
Lagi-lagi Nicolas dan Azkia memperlihatkan kemesraannya di depan anak lain tanpa ragu. Di kantin maupun di lapangan belakang sekolah, mereka tidak pernah absen untuk selalu berduaan. Lelaki yang menyukai Azkia pada awalnya, mulai melirik wanita lain. Karena kemesraannya dengan Nicolas terlalu diumbar.
"Ki. Kamu kalau pacaran, jangan didepan umum gitu." tegur teman baik Azkia, Ardila.
"Kenapa, Di? Aku nggak mengumbar kemesraan kok. Biasa aja." sahut Azkia.
"Kamu pegangan tangan didepan umum itu nggak etis, Ki. Banyak yang bicarain kamu."
Azkia mulai tidak tahan dengan apa yang Ardila katakan seolah-olah Ardila mengguruinya.
"Di, itu kan cuma pegangan tangan, aku nggak ciuman nggak peluk-pelukan." Azkia mulai membela dirinya.
"Kia, sadar Ki. Nico itu laki-laki. Mungkin aja sekarang dia pegang tangan kamu walaupun alasannya sayang. Besok-besok alasannya apa lagi?" Ardila mulai khawatir dengan sikap Azkia yang sedang dimabuk cinta. Diberi masukan apapun olehnya, tetap tidak masuk ke pikirannya.
"Di, kamu makanya cari cowo, pacaran, jatuh cinta jadi kamu tau rasanya gimana." bantah Azkia.
"Oke, Ki. Boleh kamu nggak dengar apa kataku sekarang. Tapi nanti, kamu bisa menyesali perbuatan kamu sendiri. Aku mengingatkan, karena aku sahabatmu. Aku nggak mau kamu jatuh ke jurang." kata Ardila dan ucapannya disambut dengan gebrakan meja yang keras dari Azkia. Brakk!!!!!
Entah bagaimana Ardila harus menasihati Azkia bagaimana lagi, karena sejak saat itu hubungan Azkia dan Ardila menjauh. Azkia semakin tidak terpisahkan oleh Nicolas begitu juga dengan Ardila.
Suatu malam, hujan deras, Ardila memasukkan baju yang sedang di jemur di teras rumah. Tiba-tiba, pagar Ardila terbuka dengan Azkia yang basah kuyup memakai baju seragam sekolah.
"Kia! Kia! Kamu kenapa?" Ardila histeris melihat Azkia yany tidak karuan dengan baju seragam basah kuyup. Ardila mengajak Azkia masuk dan menggantikan baju untuk Azkia.
"Ini, minum dulu." Ardila memberikan teh hangat untuk Azkia. Azkia gemetar dan sangat pucat.
"Kamu nggak apa-apa, Ki?" tanya Ardila melihat bibir Azkia yang gemetar.
Azkia menatap Ardila dengan tatapan mata yang kosong dan meletakkan gelas di atas meja.
"Di, aku..." Azkia meneteskan air matanya dan menatap Ardila dengan dalam. Ardila merasa khawatir dengan Azkia.
"Kenapa, Ki? Kamu kenapa?" Ardila memegangi pundak Azkia yang gemetar dan memeluknya. Azkia menangis dan tidak bisa menahan diri lagi untuk menangis lebih keras.
Setelah agak tenang, Azkia mulai mengatur napasnya.
"Di. Kamu bener, Di"
Ardila masih menatap Azkia dengan bingung. Ardila takut bahwa apa yang dikhawatirkan selama ini terjadi. Azkia memeluk Ardila dengan semakin dalam.
"Nico bukan orang baik yang seperti kamu pikir, Di...."
"Astaga, Ki...."
Azkia menangis lagi. Kali ini Ardila tidak menghentikan tangisannya. Ia membiarkan Azkia menangis sepuas-puasnya hingga tidak ada lagi beban tersisa.
****
Azkia menekan tombol lift dan membawa beberapa dokumen. Ia agak kerepotan hingga beberapa dokumen itu terjatuh.
__ADS_1
"Aduh!"
Azkia berusaha mengambil dokumen yang jatuh dan ada seorang pria yang membantu merapikannya.
"Terima ka..." Azkia terhenti saat melihat siapa pria itu.
Nicolas!
Azkia segera merebut dokumen itu dari tangan Nicolas. Nicolas terpana dengan kecantikan Azkia yang semakin lama semakin terlihat matang.
"Azkia?"
Azkia memutar badannya, ia hendak menaiki lift barang lagi. Nicolas mengejarnya dan meraih tangan Azkia.
"Azkia tunggu."
