
Kevin meraih hapenya yang berbunyi. Sudah sore, sedikit lagi jam pulang kantor. Tidak seperti biasanya Azkia mengiriminya pesan selama jam kerja. Kevin segera membaca pesan dari Azkia.
Kev, aku menunggumu di kafe lobby. Selesaikan pekerjaanmu dulu ya.
Kevin mengira ada sesuatu terjadi selama pemasangan unit di hotel Diana. Karena setahu Kevin, Diana selalu mengejar siapapun yang sedang dekat dengannya.
Tanpa menunggu jam pulang kantor, Kevin langsung mengambil jas dan mengunci pintu ruangannya. Ia mengatakan pada sekretarisnya jika ia harus pergi.
Kevin menuju lift penumpang dan sedikit menunggu. Ia merasa gelisah. Ia mengecek kembali hapenya. Azkia tidak menelpon atau mengiriminya pesan lagi. Setelah sedikit menunggu, pintu lift terbuka. Ada beberapa orang di dalam lift dan mereka sedikit bergeser ketika Kevin masuk.
"Azkia..."
Azkia yang sedang duduk di kafe loby pun terkejut dengan kedatangan Kevin secara tiba - tiba.
"Kev, ini belum jam pulang kantor...."
"Ayo pulang."
Azkia membawa kopi yang baru saja dipesan dan tangannya digandeng oleh Kevin. Azkia terburu - buru melangkah, menyesuaikan langkahnya dengan Kevin.
Nicolas hanya bisa melihat Azkia berlalu dari kafe loby.
****
"Ada apa, Azkia? Apa sesuatu terjadi selama pemasangan unit di hotel Diana?" tanya Kevin begitu sampai di dalam mobil.
"Apa kamu khawatir soal itu?" Azkia bertanya balik.
"Iya. Apa Diana mengatakan sesuatu?" tanya Kevin khawatir.
Azkia menundukkan kepalanya. Memainkan jemarinya, memikirkan kata - kata yang bagus untuk Kevin. Ia menyadari, Diana adalah teman dekat Kevin. Bagaimanapun ia tidak ingin pertemanan Kevin dan Diana menjadi renggang karenanya.
"Aku nggak tahu harus bicara apa."
"Diana bicara apa? Apa dia mencari - cari kesalahanmu? Atau dia menyinggung hubungan kita? Atau dia mencari tahu tentang masa lalumu?" tanya Kevin dengan pertanyaan yang tiada hentinya. Tapi ketika Kevin menanyakan pertanyaan yang terakhir, Azkia langsung menatap Kevin. Matanya bertemu dekat sekali dengan Kevin.
__ADS_1
"Dia mencari tahu tentang latar belakangku." jawab Azkia.
"Tidak usah dipikirkan. Aku mohon. Ya?"
Azkia mengernyitkan dahi. Bingung dengan apa yang Kevin katakan.
"Apa maksudmu, Kev?"
Kevin memposisikan badannya dengan baik. Ia menyalakan mesin dan memasang sabuk pengamannya.
"Aku akan ceritakan sambil menyetir."
Dengan perlahan, Kevin menginjak pedal gasnya. Azkia pun ikut memasang sabuk pengamannya. Dalam perjalanan, Azkia merasakan kesunyian. Kevin belum juga bicara. Azkia tidak menyalahkan Kevin dan ia berusaha mengendalikan emosinya.
"Diana tidak suka aku dekat dengan wanita manapun." kata Kevin.
Azkia diam mendengarkan.
"Setiap kali aku mendekati wanita, dia selalu mencari keburukan wanita itu. Diana selalu merasa dirinya lebih baik dari wanita manapun."
"Mungkin. Aku tidak menyangkalnya. Karena apa yang dia lakukan selalu saja mengganggu hari - hariku."
"Lalu, bagaimana dengan kamu?" tanya Azkia menahan rasa sedihnya.
"Aku akui. Siapa yang tidak melihat Diana sebagai wanita cantik, cerdas dan sukses? Aku rasa kamupun begitu. Tapi ketika aku mendekati dan mencoba menjalin hubungan dengan seorang wanita, dia selalu mencari keburukan wanita itu. Mulanya, aku selalu bertengkar dan terhasut oleh ucapan Diana. Tapi ketika itu, wanita yang sedang aku pacari, bertanya padaku: sekarang kamu mau menjalin hubungan denganku untuk masa depan atau untuk masa laluku?
