Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Pengakuan Nico


__ADS_3

Nicolas membuka pintu kamar kosnya. Ia menatap Azkia dengan bingung. Begitupun Azkia yang bingung dengan tatapan Nicolas. Apakah kedatangannya terlalu tiba - tiba? Hingga Nicolas menatapnya dengan heran.


"Kamu ngapain disini, Ki?" tanya Nicolas yang masih belum membuka lebar pintu kosnya.


"Aku cuma mau nengok kamu." jawab Azkia menyodorkan plastik berisi obat ditangannya.


"Sama kasih ini." kata Azkia kemudian Nicolas meraih plastik obat itu dengan hati - hati agar tidak menyentuh Azkia.


"Masuklah." Nicolas melebarkan pintu kamar kos nya dan menaruh obat itu diatas meja makannya.


Azkia memandangi kamar kos Nicolas yang tidak terlalu besar tapi cukup muat untuk kulkas, meja kompor, televisi, meja makan ukuran sedang dan juga tempat tidur. Bahkan kamar mandinya pun kamar mandi dalam.


"Kaget ya kesini." kata Nicolas merapikan tempat tidurnya.


"Ardila yang suruh aku kesini. Katanya kamu nggak masuk kerja dua hari." kata Azkia masih berdiri di dekat meja makan.


Nicolas terdiam. Ia tidak menyahut perkataan Azkia.


"Apa mungkin karena hujan kemarin?" tanya Azkia menunggu jawaban Nicolas. Nicolas membelakangi Azkia. Ia tidak sanggup melihat wajah Azkia sekarang. Ia takut jantungnya meledak karena kerinduannya yang selama ini ia pendam.


"Mungkin. Tidak tahu juga." jawab Nicolas pendek.


Azkia menundukkan pandangannya dari punggung Nicolas, mencoba bersikap seperti biasa dan seperti tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.


" Maaf, ya. Kemarin aku ninggalin kamu gitu aja." kata Azkia pelan.


"Aku yang minta maaf." kata Nicolas tiba - tiba. Azkia mengangkat kepalanya dan menatap Nicolas.


Nicolas membalikkan badannya. Menatap Azkia yang merasa bersalah karena membiarkannya kehujanan.


"Selama ini aku nggak tahu apa penderitaan kamu, Ki. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu sampai aku malu pada diriku sendiri."


Azkia merasa darahnya panas mendengar apa yang Nicolas katakan. Ia sedikit gemetar karena gugup. Tapi ia berusaha menghilangkannya dengan menggenggam tali tas tangannya.


"Aku selalu merasa belum siap untuk bertanggung jawab pada saat itu hingga aku kehilangan kamu selama tiga belas tahun. Sampai aku menemukan kamu, aku malah tidak tahu harus bagaimana menghadapimu."


Azkia semakin erat menggengam tas tangannya. Matanya terasa berair dan mengaburkan pandangannya.

__ADS_1


Kenapa sekarang, Nico? Kenapa kamu mengatakannya sekarang?


"Aku berusaha semampuku agar bisa menjadi pria yang layak untukmu, Ki. Tapi aku tahu aku hanya bisa memberikan luka pada dirimu. Aku selalu berharap ada kesempatan kedua suatu saat nanti. Tanpa berpikir bahwa kamu juga punya hak untuk mencintai orang lain."


Azkia menjatuhkan bulir air matanya yang sudah tidak dapat ditahan. Bibirnya terasa gemetar. Hatinya sesak mendengar pengakuan dari Nicolas.


Nicolas membuka laci disamping tempat tidurnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci itu.


"Maafkan aku mengabaikanmu. Mulai sekarang aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu." Nicolas memberikan pulpen milik Azkia yang pernah terjatuh di depan lift tempo hari. Azkia mengambil pulpen itu, pulpen yang selalu ia bawa kemanapun.


Azkia kembali menatap Nicolas dengan berlinang air mata.


Nicolas, kenapa kamu tidak pernah bertanya bagaimana aku menjalani hidupku?


Lidah Azkia terasa kelu dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ia kembali meneteskan air matanya.


"Berbahagialah, Azkia." kata Nicolas pada Azkia. Nicolas tetap menjaga jarak pada Azkia. Ia tidak ingin membuat Azkia kecewa untuk kedua kalinya.


