Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Menggenggam tanganmu


__ADS_3

Kevin duduk di kursi kerjanya. Menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Ia merasa hatinya sedikit tertusuk jarum. Entah mengapa pengakuan Azkia tentang mantan kekasihnya membuatnya sakit. Kevin jadi bertanya - tanya dalam hati, apakah Azkia pernah menemuinya atau tidak. Tapi Kevin ingat sekali saat hujan turun, Azkia sempat menunggu hujan reda di lobby. Ada seorang lelaki yang memberikannya payung. Mungkinkah itu dia orangnya?


Pikiran Kevin semakin lama semakin dipenuhi kecurigaan. Ia merasa jika terus dipenuhi kecurigaan, hubungannya akan menjadi masalah nantinya. Haruskan ia mendiamkan Azkia sementara? Ataukan ia kembali meraih tangan Azkia?


Kevin tidak masalah jika sejauh ini Azkia menceritakan tentang Kean. Kean sudah menjalani kewajibannya sebagai ibu. Walaupun harus berjauhan dari anaknya sendiri. 


Tok.. tok... 


Tidak lama, Azkia masuk ke ruangan Kevin. Menaruh segelas kopi dan makan siang di meja Kevin. 


"Kev.. Aku tahu kamu belum makan. Aku bawakan kopi dan makan siang. Tadi aku keluar makan sama teman yang lain dan aku ingat kamu hari ini belum sarapan sama sekali." kata Azkia tersenyum. 


Kevin tidak membalas ucapan Azkia. Ia hanya menatap Azkia dengan hati yang sedih. Azkia menunduk dan sedikit membungkuk ke arah Kevin. 


"Aku kembali bekerja. Selamat makan." 


Azkia berbalik badan dan segera berlalu dari hadapan Kevin. Tiba - tiba Kevin menghampiri dirinya, memeluk Azkia dari belakang membuat punggung Azkia terasa hangat. Hati Azkia terasa bergetar. Ia tidak sanggup menahan perasaannya, sebentar lagi ia merasa hatinya akan meledak. 


"Maafkan aku, Azkia. Aku tidak memahami kondisimu. Pasti berat untukmu melewati semua ini sendiri." ucap Kevin melingkarkan tangannya dipinggang Azkia. 


Azkia menjatuhkan airmatanya ke pipi. Ia tidak bisa melihat Kevin diam seharian ini. Hatinya terasa sedih dan sedikit merasakan kehampaan. 


"Aku yang minta maaf, Kevin.. Sejak awal aku tidak berusaha jujur padamu.."


Kevin melepas pelukannya dari tubuh Azkia dan mengunci pintu ruangannya. Ia kembali memeluk Azkia dan meraih bahunya. 


"Ayo kita jalani saja pelan - pelan. Asalkan kamu fokus hanya padaku, aku janji nggak akan mengecewakan kamu, Azkia..." 


Azkia mengangguk menatap Kevin, hatinya sudah meledak dan ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Azkia tidak mau menyangkal hatinya jika ia sudah jatuh cinta pada Kevin. Kevin menghapus air mata Azkia yang jatuh ke pipi. Dikecupnya pipi yang merona merah.


Azkia tidak merasa gemetar lagi ketika bersentuhan dengan Kevin. Ia mulai merasa terbiasa dengan sentuhan yang selalu Kevin berikan. Disentuhnya tengkuk Azkia dan Kevin mencium bibir Azkia dengan perlahan. Azkia melingkarkan tangannya di badan Kevin. 

__ADS_1


Ia bersumpah apapun yang terjadi, ia tidak ingin mengecewakan pria yang sudah bersusah payah melawan kata hatinya untuk bisa menerima keadaan dirinya. Kevin terus mencium Azkia dan tidak mau menahannya lagi. Bibir Kevin terus saja menempel pada Azkia yang menikmati setiap sentuhan yang Kevin berikan. Dengan mata yang terpejam, Azkia mengikuti kemanapun bibir Kevin berada. 


****


Diana melempar kertas yang diberikan Sekretarisnya. Sudah seharian ini apapun yang dilakukan oleh Sekretarisnya selalu salah. Kevin yang ia kira bisa terhasut oleh segala ucapannya, ternyata tidak. Wanita bernama Azkia telah membuat hatinya gusar. 


"Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sekretarisnya. 


"Kevin sudah tidak percaya lagi padaku. Apa yang menurutmu harus saya lakukan?" tanya Diana pada Sekretarisnya. 


"Haruskah aku menghadirkan lelaki yang menjadi mantan kekasih Azkia?" Diana menoleh ke arah Sekretaris. Ia hanya bisa menunduk dan takut jika atasannya berulah lagi. 