Jujur saja aku bingung. Terlebih Diana selalu ikut campur dalam hubunganku. Beberapa kali terjadi seperti itu. Dan aku merasa Diana bukan orang yang sehat. Dia melakukan segala cara agar aku bisa bersama Diana saja." cerita Kevin.
Azkia cukup tertegun dengan apa yang Kevin ceritakan. Begitukah? Seperti itukah Diana yang selama ini menjadi kliennya?
"Emosi Diana selalu meledak. Aku mencari cara bagaimana mengatasi emosinya. Akhirnya aku selalu memotong pembicaraannya ketika dia menjelekkan wanita yang aku suka." sambung Kevin.
"Bagaimana denganku? Ketika suatu hari nanti Diana mengatakan sesuatu tentang masa laluku, kemudian kamu tidak bisa menjalani hubungan denganku lagi..."
Kevin membelokkan stir ke sebelah kiri. Ia memasang lampu sen sebagai tanda 'hati - hati'.
__ADS_1
"Maksudmu, apakah aku meragukanmu atau tidak?"
Azkia menatap Kevin dengan dalam. Ketulusan dan kejujuran Kevin selalu membuatnya sedih. Karena selama ini yang berbohong itu bukanlah Kevin. Melainkan dirinya.
"Aku masih mencoba meraihmu, Azkia. Aku masih berusaha menggapai hatimu. Aku ingin hubungan kita dilandasi kejujuran dan ketulusan."
Deg! Hati Azkia seperti dihujam oleh batu yang sangat besar. Tidak bisa dipungkiri, Kevin memang selama ini terlihat tulus dan jujur pada dirinya.
Azkia menundukkan wajahnya. Ia merasa malu dengan kebaikan Kevin. Ia merasa ini adalah saatnya ia harus jujur dengan keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Sebelum kamu mengetahui dari orang lain, aku ingin mengatakannya saja. Mungkin dari apa yang aku katakan, kamu bisa menentukan, mau melanjutkan hubungan kita atau sampai disini saja. Aku akan menerima apapun keputusanmu. Sebelum hubungan kita lebih jauh lagi." Azkia berbicara serius pada Kevin. Membuat Kevin penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. Azkia membuka sabuk pengamannya dan ia keluar dari mobil Kevin.
"Aku akan dengarkan."
Azkia membuka sabuk pengamannya dan ia keluar dari mobil Kevin. Kevin mematikan mesin mobilnya. Dan mengikuti Azkia.
"Kev, kamu tahu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Entah itu dimasa lalu ataupun sekarang."
"Iya."
"Dulu waktu aku masih remaja, aku mempunyai seorang kekasih. Aku menyukainya dan dia menyukaiku. Ada hal - hal yang tidak aku ketahui pada masa remaja. Kami hanya memikirkan bagaimana caranya bersenang - senang tanpa tahu apa akibatnya."
Kevin menatap wajah Azkia yang memandang jauh ke arah mobil dan truk lewat.
"Hingga suatu ketika aku mengalami pergaulan yang salah dan aku..."
Azkia menoleh ke arah Kevin.
"Aku hamil."
Kevin terkejut dengan apa yang baru saja Azkia katakan.
"Aku meminta tanggung jawab pada kekasihku. Tapi ia beralasan tidak bisa bertanggung jawab karena masih belum lulus sekolah. Sudah bisa ditebak, wanita pasti akan selalu menderita. Aku merasa hancur. Duniaku runtuh dan aku tidak punya masa depan. Aku pulang dan menceritakannya pada orang tuaku. Mereka membawaku ke Jawa Timur. Disana aku menenangkan diri dan Ayahku memintaku untuk memutuskan untuk melahirkan anak itu atau menggugurkannya."
Sesekali Azkia menoleh pada Kevin. Ingin tahu apa reaksi Kevin setelah mendengar semua pengakuan Azkia. Kevin hanya bisa mendengar semua cerita masa lalu Azkia dan masih belum memberikan komentar apapun.
__ADS_1
Azkia berlinang air mata ketika akan melanjutkan ceritanya. Ia sudah siap apapun yang akan Kevin katakan nantinya. Entah Kevin akan meninggalkannya detik ini juga atau memakinya. Apapun itu, Azkia akan menerimanya. Yang terpenting baginya, ia sudah mengatakannya dengan jujur. Ia tidak mau berbohong kepada Kevin.