Azkia membalikkan badannya dan keluar dari kamar kos Nicolas. Ia tidak bisa mengucapkan apapun pada Nicolas. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat itu sekarang juga.


Azkia merasa air matanya keluar semakin deras. Hatinya terasa hancur kedua kalinya. Apakah tidak sedetikpun Nicolas berpikir bagaimana ia menjalani hidupnya dan mementingkan rasa penyesalannya sampai saat ini?


Berkali - kali Azkia menghapus air matanya namun air mata itu selalu keluar lagi dan lagi. Azkia kini harus memilih antara Nicolas ataupun Kevin. Jika ia harus memilih, ia tidak ingin kembali ke masa lalunya dan tidak mau mengkhianati Kevin.


Azkia memilih menyimpan masa lalunya rapat - rapat dan merasakan perih ini sendiri.


Ia mengeluarkan hape dari tasnya dan menelpon Kevin.


"Halo, Kevin?"


"Kamu dimana Azkia? Kata supir kamu tadi turun di apotek. Apa kamu kurang sehat?"


"Nggak, Kev. Aku cuma beli obat pusing aja. Kamu tahu taman kota di bagian barat kan? Aku tunggu disana sepulang kantor nanti."


"Baiklah. Tunggu saja aku disana. Sebentar lagi aku kesana."


Azkia tersenyum yang tidak bisa dilihat oleh Kevin. Ia meredakan sakit kepalanya akibat air mata yang ia keluarkan sejak tadi. Hatinya berkecamuk antara masa lalunya dengan saat ini. Sekeras apapun ia mencoba melupakannya, semakin hadir wajah Nicolas dalam benaknya.

__ADS_1


Maka ia memutuskan untuk perlahan melupakan Nicolas walau terasa sulit menghindari kenyataan bahwa hatinya masih tertuju pada Nicolas.


Di taman kota, ada air mancur yang terkenal jika melemparkan koin ke dalamnya, maka harapan akan terkabul. Azkia tersenyum melihat orang - orang yang melemparkan koin ke dalam kolam dan menertawakannya hati. Ia mengamati pasangan muda - mudi yang melempar koin itu.


"Azkia." panggil Kevin yang baru saja datang dan menghampiri Azkia.


Azkia mengalihkan pandangannya dari kolam dan menatap Kevin.


"Sudah datang?" Azkia tersenyum sambil melihat pasangan muda - mudi.


"Apa yang kamu lihat sambil tersenyum?" tanya Kevin.


"Mereka. Melempar koin kedalam kolam untuk mengabulkan harapan. Hal seperti itu mana ada. Iya kan?" jawab Azkia sambil tertawa kecil.


Kevin ikut memperhatikan pasangan muda yang melempar koin ke dalam kolam.


"Kenapa? Ayo kita coba. Siapa tahu harapan kita terkabul." Kevin hendak mengeluarkan beberapa koin dari dalam saku tetapi Azkia menahannya.


"Tidak usah. Kita sudah dewasa, tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu."


"Coba saja. Kita nggak pernah tahu kan diantara sepuluh harapan, harapan mana yang terkabul?" kata Kevin mengulas senyum terindah yang pernah Azkia lihat dan ia tidak bisa menghalangi keinginan Kevin.


Kevin mencoba melempar koin ke dalam kolam. Azkia yang tadinya enggan melakukannya, akhirnya mencoba mengikuti Kevin untuk seru - seruannya saja.


"Apa harapan kamu, Azkia?" tanya Kevin.


Azkia terdiam memandangi Kevin yang bersinar terang diantara lampu taman.


Azkia belum sempat menjawab pertanyaan Kevin.


"Tidak usah memberitahuku kalau kamu tidak mau menjawabnya. Sebaliknya aku mau kasih tau apa harapanku." ucap Kevin tersenyum.


Azkia menatap wajah Kevin yang merona bahagia malam ini. Apakah ia terlalu jahat pada Kevin yang tulus padanya?


"Aku berharap bisa melihat senyum diwajahmu setiap hari."


Azkia mengedipkan matanya. Kata - kata terindah keluar dari mulut Kevin membuat hatinya berdebar dan berbunga. Azkia merasakan ada yang berbeda dihatinya ketika menatap Kevin. Ia tidak mampu menjawab kata - kata Kevin. Mungkin kini ia sudah siap melupakan Nicolas dan membiarkan Kevin bertakhta dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2