"LEPAS!!" suara Azkia keras sekali hingga mengagetkan orang-orang yang ada di lobby.
Azkia tidak peduli. Ia menatap tajam mata Nicolas.
"Azkia...." panggil Nicolas.
Tanpa menjawab apapun lagi, Azkia meninggalkan Nicolas di lobby dengan wajah yang bingung.
Azkia buru - buru menutup pintu lift barang agar tidak ada satupun yang mengikutinya.
"Kamu lagi?" sapa seorang pria yang ternyata sudah ada lebih dulu di lift barang.
Kevin hanya tersenyum melihat Azkia yang cukup berantakan pagi ini.
"Bagaimana? Kamu bawa makanan apa hari ini?" tanya Kevin menunjuk tas makanan yang Azkia pegang.
"Ini daging ayam yang Bapak beli kemarin. Saya buatkan ayam goreng dan ada sayurnya juga. Oh iya. itu juga ada sambal. Kali ini masakan Indonesia dulu ya, Pak. Soalnya belum sempat googling lagi masakan baratnya." kata Azkia menyerahkan tas makanan itu pada Kevin.
"Tidak masalah. Terima kasih ya." jawab Kevin dengan logat Inggrisnya. Ia masih belum terbiasa dengan ucapan bahasa Indonesia sampai saat ini.
"Iya, Pak, Sama - sama."
Mereka langsung keluar lift ketika lift terbuka dan menuju kantor.
Lagi - lagi Joana mencubit Azkia yang ketahuan datang berbarengan dengan Kevin.
"Jangan - jangan, rumah kamu dekat ya sama Pak Kevin." kata Joana.
"Enggak, kok." Azkia menaruh tas dan dokumennya diatas meja.
"Terus kenapa selalu datang bareng?"
"Ya kita ketemu di lift." jawab Azkia sambil menyalakan komputer. Setelah menyalakan komputer, ia seperti mencari - cari sesuatu.
__ADS_1
"Cari apa?" tanya Joana.
"Pulpenku. Kamu lihat pulpenku nggak?" tanya Azkia mencari pulpen itu.
"Enggak. Bukannya kamu bawa kemana - mana?" tanya Joana.
"Iya tadi aku bawa, aku pegang sama dokumen ini terus...." Azkia terhenti ketika teringat pulpen itu terjatuh bersama dokumen. Dan pada saat itu ada Nicolas yang membantu merapikan dokumennya.
"Kenapa, Ki?"
"Enggak, Jo, nggak apa - apa. Aku baru inget kayaknya ketinggalan di rumah tadi." jawab Azkia langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Yaudah, nih pake pulpen aku aja. Gampang lah pulpen ini." kata Joana memberikan pulpennya pada Azkia.
"Makasih, ya. Nanti ku kembalikan."
Azkia melanjutkan pekerjaannya begitupula Joana.
****
Nicolas sampai di kantornya dan meletakkan tas nya diatas meja. Setelah duduk dan menyalakan komputernya, ia mengeluarkan pulpen warna biru laut dari sakunya.
Ia memandangi pulpen itu dan mengingat pertemuannya dengan Azkia tadi.
Benarkah itu Azkia? Bagaimana mungkin? Selama ini, Azkia sudah menghilang tanpa jejak. Kini dia berada di dalam satu gedung bersama Azkia. Hanya saja Nicolas baru tahu belakangan ini.
Jujur saja, Nicolas sedikit rindu pada Azkia. Ia masih belum bisa menyingkirkan Azkia dari dalam hatinya. Ia selalu bertanya sejak pertengkaran terakhir kali.
****
"Ini hasilnya." kata Azkia menyerahkan testpack pada Nicolas.
Nicolas terkejut melihat garis dua di dalam testpack itu.
"Azkia... ini kamu...."
"Iya, aku hamil." jawab Azkia dingin.
"Bagaimana bisa?"
"Bagaimana bisa? Kita melakukannya dan kamu tanya gimana bisa aku hamil? Nico, kamu waras?" kata Azkia marah.
"Maksudku, bukankah kita bermain dengan aman?" tanya Nicolas bingung.
"Jadi kamu nggak mau nerima anak ini, Nic ?" tanya Azkia.
"Bukan begitu, aku cuma..."
"Belum siap, kan?" Azkia semakin dingin pada Nicolas.
__ADS_1
"Azkia.. tunggu dulu, kita bisa bicarakan ini baik - baik..."
Nicolas memijat dahinya. Kesalahan yang ia lakukan tiga belas tahun yang lalu, mungkinkah ia bisa memperbaikinya?