
Sheila adalah vampir modern yang tidak menghisap darah manusia atau meminumnya secara langsung. Ia langsung memberikan satu kapsul darah pada Evander ketika ditanya lokasi bank darah.
“Di zaman ini, kami tidak lagi memangsa manusia, Evander! Menggigit terlalu kotor, menjijikkan dan berantakan. Sudah sejak lama ilmuwan vampir mengolah darah menjadi kapsul. Ini berisi sari darah, satu kapsul setara dengan makan tiga kali sehari. Kau hanya perlu meminumnya satu kali di malam hari sebelum beraktivitas,” terang Sheila kalem. Ia juga mengeluarkan tabung kecil berisi banyak kapsul berwarna merah.
Evander menatap takjub, memakan kapsul pertama yang diberikan Sheila, lalu mengambil tabung yang diulurkan padanya. “Kalian memiliki teknologi untuk mengemas darah dalam benda sekecil ini?”
“Sekarang, minum darah segar hanya ada pada upacara tertentu seperti pernikahan atau pesta pengangkatan anak! Semua vampir modern disarankan mengonsumsi kapsul darah, kau akan berurusan dengan Peter dan teman-teman pemburunya jika terlihat menghisap darah warga London secara langsung!”
“Dimana aku bisa membeli ini?” tanya Evander antusias.
Sheila menjawab dengan pertanyaan, “Berapa banyak kapsul yang kau butuhkan?”
“Cukup banyak! Aku akan membawa kapsul yang kubeli ke Maine! Rencananya aku akan berangkat beberapa hari lagi,” jawab Evander.
“Aku bisa mengirimnya ke rumahmu selama kau ada di London, tapi di luar itu … aku tidak bisa melakukannya! Ada hukum dan aturan yang harus aku patuhi!”
Evander menolak memberitahukan rumah kebunnya yang berlokasi di pinggiran London. Instingnya mengatakan kalau Sheila akan sering mendatanginya, dan ia tidak mengharapkan hal itu terjadi.
Evander akan tinggal bersama Ariana, menjaga perasaan wanitanya jauh lebih penting daripada meladeni Sheila yang terang-terangan mulai mendekatinya. Terlepas dari bantuan yang sudah Sheila berikan padanya.
“Peter mengatakan kau akan kembali ke Maine, tapi untuk sementara waktu. Aku hanya membawa tiga puluh kapsul darah di dalam tabung itu. Ambilah untukmu, bukankah itu cukup? Peter juga mengatakan kau akan tinggal di London. Aku bisa membantu mencari rumah, apa kau juga butuh pekerjaan?”
“Aku ingin memiliki perkebunan anggur, rumah yang jauh dari hingar-bingar kota. Istriku seorang dokter. Aku rasa dia akan senang jika bisa berkarir lagi di rumah sakit. Tapi sebenarnya aku tidak ingin dia bekerja, karena aku ingin tinggal di desa …,” jawab Evander. Langsung jujur mengenai statusnya agar Sheila tidak berusaha keras mendekatinya.
“Hm, jadi kau sudah menikah dengan vampir Amerika?” tanya Sheila, sedikit terkejut dan … kecewa!
__ADS_1
“Istriku bukan vampir,” jawab Evander dengan senyum tipis yang sangat memikat.
Ekspresi Sheila seketika berubah, matanya bersinar dengan banyak harapan. Istri Evander manusia biasa, seorang mortal yang mungkin akan mendampingi Evander sekitar lima puluh tahun lagi. Secara logika, ketika Ana berusia empat puluh tahun dan tampak tua, Evander mungkin akan kehilangan selera pada istrinya. Hal itu mungkin akan terjadi lima belas tahun lagi. Sheila menghembuskan nafas lega.
Sang Count terlihat seperti pria dewasa berusia 27 tahun, luar biasa tampan dan mempesona, menua dengan sangat lambat, jelas tidak akan cocok beristrikan manusia. Evander lebih cocok dengannya. Sheila berpikir kalau ia sangat pantas dan serasi sebagai pasangan abadi Evander. Ia cantik, seksi dan tentu saja muda seperti gadis usia dua puluh tahun.
“Aku tidak menyangka kau menyukai makhluk mortal, Evander! Kau bahkan beristrikan manusia biasa, kau tidak kesulitan ketika hidup bersama dengan istrimu yang manusia itu? Dia bisa bercinta dengan … liar seperti kaum kita?”
Evander terkekeh geli, “Cinta bukan hanya soal berhubungan badan, Sheila.”
“Aku tidak pernah mendengar seorang pria vampir mengatakan itu! Bercinta adalah kebutuhan mereka, bahkan mereka suka memiliki pasangan lebih dari satu karena gairah yang menggelegak setiap saat, sulit padam meski sudah bercinta beberapa kali dalam satu waktu.”
