Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Main ke rumah Azkia


__ADS_3

Akhir pekan, Kevin datang ke rumah Azkia. Azkia menyambut kedatangan Kevin dengan gembira. Ia memanggil Ibu dan berteriak juga memanggil Seruni. Azkia memang sudah lama menunggu hari dimana ketika Kevin datang main ke rumahnya. 


"Kenapa kamu berteriak begitu? Apa kamu kedatangan selebriti?" tanya Kevin dengan kebingungan.


"Nggak. Aku cuma bahagia aja." kata Azkia tersenyum lebar kemudian ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan. 


Ibu tergopoh - gopoh datang ke ruang tamu, melihat ada apa Azkia berteriak memanggilnya. 


"Ada apa, Ki, kamu teriak - teriak?" 


"Ada Kevin, Buuu!!" teriak Azkia dari dapur, membuat Kevin tertawa kecil. Sungguh lucu Azkia dan keluarganya ini. Terlihat hangat dan menyenangkan.


"Pagi, Tan.... eh.. Ibu ." sapa Kevin bangkit dari duduknya dan menyalami Ibu yang tangannya basah.


"Aduh, Nak Kevin. Ibu nggak tahu kamu mau datang. Ibu tadi lagi di kamar mandi." kata Ibu mengelap tangannya dengan tisu kemudian menyambut uluran tangan Kevin. 


"Nggak apa - apa, Bu. Saya juga datangnya mendadak. Jadi nggak ngabarin." ujar Kevin.


"Nak Kevin, sebentar Ibu ganti baju dulu ya." kata Ibu menunjuk bajunya yang basah.


"Iya, Bu. Nggak apa - apa. Kevin nggak buru - buru kok." 


"Iya, Nak. Duduk saja. Santai saja sambil tunggu Kia ya." 


kata Ibu kemudian kembali ke dalam untuk mengganti bajunya yang basah. Ibu menghampiri Azkia dan mengomel sedikit karena memanggilnya dengan begitu keras. Azkia hanya tertawa saja.


"Minum, Kev." kata Azkia membawa empat gelas minuman dan satu teko diletakkan diatas meja.


"Keluargamu terlihat nyaman." ujar Kevin. Azkia tertawa mendengar ucapan Kevin. 


"Ibu memang begitu. Mungkin karena sudah lama ditinggal Ayah, jadi lebih dekat dengan anak - anaknya. Kadang marah sendiri, tapi kalau anaknya kenapa - kenapa, ya khawatir juga." cerita Azkia. Kevin hanya mendengarkannya sambil menatapnya. 


"Kenapa kamu lihat aku seperti itu?" tanya Azkia merasa salah tingkah.


"Hari ini kamu nggak pakai make up ya. Tetap cantik." kata Kevin tersenyum. Wajah Azkia merona merah. 


"Makasih ya, kamu udah main kesini." kata Azkia.


"Aku baru datang. Belum main apa - apa." 


Azkia tertawa kecil mendengar candaan Kevin. Tidak lama kemudian Seruni datang dengan kaus dan celana tujuh per delapannya. 


"Ya ampun, Kak Kia. Aku pikir ada apa lho, Kak. Ternyata Kakak bawa Kak Kevin kesini." seru Seruni sedikit kesal dengan teriakan Azkia tadi. Seruni menyalami Kevin dan Kevin menyambutnya. 


"Halo, Kak. Saya Seruni." Seruni mengambil duduk di sebelah Azkia. 


"Halo, Seruni." sapa Kevin dengan lembut. 

__ADS_1


Canda tawa menghiasi rumah Azkia pagi ini. Terkadang Seruni meminta maaf pada Kevin atas ulah Azkia yang tidak teratur dan berantakan. Kevin hanya tertawa mendengar kakak-beradik itu saling menyalahkan. Kemudian Ibu datang dengan baju yang sudah diganti. 


"Maaf ya, Nak Kevin. Rumah Azkia berantakan." kata Ibu sambil duduk diantara mereka. 


"Nggak kok, Bu. Saya senang bisa main kesini." 


"Dari kemarin kenapa kamu nggak main kesini? Habis antar Azkia langsung pulang." kata Ibu sambil mengayunkan tangannya. 


