
Kevin menghentikan mobilnya di depan rumah Azkia. Kevin menoleh ke kanan dan kiri, sudah tidak ada Nicolas disana.
"Sepertinya Nico sudah pergi." kata Kevin.
"Beruntung sekali aku hari ini. Walaupun ada bahaya didepan mata, kamu masih bisa melindungiku." kata Azkia melepas seatbelt.
"Aku hanya menghindari Nico saja. Supaya Nico jauh dari pandangan matamu." ucap Kevin.
Azkia tersenyum memegang pipi Kevin dan Kevin langsung meraih tangan Azkia.
"Tapi jika kamu ketemu dia dan kamu sendirian, katakan padanya untuk lebih memperhatikan dirinya sendiri dan kebahagiaannya. Jalanmu dan jalannya sudah berbeda dan katakan kamu tidak akan mengecewakanku."
Azkia mengangguk.
"Sudah lama aku mengatakan seperti itu padanya. Awalnya dia nggal muncul dihadapanku. Baru - baru ini dia muncul seperti ini lagi. Tapi yang membuatku beruntung adalah kamu cepat tanggap. Kalau tidak mungkin aku akan berada dalam perangkapnya." ujar Azkia.
"Nggak apa - apa, Azkia. Aku yakin kamu tetap dalam pendirianmu dan tidak akan mengubahnya."
Kevin mencium Azkia dengan penuh kasih. Walaupun merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Nicolas, tapi itu tidak menjadi penghalang untuk berhenti mencintai Azkia. Azkia adalah wanita yang layak untuk Kevin cintai karena kepribadiannya yang sederhana.
"Sudah malam. Masuklah."
"Sampai jumpa besok ya, Kev. Jemput aku ya." kata Azkia membuat janji pada Kevin.
"Pasti." jawab Kevin.
Kevin menjalankan mesin mobilnya setelah Azkia masuk ke dalam rumah. Azkia melihat dari kaca jendela bahwa Kevin sudah benar - benar pergi dari rumahnya.
Kemudian, Azkia keluar dari rumah dan melihat seseorang yang ia rasa sudah berada disamping mobilnya. Azkia mendekati sisi samping mobilnya. Jelas sekali ada bayangan seseorang disitu.
"Keluarlah." kata Azkia memergoki orang itu yang bersembunyi dibalik mobil Azkia.
Nicolas bangun dari duduknya dan keluar dari persembunyiannya.
"Azkia.. Kamu tahu aku disini?" Nicolas berbasa - basi seakan - akan ia telah tertangkap basah.
"Apa yang kamu lakukan jam segini dirumahku? Mau kulaporkan polisi?" Jujur saja. Azkia cukup jengkel dengan ulah Nicolas yang tidak beraturan seperti ini. Yang ia tahu, Nicolas tidak melakukan hal - hal diluar batas kewajaran seperti ini.
"Tolong jangan, Azkia." kata Nicolas memohon pada Azkia.
"Tolonglah, Nico. Jangan bersikap menyedihkan seperti ini. Apa yang kamu lakukan dengan menguntitku terus seperti ini?" Azkia tidak berkata dengan nada yang berbeda. Tidak seperti biasanya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu lagi Azkia. Aku sudah cukup bersalah. Bagaimana aku bisa menebus kesalahanku itu semua?"
"Apa kamu sungguh - sungguh mengatakan itu?" tanya Azkia dengan melipat tangan di dadanya.
"Iya aku sungguh - sungguh, Azkia." ucap Nicolas.
"Kalau kamu memang benar ingin menebus semua kesalahanmu, jalanilah hidupmu dengan baik. Tidak perlu mengikutiku sepanjang hari seperti ini. Tolong, Nico. Aku mau hidupku bahagia bersama orang yang kucintai. Kalau kamu seperti ini terus, sama saja kamu menghalangi aku untuk bahagia." jelas Azkia.
"Tapi aku tidak berpikir seperti itu. Aku pikir kamu masih mencintaiku..."
"Nicolas, bedakan antara cinta dan obsesi. Cinta kita itu sudah masa lalu. Bagiku aku sudah menutup semua cintaku padamu sejak kamu tidak bisa bertanggung jawab. Kemudian aku membuka lembaran baru dan aku bertemu dengan Kevin. Kevin menyembuhkan lukaku yang selama tiga belas tahun ini tidak pernah sembuh." Azkia semakin gemas dengan Nicolas yang tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dibicarakan.
