Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Permintaan Paklik dan Bulik


__ADS_3

Akhirnya Azkia, Kevin dan Ardila sampai juga di rumah Bulik Sri. Begitu Azkia datang, Bulik Sri langsung menyajikan beberapa makanan dan juga minuman. Semua terkecuali Kevin terlihat tidak nyaman dengan rumah Bulik Sri. Azkia sesekali tertawa melihat reaksi Kevin yang tidak pernah memakan makanan rumahan apalagi di pedesaan. 


"Siapa namanya teman kamu, Kia?" tanya Bulik Sri dengan aksen Jawa yang kental dan berbicara dalam bahasa Indonesia. 


"Nama saya Ardila, Bulik." jawab Ardila dengan senyum.


"Kalau yang laki - laki ini?" tanya Bulik menatap Kevin dengan kagum. Jarang sekali orang berkulit seputih Kevin di desa ini. 


"Oh ya. Nama saya Kevin, Bu... Bul... Bul..." Kevin terbata ketika menyebutkan 'Bulik'


"Bulik." sambung Azkia. 


"Oh ya, Bulik." lanjut Kevin tersenyum. 


"Ya nggak apa - apa. Maaf ya rumahnya kecil dan nggak nyaman. Seadanya disini ya, Nak." kata Bulik merendah diri. 


"Iya nggak apa - apa, Bulik. Santai aja." kata Ardila tertawa kecil. Tapi ia lupa bahwa Kevin pastilah tidak terbiasa di daerah Jawa ini. 


"Kean dimana, Bulik?" tanya Azkia. Azkia nampak mencari keberadaan Kean tapi tidak menemukannya. 


"Sebentar lagi pulang sekolah. Tunggu aja." kata Bulik. Tidak lama kemudian, pintu pagar berbunyi. 


"Nah benar kan. Itu Kean." kata Bulik tersenyum. 


"Assalamualaikum, Bu.." salam Kean setelah memasuki ruang tamu.

__ADS_1


"Walaikumsalam, Le.." jawab Bulik. Azkia melihat Kean yang baru pulang sekolah dengan perasaan rindu. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Kean. Sudah semakin besar. Suaranyapun sudah mulai berubah. 


"Budhe.." sapa Kean yang langsung menyalami Azkia dan juga teman - teman Azkia. 


"Ganti baju dulu, Kean. Nanti kita ngobrol lagi." ucap Azkia mengelus rambut Kean dengan senyum. Kevin melihat Azkia dengan tatapan matanya yang sedih. Ingin menggapai anaknya sendiri tapi terasa sangat sulit. 


Awalnya Kevin tidak paham kesedihan hati Azkia. Tapi hari ini setelah ia melihat mata Azkia yang begitu merindukan Kean, Kevin jadi mengerti. Kean terlihat manis dan sopan. Wajahnya juga sedikit mirip dengan Azkia. Ah, kenapa Kevin jadi berandai - andai yang macam - macam? Belum tentu Azkia mau menerima lamarannya setelah ini. 


Kevin berisitirahat di kamar. Perjalanan panjang membuatnya lelah. Walau tidak nyaman bagi Kevin, Kevin berusaha menempatkan diri dengan baik karena ini adalah keluarga Azkia. 


****


Tidak lama, Bulik memanggil Azkia untuk ke kamar Paklik sebentar. Karena yang lainpun sedang beristirahat masing - masing di kamarnya. 


"Nduk.." panggil Paklik Sarito dengan lemah. Paklik memang sudah beberapa hari ini tensi darahnya naik turun karena penyakit gulanya. Terkadang, Bulik kerepotan mengurus suaminya.


"Sudah lama kamu tidak kesini. Kalau kamu mau kesini, main saja, Nduk. Nggak usah sungkan." kata Paklik dengan aksen Jawa yang kental namun memilih berbicara dengan bahasa Indonesia dengan Azkia. 


Azkia mengambil kursi kemudian duduk disamping ranjang tempat tidur Paklik. 


"Iya, Ki. Main aja kesini. Lapo kok ga tahu mrene." (Iya, Ki. Main aja kesini. Ngapain kok gatahu jalan kesini.) ucap Bulik Sri pada Azkia. Azkia hanya tersenyum mendengarnya. 


"Nggak, Paklik. Waktu itu kan Ayah sudah janji untuk menaruh Kean disini. Bulik dan Paklik bisa mengurusnya." jawab Azkia dengan sedih. 