"Saya masih nggak enak, Bu. Kan kami belum resmi jadi pasangan menikah." canda Kevin membuat Ibu tertawa. 


"Memang Nak Kevin ini darimana asalnya?"


"Kalau Ibu saya dari Indonesia sini kok, Bu. Dari tanah sunda. Walau saya termasuk jarang makan makanan disini, terkadang Ibu saya suka membuatkan makanan Indonesia untuk saya."


"Memang Nak Kevin tinggal dimana?" 


"Di London, Bu..." 


"Dimana ini London?" 


"Inggris, Bu." sahut Seruni. 


"Oalah. Begitu. Ya, Nak Kevin. Pokoknya Nak Kevin ini kan sudah tahu bagaimana kehidupannya Azkia. Bagaimana masa lalunya Azkia. Ibu hanya berharap Nak Kevin jika mau membangun kehidupan dengan Azkia, Nak Kevin toloooong sekali tidak mengungkit - ungkit masa lalunya Azkia. Walaupun Ibu tahu Nak Kevin sepertinya bisa menerima. Tapi kita nggak pernah tahu toh, Nak Kevin. Soale kalo berantem adu mulut itu ya kan suka keluar kata macam - macam." Ibu menasihati sedikit pada Kevin maupun Azkia dengan logat Jawanya yang masih terdengar jelas. 


"Ibu ya paham betul Azkia itu bagaimana - bagaimana. Syukur sekali Ibu kalau Nak Kevin bisa menerimanya." 


"Iya, Bu. Saya paham kok. Saya juga sudah dikenalkan sama Kean. Dan saya juga sempat kenal dengan Nico, mantannya Azkia." kata Kevin.


"Iya, Bu. Mudah - mudahan saya dan Azkia bisa menjalin hubungan yang lebih baik dan serius lagi ke depannya."


"Lho memang sudah mau serius toh?"


"Belum, Bu, belum!" sahut Azkia dengan gemas. 


"Ya, saya mau, Bu. Tapi saya menunggu kesiapan Azkia aja bisanya kapan." sahut Kevin dengan senyum.


"Tuh, Kak. Kak Kevin nggak mau lama - lama tuh. Masa Kakak mau lama - lama." Seruni menimpali, membuat Azkia semakin terpojok. Azkia menahan rasa malunya didepan Ibu dan adiknya.


"Kevin, jangan diomongin disini dong."


"Lho ya nggak apa - apa ya, Bu. Kevin mau terbuka. Kevin mau Ibu dan Seruni juga dengar. Kalau Ibu dan Seruni setuju, Kevin maju. Kalau nggak ya Kevin mundur perlahan." ujar Kevin semakin membuat Azkia merasa malu.


"Ya, Ibu terserah Azkia aja. Kalau sudah cocok ya Ibu hanya bisa mendukung untuk langkah kedepannya." sahut Ibu. Azkia semakin merasa malu dibicarakan seperti itu.


"Ibu sudah dong." 


"Kak, berarti itu Kak Kevin gentle dong bisa ngomong langsung di depan Ibu. Jarang - jarang ada yang bisa begini." goda Seruni lagi agar Azkia mau lebih lama membahasnya lagi. 

__ADS_1


Kevin bangkit dari duduknya dan ia menghampiri Azkia. Kevin setengah berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Iti adalah kotak cincin. Waktu lalu Azkia ke toko itu bersama Kevin. Kevin membuka kotak cincin itu dan memberikannya pada Azkia. 


Seruni menganga dan menutup mulutnya tidak percaya. Ia memeluk Ibunya dan Ibupun tersenyum bahagia melihat Kevin melamar Azkia.


"Azkia, you bring balance to my life. I don't know if i can see the world with you. So let me to ask you. For now and forever. Would you be my wife?" 


Wajah Azkia merona merah mendengar ucapan Kevin dan membuat jantung Azkia berdebar dengan kencang. Ibu dan Seruni hanya bisa tersenyum melihat Kevin melamar Azkia dengan sebuah cincin. 


Azkia menoleh Ibu dan Seruni. Meminta persetujuan dari keluarganya atas lamaran yang Kevin berikan. Perlahan Ibu mengangguk diikuti Seruni dengan angukan Seruni. 


