Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Kebesaran hati Kevin


__ADS_3

"Aku memutuskan untuk melahirkannya." kata Azkia. 


Entah mengapa dada Kevin terasa sesak mendengar pengakuan Azkia. Apa yang harus ia lakukan?


"Aku melahirkan seorang diri. Hanya ada keluargaku disana. Alasanku tidak menggugurkannya adalah aku akan meminta saudara dari Ayahku yang tidak punya anak untuk merawatnya. Mereka dengan senang hati merawat anakku. Tapi Ayahku mengatakan bahwa kemungkinan nanti aku akan sulit bertemu dengannya." lanjut Azkia. 


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu itu?"


Azkia menggelengkan kepalanya. 


"Aku berada di Jawa Timur selama lebih dari tiga belas tahun. Aku tidak tahu apapun yang terjadi di Jakarta. Aku mengejar studiku disana dan selama itu aku hanya bersama keluargaku. Aku tidak tahu tentang mantan kekasihku."


Ada sedikit kelegaan dihati Kevin mendengar kalimat terakhir Azkia.


"Kev..."


Kevin menatap Azkia yang memasang wajah serius.


"Kalau kamu merasa lelah dan tidak sanggup dengan masa laluku, aku tidak memaksamu untuk tinggal dihatiku." 


"Maksudmu?"


"Kalau kamu ingin melepasku, aku siap mendengarnya. Aku tahu kekuranganku. Aku tidak memaksamu untuk bisa menerima kekuranganku. Kalau kamu tidak bisa, kamu bisa meninggalkanku." Azkia menatap dalam mata Kevin. Teduh sekali menatap mata Kevin. Hal ini baru ia sadari ketika ingin mengucap perpisahan. 


Kevin tersenyum dan memeluk Azkia. 


"Tidak ada yg perlu meninggalkan dan ditinggalkan. Semua sudah terjadi. Kamu wanita hebat bisa berjuang untuk semua itu sendiri. Tambah lagi nilaiku padamu." 


Azkia mengernyitkan dahinya, melepas pelukan Kevin. 


"Kamu nggak merasa jijik dengan masa laluku, Kev? Kamu nggak mau ninggalin aku? Aku siap lho kalau kamu mau meninggalkan aku." 


"Seperti yang kamu bilang. Itu kesalahanmu pada masa remaja. Hampir semua wanita di London juga melakukan itu dan melakukan aborsi." kata Kevin. 


Azkia kehabisan kata - kata. Ia merasa heran dengan tanggapan Kevin yang diluar dugaan ini. 


"Tapi aku masih butuh waktu untuk bisa menerima ceritamu. Aku tidak tahu sebenarnya bagaimana mantan kekasihmu yang notabennya juga ayah dari anakmu." Kevin kembali menunjukkan kekhawatirannya. 


"Aku membuka hatiku, Kev. Aku harap kamu mau masuk ke hatiku tanpa ragu." kata Azkia menggenggam tangan Kevin. 

__ADS_1


"Aku ingin menyambut masa depanku bersamamu. Tapi aku masih ragu apa aku yang belum bisa meraihmu atau kamu yang belum bisa meraihku saat ini." kata Azkia. 


"Kita jalani pelan - pelan saja ya, Azkia..." kata Kevin dengan senyumnya. Azkia tahu ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini juga bukanlah happy ending yang diharapkan Azkia. Setelah ini akan lebih banyak lagi rintangan agar mereka bisa bersama.


Kevin meraih bahu Azkia. Ia sadar setiap orang masih banyak kekurangan termasuk dirinya. Dan apa yang kita inginkan tidak selalu menjadi kenyataan. Mungkin pahit bagi Kevin. Tapi Azkia adalah pilihannya. Kalau Kevin hanya melihat masa lalu Azkia, mungkin saja ia akan mundur dan memilih meninggalkan Azkia begitu saja ditengah jalan.


Tapi tidak. Kepribadian Azkia yang baik, pandai mengatur emosinya agar tidak meledak - ledak seperti Diana, cerdas dan berwawasan, pinta memasak. Itulah yang menjadi pertimbangan Kevin untuk tetap bersama Azkia. 


Kevin memegangi pipi Azkia yang merona merah. Menyentuh bibirnya yang terlihat manis dengan lipstik glossy. Kevin mengecup bibirnya. Hanya sebentar. Azkia masih menginginkannya lagi.


"Boleh aku melakukan ini padamu, Azkia?" tanya Kevin. 


