
Nicolas semakin merasakan kerinduan memenuhi ruang hatinya. Seiring berjalannya waktu, ia berpikir mungkin saja rasa cintanya pada Azkia akan sirna begitu saja terlebih lagi itu hanyalah cinta pada masa sekolahnya saja.
Tapi tidak. Semakin Azkia dewasa, semakin ia memancarkan kecantikannya tanpa cacat. Rambut yang terkucir rapi dan menonjolkan tengkuknya yang indah membuatnya agak sedikit bergidik. Tapi, siapalah Nicolas kini. Ia tidak bisa berharap banyak pada Azkia yang dulu ia cintai. Seberapapun besarnya kini ia mencintai Azkia, tidak bisa menutupi celanya yang telah menyakiti hati Azkia.
Nicolas datang seperti biasa ke kantor dan tidak sengaja melihat Azkia turun dari mobil seorang lelaki yang tidak pernah ia lihat. Seorang lelaki muda berwajah blasteran entah Indonesia dengan apa, tapi sangat tampan sekali.
Rasa kecewa menyapu hati Nicolas melihat Azkia tersenyum lebar pada lelaki itu. Nicolas menahan langkahnya untuk memasuki gedung dan menunggu beberapa saat hingga Azkia dan lelaki itu masuk ke dalam gedung.
Nicolas membeli segelas kopi susu yang dijual di sepeda pinggir jalan. Meneguknya perlahan menghilangkan kecewa dkhatinya yang belum siap terluka. Seharusnya ia sudah bisa merelakan Azkia karena sudah terlalu banyak waktu berlalu dan pastilah ada lelaki yang akan Azkia pilih suatu saat nanti. Nicolas meneguk kembali kopi susunya sedikit demi sedikit.
"Karena tadi kamu terlalu pagi datang menjemputku, aku jadi terburu - buru menyiapkan bekal." kata Azkia menyerahkan kotak makanan pada Kevin.
"Apa ini isinya?"
"Hm. Harus gimana menyebutnya ya? Baby potato with chicken breast and vegetable."
ucap Azkia tersenyum.
"Terdengar lezat." kata Kevin juga menyunggingkan senyumnya dan memandang kotak makanan yang segera ingin ia santap.
"Kita sepakat untuk bersikap seperti biasa di dalam kantor. Jangan lupa, ya." kata Azkia mengingatkan.
"Baiklah." Kevin tersenyum memandang wajah Azkia yang terlihat manis sekali dalam keadaan apapun. Hatinya berdesir bahagia memiliki seorang wanita cantik dalam pandangan matanya.
Di kantor, Azkia bekerja seperti biasa. Berusaha tidak terlihat menonjolkan didepan yang lain mengenai hubungannya dengan Kevin yang baru berjalan sehari.
"Ki. Kenapa ya, aku lihat kamu agak berbeda hari ini." kata Mia memperhatikan riasan wajah Azkia yang terlihat flawless.
"Kayak nggak tahu aja. Dia pasti mau ketemu klien." timpal Joana disambut dengan wajah tegang dari Azkia.
"Iya. Kliennya cewek. Aku kan nggak tahu dia bagaimana. Kalau dia terlihat glamour, rapi dan berwawasan juga gimana? Kalah dong aku." jawab Azkia memasukkan pulpen ke dalam tasnya.
"Tapi kok lipstiknya beda?" tanya Mia masih penasaran.
__ADS_1
"Aku beli lipstik baru kemarin. Ada diskon. Sudah ya. Bye." Azkia langsung berdiri dan meninggalkan Mia yang masih penasaran dengan dirinya.
Mia bertanya pada Joana karena ia masih merasa ada yang berbeda pada Azkia pagi ini.
"Kamu nggak merasa berbeda, Jo?"
"Apa ya?" Joana menanggapi perkataan Mia sambil mengerjakan desainnya di Corel Draw.
"Itu loh, Azkia. Parfumnya beda hari ini. Lipstiknya juga. Iya kan? Masa sih kamu nggak merasa berbeda?" Mia masih sangat yakin ada sesuatu yang berbeda dari Azkia.
Joana berhenti menggerakkan mousenya dan mengalihkan pandangan ke Mia kemudian punggung Azkia yang masih terlihat di koridor kantor.
"Iya, benar juga kamu, Mi."