"Yes. Of course." jawab Azkia dengan senyum yang sudah tidak bisa ia tahan lagi sejak tadi. Kemudian Kevin mengeluarkan cincin dari kotak cincin itu dan memasangkan cincin di jemari Azkia. Dengan senyum yang lebar, akhirnya Kevin melamar Azkia. 


"Selamat ya, Kaaaak!" seru Seruni bahagia. Ibupun menangis bahagia melihat Azkia dilamar oleh pria baik hati. 


Kevin menatap Azkia dengan bahagia. Ia merasa benar - benar bersyukur bisa berada disisi Azkia. Jika kemarin Azkia tidak menghubungi secara terus menerus selama ia berada di Web Spider, mungkin saja ia sudah menjadi orang jahat yang pernah ada karena menghancurkan karir seseorang. Tapi berkat Azkia, Kevin mengurungkan niat jahat itu.


"Kenapa kamu nggak memberitahuku kalau kamu ternyata juga mau minta restu dari Ibu?" tanya Azkia begitu Ibu dan Seruni kembali ke dalam. Membiarkan Azkia dan Kevin berbicara berdua. 


"Nggak apa - apa. Aku cuma mau kasih kejutan sedikit untuk kamu. Dan nasihat Ibumu juga membuatku sadar untuk mencintai dan menyayangi kamu lebih tulus lagi. Terlepas dari apapun masa lalu kamu." kata Kevin. 


Azkia mengambil beberapa kue yang ada di meja makan. 


"Aku pikir kamu akan ragu melamarku." ucap Azkia sambil memakan kuenya.


"Karena apa?" 


"Karena status kewarganegaraan." 


Kevin terdiam. Memikirkan ucapan Azkia. Ada benarnya. Kevin berkewarganegaraan Inggris. Sedangkan Azkia Indonesia. 


"Kamu benar. Pelan - pelan saja dulu, Azkia. Nanti juga ada jalannya." kata Kevin sambil memikirkan bagaimana baiknya. 


"Kemarin aku sempat khawatir kamu benar - benar bicara dengan bos perusahaan itu dan menyebut nama Nico. Bukan apa - apa. Aku cuma nggak mau kamu jadi pria jahat yang melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu." kata Azkia menatap Kevin dengan serius. 


"Iya, aku tahu maksudmu." 


"Kedepannya, rundingkan apapun denganku, ya, Kev. Aku mau jadi bagian dari mengambil keputusan. Libatkan aku juga kalau kamu memang benar ingin serius denganku." kata Azkia meraih tangan Kevin yang kosong. Ia menggenggamnya. Menatap Kevin dengan hangat. 


"Thank you, Azkia. You help me open up my eyes." 


Azkia memeluk Kevin dengan hati yang lega. Ia berjanji tidak akan membiarkan Kevin berada di jalur yang salah hanya karena membenci seseorang.


"Thank you for being a part of my life, Kevin Lincoln..."


Kevin tersenyum bahagia karena Azkia adalah wanita yang tepat untuknya. Satu persatu, sedikit demi sedikit, masalah bisa teratasi dengan sempurna. Kevin tidak merasa ragu dan bimbang lagi. Sekarang masalahnya bukanlah Nicolas lagi. Tapi masih ada masalah yang jauh lebih besar dari itu. Ia harus memberitahu keluarga di Inggris dan juga mengurus masalah kewarganegaraan jika mereka ingin menikah. Entah Azkia yang akan pindah ke Inggris atau Kevin yang akan pindah ke Indonesia. Masih belum ada pembicaraan untuk itu.


Sedangkan Ibu, hanya bisa pasrah dan menerima takdir yang sudah digariskan. Apapun itu, jika bisa membuat hati Azkia kembali teduh seperti dulu, ia akan mendukungnya.

__ADS_1


Ibu duduk di pinggir tempat tidurnya. Menatap foto Ayah dibingkai. Meneteskan air mata kerinduan di pipinya.


"Ayah. Semoga kali ini Kia mendapatkan laki - laki yang tepat. Laki - laki yang bisa membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Dan semoga laki - laki itu tidak memberikan kesedihan untuk Azkia. Semoga Azkia selalu tertawa dan ceria terus, ya, Yah." kata Ibu dengan hati yang sedih menatap foto Ayah.


__ADS_2