Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Warna Jingga


__ADS_3

Dua hari kemudian, Evander mendapatkan kunjungan dari dr. Steven di sore hari. Ariana membangunkan Evander meski matahari belum terbenam. Ia tidak perlu khawatir lagi karena sinar mentari tidak bisa masuk ke dalam kamar. Ada dua lapis tirai tebal menutup jendela kaca.


“Kau ada janji dengan Steven? Dia datang untuk bertemu denganmu!”


“Tidak! Ehm … maksudnya kami punya janji untuk pergi ke suatu tempat. Aku rasa Steven juga ingin mendengar cerita mengenai kehidupan para bangsawan abad kesepuluh!” jawab Evander. Ia tidak berani bercerita soal penjualan kalung. Evander juga membuat Steven berjanji untuk merahasiakan bisnis kecil mereka dari Ariana.


Raut Evander yang seperti menyembunyikan sesuatu menarik perhatian Ariana, “Jangan membual, Evan! Steven seorang dokter, bukan novelis. Untuk apa dia tertarik dengan kehidupan masa lalu?”


Evander bangun dari tidurnya dan langsung memberi kecupan singkat, tak berniat menjawab pertanyaan Ariana, “Kau cantik hari ini, kemana pakaian doktermu, Ana?”


“Aku hanya ingin bernostalgia dengan pakaianku sewaktu muda dulu!” ujar Ariana dengan pipi memerah. Rasanya ia ikut tertular menjadi bodoh karena mau mengikuti Evander yang membelokkan masalah yang ingin dibicarakannya.


“Kau manis dengan sweater bulu ini,” puji Evander seraya mencubit dagu Ariana sekilas, menunggu perawan suci-nya tersenyum baru pergi ke kamar mandi.


Sial! Ariana memaki dalam hati lalu pergi ke ruang tamu untuk menemani Steven sambil menunggu Evander mandi. Ia mulai bertanya hal-hal yang Steven lakukan dengan Evander di depan komputer dua hari lalu.


“Apa ada hal yang aku lewatkan, Steven? Tidak biasanya kau menyimpan rahasia padaku … ini soal Evander, kan?” selidik Ariana.


Dokter steven menyeringai, membenahi kaca matanya yang turun ke hidung lebih dulu baru menjawab tenang. “Aku sudah berjanji untuk tidak membagi soal ini padamu, Ariana!”


“Evander tinggal di pondokku dan sekarang kalian berdua main rahasia denganku!” protes Ariana.


“Bisa dikatakan ini urusan laki-laki, aku rasa kau memang tidak perlu tau lebih jauh selain … Evander sudah menjual kalungnya,” tutur dr. Steven dengan suara rendah.


Ariana spontan melebarkan mata, “Kau gila, Steven! Evander tidak mungkin bisa menjual sendiri kalungnya tanpa bantuanmu! Benda itu adalah identitasnya, satu-satunya yang menjelaskan kalau Evander memang Count Drakula generasi ketujuh yang datang dari abad kesepuluh melalui penjelajahan waktu ke zaman ini!”


“Ehm … dia memaksa, dan aku mendapatkan harga sangat bagus untuk kalungnya. Kau tau, priamu sangat kaya sekarang, Ariana!” kata Steven bangga.


Ariana marah, “Kenapa kau tidak mengajakku berdiskusi lebih dulu sebelum melepas kalung itu ke pelelangan, Steven? Kau membuat masalah besar, Evander akan pulang, untuk apa dia menjadi kaya di negeri ini?”

__ADS_1


“Evander ingin memesan kapal khusus yang bisa dikemudikan sendiri olehnya, Ariana! Itu tidak murah, dia mengatakan tidak mungkin memakai uangmu untuk membiayai perjalanan pulangnya!”


Wajah Ariana berubah muram mengingat Evander yang akan kembali ke negerinya, zamannya. “Evander tersesat di pondokku, sudah selayaknya aku yang membantunya! Aku memang tidak memiliki cukup uang untuk membelikan Evander kapal, tapi aku bisa meminjam dari ayahku!”


“Kau merendahkan harga diri seorang pria, Ariana! Aku yakin Evander akan menolak idemu mentah-mentah … dan aku pastikan ia akan tersinggung. Tidak ada pria terhormat yang mau diurus kepentingannya oleh seorang wanita. Bangsawan pria juga selalu memiliki sifat dominan dan pengatur, mereka menempatkan wanita sebagai makhluk yang tidak tahu apa-apa! Kau tidak bisa membalik keadaan itu,” kata dr. Steven mematahkan pendapat Ariana.


“Aku merasa seperti seorang lady, putri bangsawan yang manja,” sahut Ariana sambil terkikik geli. Ia malah berfantasi hidup di tahun yang sama dengan Sang Count.


Evander bergabung, langsung tersenyum lebar melihat Ariana yang sepertinya sedang gembira. “Apa yang kau tertawakan, My lady? Ada sesuatu yang lucu?”


