tidak usah, Pak. Ibu saya pasti masak kok di rumah. Tidak perlu dipikirkan beliau makan apa hari ini." jawab Azkia menolak perkataan Kevin.


"Baiklah. Kalau begitu saya saja yang akan membungkuskannya." Kevin menuju kasir melakukan pembayaran serta memesan dua porsi lagi untuk dibawa pulang.


Azkia merasa tidak enak, tapi ia juga tidak berani menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2