Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Pilihan Hidup


__ADS_3

Senja menyelimuti pedesaan pinggiran London. Ini adalah hari ketiga Ariana dan Evander menempati rumah barunya. Perjalanan panjang telah mereka lewati. Melelahkan karena Ariana memaksa pergi ke Eropa lewat jalur darat. Berkendara dengan mobil jingga-nya, mengemudi secara bergantian dengan Evander.


Petualangan dengan rute terpanjang itu membawa cerita indah dan romantis bagi keduanya. Bagaimana tidak? Mereka menghabiskan waktu hampir 24 jam selama berhari-hari dengan pasangan. Menginap di hotel mewah dan singgah di banyak tempat untuk membuat cerita.


Obrolan terjadi lagi, sangat ringan agar tidak memicu pertengkaran. Yah … meski kadang-kadang Ariana yang selalu memulai lebih dulu, meributkan hal sepele yang sebenarnya tidak perlu. Mereka menikmati pergantian malam di bagian belakang rumah. Duduk di sofa menghadap hamparan mawar yang baru saja ditanam.


“Kenapa kau berpikir kalau aku suka bertamasya? Kita benar-benar mengunjungi banyak tempat wisata dalam perjalanan kemari. Aku menyukainya, sungguh!” kata Ariana, mengecup pipi Evander sebagai ungkapan terima kasih.


“Karena kau sudah berpikir bahwa aku menyenangkan diri sendiri selama satu bulan di London, sementara kau menangis habis-habisan di pondokmu yang sepi!” jawab Evander. Mengedipkan sebelah mata untuk menggoda Ariana, lalu membalas dengan mencium puncak kepala istrinya.


“Kau benar, sejujurnya aku berpikir seperti itu. Kau jalan-jalan ke Eropa sementara aku hidup seperti di neraka!”


Evander tertawa, “Bagaimana perasaanmu setelah beberapa hari tinggal di sini? Pondokmu tak lebih sepi dari rumah ini.”


“Aku suka sekali dengan pilihanmu, Evan! Rumah ini sangat nyaman, jauh dari kebisingan, rasanya tentram tinggal di sini, damai seperti di pondok ayahku,” ujar Ariana sembari bermanja. Ia sengaja duduk di pangkuan Evander, bersandar di bahu sembari menikmati aroma mawar malam hari. Senja akhirnya berakhir, menyisakan udara yang semakin dingin.


“Alasanku memilih rumah ini karena kau butuh tempat yang tenang untuk membesarkan bayi.” Evander memeluk istrinya yang sedang minta banyak perhatian. Mencium rambut Ariana berulang kali untuk menghirup bau shampo favorit istrinya. “Kau tidak ingin menghubungi ayahmu? Siapa tahu Doug akan melunak setelah mendengar kau hamil. Orang tua suka memiliki cucu.”

__ADS_1


Ariana seketika menjauhkan wajahnya dari bahu Evander, menggeleng perlahan. Tidak mungkin ayahnya yang keras kepala itu mau menerima kehadiran bayi yang akan dilahirkannya. Cucu Doug bukan bayi biasa. Berdarah vampir, sangat mungkin menjadi penghisap darah nantinya. Bisa-bisa ayahnya malah berusaha melenyapkan anak vampir yang tak bersalah apa-apa meskipun itu bagian dari keluarganya.


Ariana menyandar lagi, menghirup bau suaminya kuat-kuat. Akhir-akhir ini ia sedang suka mengendus aroma Evander, dan bagian leher adalah tempat favoritnya. Setelah beberapa saat diam, Ariana melanjutkan obrolan lagi.


“Ehm … darimana kau tau kalau aku akan punya bayi, Evan?” tanya Ariana antusias. Ia sengaja tak memberitahukan kehamilannya karena ingin memberi kejutan pada Evander. Ariana menunggu usia kandungannya masuk tiga bulan agar Evander semakin kaget nantinya.


Evander mengecup sekilas bibir Ariana dengan tiba-tiba, “Aku mendengar suara degub jantungnya berdetak setiap hari. Aku tau ada kehidupan di perutmu dari sejak kita bertemu lagi. Selain itu … dadamu membesar! Aku tidak ingat ukuran persisnya, tapi sebelum aku pergi … kau tidak semontok sekarang!”


