Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Suara Kean


__ADS_3

Setelah perjalanan selama dua belas jam lebih menggunakan kereta, akhirnya Ibu dan Seruni sampai di Kediri. Mereka langsung datang ke rumah sakit dimana Kean mendapat perawatan. Ada Bulik Sri yang sedang menunggui Kean.


"Piye Sri, opo jarene dokter?" (Gimana Sri, apa kata dokter?) tanya Ibu begitu sampai di ruang rawat Kean.


"Demame 38.9 derajat, Mbak. Panase iku naik turun, telung dino, tak pikir demame wes mari. Tapi kok loro jarene Kean awake. Kata dokter yo demam, Mbak. Dan sudah diberikan infusan, sekarang sudah turun demamnya." (Demamnya 38.9 derajat, Mbak. Panasnya itu naik turun. Tiga hari aku pikir demamnya sembuh. Tapi kok sakit kata Kean badannya. Kata dokter demam dan sudah diberikan infusan, sekarang demamnya sudah turun) jawab Bulik Sri.


"Yowis tak tunggui karo Seruni nang kene. Sampeyan mulih o disek. Ndang resik - resik, nggowo klambine Kean karo opo sing dibutuhno. Nggoleki maem sek ngono loh." (Yasudah aku tunggui sama Seruni disini. Kamu pulang sebentar. Bersih - bersih. Bawa baju Kean sama bawa apa yang dibutuhkan. Cari makan juga gitu.) kata Ibu pada Bulik Sri. Akhirnya Bulik Sri pulang dan membawa beberapa baju kotor dari rumah sakit. Seruni merapikan barang - barang dan Ibu merapikan selimut Kean.


"Kia ndi, Mbak? Kerjo ta?" (Kia dimana, Mbak? Kerja ya?) tanya Bulik Sri setelag siap untuk pulang.


"La iyo, nek ga kerjo piye terusan. Wes tak kandani, dee lo kerjo ae, aku karo Runi mulih nang Kediri." (Iya, kalau nggak kerja terus gimana. Sudah aku bilangin, dia itu kerja aja, aku dan Runi pulang ke Kediri.) jawab Ibu masih berbicara dengan bahasa Jawa dengan Bulik Sri.


"Nggak njalok ndelok anakke dewe, Mbak?" (Nggak mau lihat anaknya, Mbak?) tanya Bulik Sri khawatir.


"Dee loh njalok tapi nang kene wes ga iso bantu ngurusi. Wes ben e. Engkok telpon ae. Nek butuh opo - opo sampeyan telpon aku." (Dia mau kesini tapi disini gabisa bantu ngurusin. Sudah biarkan. Nanti teloon saja, kalau butuh apa - apa kamu telpon aku.) kata Ibu.


"Yowes, Mbak. Sampeyan tak nggoleki maem nang kene. Durung maem toh, Mbak?" (Yasudah, Mbak. Nanti aku carikan makan disini. Belum makan kan, Mbak.) kata Bulik Sri.


"Yowes opo ae. Gowoen ae opo ae lah, Sri." (Yasudah apa aja. Bawakan aja apa aja, Sri.)


kemudia Bulik benar - benar pulang sekarang. Seruni hanya mendengar Ibu dan Buliknya berbicara. Tidak lama, Kean bangun dari tidurnya.


"Bulik.." panggil Kean ke arah Seruni.


"Wes enak badanmu?" tanya Seruni mengelap keringat yang ada di peluh Kean.

__ADS_1


"Iyo, Lik. Wes nggak po po. Akeh kegiatan nang sekolah, aku ngedrop. Awakku loro kabeh, Lik." (Iya, Lik. Sudah nggak apa - apa. Banyak kegiatan di sekolah. Aku drop. Badanku sakit semua, Lik.) jawab Kean dengan nada lembut.


"Yowes nek waras. Maem yo?" (Yasudah kalau sudah enak. Makan ya?) tanya Seruni.


"Ndi Budhe Kia? Ndak melok ta?" (Dimana Budhe Kia? Nggak ikut?) tanya Kean. Seruni dan Ibu saling bertatapan. Bagaimana ia harus menjawab Kean.


"Hem.." Ibu mencoba tersenyum melihat Kean yang menanyakan Azkia.


"Budhe Kia kerjo nang Jakarta. Nek ono waktune, Bulik ndang mrene." (Budhe Kia kerja di Jakarta, kalau ada waktunya, Bulik seger kemari.) jawab Ibu dengan senyum.


