Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Rasa khawatir yang lebih besar


__ADS_3

"Ki, apa kamu nggak buat bekal hari ini?" tanya Ibu begitu melihat Azkia ingin segera berangkat.


"Hari ini nggak dulu, Bu. Mungkin besok - besok aja. Kia berangkat dulu ya, Bu!" ucap Azkia menyalami dan mengecup pipi Ibunya.


Diluar, Kevin sudah menunggunya di mobil seperti biasa. Kevin memang sekarang lebih suka menjemput Azkia terlebih dulu karena kalau sudah dihadapkan dengan pekerjaan, Kevin tidak bisa kehilangan fokus dengan pekerjaannya.


"Maaf, apa aku telat?" tanya Azkia begitu masuk ke dalam mobil.


"Kita masih punya waktu kok sebelum jam kantor. Santai saja." ucap Kevin melihat arlojinya.


"Semalam aku ketiduran mungkin aku lagi sedikit lelah jadi agak kesiangan."


"It's okay. Kita pakai waktu yang tersisa untuk cari sarapan." kata Kevin mengulas senyum diwajahnya. Bagi Kevin, ia malas sekali ribut untuk hal yang kecil. Lebih baik memikirkan bagaimana menghabiskan waktu yang tersisa daripada meributkan hal mengapa Azkia terlambat.


Setelah sampai di kedai kopi yang buka pagi hari, Azkia memesan kopi latte dengan sarapan beberapa potong roti. Sedangkan Kevin memesan pasta dengan teh.


"Ini satu - satunya kedai kopi yang buka pagi - pagi. Setahuku pemiliknya seorang anak muda yang join dengan teman - temannya untuk membuka kafe ini." kata Azkia.


"Hm.. Membuka usaha kuliner dengan kedai kopi. Agak unik sih. Karena biasanya pasti mereka lebih banyak menyediakan kopi dengan kue. Tapi mereka ada juga beberapa menu pasta."


"Kamu akan tahu setelah mencicipi makanan disini. Mereka menjualnya drngan harga murah dengan cita rasa yang tinggi." jelas Azkia.


Kevin mengangguk melihat Azkia yang hari ini terlihat ceria. Kevin tidak terlalu berharap banyak pada Azkia tentanf hatinya. Ia tidak berpikir bahwa secepat itu Azkia bisa menerima hatinya. Asalkan sudah bisa bersama dengannya untuk beberapa menit, baginya sudah cukup.


****


Kean terbaring di tempat tidur. Keringat dingin keluar dari peluhnya. Badannya panas dingin dan wajahnyapun pucat.

__ADS_1


"Le..iki piye yo. Nggowo nang rumah sakit ae ta, Pak?" (Nak, ini gimana ya. Bawa ke rumah sakit aja ya, Pak?) kata Bulik Sri yang panik dengan keadaan Kean. Kean yang memang sudah menetap di Kediri selama tiga belas tahun setelah dilahirkan oleh Azkia, baru kali ini mengalami meriang yang tidak kunjung sembuh selama tiga hari. Biasanya, satu hari, setelah diminumkan obat warung sudah langsung sehat kembali.


"Aku ga nyekel duit, Bu. Telponen Wanda nang Jakarta. Kabarno keadaan Kean nang kene." (Aku gak pegang duit, Bu. Telpon Wanda di Jakarta, kabari keadaab Kean disini.) jawab Paklik Sarito sudah tidak tahu bagaimana selain membawa Kean ke dokter.


"Gapopo ta, Pak? Kemarin wes dikei duwe. Gapopo njalok duwe maneh?" (Gapapa, Pak? Kemarin sudah dikasih duit, gapapa minta duit lagi) tanya Bulik Sri khawatir keluarga Azkia tidak akan mentransfer duit lagi.


"Yo opo terusan, Kean koyo ngene, awake loro, Kia iku sakno karo keadaan anakke dewe. Ga mungkin dee ga kasih." (Ya terus bagaimana, Kean seperti ini. Badannya sakit. Kia itu kasihan sama keadaan anaknya sendiri. Nggak mungkin dia nggak kasih.) jawab Paklik Sarito.


"Iyo, tak telponen. Mugi - mugi dee paham." (Iya Ibu telpon. Semoga dia paham.) jawab Bulik Sri meraih hapenya dan menelpon Azkia.