"Jadi, kamu benar - benar sudah tidak bisa mencintaiku lagi, Azkia?"
__ADS_1
"Tidak, Nicolas. Aku sudah jelas mengatakan padamu. Jalani hidup kita masing - masing. Kamu kerja di kantor. Aku rasa kamu paham dengan maksud ucapanku."
Nicolas menunduk lemas. Ia terlihat lusuh dengan penampilannya. Seharian ia berusaha mengikuti Azkia dan berbicara padanya. Akhirnya tetap sama. Nicolas sudah tidak bisa mendapatkan cinta Azkia lagi.
"Pulanglah, Nic. Aku lelah hari ini." kata Azkia membukakan pagar untuk Nicolas.
Nicolas menatap Azkia sekali lagi sebelum keluar dari rumah Azkia. Azkia dengan wajah yang tegas sudah benar - benar tidak bisa menerima Nicolas lagi. Azkia berharap kali ini, Nicolas mengerti dengan apa yang Azkia katakan.
"Aku bersyukur kamu hidup dengan baik selama ini. Aku berterima kasih, kamu mau memaafkan aku tanpa syarat. Terima kasih." kata Nicolas. Kemudian dia pergi dengan langkah yang lunglai menyusuri jalan yang hanya diterangi oleh lampu jalanan.
Awalnya Azkia merasa kasihan dengan Nicolas. Tapi Azkia meneguhkan hatinya. Jika ia terus berbelas kasih pada Nicolas, sampai kapan lagi ia berada dilingkaran setang yang tidak akan berakhir?
Sudah ada Kevin yang mengulurkan tangannya untuk Azkia yang selama ini berada didalam hati yang terluka. Perlahan namun pasti, Kevin menariknya keluar dari lubang lukanya. Sekarang, luka Azkia sembuh. Ia tidak akan membiarkan hatinya terluka untuk kedua kalinya lagi karena orang yang sama.
****
Kevin mengajak Azkia pergi ke salah satu toko perhiasan. Karena Kevin tidak tahu toko mana yang bagus, Azkia menunjukkan salah satu toko yang menurut orang - orang cukup menjadi perbincangan hangat jika membeli beberapa perhiasan.
"Kamu nggak tanya aku mau beli buat siapa?" tanya Kevin menggenggam tangan Azkia.
"Untuk apa? Kalau kamu memang membelikan untukku pasti kamu akan memberikannya juga padaku." jawab Azkia dengan santai.
"Kamu benar - benar ya. Tidak seperti wanita kebanyakan yang pasti mengharapkan dibelikan sesuatu oleh pasangannya." ucap Kevin menggelengkan kepalanya.
Azkia hanya tertawa kecil mendengar apa yang Kevin bicarakan. Setelah terbiasa mendapatkan apa - apa fari hasil usaha sendiri, Azkia memang tidak terbiasa meminta dibelikan apapun. Sesulit apapun itu, ia akan selalu berusaha mendapatkannya dari hasil jerih payahnya.
Ketika tiba di satu toko yang sebenarnya juga menjadi toko idaman Azkia suatu hari nanti untuk ia datangi, Kevin mulai terlihat bingung ketika memilah - milah mana yang cocok untuk dikenakan oleh Azkia.
"Ada saran yang cocok nggak, Mbak?" tanya Kevin kepada pelayan toko. Ia benar - benar sangat bingung, karena perhiasan jika berada di etalase, semua terlihat bagus. Pelayan itu memberikan rekomendasi yang sekiranya cocok untuk dipakai Azkia.
"Kamu suka yang mana?" tanya Kevin pada Azkia. Azkia lebih memilih kalung dengan liontin bintang tiga dimensi.
"Hehe. Maaf ya, Mbak. Yang itu aja." ucap Kevin dengan senyum yang dipaksakan. Untung Kevin mengajak Azkia, jika tidak ia bisa salah pilih.
Setelah membungkus kalungnya ke dalam kotak dan melakukan pembayaran, Kevin membuka kotak kalung itu lagi dan memakaikannya ke leher Azkia. Azkia dihadapkan pada kaca seluruh badan, membuat Azkia terlihat jelas ketika berdampingan dengan Kevin.