****
Azkia menjelaskan persentasi mengenai pemanas air yang menggunakan tata surya pada calon kliennya yang baru. Seorang wanita bernama Diana, membuka hotel baru di sekitar area Green River dan ini adalah kesempatan bagus untuk Azkia mendapatkan tender besar.
Dengan rasa percaya diri, ia menjabarkan bagaimana pemanas air menggunakan tata surya itu bekerja dan seberapa panjang pipa untuk air panas yang dibutuhkan.
"Azkia."
"Iya, Bu." Azkia menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Persentasi kamu bagus. Tadi apa nama perusahaan kamu?"
"Burkesh Innovation, Bu." jawab Azkia menyunggingkan senyumnya mengutamakan etika di depan kliennya.
"Oh. Yang ownernya orang Indonesia - Inggris, ya?" tebak Diana dan berhasil membuat Azkia terkejut.
"Iya, Bu." Azkia mengontrol emosi di wajahnya agar tetap terlihat stabil di depan Diana.
"Baiklah. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." ucap Diana mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Azkia. Diana mengulas senyum yang indah hingga kecantikannya terpancar dengan jelas di usia pertengahan tiga puluh.
__ADS_1
Azkia mengangguk dan menatap Diana dengan lekat. Ia mengingat wajah Diana yang tetap cantik di usia pertengahan tiga puluh itu.
Entah mengapa hati Azkia merasa sedikit resah dengan senyum yang Diana berikan, terlebih lagi ia tahu bahwa owner dari perusahaannya adalah keturunan Indonesia - Inggris.
Hape Azkia berbunyi, ada pesan dari Kevin. Ia meminta Azkia agar langsung pulang ke rumahnya dan tidak kembali ke kantor.
Kevin: Pulanglah. Hari ini kamu bekerja dengan baik. Kita mendapatkan tender besar. Terima kasih ♥
Azkia yang sudah hampir sampai di kantor pun meminta supir kantor untuk berbalik arah dan pulang menuju rumahnya. Masih terlalu cepat untuk bisa dibilang pulang dan sesekali Azkia merasa resah dengan wanita yang bernama Diana.
Hape Azkia berbunyi membuyarkan lamunan Azkia tentang Diana yang ia khawatirkan sejak tadi. Telpon dari Ardila memecah keheningan antara dirinya dan supir kantor yang hanya diam.
"Iya, Di."
"Kamu dimana, Ki?"
"Aku di jalan pulang, aku hari ini pulang cepet. Kenapa, Di?"
"Kamu mampir ke rumah Nico bisa nggak, Ki? Aku juga mau kesana tapi aku masih ada kerjaan. Sedikit lagi selesai."
"Nico kenapa, Di?"
"Katanya udah dua hari nggak masuk kerja, demam tinggi katanya. Tolong, Ki. Sampai aku dateng. Dia nggak ada siapa - siapa disini. Nanti aku kirim alamatnya ke kamu."
Ardila menutuo telponnya dan tidak lama ada pesan masuk dari Ardila tentang alamat Nicolas yang harus ia tuju. Azkia ragu apakah ia harus kesana atau tidak. Tapi mengapa hatinya merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Nico? Mungkinkah ia sakit karena kemarin Nico memberikannya payung?
"Pak saya turun disini aja. Kalau Pak Kevin tanya, bilang aja saya mau beli sesuatu ya. Saya berhenti di apotek depan itu saja." kata Azkia
"Baik, Mbak."
Azkia terburu - buru keluar dari mobil kantor dan membeli beberapa obat penurun panas serta antibiotik di apotek.
Setelah sampai di kosan Nicolas sesuai dengan alamat yang diberikan Ardila, Azkia mengetuk pintu kamar kos yang ia yakini sebagai kamar Nicolas. Entah mengapa hati Azkia berdebar dengan sangat cepat. Ia masih belum mengerti akan perasaannya sekarang pada Nicolas. Yang ia tahu selama ini ia teluka olehnya dan baru saja meraih tangan Kevin yang ingin menyembuhkan luka hatinya.
__ADS_1
Azkia mencoba menyingkirkan perasaan berdebarnya yang semakin lama tidak karuan dan mencoba mengetuk pintu kamar kos Nicolas.
Setelah menunggu beberapa lama, pintu kamar Nicolas pun terbuka.