“Aku adalah pengecualian,” tegas Evander dengan senyum dikulum. Pembicaraan intim itu membuatnya panas, ia merindukan kehangatan Ariana.
Evander menebak Sheila berumur sekitar 200 tahun, dan mungkin sudah berganti pasangan beberapa kali, sudah bercinta dengan banyak vampir pria selama hidupnya. Evander merasa … jijik dengan fakta yang seperti itu.
“Kau bukan pengecualian! Kau aneh … mungkin juga mengidap penyakit tertentu. Tapi itu bukan alasan bagiku, aku bisa menyembuhkan pria dengan orientasi seksual yang tidak wajar! Aku tetap suka dengan keseluruhan dirimu!”
Evander menaikkan satu alisnya, lalu menjawab datar, “Aku merasa tersanjung!”
Tepatnya, aku tidak peduli!
“Aku bisa melayani keliaranmu, kita bisa menjadi pasangan di belakang istrimu. Aku yakin kau tidak menjadi dirimu sendiri ketika bersama seorang mortal. Bisakah kita menjadi kekasih yang sepatutnya selama beberapa dekade, Evander? Aku bisa menunggu untuk menggantikan posisi Ana, itu bisa dilakukan setelah dia pergi. Kita menikah setelah istrimu tiada, jadi tidak ada yang tersakiti. Bagaimana menurutmu?” tanya Sheila percaya diri.
Evander menggeleng, menurutnya Sheila tidak waras dan egois sebagai wanita. Terlalu memaksakan kehendak dan merendahkan istrinya. Meremehkan pernikahannya hanya karena Ariana manusia.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menduakan istriku, baik secara fisik maupun batin. Aku mencintai Ana lebih dari apapun di dunia ini, Sheila! Kau tidak akan paham konsep cinta dan pernikahan yang aku jalani dengan Ana!”
Sheila menatap nanar ke arah Evander. Tidak menyangka kalau Evander tidak tergoda olehnya, bahkan tidak perlu berpikir untuk menolaknya. Harga dirinya terinjak. Sheila merasa Evander pria arogan yang tertutup keramahan dan kesopanan. Tidak peka dan tidak mau menghargai bantuan yang sudah berkali-kali diberikan olehnya.
Padahal, Sheila adalah vampir wanita yang paling banyak menerima lamaran. Semua vampir pria meneteskan air liur ketika menatap kecantikannya. Ia adalah most wanted vampire wanita selama satu abad terakhir.
Mendengar penuturan Evander, entah mengapa Sheila merasa murka. Mungkin jika Evander setia terhadap pasangan abadinya bisa diterima Sheila. Masalahnya Evander setia pada manusia, makhluk mortal yang bukan ras mereka.
Evander tidak berbeda dengan mantan kekasihnya, Darren Constantine, yang kabarnya menikahi manusia biasa asal Indonesia. Nirwana.
Sheila dalam dilema, antara ingin mengubah dirinya menjadi manusia atau membunuh Ariana agar Evander bisa langsung menjadi pasangan abadinya.
[Kisah romantis Darren dan Nirwana bisa dibaca terpisah dengan judul : An Ancient Relique]
“Bukankah aku bersedia menunggu sampai istrimu tiada? Kita hanya berpasangan sebagai kekasih selama kau masih bersama Ana. Kau daywalker, cukup adil jika siang kau bersama istrimu dan saat malam bersamaku,” tukan Sheila dengan ekspresi meminta belas kasihan.
Evander kembali tersenyum tipis, enggan melanjutkan pembicaraan pribadi atau menanggapi permintaan Sheila lebih jauh lagi. “Berapa harga yang harus kubayar untuk tiga puluh kapsul darah ini, Sheila?”
“Kau tidak perlu membayar, aku hanya ingin kau memikirkan keberadaanku,” jawab Sheila. Ia berkelebat pergi tanpa pamit.
Evander termangu, kalimat Sheila mengusik hatinya. Sheila menganggapnya sebagai pria kebanyakan, bukan pria idaman seperti di masa lalu. Padahal Evander sudah menunjukkan kalau dirinya adalah pria bermartabat, yang berani menjaga keutuhan rumah tangganya dengan tidak menjalin hubungan dengan wanita lain.
Tapi Evander memang pria tersesat di abad dua puluh ini, pria tanpa jangkar waktu, karena bisa berpindah dari masa lalu ke masa sekarang. Wajar saja jika Sheila menyamakannya dengan pria lain!
Ah, Evander tidak mau pusing dengan penjelajahan waktunya. Sudah jelas ia tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Takdirnya mungkin memang melanjutkan hidup di zaman sekarang. Jadi selain memenuhi takdirnya sebagai suami seutuhnya untuk Ariana, tidak ada lagi teka teki hidup yang dipikirkan Evander.
__ADS_1
***