
Pagi ini, Azkia dan Kevin pergi ke pasar membeli bahan makanan untuk Bulik dan juga makanan yang sekiranya Kevin bisa memakannya. Azkia memutuskan akan masak saja hari ini. Biarkan Buliknya beristirahat saja. Azkia akan mrmasakkan daging sapi lada hitam kesukaan Kevin.
Azkia sedang mencuci dan memoting daging yang dibeli di pasar. Sedang Kevin menunggunya di kamar saja.
"Aku bantu, Ki." kata Ardila ikut ke dapur. Azkia tersenyum melihat Ardila yang cepat tanggap untuk membantunya.
"Kean mana, Ki?" tanya Ardila yang mencuci potongan daging.
"Ada di kamar. Sepertinya sedang membereskan beberapa baju." kata Azkia.
"Kamu kesanalah, Ki. Bicara sama Kean. Biar ini aku kerjakan sampai aku rebus dagingnya." Ardila menyuruh Azkia agar menghampiri Kean.
"Nanti saja, masih ada waktu.."
"Jangan nanti. Sekarang aja. Sudah tidak udah pikirkan masakan sementara." Ardila memaksa Azkia untuk segera mendatangi Kean dan meninggalkan pekerjaannya.
Azkia kemudian mencuci tangannya dengan sabun hingga tidak terasa bau amis lagi.
Azkia mengetuk pintu kanar Kean dengan pelan dan pintu pun terbuka.
"Budhe.."
"Budhe boleh masuk?" tanya Azkia. Entah mengapa hatinya terasa berdegup saat ini.
"Iya, Budhe, masuk aja." Kemudian Kean membukakan pintu yang agak lebar agar Azkia bisa masuk. Ardila tersenyum dari dapur melihat Azkia bisa menemui Kean.
Azkia melihat kamar Kean yang dipenuhi piala dan juga sertifikat. Ternyata Kean cukup berbakat dibidang matematika. Ia merasa bangga sekali dengan anaknya.
"Kamu pintar matematika, Kean." ucap Azkia. Kean tersipu malu dipuji oleh Azkia.
"Iya Budhe, semua berkat dukungan dari Budhe juga. Jadi Kean bisa mengikuti beberapa lomba disini." jawab Kean yang duduk di meja belajarnya.
Azkia duduk di ranjang Kean dan menatap Kean. Semakin besar, ia sedikit mirip dengan Nicolas. Tapi hanya bibibirnya saja. Selebihnya mirip dengan Azkia.
"Bagaimana kehidupan kamu disini, Kean?" tanya Azkia.
"Ya baik - baik aja, Budhe. Kean bisa punya keluarga seperti Budhe itu sudah senang." jawab Kean dengan polosnya.
"Kean. Budhe cuma mau kasih tahu sesuatu. Kean sudah besar. Kean pasti mengerti apa yang Budhe katakan." ucap Azkia mulai serius.
"Apa itu Budhe?"
"Kean. Budhe minta maaf sama kamu. Ibumu itu sebenarnya Mbahmu. Yang melahirkan kamu itu Budhe. Jadi waktu itu Budhe memang menitipkan kamu disini, Le.. Dan Ibumu merawat kamu disini."
Azkia terlihat agak berbelit menjelaskannya pada Kean membuat Kean sedikit bingung.
"Maksudnya apa Budhe? Kean ga paham."
"Yasudah. Begini, Le. Budhe ini sebenarnya bukan Budhemu. Budhe ini sebenarnya Ibu kamu, Le." kata Azkia dengan hati - hati, memperhatikan wajah Kean yang berubah.
"Kenapa begitu?" tanya Kean.
"Waktu Budhe melahirkan kamu, Budhe ga bisa mengurus kamu. Kemudian Budhe meminta Bulik Sri untuk merawat kamu sampai kamu sebesar ini." jelas Azkia. Kean mulai paham dengan apa yang dikatakan Azkia.
"Maafin Budhe harus bicara begini ya, Le. Budhe nggak pernah sempat kesini. Jadi mumpung Budhe disini, Budhe ngomong sama kamu."
"Tapi kok bisa Budhe? Budhe nggak mau merawatku jadi Ibu yang merawat begitu?" tanya Kean terdengar sedih.
Hati Azkia semakin terasa getir. Pertanyaan Kean membuatnya merasakan batu yang menghujam dirinya.
__ADS_1
"Budhe waktu itu nggak telaten merawat kamu. Katanya, daripada Budhe salah mengasuh kamu, kamu dirawat sama Bulik. Sampai sekarang Le.." jawab Azkia sedikit ragu. Apakah benar dia harus mengatakan ini ataupun tidak.