"Ini spesial buat kamu ya, Azkia." ucap Kevin. Tapi Azkia hanya menunduk saja.
Melihat Azkia yang kurang percaya diri, Kevin memegang dagu Azkia dan mengangkat sedikit dagunya.
"Azkia...."
"Aku minder, Kev. Aku nggak pede berdiri disamping kamu." kata Azkia.
"Just be yourself, Azkia. Aku cinta kamu karena diri kamu apa adanya. Jadi please jangan minder didepan aku ya. Kamu cantik dengan kalung ini." kata Kevin menyemangati Azkia dengan kalung yang sudah melingkar di lehernya.
Azkia meraba liontin itu sambil berkaca, ia berusaha tersenyum karena ia tidak mau membuat Kevin kecewa dengan usahanya hari ini.
Hari ini, Kevin ingin membebaskan Azkia sedikit saja dari pekerjaannya. Setelah melewati hari - hari yang cukup berat, ia memberikan sedikit kelonggaran hari untuk Azkia.
"Aku nggak pernah merasa sebebas ini." ucap Azkia dengan senang.
"Benarkah? Syukurlah kalau kamu suka."
"Tapi ini dihitung jam kerja lho ya. Karena yang meminta aku untuk ke toko perhiasan kan kamu, bukan aku." ujar Azkia merasa khawatir jika nanti gajinya dipotong.
__ADS_1
"Apa yang kamu takuti, Azkia? Gaji kamu sudah aman. Nggak bakalan ada potongan apapun." kata Kevin dengan santai. Azkia mencubit perut Kevin yang terasa kenyal.
"Awas aja ya, kalau kamu membuat karyawan lain iri. Aku cubit - cubit perut kamu."
"Haha... Iya. Nggak akan. Tenang aja." Kevin merasa geli ketika perutnya dicubit - cubit oleh Azkia.
****
Nicolas melihat pria tempo hari datang ke kantornya. Ia teringat bahwa ia akan menawarkan untuk pemasangan iklan di internet. Nicolas yang merasa pernah mengobrol dengannya, langsung menepuk bahu lelaki itu.
"Mas." panggil Nicolas.
Pria itu menoleh dan terkejut melihat Nicolas menepuk bahunya.
"Iya, Mas. Saya pikir siapa." jawab pria itu.
"Ngapain ke sini, Mas?" tanya Nicolas, kemudian ia melihat berkas yang dibawa pria itu. Ada tulisan "Contoh Iklan."
"Oh, jadi Mas mau nawarin pemasangan iklan sama bos saya?"
"Nah itu benar sekali, Mas."
"Yasudah, semoga sukses ya, Mas." ucap Nicolas menepuk bahu pria itu.
"Hehe. Makasih ya, Mas." pria itu langsung pergi dan berjalan dengan cepat menuju lift.
Setelah sudah berada di lobby gedung, pria itu menelpon Kevin.
"Sudah saya berikan kartu namanya, Pak." ucap pria itu.
"Iya, Pak. Katanya besok jam sepuluh pagi, Pak. Baik, Pak."
Pria itu menutup telponnya dan menyetop kendaraan umum di depan gedung.
Kevin menutup telponnya dan mengulas senyum diwajahnya.
"Ada apa Kev?" tanya Azkia menghampiri Kevin.
"Aku punya janji besok jam sepuluh pagi. Aku mau berusaha mendapatkan klien baru. Gimana menurutmu?" tanya Kevin.
"Wah bagus dong. Aku ikut atau nggak?"
"Nggak usah, kamu stay di kantor aja besok. Aku yang pergi ketemu klien.".
Azkia mengangguk paham.
"Oke deh. Kita pulang yuk. Aku capek." kata Azkia memijat kakinya yang kelelahan.
"Ayo."
Mood Kevin hari ini luar biasa bagus. Apapun yang Azkia minta akan dituruti sampai Azkia kebingungan dengan sikap Kevin yang selalu menurutinya.
Awalnya ia tidak berusaha untuk menyingkirkan Nicolas dengan cara seperti ini. Tapi entah mengapa sikap Nicolas yang tidak mengerti dengan bahasa manusia pada umumnya.
Mungkin karena obsesinya pada Azkia membuat Nicolas jadi lupa bahwa Azkia pernah mengatakan agar Nicolas bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik.
__ADS_1