Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Perlahan melupakan


__ADS_3

Azkia meraba - raba hapenya yang berbunyi. Walaupun ia sudah setengah terpejam, ia mencoba melihat siapa yang mengiriminya pesan di malam seperti ini.


Ini adalah nomor Nicolas. Ardila pernah mengirim kontaknya ke hape Azkia. Tapi ia tidak menyangka kalau Nicolas akan mengiriminya pesan selarut ini. 


Azkia sedikit mengernitkan dahi ketika membuka pesan dari Nicolas. 


'Sudah tidur?'


Lho, apa maksudnya ini? Lalu kenapa kalau Azkia sudah tidur atau belum. Apa Nicolas ingin bicara dengannya?


Azkia menekan tombol gambar gagang telpon di sebelah kanan atas. Ia langsung menelpon dan menanyakan apa yang ingin Nicolas bicarakan. 


Walau sebenarnya enggan ia berbicara dengan Nicolas, ia mencoba untuk sedikit lunak pada Nicolas. 


"Ha.. halo?" terdengar suara Nicolas yang sedikit gugup di ujung telpon. 


"Ada apa, Nic? Mau bicara sesuatu?" tanya Azkia bangun dari tidurnya dan mengambil posisi duduk. 


"Kamu belum tidur ya, Ki?" tanya Nicolas berbasa - basi. 


"Belum. Habis mengerjakan sesuatu. Kenapa?"


"Nggak apa - apa. Kamu ada apa menelponku jam segini?" Nicolas masih terdengar masih berbasa - basi. 


"Kamu kirim pesan padaku, tanya apa aku sudah tidur. Kenapa?" Azkia balik bertanya. 


"Oh ya? Benarkah? Tadi aku memang mau kirim pesan sama kamu tapi nggak jadi, mungkin kepencet." jawab Nicolas. 


"Oh. Kalau gitu, aku tutup ya." sahut Azkia sudah tahu pasti tidak ada yang ingin dibicarakan oleh Nicolas. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga. 


"Tung...Tunggu, Ki." 


Mendengar Nicolas berteriak, Azkia menempelkan kembali ponselnya di telinga. 


"Ada apa?" 


"Aku dengar kemarin keluargamu ada yang sakit." kata Nicolas. 


Azkia terkejut dengan perkataan Nicolas barusan. 


"Tahu darimana?" 


"Ehm.. kemarin aku nggak sengaja dengar telponmu. Saat itu aku juga lagi di ATM." sahut Nicolas dengan polosnya. 


Azkia ingat. Saat itu ia baru saja transfer uang kepada Buliknya untuk biaya Kean berobat. 


"Oh. Saudaraku dari Jawa sedang sakit. Jadi aku menanyakan keadaannya." dusta Azkia. 

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Nicolas. Azkia merasa risih jika Nicolas sudah mulai menanyakan Kean. Walau sebenarnya Nicolas pasti tidak tahu siapa yang sakit.


"Sudah lebih baik." jawab Azkia pendek. 


"Semoga keluargamu sehat terus ya, Ki."


Ada sedikit perasaan berdebar di hati Azkia. Tapi ia tidak mau besar kepala dulu. Azkia berusaha mengendalikan perasaannya. 


"Nic."


"Ya?" 


"Aku sudah punya pacar dan aku yakin kamu tahu persis." kata Azkia. 


Nicolas terdiam sesaat diujung telpon. 


"Iya aku sudah tahu. Aku berharap kamu memang menemukan kebahagiaanmu suatu saat nanti." ucap Nicolas pelan.


"Aku harap apapun yang terjadi tiga belas tahun yang lalu, biarkan jadi kenangan saja, Nic. Aku mencoba menerima semuanya. Menjalani semuanya hingga aku bisa seperti saat ini. Sekuat mungkin aku menjalani kehidupanku dengan tidak mengingatnya. Aku ingin menatap ke depan, Nic." kata Azkia.


"Iya, Ki. Aku paham. Aku juga berusaha untuk itu."


"Maka dari itu, Nic. Cobalah kita melepas masa lalu kita perlahan. Melihat masa depan kita. Aku sudah memaafkanmu, Nic. Jangan ada yang kamu sesali lagi." lanjut Azkia.


"Baiklah, Ki.." Nicolas hanya bisa mendengar apa yang Azkia katakan. Meski hatinya terasa getir, ia berusaha tegar.


"Iya, Ki..."


"Kututup telponnya. Makasih, Nic."


Belum sempat Nicolas menjawab perkataan Azkia, ia langsung menutup telponnya. Melempar hapenya ke arah bantal dan menyandarkan kepalanya didinding. Azkia menghela napas dan memejamkan matanya. Sudah jam dua belas malam. Ia harus segera istirahat. 