“Kalian akan keluar? Kau rapi sekali, Evan!” Ariana menatap Evander secara menyeluruh.


“Yeah, kami akan mengunjungi seorang pembuat kapal setelah matahari terbenam nanti.”


Ariana merajuk, “Kau tidak mengajakku?”


Ariana men-desa-h karena tidak bisa ikut, ia mengalah. “Pergilah dan jangan pulang terlalu malam!”


**


Evander merasa mendapatkan dunia yang berbeda ketika keluar bersama Steven ke pusat perbelanjaan. Pertemuan dengan pembuat kapal pun berjalan baik, Evander sudah memesan dua kapal. Satu akan digunakan untuk perjalanan pulang, satu untuk latihan.


Pergi bersama pria memang tidak pernah merepotkan. Tidak banyak aturan dan lebih nyaman karena bisa berbicara apa saja tanpa hambatan. Evander merasa memiliki teman yang sangat pengertian. Mereka mengobrol di sebuah bar dalam suasana santai.


“Aku tidak menyangka, selera fashionmu sangat bagus, Kawan!” puji Steven setelah melihat Evander memilih celana panjang coklat muda Ralph Lauren, dua celana jeans, beberapa t-shirt Supreme dan sepasang sepatu yang harganya selangit. Steven bahkan harus menggelengkan kepala melihat betapa borosnya gaya belanja Sang Count di pusat perbelanjaan beberapa jam lalu.


“Itu hanya insting kalau aku mungkin cocok dengan pakaian seperti pilihanku selama tinggal di sini. Aku harap Ana akan menyukai perubahanku, dia mengatakan kalau aku harus beradaptasi dengan gaya hidup orang Amerika!” kata Evander dengan cengiran bodoh.


Steven membenarkan, Evander bukan hanya akan cocok dengan pakaian pilihannya, tapi akan sangat mempesona wanita dimanapun ia berada. “Lalu dari mana kau tau mode pakaian dalam seksi untuk wanita? Kau memborong lebih dari setengah lusin untuk ariana!”

__ADS_1


“Pria tidak perlu belajar untuk menentukan pakaian paling menggairahkan bagi wanitanya,” jawab Evander seraya terkekeh-kekeh.


Bukan hanya teddy, Evander juga membeli pakaian transparan penuh sensasi tahun sembilan puluhan, ditambah celana kecil sutra bergaya Perancis. Pakaian ala wanita nakal pilihan Steven dilewatkan Evander karena terlalu sopan.


Steven terbahak, ia masih ingat mata pelayan toko yang tak berkedip ketika menatap Evander. Penuh pemujaan dan juga iri setengah mati. “Ariana akan jadi wanita yang sangat beruntung … atau wanita paling menyedihkan, tidakkah kau ingin tetap tinggal disini, Evander? Apa yang kau berikan dan lakukan untuk Ariana pada akhirnya akan menyakiti hatinya. Ariana akan terluka sangat dalam jika kau pergi.”


Evander mengulas senyum optimis, “Bagaimana dengan pembuat kapal tadi? Kapan kita bisa melihat hasilnya?”


“Satu bulan lagi. Pembuat kapal akan mengabari secepatnya. Sebaiknya kita pulang sekarang, Evander! Ariana pasti menunggumu,” ujar Steven.


“Aku butuh instruktur untuk mengajariku membawa kapal ke laut lepas!” Evander membuntuti Steven naik mobil.


“Itu sudah termasuk dalam kesepakatan.”


“Aku ingin bisa mengemudi mobil, Steven. Sepertinya Ariana juga butuh mobil baru, mungkin warna jingga akan cocok dengannya. Bagaimana menurutmu?”


“Aku akan mengajarimu menyetir,” tukas Steven. Pusing dengan otak Evander yang ingin memberikan isi dunia pada Ariana. “Besok pekerja taman akan datang. Semua bunga yang kau pesan akan dikirim secara bertahap, butuh waktu setidaknya seminggu untuk membuat taman yang kau inginkan!”


Evander mengucapkan terima kasih begitu mereka sampai di pondok Ariana. Hari telah larut.


Empat jam penuh Ariana menunggu di rumah sendirian, mencarikan informasi mengenai perjalanan penjelajahan waktu bagi Evander.


“Maaf aku terlalu lama, Steven mengajakku ke berbagai tempat!” ujar Evander sambil mendaratkan bokongnya di sebelah Ariana. Mereka kembali menggali informasi mengenai penjelajahan waktu.


“Lihat ini, Evan! Seorang penulis mengatakan ada seseorang yang selamat melintasi portal waktu hingga dua kali,” kata Ariana antusias. Ia menunjuk judul berita yang terpampang besar di komputernya. Hatinya bertanya-tanya, mungkinkah Evander akan kembali ke Maine untuknya setelah menyelesaikan misi di London?


“Apa kau suka warna jingga, My Lady?” tanya Evander keluar pokok bahasan.


***

__ADS_1


__ADS_2