
Setelah perdebatan sengit seminggu lalu, Evander dan Ariana masih banyak diam. Tak membahas perkara menikah atau rencana pulang Evander. Cinta keduanya sama besar, begitu juga dengan egonya. Namun, banyak diam membuat pijaran hasrat semakin tak terbendung. Setiap kali mereka beradu pandang atau berbicara sekedarnya, gairah untuk saling menyentuh meletup dari gesture masing-masing.
Ariana tidak menyalahkan Evander yang tidak mau menunggu ayahnya melunak, ia tahu pasti sifat ayahnya yang keras tidak mudah dilawan. Ariana juga tidak bisa menyalahkan cinta yang hadir di antara mereka.
Awalnya Ariana berharap bahwa ia hanya memuja Evander karena pesona Sang Count yang tak tertolak. Namun, ketika Ariana banyak memberikan bantuan pada Evander tanpa sedikitpun mengharapkan balasan, ketika ia merelakan kamarnya untuk ditempati Evander, juga mengurusi semua kebutuhan vampir itu saat di pondoknya … apalagi alasan dari semua itu selain cinta?
Belum lagi kepalanya yang setiap saat harus memikirkan Evander! Terutama ketika Ariana sedang berada di rumah sakit seperti ini, selalu ada rindu yang terselip di ruang kalbunya.
“Apa yang harus aku lakukan, Steven?” tanya Ariana sebelum pulang. Ia menceritakan semua masalahnya pada Steven, berharap mendapatkan pencerahan dari sahabatnya yang telah berumah tangga itu.
“Aku yakin kau bahagia hidup bersama dengan ayahmu, Ana! Sejak ibumu tak ada kau banyak menghabiskan waktu hanya dengannya, kau mencintai ayahmu sebagai seorang anak. Tapi yakinlah, kau akan jauh lebih bahagia ketika menemukan cinta sejatimu! Kebahagiaanmu dengan Evander tidak bisa ditukar dengan apapun. Kau mencintainya melebihi Jonathan.”
Ariana berdecak, “Bagaimana dengan ayahku? Aku tidak bisa mengabaikan pesannya!”
“Suatu saat ayahmu akan mengerti pilihanmu, Ariana! Kau bisa membandingkan Evander dengan Jonathan di depan ayahmu. Ingat saja Jonathan, pilihan ayahmu itu hanya memanfaatkan posisimu sebagai dokter yang notabene anak dari orang yang sangat berpengaruh di rumah sakit ini. Jonathan tidak mencintaimu … dia lebih mencintai dan memilih asistennya yang setiap hari mau membuka paha untuknya, tanpa malu pada ayahmu!”
Ariana mengangguk setuju, “Evander mengajakku pergi ke masa lalu, itu masalahnya! Dia berkeras untuk menikah di sana, aku bisa gila jika berpisah dengannya. Anggap saja aku egois, tapi aku tidak ingin dia pulang! Steven! Aku ingin dia menikahiku di sini!”
“Apakah ikut Evander ke masa lalu begitu buruk?” Steven menepuk bahu Ariana, sedikit mendorongnya agar segera masuk mobil. “Pulanglah! Ini sudah larut. Ingatlah satu hal, kau akan bahagia dimanapun kau berdiri, Ana! Asalkan bersama orang yang kau cintai.”
"Baiklah, terima kasih nasehatnya!" Ariana melambaikan tangan pada Steven lalu memacu mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Evander keluar dari persembunyiannya setelah mobil Ariana tak terlihat. Ia secepat kilat berdiri di depan dr. Steven. “Tunggu sebentar, aku ingin bicara denganmu, Steven!”
“Kau membuatku takut Evander, muncullah seperti orang normal!” gerutu dr. Steven. Ia harus memegang dadanya karena terkejut.
__ADS_1
“Maaf, aku tidak akan lama! Begini … aku bermaksud melamar Ana secara pribadi, bagaimana menurutmu?” tanya Evander langsung pada pokok pembicaraan. Ia tidak ingin mengganggu waktu dr. Steven terlalu lama.
“Idemu cukup bagus, Ariana akan menyukainya. Melamar secara pribadi akan memberikan efek kedekatan, kalian akan lebih yakin dengan cinta dan pernikahan!”
Evander mengeluarkan kalung berliontin hijau miliknya, “Apa ini cukup? Aku berniat mengajakmu pergi membeli banyak hadiah besok. Bagaimana dengan mobil yang aku pesan, Steven?”
