
Azkia menghapus air matanya, berusaha untuk tidak terdengar sedih ketika berbicara dengan Kean.
"Yowes ndang istirahat. Ono mbah uti karo bulik Runi, Le. Ndang waras ya, Le.." (Yasudah, istirahat. Ada mbah uti dan bulik Seruni, cepat sembuh ya Le...) kata Azkia sudah bisa merasa sedikit tenang karena Ibu dan Seruni disana menjaga Kean.
"Suwun Budhe..." (Terima kasih, Budhe.) jawab Kean kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
Ia kembali memandangi foto Kean bersama dengan Seruni sampai ia tertidur di sofa.
****
Kevin menelpon Azkia yang juga belum keluar dari rumahnya. Sudah hampir jam tujuh pagi, Kevin mengira Azkia jam segini masih sibuk menyiapkan sarapannya di dapur. Tapi, tiba - tiba Azkia keluar dengan menggunakan setelan kerja semalam. Kevin mengerutkan alisnya.
"Kevin. Aku kesiangan. Kamu masuk dulu, aku mandi dulu. Semalam aku ketiduran." kata Azkia memakai sepasang sandal.
"Kamu yakin, aku masuk ke dalam rumah? Aku tunggu di dalam mobil saja." kata Kevin menolak halus permintaan Azkia.
"Masuklah. Ini memakan waktu yang lama. Ayo cepat!"
Sepertinya Azkia memang terburu - buru. Karena ia tidak sempat memperhatikan wajah Kevin yang bingung.
Kevin menunggu di ruang tamu sedangkan Azkia sedang bersiap - siap untuk berangkat ke kantor. Ada bunyi getar hape dan ternyata itu adalah hape Azkia. Dilayar, ada telpon masuk dengan tulisan 'IBU'. Kevin berpikir itu adalah privasi Azkia. Ia tidak akan mencoba menyentuh apalagi mengangkat telpon dari Ibunya. Kevin membiarkan hape itu hingga tidak berdering lagi.
Setelah Azkia siap dan menghampiri Kevin di ruang tamu, Azkia langsung mengambil tempat duduk di sebelah Kevin. Wangi sekali Azkia ketika baru selesai mandi, pikir Kevin.
"Kamu sudah sarapan, Kev?" tanya Azkia.
"Belum sempat."
"Sarapan disini aja ya, jadi kita nggak usah cari makan diluar lagi." kata Azkia menawarkan.
"Iya boleh kalau nggak merepotkan."
Kemudian Azkia segera bangun dari duduknya dan menuju dapur.
"Kamu mau apa? Lihat sini, Kev. Kamu mau sarapan apa." tanya Azkia membuka kulkas.
"Apa boleh aku pilih sendiri? Nanti Ibumu apa nggak marah?" tanya Kevin masih ragu.
"Nggak apa - apa, kok. Makanan kan untuk dimakan. Untuk apa disimpan lama - lama." jawab Azkia sekenanya. Kekhawatiran Kevin terkadang membuat Azkia gemas. Azkia memakluminya. Mungkin baru kali ini ia masuk ke rumah Azkia.
"Aku mau ini aja." kata Kevin menunjuk telur dan roti.
"Okay kita sarapan telur dan roti." kata Azkia. Kevin duduk di meja makan memperhatikan Azkia yang sedang sibuk membuat sarapan.
"Apa kamu juga suka membuat sarapan seperti ini?" tanya Azkia.
"Terkadang kalau aku mau. Kalau nggak, ya aku beli saja." jawab Kevin.
"Haruskah aku buat sarapan lagi untukmu?" tanya Azkia melirik Kevin.
__ADS_1
"Jangan. Nanti kita nggak bisa makan sama - sama lagi."
"Bisa. Kita kan bisa makan di mobil."
Kevin terdiam dan tidak terpikir hal itu.
"Untuk menghemat waktu biar nggak mampir - mampir beli makanan." lanjut Azkia.
Kevin tersenyum menatap Azkia yang terlihat semakin cantik berada di dapur.
"Terserah kamu kalau kamu nggak merasa repot." Kevin tidak bisa menolaknya. Ia membiarkan Azkia melakukan apapun yang ia suka.
Dua piring roti berisi telur sudah siap di meja. Azkia juga membuatkan susu coklat kesukaan Kevin.
"Ayo, Kev, sarapan."
Setelah selesai sarapan, kini mereka dalam perjalanan menuju kantor.
Setelah memarkirkan mobil di basement, Azkia membuka seatbeltnya.
"Azkia."
"Ya?"
"Apa kamu sudah nggak merasa gemetar lagi kalau sedang bersamaku?" Kevin selama ini penasaran sekali mengapa Azkia selalu terlihat gemetar ketika ia mendekatinya.