“Sialan! Kenapa kau tidak pernah membahasnya? Ini sama sekali tidak lucu karena aku gagal mengejutkanmu!” gerutu Ariana. Wajahnya memerah karena Evander membahas ukuran dadanya yang setingkat lebih besar dari sebelumnya.


Evander selalu sukses ketika memberikan kejutan, sementara ia baru berencana satu kali ini, tapi sudah gagal di awal. Evander ternyata mengetahui kehamilannya dari sejak kembali dari 'kematian'.


“Karena aku vampir. Aku mendeteksi kehidupan dengan sangat baik dengan telinga, mata dan hidung. Dan karena kau sedang mengandung bayiku, aku ingin membahas hal penting yang berhubungan dengan kehamilanmu. Kau harus mulai mengkonsumsi ini, My Love!” Evander meraih tabung dari atas meja. “Minum kapsul ini satu butir setiap malam. Ini berisi sari darah!”


Ariana langsung menolak tegas, “Tidak! Aku tidak mungkin memakan darah manusia, aku bukan vampir!”


“Gigi taringmu lebih panjang dari orang normal, Ana! Kau bukan manusia murni sekarang. Lagi pula ini untuk kebaikan bayimu. Kau semakin kurus, darahmu pasti menyusut karena pertumbuhan anak dalam perutmu itu. Kau sedang mengandung bayi vampir, My Love! Bayimu spesial, dan dia minum darah!”

__ADS_1


“Tapi aku sudah berhasil menghentikan perubahan akibat racunmu, Evan! Metabolisme tubuhku normal seperti manusia,” tukas Ariana.


Ia menyadari kehilangan banyak berat badan dalam dua minggu terakhir. Bukan karena ia tak bisa makan karena efek hamil muda. Tapi sepertinya apa yang dikatakan Evander benar. Bayinya mulai rutin menghisap darah dari dalam untuk tumbuh. Ia bisa mati kehabisan darah beberapa minggu lagi, seiring bayinya membesar dan butuh lebih banyak asupan makanan utamanya.


Ariana sudah tidak mengkonsumsi darah ternak, terakhir kali ia muntah karena tidak tahan baunya. Atau mungkin karena bayinya menolak?


Ariana berpikir cepat, apa bedanya jika ia harus menerima transfusi darah dari orang lain di rumah sakit, seperti gadis remaja yang darahnya pernah dihisap Evander? Bukankah itu sama dengan menghisap darah manusia lain secara tidak langsung? Bedanya darah transfusi tidak masuk lewat mulut.


“Setelah melahirkan, kau bisa berhenti untuk tidak lagi mengkonsumsi pil darah ini. Kau bisa hidup normal sebagai manusia biasa, Ana! Tapi untuk bisa tetap sehat sampai melahirkan, kau harus membuat pilihan!” tutur Evander lembut.


“Tapi … aku sungguh tidak bisa, Evan! Pikiranku menolak kapsul itu!”


Evander berbicara serius, “Kau tahu Ana, aku lebih baik menghilangkan kehidupan bayi dalam perutmu sebelum dia membunuhmu secara perlahan dari dalam. Takdir vampir tidak bisa memiliki anak secara langsung, jadi aku tidak keberatan jika suatu saat nanti harus mengangkat anak! Yang terpenting bagiku adalah memilikimu, hidupmu, cintamu!”


“Apa? Dasar sinting!” pekik Ariana tidak terima. Emosinya naik seketika. “Bagaimana bisa kau begitu kejam pada anakmu, Evan? Kita akan punya bayi menggemaskan yang akan memanggil kita dengan sebutan mom dan dad, yang akan meramaikan rumah ini dengan celoteh lucunya … dan kau malah berpikir untuk menyingkirkannya sebelum dia lahir ke dunia! Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti bayiku! Aku akan melahirkannya, jangan berani-beraninya kau berpikir untuk melenyapkannya!”


“Aku mencintaimu lebih dari apapun, Ana! Aku tidak mau kehilangan dirimu dalam beberapa minggu lagi. Jika kau mencintaiku dan ingin tetap melahirkan bayimu, turuti aku. Jika kau tidak mau minum kapsul ini, kau pasti mati kehabisan darah sebelum waktu melahirkan tiba. Dan jika kau mati, otomatis bayi di dalam kandunganmu yang baru berusia beberapa bulan itu juga ikut mati,” terang Evander ringkas. “Jadi apa pilihanmu, My Love?”

__ADS_1


***


__ADS_2