“Belum ada kabar, warna mobil yang kau inginkan edisi terbatas. Mereka akan mengusahakan menarik stok di negara bagian lain. Semoga kita mendapatkan kabar bagus besok ketika mengunjungi penjualnya, atau kau ganti saja dengan warna pink?” usul Steven seraya terkekeh-kekeh. Ariana sama sekali tidak menyukai warna yang pink. Akan jadi cerita lucu jika Evander menurutinya.
“Kau menjebakku? Ana tidak akan menyukai mobil pink!”
Dokter Steven terbahak, “Kau bisa menebaknya?”
“Aku memiliki insting yang kuat mengenai beberapa hal,” jawab Evander dengan seringai jengkel.
Evander mengerutkan dahinya, “Apa itu?”
“Benda itu akan melindungi Ariana dari kemungkinan hamil, maksudku … cairanmu tidak tumpah karena kau memakai karet di sana!” terang dr. Steven sambil menunjuk bagian penting tubuh Evander. Ia juga menjelaskan lebih rinci dimana Evander bisa mendapatkan benda itu.
Evander menyeringai, ia merasa tidak butuh kon-dom ketika menyentuh Ariana nanti. “Baiklah, terima kasih nasehatnya. Sebaiknya aku pulang, aku tak mau Ana khawatir karena aku tidak ada di pondoknya.”
Di tempat lain, Ariana berdecak kesal karena tidak menemukan Evander dimanapun. Ia ingin bicara setelah banyak diam selama beberapa hari. Ia tersiksa karena mereka bersikap layaknya orang asing.
Ariana harus berani mengambil keputusan, ia memikirkan kalimat permintaan maaf dan semua rencananya pada Evander sambil berendam, mandi busa aromatik.
Tiga puluh menit berikutnya, Evander masuk ke kamar mandi dan mendapati Ariana tidur. Harum sabun dan minyak mandi menguar ke seluruh ruangan. Kebiasaan Ariana tidak mengunci pintu kamar mandi dan tidur saat berendam tidak juga berubah meski Evander sering mengingatkannya.
__ADS_1
Evander berjongkok di sisi bathtub, menulis kata cinta di atas air dengan busa sabun sambil berbisik sensual, “Aku mencintaimu, Ana!”
Ariana membuka mata, lalu panik karena tubuh telanjangnya pasti terlihat oleh Evander meski berbayang oleh air mandi, busa sudah menipis. “Evan, kau selalu saja mengagetkan!”
“Aku tunggu di luar, aku ingin bicara penting denganmu!” Evander menggeser pintu kamar mandi, lalu menghilang dari pandangan Ariana.
Dengan segera Ariana menyelesaikan mandinya, ia keluar memakai bathrobe dan menemukan Evander ada di kamar. “Aku mau berganti pakaian, Evan!”
“Silahkan, ini masih kamarmu dan lemarimu juga ada di sini,” tukas Evander enggan keluar kamar, ia malah memperhatikan Ariana yang salah tingkah. “Bisakah kau tidur di sini malam ini, Ana? Menemaniku?”
Ariana memakai piyama di depan Evander lalu naik ke atas ranjang setelah menutup pintu. “Kau merasa tak enak badan setelah makan pizza? Aku lihat ada sisa pizza di atas meja makan!”
Evander mengabaikan pertanyaan Ariana. Ia ikut naik ke atas ranjang, tidur miring, mengusap pipi Ariana mesra lalu mengeluarkan kalung liontin dari sakunya. “Menikahlah denganku, Ana! Aku bersumpah akan mencintaimu tanpa batasan waktu!”
Ariana terkesiap, ia terhipnotis untuk menjulurkan kepala ketika Evander memasangkan kalung dengan liontin yang sewarna dengan mata hijaunya. “Evan?”
“Aku ingin kau menikah denganku, Ana! Mari kita satukan cinta kita dengan ikatan suci, kita akan menikah di sini sesuai maumu. Kita akan menghabiskan waktu terindah bersama sebelum aku pulang!”
“Maksudmu setelah menikah kau akan kembali ke masa lalu? Aku menolak ide konyolmu, Evan! Aku menolak menikah denganmu jika begini caranya. Bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu sendiri di sini? Itu bukan cinta, itu gila namanya!”
“Jadi kau bersedia ikut denganku?” tanya Evander serius.
“Baiklah, kita akan menikah di sini agar ayahku tahu apa yang terjadi dengan putrinya terlepas beliau suka atau tidak dengan keputusanku ini. Selanjutnya aku setuju untuk ikut kau ke masa lalu, aku juga mencintaimu, Evan! Aku tidak mungkin bisa berpisah denganmu!”
***
__ADS_1