Kean terdiam sesaat, memikirkan apa yang sebaiknya dikatakan.
"Budhe ngomong gini nggak ada maksud apa - apa, Le. Budhe cuma mau bicara sebenarnya aja. Kalau kamu masih tetap mau tinggal disini sama Ibu, gapapa. Kalau kamu mau ikut Budhe ke Jakarta juga gapapa. Semua terserah kamu, Le."
Kean masih diam belum menanggapi apa yang Azkia katakan.
"Le. Budhe nggak maksa kamu. Memang semua salah Budhe juga. Budhe minta maaf ya, Le.." kata Azkia dengan berlinang air mata. Melihat wajah Kean yang sedih, membuat hatinya terasa pahit.
Karena tidak ada tanggapan dari Kean, Azkia berpikir Kean masih butuh waktu untuk memikirkannya. Azkia mengelus rambut Kean dan meninggalkan kamar Kean.
Azkia kembali ke dapur. Ia menghapus airmatanya yang jatuh. Ardila mengelus punggung Azkia. Sudah tahu hal ini akan terjadi. Kean keluar dari kamarnya kemudian pergi ke kamar Paklik Sarito.
"Sabar ya, Ki. Sabar." Azkia menengadahkan kepalanya agar airmatanya tidak terjatuh lagi.
Dikamar, Paklik sedang duduk di ranjangnya, memakan buah yang dikupas oleh Bulik. Bulik juga ada di kamar Paklik, mengupas buah yang lain.
"Pak, Bu..." panggil Kean kemudian duduk di kursi sebelah ranjang Paklil.
"Ono opo, Le?" tanya Bulik Sri melihat wajah Kean yang terlihat emosi.
"Bu." panggil Kean.
"Tadi Budhe ke kamarku. Katanya Budhe itu Ibuku. Ya opo, Bu? Selama ini kan aku dirawat disini. Aku ya gimana ya, Bu. Ga bisa aku tiba - tiba menerima kalau Budhe itu Ibuku." kata Kean mulai protes. Paklik hanya bisa mengangguk melihat Kean.
"Iya, Le, bener. Budhe Kia itu Ibumu. Dulu dia melahirkan kamu gabisa merawat kamu. Makanya kamu dititipkan disini." jawab Paklik.
"Tapi ya gimana, Pak. Aku wes kadung sekolah disini, aku kerasan disini. Kalau aku pindah ke Jakarta..."
"Budhe minta kamu ke Jakarta?" tanya Bulik.
"Ya nggak, Bu. Cuma katanya terserah aku. Mau tetap disini atau ke Jakarta itu terserah aku. Budhe cuma kasih tahu kebenarannya aja." lanjut Kean.
"Aku ya belum tahu, Bu. Aku nggak bisa memutuskan. Aku juga masih sekolah disini, Bu."
"Gapapa, Le. Budhemu itu nggak maksa. Cuma mau kasih tau kamu kalau kamu itu anaknya karena kamu sudah besar kamu pasti paham. Dulu itu, Budhemu bukannya meninggalkan kamu, tapi nggak tahu bagaimana mengurus kamu yang baru lahir. Jadi diserahkan ke Ibu. Gimana - gimananya ya terserah kamu. Kamu mau disini ya gapapa, mau ikut Budhemu ya gapapa."
Kean terlihat bingung. Tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Budhemu kesini mau nengokin kamu. Kangen sama kamu, Le." lanjut Bulik Sri.
"Tapi ya opo, Bu. Ibu nggak apa - apa kalau nanti Kean ambil keputusan?" tanya Kean khawatir Bulik akan merasa sedih.
"Lho kamu yo anak Ibu, anak Budhemu juga. Wes gapapa. Ibu sama Budhemu sudah bicara. Bagaimana keputusannya itu terserah kamu, Le. Kamu nggak usah merasa Ibu ditinggalkan disini. Kalau kamu ikut Budhemu ya gapapa. Main - main kesini." jawab Bulik Sri dengan berbesar hati.
"Iya, Bu. Biar Kean pikirkan dulu." kata Kean.
"Budhemu lagi masak. Ndang dimaem masakannya. Jangan membuat hatinya sedih ya, Le." kata Paklik mengingatkan.
"Iya, Pak." jawab Kean pendek kemudian meninggalkan kamar Paklik dan kembali ke kamarnya.