**** 


"Jadi, kamu mau memberitahuku tentang mantanmu iti?" tanya Kevin tidak percaya. Saat itu Azkia sedang menghabiskan waktu bersama Kevin di apartemennya.


"Aku nggak mau ada yang disembunyikan. Daripada kamu mengira dan menebak - nebak suatu hal yang tidak pasti, kamu bisa menanyakannya langsung padanya." kata Azkia. 


"Aku tidak berpikir sejauh itu. Aku percaya kamu Azkia. Nggak mungkin kamu berselingkuh dibelakangku." kata Kevin.


"Oh ya, Kevin. Aku mau melihat keadaan Kean di Kediri. Boleh aku ambil cuti?" tanya Azkia dengan hati - hati pada Kevin. 


"Kean? Apakah keluargamu yang sakit itu kemarin Kean?" tanya Kevin. 


"Iya. Kean yang sakit."


Kevin diam dan belum menjawab pertanyaan Azkia. 


"Apa kamu mau ikut?" tanya Azkia menawarkan. Azkia ingin sekali memperkenalkan Kean pada Kevin. 


"Boleh?" tanya Kevin. 

__ADS_1


"Tapi, kondisinya, Kean tidak tahu kalau aku Ibunya."


"Bagaimana bisa?"


"Setelah melahirkan aku menyerahkan Kean kepada tanteku untuk dirawat karena aku melanjutkan studiku. Sampai sekarang, Kean bukan memanggilku Ibu. Tapi Budhe. Budhe itu sama seperti tante. Tapi untuk panggilang yang lebih tua." jelas Azkia. Kevin terdiam terlihat berpikir sejenak. 


"Bagaimana kita bisa ke Kediri? Ayo kita tengok Kean." ujar Kevin antusias. Azkia tidak menyangka reaksi Kevin akan menyenangkan seperti ini. 


"Kita akan pikirkan cara itu nanti." sambung Kevin yang kemudian meraih tangan Azkia dan menggenggamnya. 


Entah bagaimana Azkia harus berterima kasih. Kevin sudah mau berbesar hati menerima kondisinya. Bagaimana ke depannya, tinggal waktu yang menjawab. 


"Aku tidak tahu kalau kamu bisa menerim keadaanku secepat ini." ucap Azkia. Kevin mengambilkan air botol minum dari kulkas. 


"Awalnya sulit. Hatiku mengatakan aku ingin bersamamu tapi logikaku mengatakan tidak." Kevin mengambil posisi duduk di sebelah Azkia. 


Azkia menghadapkan badannya ke arah Kevin. Dengan manis ia mendengarkan keluh kesah Kevin. 


"Aku mencintaimu, Azkia. Entah bagaimana aku bisa menyangkalnya, aku hanya bisa mengatakan aku mencintaimu." Kevin menatap dalam Azkia yang wajahnya kini merona merah. 


"Kamu manis sekali, Kevin."


Kevin tersenyum dan memegangi pipi Azkia. 


"Kamu benar kan tidak pernah mencoba mengkhianatiku dibelakang?" 


"Kamu mulai tidak percaya padaku, Kevin?" Azkia mencoba menggoda Kevin yang selalu berpikir seperti itu. Azkia memegangi pipi Kevin dan mengecup tepat di bibirnya. 


"Kevin, aku sudah jatuh hati padamu. Aku harus mencari yang seperti apalagi?" kata Azkia yang juga menatap Kevin dengan dalam. 


Kevin menyandarkan Azkia di sofa dan posisi Azkia kini tepat berada dibawah badan Kevin. Kevin merapikan rambut Azkia yang berantakan. Menyentuh alisnya yang berbentuk. Dan mencium Azkia dengan dalam. Azkia kembali melingkarkan tangannya di leher Kevin, mengajak Kevib untuk tidak berhenti menciumnya. Suara ******* kecil dari bibir Azkia membuat Kevin semakin bergairah menciumi Azkia. Pinggang Azkia yang ramping di sentuh dengan lembut oleh Kevin membuat Azkia sedikit merinding. 

__ADS_1


"Bolehkah aku melakukan lebih dari ini?" tanya Kevin sebelum ia meraba Azkia lebih lanjut. 


Azkia tidak menjawabnya. Ia hanya memandang Kevin dengan dalam. Tapi Kevin tidak melakukan apa yang dikatakannya. Ia kembali menciumi Azkia hingga berada di titik lemahnya. Azkia sedikit mendesah ketika Kevin mulai meraba dada Azkia yang ranum. Hanya sebentar, kemudian Kevin kembali menciumi Azkia dengan lembut. 


__ADS_2