"Wes gapopo, Uti. Ben kerjo ae." (Udah nggak apa - apa, Uti. Biar kerja aja.) jawab Kean terlihat sedih.


"Kangen ta awakmu karo Budhe Kia?" (Kamu kangen sama Budhe Kia?) tanya Ibu sedih.


"Iyo, Uti. Apalagi selama ini Budhe Kia ngekei aku sangu. Ya opo nek aku ga gelem ketemu." (Iya, Uti, apalagi selama ini Budhe Kia kasih aku uang. Ya apa kalau aku ga mau ketemu.) jawab Kean kecewa Azkia tidak datang menjenguknya.


Kean terbilang cukup dekat dengan Ibu dan Seruni. Rasanya tidak ada jarak diantara mereka. Terkadang, hati Ibu sangat pedih ketika Kean mulai menanyakan keadaan Azkia. Ibu tahu persis Kean adalah anak yang baik, santun dan juga cerdas. Alangkah bahagianya jika dulu ia bisa mengasuh dan merawat Kean.


Kean mulai makan disuapi oleh Ibu. Canda dan tawa antara Ibu, Seruni dan Kean membawa suasana yang lebih baik diantara mereka. Ibu selalu berharap dalam hati, kalau saja Azkia ada disini...


****


Azkia menutup telponnya dengan menghela napas lega. Seruni baru saja mengabari kalau Kean sudah dalam kondisi yang cukup stabil dan demamnya pun sudah turun.


"Keluargamu ya?" tanya Kevin yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Iya. Katanya saudara yang sakit sudah mulai membaik." jawab Azkia. Sepintas rasa penyesalan terbersit didalam hatinya ketika mengatakan yang sakit adalah saudaranya. Bukan anaknya, Kean.


"Sejak kemarin kamu terlihat gelisah karena saudaramu. Apa karena kamu dekat sekali dengannya?" Kevin terdengar penasaran dengan keluarga Azkia. Tapi entah kenapa, Azkia masih menutup dirinya mengenai keluarganya.


"Iya, Kev, dia anak yang baik dan santun. Siapa yang tidak merasa kasihan dengan anak sebaik itu." jawab Azkia semakin sedih mengingat Kean.


"Iya, baiklah. Nanti kapan - kapan mungkin kita bisa mengunjungi saudaramu itu, supaya kamu nggak gelisah lagi." kata Kevin senyum dan meraih tangan Azkia.


Azkia tersenyum, menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.


"Iya. Makasih ya." jawab Azkia seadaanya.


Sesampainya di rumah, Azkia melempar dirinya ke sofa dan menenangkan pikirannya yang gelisah semenjak mendengar kabar Kean sakit. Azkia memejamkan matanya untuk sesaat dan membayangkan wajah Kean yang sudah tumbuh besar. Seruni juga mengirimkan foto bersama Kean. Manis sekali. Air mata berderai di pipi Azkia. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan kerinduannya pada Kean lagi. Azkia mengambil hapenya dan menghubungi Seruni.


"Halo, Kak."


"Run..Aku mau bicara sama Kean." kata Azkia mengusap air mata di pipinya.


"Sebentar, Kak."


Terdengar suara Seruni yang memberikan hapenya pada Kean. Lembut sekali suara Kean yang terdengar oleh Azkia melalui saluran telpon.


"Budhe.." Kean menyapa Azkia dengan suara yang terdengar baru beranjak dewasa. Sekali lagi air mata jatuh dipipi Azkia dan segera dihapus.


"Ya opo kabarmu, Le?" (Gimana kabarmu, Le?) tanya Azkia dengan senyum. Walau masih terdengar suara sedikit bergetar.

__ADS_1


"Waras, Budhe. Maaf yo Budhe, aku tumbang. Sekolahne prei disek." (Sehat, Budhe. Maaf ya Budhe, aku sakit. Sekolahnya libur dulu.) jawab Kean tertawa kecil.


"Ndang waras, Le. ngkok Budhe mrono. Ora usah mikir opo - opo." (Cepat sembuh, Le. Nanti Budhe kesana. Jangan mikir apa - apa.) kata Azkia yang menundukkan kepalanya dan memegang dahinya. Tidak tahan ia mendengar suara Kean yang begitu lembut ditelinganya. Air matanya jatuh kembali membasahi pipinya.


__ADS_2