Azkia mengangguk dan tersenyum. Kevin mendekatkan kembali bibirnya pada Azkia. Menciumnya dengan hangat, melingkarkan tangannya di pinggang Azkia. Azkia memeluk Kevin, melingkarkan tangan di leher Kevin. Sudah lama Kevin ingin mengecup hangat bibir Azkia. Tapi selama ini tertahankan karena sikap Azkia yang masih menjaga jarak. Tapi sekarang, Kevin tahu. Bahwa Azkia bukan menjaga jarak dengannya. Hanya ia merasa ragu membuka hatinya karena masa lalunya yang mungkin bisa saja membuat Kevin meninggalkan Azkia detik itu juga. 


Kevin telah sampai di depan rumah Azkia. Azkia segera membuka seatbelt dan mengambil tasnya. 


"Kev.. kamu bilang kamu ingin hubungan yang tulus dan jujur. Aku berusaha semaksimal mungkin walau aku tahu itu menyakitkan. Tolong maafkan aku, Kev.." kata Azkia.


Kevin tersenyum dan menggengam tangan Azkia. 


"Sudahlah Azkia. Aku harus lebih memperhatikanmu karena kamu pernah punya masa lalu yang menakutkan untuk dirimu sendiri. Nggak semua orang bisa melalui itu semua." Kevin memberikan kekuatan untuk Azkia agar kembali percaya diri. 


"Sst.. Jangan minta maaf dan terima kasih terus. Kita memulai semua ini agar pondasi hubungan kita semakin kuat." Kevin memotong pembicaraan Azkia. 


Azkia mulai menatap Kevin lagi dan tersenyum. 


"Aku pulang dulu." 


"Siapa nama anakmu?" tangan Kevin masih menahan Azkia untuk lekas pergi dari mobilnya. 


"Kean. Keandra Hutama. Hutama nama Ayahku." 


Kevin mengangguk.


"Berapa usianya?"


"Tahun ini Kean usia tiga belas tahun.." 


Kevin mengangguk lagi. Mengerti dengan ucapan Azkia. 

__ADS_1


"Baiklah. Pulanglah, Azkia. Nanti aku akan menghubungimu." 


Azkia tersenyum melihat Kevin. Ia berharap semoga Kevin bisa menerima semua ini dengan baik. Azkia pun tidak ingin mengecewakan Kevin lagi. 


****


Diana berdiam diri di kantornya. Ia merasakan kekesalan didalam hatinya. Azkia yang hanya seorang pegawai bisa mengambil hati Kevin dan Kevin pun mengatakan jangan mengganggu Azkia. 


Benarkah Kevin sudah tidak akan menyukainya lagi? Diana menghela napas panjang. Ia merasa dirinya sudah tidak artinya jika ia menetap di Indonesia. 


Tok. tok. tok. 


Sekretaris Diana masuk dan membawa beberapa lembar kertas di tangannya. 


"Bu. Ini."


Diana menoleh dan menatap Sekretarisnya. 


"Apa ini?!


"Ini tentang Azkia yang ibu ingin cari tahu tentang masa lalunya." kata Sekretarisnya. 


Diana segera mengambil kertas itu dan membacanya. Untuk memastikan dia tidak salah baca, ia mencoba mengulang kembali tulisan yang ada di kertas itu.


"Benarkah ini? Kamu yakin? Ini bahaya banget lho untuk Kevin." tanya Diana tidak percaya. Ia masih berharap bahwa apa yang ia baca di kertas itu salah.


"Itu menurut info yang saya dapat, Bu. Saya yakin karena itu menurut dari teman - teman satu sekolah Azkia pada waktu SMA dulu, Bu." jawab Sekretaris itu.


"Kamu tahu darimana itu teman sekolahnya Azkia?" Diana masih kurang percaya.


"Saya mencari tahu di media sosial, Bu. Terkadang media sosial lebih suka membicarakan banyak orang, Bu. Apalagi yang saya dapat infonya Azkia cukup terkenal di sekolahnya."


"Begitukah?" Diana seperti mendapatkan jackpot. Diana seolah tidak percaya saat membacanya. Kemudian ia tersenyum.


"Baiklah. Kamu boleh pergi. Sebentar lagi saya pulang."


"Baik, Bu."


Diana masih memandangi kertas itu tidak percaya. Rasanya ia ingin segera memberitahu pada Kevin tentang masa lalunya Azkia. Tapi ia kembali mengingat perkataan Kevin sebelumnya. Kevin akan turun tangan jika kehidupan Azkia diganggu olehnya. Diana kembali menghela napasnya.

__ADS_1


__ADS_2