"Oh itu.. Aku..." Azkia bingunh harus menjawab apa. Karena gemetar yang selama ini Azkia alami adalah bagian dari masa lalu yang masih belum sepenuhnya ia terima kenyataannya.
Bibir Kevin menyentuh bibir Azkia dengan lembut. Azkia memang sedikit gemetar tetapi Kevin memegang erat tangan Azkia hingga gemetarnya berkurang. Azkia memejamkan matanya, mencoba bersikap tenang.
"Kamu masih gemetar sedikit, Azkia." kata Kevin. Kemudian Azkia membuka matanya. Tatapan mata Kevin yang dekat sekali dengan Azkia, membuat hati Azkia semakin berdebar.
"Aku jadi penasaran apa yang membuatmu gemetaran seperti itu." kata Kevin bersiap - siap untuk keluar dari mobil.
"Aku juga nggak tahu." Azkia tidak punya pilihan lain selain berbohong pada Kevin.
"Kita naik keatas dulu yuk."
Azkia tersenyum. Hatinya berdesir hangat ketika Kevin menciumnya tadi.
"Apa ada kendala dengan pembangunan hotel baru itu?" tanya Kevin ketika sudah sampai di lift.
"Sejauh ini belum." kemudian Azkia teringat ketika Diana menanyakan tentang Kevin setelah usai rapat.
"Tapi Ibu Diana sempat menanyakanmu." kata Azkia.
"Oh, Diana. Dia teman sekolahku dulu."
"Oh ya? Dimana?" Loh, kenapa Azkia semakin penasaran dengan apa yang Kevin katakan.
__ADS_1
"Di London dulu. Tapi aku sudah nggak pernah ketemu dia lagi. Tapi kemarin itu dia sempat telpon mau memakai alat pemanas air punyaku." kata Kevin dengan cuek.
"Tapi dari apa yang aku lihat, Diana itu cantik."
"Hah. Cantik apanya. Dia selalu menyusahkanku waktu sekolah dulu. Sampai - sampai aku malas menegurnya."
Sedikit banyak, Azkia merasa ada sesuatu dihatinya yang membuat ia tidak suka jika Kevin membicarakan Diana. Tapi untuk sementara ini, dia diam dulu. Karena anggapannya belum tentu benar.
Azkia meletakkan tasnya di atas meja dan Joana langsung menghampirinya.
"Ki, gawat, Ki."
"Kenapa, Jo?"
"Klien yang kemarin kamu datangi, dia datang pagi ini dan dia mau ngebatalin orderannya! Aduh gimana ini, Ki?" kata Joana panik. Azkiapun terkejut mendengar kabar dari Joana.
"Sekarang dia dimana?"
"Di ruang Pak Kevin."
Azkia segera menuju ruang Kevin dan Joana menahannya.
"Jangan kesana dulu. Dia lagi bicara sama Pak Kevin."
Azkia merasakan adanya pertanda buruk pagi ini.
****
Diana menatap Kevin dengan tajam, memperhatikan Kevin yang duduk dibalik meja.
"Ada apa, Di? Kenapa kamu tiba - tiba membatalkan kerjasama kita?" tanya Kevin tenang menghadapi Diana.
"Kev, aku datang jauh - jauh dari London kesini mau buka usaha dan kerjasama bareng sama kamu. Tapi kenapa apa - apa kamu suruh marketing kamu yang datang? Kenapa bukan kamu yang datang?" kata Diana terdengar tidak masuk akal.
Kevin memijat dahinya. Entah bagaimana dia menghadapi sifat kekanak - kanakannya Diana.
"Diana. Tolonglah. ini dunia pekerjaan. Dunia bisnis. Jangan kamu sangkut pautkan semua itu karena hal sepele."
"Bagaimana sepele? Aku klienmu dan aku minta kamu datang untuk masalah water heater. Tapi kamu tidak datang." ucap Diana mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mirip sekali dengan anak kecil yang tidak dipenuhi keinginannya.
"Memang ada apa? Apakah Azkia bekerja tidak cukup baik ketika melakukan persentasi?" tanya Kevin terdengar lebih masuk akal daripada rengekan Diana.
Diana terlihat berpikir dan mencari - cari alasan.
"Hem.. ya.. dia.. ehm.."
"Sudahlah Diana. Jangan cari - cari alasan. Unit nya sudah mau dikirim ke hotelmu. Jangan bikin alasan yang tidak jelas secara tiba - tiba. Kamu membatalkan kontrak secara mendadak tanpa ada alasan yang jelas, ada penaltinya juga." kata Kevin kehilangan kesabarannya.
"Kevin. Astaga. Kenapa kamu selalu membahas pekerjaan? Kamu lupa kalau aku kesini juga karena mau ketemu kamu?"
__ADS_1
Kevin menghela napas. Bagaimana ia harus bicara lagi pada Diana.