Kean gelisah dalam hatinya. Mungkin maksud orangtuanya baik menitipkan dirinya di rumah Bulik dan Paklik. Iya, Kean memang sudah besar. Walaupun Kean terlihat bisa mengambil keputusan, Kean takut jika keputusan itu salah dan menyakiti salah satunya.
Kean membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Dia sudah nyaman tinggal di Kediri. Apakah pindah ke Jakarta merupakan keputusan yang tepat?
Kean tidak tahu. Ia harus bertanya pada siapa? Pada Budhe Kia kah? Kean tahu, Budhe tidak akan memaksa dan semua kembali pada dirinya. Tapi bagaimana jika ia ingin bicara pada Budhe Kia?
Kean merasa pusing memikirkannya. Ia keluar kamar kemudian ingin duduk di kursi teras.
__ADS_1
Di teras sudah ada Kevin yang sedang menikmati udara siang hari di desa. Tidak pernah ia merasakan udara pada jam - jam segini. Ia selalu berada di ruangan ber AC, berkutat dengan pekerjaannya.
"Kean." sapa Kevin begitu melihat Kean keluar dari dalam rumah.
"Iya, Om." sahut Kean tersenyum.
"Duduk sini sebelah Om." kata Kevinpun ikut tersenyum.
"Iya, Om." Kean duduk di sebelah Kevin yang terlihat tampan. Baru sekali ini, Kean melihat pria setampan Kevin.
"Kamu usia berapa, Kean?" tanya Kevin santai. Keanpun jadi merasa santai berbicara dengan Kevin. Mungkin seperti pembicaraan antar lelaki. Jadi Kean merasa lebih nyaman.
"Tahun ini tiga belas tahun, Om." jawab Kean dengan senyum.
"Gimana sekolah kamu? Lancar?" Kevin mencoba mengakrabkan diri dengan Kean.
"Iya, Om, Alhamdulillah lancar."
"Syukurlah kalau begitu."
"Om temannya Budhe?" tanya Kean langsung oada Kevin.
"Budhe?" Kevin terlihat bingung dengan panggilan "Budhe"
"Iya. Budhe Kia. Azkia." terang Kean.
"Oh. Iya. Nggak apa - apa kan Om main kesini?"
"Nggak apa - apa, kok, Om. Lagipula rumah ini jarang kedatangan saudara. Jadi Kean senang, Om."
"Budhe Kia, itu kadang kangen sama kamu. Mau kesini tapi Budhe kerja. Jadinya cuma bisa telpon kamu." cerita Kevin.
"Begitu katanya, Om?" Kean terdengar tidak percaya.
"Iya. Om tahu persis kok."
"Apa kira - kira kalau Kean ikut ke Jakarta, Kean nggak akan merepotkan Budhe ya, Om?" tanya Kean ragu.
"Hmm... Kalau Om rasa nggak. Karena kamu juga keluarganya. Tapi balik lagi ke kamu. Apa kamu siap meninggalkan Kediri?" Kevin berbalik bertanya.
"Iya, Om. Kean juga bingung. Kalau ke Jakarta, nggak ada yang bantu Ibu sama Bapak disini. Tapi kalau Kean tetap disini, apa Budhe nggak sedih ya, Om?"
"Sedih pasti, Kean."
"Iya. Baru - baru ini, Budhe juga bilang kalau sebenarnya Budhe bukan Budhenya Kean. Tapi Ibu kandung Kean." kata Kean menatap kosong ke jalanan.
Kevin agak terkejut mendengar ucapan Kean.
"Budhe sudah bilang kalau Budhe itu ibu kamu?"
Kean mengangguk. "Sudah, Om."
"Terus?"
"Kean cuma bingung, Om. Selama ini kan Kean tahunya Budhe. Mau panggil Ibu, juga terasa aneh." sahut Kean.
"Pelan - pelan aja, Kean. Budhe kamu itu punya hati yang baik kok. Dia nggak pernah memaksakan sesuatu. Yang Om tahu, Budhe itu selalu menghargai keputusan orang lain." kata Kevin.
"Begitu, ya, Om?"
__ADS_1
"Iya. Kamu sabar dulu, ya. Semua pasti ada jalannya. Kalaupun selama ini Budhe nggak kesini, bukan berarti Budhe nggak sayang. Tapi Budhe cari uang buat Kean bisa sekolah sampai sarjana."
Kean terharu mendengar apa yang dikatakan Kevin. Mungkin apa yang dikatakannya memang benar. Bahwa pada saat itu, Azkia belum sanggup mengurus Kean hingga harus dititipkan. Kean tetap berpositif mungkin pada Azkia. Dan saat ini, Kean mulai menaruh sedikit kepercayaan pada Kevin.