Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Kapal dan Hadiah


__ADS_3

Ariana adalah seorang dokter, penyembuh bagi banyak orang. Rasanya menjadi tidak adil jika ia tidak bisa membantu Evander untuk sembuh. Vampir yang tinggal di pondoknya itu mengeluh sakit.


Permasalahannya, Ariana tidak tahu apakah yang diderita Evander adalah suatu penyakit. Evander hanya mengatakan kalau ia tidak memiliki kelebihan yang seharusnya ada pada seorang Count Drakula.


“Tidakkah kau bisa membantu mencarikan solusi untuk masalahku, Ana? Mungkinkah aku menderita sakit tertentu hingga tidak memiliki kemampuan umum seorang vampir?”


Evander membaringkan tubuhnya di atas kasur, bersebelahan dengan ariana. Mereka pulang cukup larut dari jalan-jalan, tapi puas karena mendapatkan nomor telepon tempat penjualan kapal dari salah satu teman Ariana.


“Apa ada yang terasa tidak nyaman di tubuhmu? Sakit di bagian tertentu? Kepala, tangan, bagian perut?” Ariana tidak yakin kalau kecacatan kemampuan Evander adalah sesuatu yang fatal. Ia lebih senang menyimpulkan kalau hal seperti itu hanya sebuah kekurangan, bukan kelainan apalagi penyakit berbahaya.


Namun, Ariana akan merasa senang dan tidak keberatan sama sekali jika harus memeriksa tiap inchi kulit pucat Evander. Selain bisa digunakan untuk alasan penelitian … bisa dibilang rasa penasarannya terhadap Evander belum hilang. Ya ampun!


“Aku merasa sehat,” jawab Evander yakin. Ia menangkap tangan Ariana untuk diletakkan di atas jantungnya. “Jantungku hanya berdetak tidak normal jika bersamamu seperti ini!”


Ariana mengabaikan rayuan salah satu pangeran kegelapan dari pedalaman Rumania ini. “Jika tidak ada peradangan, gejala atau indikasi tertentu pada tubuh yang mengakibatkan kau merasa sakit … bisa dibilang kau sehat, Evan! Soal kemampuan bawaan vampir, aku tidak bisa menjelaskan. Mungkin sama dengan manusia, kadang lahir tanpa mewarisi keahlian kedua orang tuanya, tapi memiliki keahlian sendiri yang juga tidak dimiliki anggota keluarganya yang lain. Aku yakin kau memiliki keistimewaan tertentu terlepas dari yang tidak kau dapatkan dari Count Drakula generasi atasmu.”


“Oh Ana, sejujurnya aku sangat butuh kemampuan mengendalikan badai agar perjalanan pulangku lebih mudah,” kata Evander sendu. “Tanpa itu, tingkat keberhasilan menjelajah waktu menjadi sangat rendah. Kapalku akan kembali karam dan aku bisa saja mati tersambar petir!”


Ariana tersenyum bijak, “Takdir hidup membawamu ke zaman ini, Evan! Jika kau tidak berhasil pulang ke masa lalu, bukankah ada kehidupan baru di sini?”


“Aku harus kembali ke masa lalu, My Lady! Aku memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan di London. Aku tidak boleh mati sebelum menyelesaikan misi, membalas dendam dan memperbanyak populasi penghisap darah di sana.” Evander memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan dan memperhatikan Ariana yang juga menghadapnya.


Ariana menyela, “Kau gila!”


“Aku harus menebar teror di tempat saudaraku mati, London harus diubah menjadi kota vampir terbesar di dunia ini! Itu satu-satunya cara agar aku mendapatkan kejayaan dan dihargai sebagai pangeran kegelapan, juga tercatat dalam sejarah pemimpin Count Drakula.”


“Jangan melakukan kejahatan seperti itu, Evan!” Ariana mengusap pipi Evander lembut.


“Ini soal harga diri dan kehormatan seorang pria, Ana!” tukas Evander memohon pengertian. “Terkutuklah takdir yang menyeretku ke tempat ini, terlebih lagi … terkutuklah aku yang terlahir bodoh dan cacat!”


Ariana menyibak rambut Evander yang jatuh menutupi dahi, mencoba memberikan ketenangan dengan sentuhan ringan. Evander tampak emosional dan putus asa meski sudah memiliki rencana untuk pulang, berlayar dengan kapal kecil yang lebih sederhana. Raut Evander dingin menyedihkan, seperti orang yang tersesat di hutan dan kesepian.

__ADS_1


Evander bukan siapa-siapa di pondok itu, tapi entah bagaimana Ariana merasa mereka terhubung. Ariana bisa merasakan kepedihan Evander, dan juga rindunya akan kehidupan masa lalu. Ariana tidak yakin apakah ia bisa melepas Evander dengan mudah setelah banyaknya rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia sungguh menyukai Evander.


“Aku akan membantumu, Evan! Kau tidak perlu khawatir, besok malam rekan kerjaku akan berkunjung kesini. Aku ingin kau berkenalan dengannya, namanya Steven!”


“Kau sudah terlalu banyak membantuku, My Lady! Aku belum membayar apapun padamu,” kata Evander memejamkan mata, sambil memeluk tangan Ariana.


“Aku akan memberitahu jika tagihanmu sudah terlalu banyak dan memberatkanku!” Ariana tertawa kecil melihat Evander mencium punggung tangannya.


“Kau gadis yang menyenangkan, Ana! Aku menyukaimu!” Evander terkekeh dengan mata yang masih terpejam, "Tidurlah, ini sudah sangat malam!"