****


Hari demi hari berlalu. Bulan berganti ke bulan lainnya. Azkia mencoba menjalani hiduo seperti biasa dan Nicolas sudah tidak berusaha menghubunginya lagi. Ia lega karena ia tidak harus merasa bersalah dengan Kevin. Tapi Diana tidak patah semangat. Ia masih terus mencari informasi mengenai Azkia. Ia gigih dan mencari kelemahannya. 


"Ini pemeriksaan latar belakang Azkia, Bu " kata Sekretarisnya. Diana membaca selembar kertas yang diberikan.


"Sekolah di Kediri? Dimana itu?" tanya Diana.


"Kediri sebuah kota yang ada di Jawa Timur, Bu. Disitu juga tercatat bahwa Azkia pernah mengambil gelar sarjananya di salah satu universitas di Jawa Timur." jelas Sekretarisnya. 


Diana mengangguk mengerti dengan apa yang Sekretarisnya katakan. 


"Jadi dulu dia nggak tinggal disini dan mengambil pendidikan di daerah Jawa Timur?" tanya Diana. 


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Baiklah. Cukup informasinya. Kalau kamu punya sesuatu lagi tentang Azkia, beritahu saya." 


"Baik, Bu." Sekretaris itu pamit dan keluar dari ruangan Diana. Diana mengamati kertas yang diberikan padanya. 


****


Pemasangan water heater di hotel Diana sedang dikerjakan. Awalnya Diana tidak memperhatikan tentang pemasangan water heater itu. Sampai akhirnya Sekretaris Diana memberikan informasi bahwa terkadang Azkia juga datang ke hotel Diana untuk memantau pemasangan water heater. 


Diana datang ke lokasi pemasangan water heater yang ada di atao hotel. Benar saja ada Azkia disana yang sedang memantau pemasangan water heater. 


"Apa pekerjaanmu juga ke lapangan seperti ini?" tanya Diana begitu datang menghampiri Azkia. 


Azkia sedikit terkejut dengan kedatangan Diana. Awalnya, Diana tidak pernah datang ke atap gedung untuk melihat pemasangan, tapi kali ini Diana juga ikut memantau pemasangan water heater. 


"Sudah berapa lama kamu kerja di perusahaan ini?" tanya Diana menyilangkan tangannya di dadanya. 


"Kurang lebih sudah tiga tahun, Bu." jawab Azkia. 


"Sudah lama juga ya. Kamu merantau ya?" Diana langsung menembak Azkia dan sesuai harapan Diana. Azkia langsung menoleh ke arahnya.


"Maksud Ibu, apa ya?"


"Iya. Kamu dari Jawa kan? Dimana? Kediri? Jawa Timur itu. Berarti kamu ke Jakarta ini merantau?" 


Azkia merasa kesal dengan Diana. Kenapa ia bisa tahu semua ini?


"Ibu memeriksa informasi pribadi saya?" tanya Azkia. Sekarang Azkia tidak terlihat takut dengan Diana, Diana sudah berusaha masuk ke ranah pribadinya. 


"Kenapa? Kaget?" 


Azkia tidak bisa menjawab apa - apa. Disatu sisi ia masih menghargai Diana sebagai teman baik Kevin, tapi disatu sisi, Diana sudah melewati batas.


"Saya biasa melakukan pemeriksaan latar belakang, terlebih wanita seperti kamu." kata Diana dengan nada yang sinis. 


"Ibu, latar belakang saya tidak ada hubungannya dengan kehidupan Ibu. Saya tidak melakukan kriminal atau hal yang menyulitkan Ibu dan keluarga Ibu. Jadi saya rasa Ibu memeriksa latar belakang saya hanya sebagian dari rasa dengki dihati Ibu yang tidak suka dengan saya." kata Azkia. Kini Diana merasa kesal sekali dengan Azkia. 


"Saya dengki sama orang seperti kamu? Untuk apa? Kamu nggak ada apa - apanya, tidak setara dengan level saya!" balas Diana dengan lebih sinis. 


"Level seseorang akan ketahuan dari cara bicara dan bagaimana dia memperlakukan orang lain. Bukan dari banyaknya uang tapi tidak bisa menghargai kehidupan orang lain." jawab Azkia. 


Diana mengipas - ngipas wajahnya yang terasa panas. Ia sudah kesal sekali dengan kata - kata Azkia yang begitu menyebalkan. 


"Bagaimana bisa Kevin mempekerjakan orang seperti kamu? Saya akan beritahu Kevib tentang ini!" kata Diana kemudian pergi meninggalkan lokasi pemasangan water heater diatas gedung. 


Azkia pun sama kesalnya. Terlebih lagi Diaba sudah berani masuk ke ranah pribadinya. 


"Cari tahu lagi tentang masa lalu Azkia itu!" kata Diana pada Sekretarisnya. Sekretarisnya mengangguk dan mengikuti perintah bosnya.

__ADS_1


__ADS_2