"Nyapo (ngapain) sih kok ngomong gitu. Ayahmu itu bilang, titip anaknya Kia disini. Karena kamu itu masih terlalu muda. Masih mau melanjutkan sekolah. Yo wes kadung (terlanjur) sampai sekarang. Bulik sama Paklik ini lho sudah berterima kasih Ayahmu itu mau mempercayai kami mengurus anak bayi waktu itu." kata Bulik Sri setengah berbisik. 

__ADS_1


Azkia menitikkan air matanya kemudian segera menghapusnya. Hatinya terasa sedih dan meronta. Ingin sekali ia memeluk Kean saat ini juga. 


"Tapi Bulik. Selama ini Kean itu gatahu siapa Ibunya. Yang dia tahu Ibunya kan ya Bulik." kata Azkia merasa percaya dirinya hilang. 


"Itu bisa diomongi, Nduk. Gausah mikir apa yang membuatmu sakit hati lagi, Nduk. Kean wes besar. Wes paham apa yang dibicarakan kamu nanti." sambung Paklik.


"Paklik lho sudah sakit - sakitan. Untuk makan sehari - hari ya ga ada, Ki. Minta kamu terus ya Bulik itu lho malu. Sudah saat ini Kia, kamu bisa mengatakan yang sebenarnya." kata Bulik pada Azkia yang semakin sedih dengan perkataan Buliknya. 


"Tapi Bulik, Bulik sudah lama mengurus Kean. Mana mungkin tiba - tiba aku mengambil Kean dari Bulik dan juga Paklik." Azkia semakin deras mengeluarkan airmatanya. 


"Gini aja. Bicara dulu sama Kean. Gimana nanti itu biarkan jadi keputusan Kean. Piye, Ki? Soale kamu itu ga pernah kesini. Jadi Bulik mau ngomong ya opo, mumpung kamu disini Bulik ngomong. Gitu lho, Ki." lanjut Bulik. 


"Bulikmu ini lho paham. Kamu itu sedih dan khawatir setiap dikasih tahu tentang Kean. Biarpun kamu bilang nggak apa - apa, Bulik lho tetap nggak tenang." kata Paklik, kemudian Paklik batuk - batuk. 


Azkia terdiam. Berusaha berpikir bagaimana menjawab perkataan Pakliknya. 


"Wes toh, Ki. Gapapa. Kean anakmu, yo anak Bulik juga. Kita kan satu keluarga." ucap Bulik yang akhirnya membuat hati Azkia semakin bersedih. 


"Iya, Bulik, Paklik. Nanti Azkia pikir dulu gimana enaknya ngomong sama Kean." 


Azkia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya dengan ekspresi. Haruskah ia sedih atau bahagia. Mungkin Kean akan kaget dengan apa yang akan dibicarakan. Disatu sisi, ia tidak ingin mengecewakan Bulil dan Paklik karena sudah "memberikan" Kean pada mereka. Disatu sisi ia juga selalu merasakan rindu yang amat sangat dalam setiap kali melihat Kean. Tapi apapun hasilnya, hanya Kean yang menentukan. 


Malamnya, Azkia merasa resah. Karena ia sekarang menjadi memikirkan perasaan Kean. Ia memang sudah lama ingin mengungkapkan bahwa dia adalah Ibunya, tapi bagaimana? Apakah Kean bisa menerimanya begitu saja? Azkia tidak yakin. Hari ini Azkia lebih banyak menghabiskan waktu dikamar dibanding diluar karena pikirannya sedang gelisah. 


Keadaan Paklik juga sudah sakit - sakitan. Bulik akan lebih berkonsentrasi mengurus Paklik yang sedang sakit - sakitan walaupun Kean sudah besar dan mandiri, tetap saja, Kean harus tetap fokus pada sekolahnya. 

__ADS_1


Azkia mencoba memejamkan matanya untuk tidur malam ini. Ardila yang tidur disebelahnya sepertinya sudah sangat pulas hingga tidak bisa merasakan kegelisahan Azkia yang sejak tadi membalikkan badannya di tempat tidur.


Sebelum tidur, Azkia membayangkan kemungkinan yang terjadi jika ia mengatakannya pada Kean. Ah, tapi tidak mungkin jika Kean sampai membentaknya. Kean bukan anak seperti anak remaja pada umumnya. Dia baik dan sopan. Mungkin reaksinya akan lebih baik besok.


__ADS_2