**


Dokter Steven adalah pria usia tiga puluh tahun yang ramah, terlihat sedikit lebih tua dari Evander karena memakai kacamata tebal. Tapi keramahan dan rasa antusiasnya pada cerita-cerita Evander membuat mereka cepat akrab. Obrolan berlangsung seru dan lebih lama dari yang dr. Steven duga.


Evander merasa aman berteman dengan rekan kerja Ariana yang menatap dan memperlakukannya seperti layaknya manusia biasa. Bahkan, mereka berdua sekarang sedang sibuk di depan komputer milik Ariana karena Evander butuh bimbingan.


Bukan informasi pelayaran yang sedang dicari Evander, tapi ia meminta dr. Steven membantunya mencari pembeli. Ia berniat menjual kalung tanpa liontin untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tinggal di rumah Ariana, dan juga untuk mempersiapkan perjalanannya ke Transylvania.


Dokter Steven mengambil gambar kalung Evander lalu mengirim kepada beberapa ahli sebelum masuk pasar lelang barang antik. Siapa sangka kalau kolektor benda antik, pengelola museum dan beberapa kalangan berduit sangat berminat pada kalung vampir dari abad kesepuluh tersebut.


“Ana mengatakan aku bisa membeli pulau dengan satu kalung ini!”


“Yeah, itu karena kalungmu berusia seribu tahun lebih. Jangankan sebuah pulau, kau bisa membeli negara jika liontinnya ikut kau jual dalam pelelangan ini.”


“Tidak! Aku ingin memberikan liontin ini sebagai hadiah. Ini akan sangat cocok dipakai Ana, batu hijau ini serasi dengan warna matanya!” ucap Evander dengan mata berbinar-binar.


Ya, selain pribadi Ariana yang hangat dan lucu, Evander menyukai mata hijau Ariana. Bagian itu memiliki daya tarik yang sangat kuat. Evander selalu merasa ditenggelamkan tanpa bisa melawan.


“Wow … Ariana akan menjadi most wanted woman setelah memakai kalung dengan liontin abad kesepuluh ini. Kau yakin tidak ingin membawanya pulang ke negerimu? Kau akan membuat Ariana dikejar banyak pria nanti. Lagi pula, ini tidak ternilai untuk diberikan pada orang biasa di zaman ini, Evander!”


“Kau benar, Kawan! Ana adalah wanita luar biasa, dan dia tidak ternilai. Ana berhak memakainya … aku tidak bisa pergi tanpa memberikan sesuatu yang berarti untuknya!”

__ADS_1


“Hm, sepertinya kau sangat menyukai Ariana,” kata dr. Steven. Tersenyum, lalu menyimpulkan.


Evander menatap kosong ke luar jendela, “Aku bermaksud membawanya ke Transylvania, tapi aku juga memikirkan keselamatannya. Maksudku jika perjalanan pulang tidak berhasil, Ana akan ….”


Dokter Steven nyaris berteriak ketika melihat layar komputer, “Fix … kau mendapatkan pembeli, Evander! Kita tinggal mengurus pembayaran untuk transaksi besar ini. Kau yakin ingin dibayar tunai?”


“Apakah terlalu banyak koin dan uang kertas yang akan aku terima?” tanya Evander tak paham. Ia masih tidak mengerti cara Ariana kemarin membayar pakaiannya di pusat perbelanjaan dengan benda yang disebut kartu a-te-em. Evander juga bingung ketika Ariana mengatakan uangnya ada di bank, dan bisa diambil di mesin ATM hanya dengan menggunakan kartu.


"Lebih dari ter-la-lu banyak, Evander! Uang tunai ini sangat banyak!"


Dokter Steven sibuk memikirkan bagaimana uang itu bisa diterima Evander dengan aman. Ia juga mencari cara agar Evander mendapatkan identitas. Dokter Steven keluar ruangan untuk menelepon kerabatnya yang bisa mengurusi hal-hal tersebut.


Sepuluh menit kemudian, dr. Steven sudah bergabung kembali dengan Evander di depan komputer. Acara lelang barang lain sedang berjalan seru, Evander menyimak serius kegiatan online tersebut.


“Kau akan mendapatkan identitas baru besok, aku juga sudah meminta agar kerabatku mengusahakan rekening bank untuk transaksi besar ini. Bagaimana menurutmu?”


Evander hampir tak berpikir dulu ketika menjawab, “Menurutku kita perlu membeli banyak hadiah untuk Ariana.”


Dokter Steven terbahak-bahak, “Apa tidak ada hal lain yang kau pikirkan selain membeli kapal dan menghujani Ariana dengan banyak hadiah?”


“Tidak ada!” jawab Evander.


"Kau serius?"


“Aku ingin mendengar pendapatmu mengenai hadiah paling romantis untuk Ana? Apa wanita di zaman ini suka dibuatkan taman bunga? Pondok ini tidak memiliki keindahan seperti kastil para bangsawan di negeriku!”


Dokter Steven menanggapi, “Hm, menurutku itu hadiah yang manis!”


Evander melanjutkan, “Aku beritahu sebuah rahasia, kastil Count Drakula di Rumania sangat indah jika dilihat dari luar. Tapi ruang bawah tanahnya kotor dan tidak nyaman! Lembab, kusam dan berdebu. Di sanalah peti para vampir tersimpan dengan aman. Bukankah tempat seperti itu sempurna untuk bersembunyi, Steven?”


“Kau juga tidur di peti mati?”

__ADS_1


Evander mengangguk. “Aku putuskan akan membuat taman indah untuk Ana! Dan tolong carikan kapal yang cocok untuk aku pulang, Steven!”


***


__ADS_2