Azkia baru saja sampai kantor dan menaiki lift bersama Kevin. Tiba - tiba hapenya berbunyi ada telpon masuk dari buleknya. Dengan cepat, Azkia mengangkat telpon buleknya.


"Iya, Bulik? Gimana kabar Bulik?" sapa Azkia dengan senyum. Tapi tidak lama kemudian senyum Azkia redup dari wajahnya. Ia menjadi tegang dan mematikan telpon.


"Maaf, Kev. Kamu duluan aja. Aku harus ke lobby lagi sekarang." kata Azkia setelah menutup telpon.


tanya Kevin.


"Ini dari keluargaku, sedang sakit. Mereka harus membawanya ke dokter."


Kevin mengangguk mengerti dan mempersilakan Azkia untuk kembali ke lobby.


Setelah sampai di lobby, Azkia langsung menelpon Ibunya sembari melangkahkan kaki ke ATM.


"Bu, Kean sakit, Bu. Sudah tiga hari demam. Gimana ya, Bu? Aku transfer berapa?"


Melihat Azkia jalan terburu - buru menuju ATM, Nicolas yang baru sampai di gedung kantor merasa heran dengan Azkia pagi ini. Tidak biasanya Azkia terlihat buru - buru dan panik seperti itu. Nicolas mencoba mengikuti Azkia ke ATM Center.

__ADS_1


"Bulik, wes tak transfer. Kabari aku keadaannya yo, Lik. Hapeku nyala terus."


kata Azkia berbicara di telpon dengan logat Jawa.


"Gowoen ae nang rumah sakit. Nek kurang, tak transfer maneh. Telpon ae. Gapopo, Lik. Kabari aku yo, Lik." (Bawa saja ke rumah sakit, kalau kurang aku transfer lagi. Telpon saja, nggak apa - apa, Lik. Kabari aku ya, Lik) kata Azkia yang juga menjawab dengan bahasa Jawa.


Nicolas kurang mengerti dengan apa yang Azkia bicarakan. Tapi yang ia tahu, ada keluarganya di Jawa mungkin di Kediri yang sedang sakit. Karena Azkia menyebutkan 'rumah sakit' dalam pembicaraannya.


Azkia duduk dengan lemas di meja kantornya. Ia tidak sempat memikirkan bagaimana keadaan Kean. Seharusnya ia lebih memperhatikan Kean dan tidak berlarut dalam kesedihannya.


Azkia tidak pernah berpikir sekalipun bahwa sesakit sakitnya ia oleh Nicolas, lebih sakit lagi hatinya jika Kean sedang sakit. Pikirannya kacau. Ia tidak sempat memikirkan tempat proyek yang baru dibangun dimanapun. Ia tidak bisa berpikir untuk mencari data baru untuk menjadi target marketing selanjutnya. Benar - benar buntu. Bagaimana keadaan Kean sekarang? Haruskah dia minta cuti dan pergi ke Kediri?


Azkia bolak - balik mengecek hapenya berharap Bulek dan Pakleknya memberi kabar yang menyenangkan. Tetapi tidak. Tidak ada telpon ataupun pesan masuk. Ia sangat khawatir.


Sudah setengah hari Azkia tidak produktif. Joana memperhatikan Azkia karena terlihat gelisah.


"Ki. Kenapa? Kok uring - uringan terus?" tanya Joana.


"Nggak apa - apa, Jo. Aku cuma belum dapat data baru. Aku cuma lagi hubungi data lama apa ada masalah sama water heaternya." jawab Azkia asal. Tapi Joana termasuk salah satu orang yang tidak bisa dibohongi oleh Azkia.


"Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipaksain." kata Joana.


"Aku juga maunya istirahat dulu tapi aku nggak enak. Sebentar lagi jam makan siang kok." jawab Azkia.


Tidak lama, Azkia mendapat pesan singkat dari Buleknya bahwa Kean harus dirawat dan sebentar lagi akan mendapat kamar untuk rawat inap.


Azkia menghela napas lega akhirnya Kean bisa ditangani dengan baik. Seruni juga berkali - kali kirim pesan dan ingin segera berangkat ke Kediri. Ia mengatakan bahwa Azkia tidak perlu khawatir karena Seruni akan menjaga Kean disana.

__ADS_1


Tetapi tetap saja, sebagai seorang ibu, Azkia merasakan kegelisahan dihatinya.


__ADS_2