Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Murka Pangeran Kegelapan


__ADS_3

“Aku tekankan sekali lagi … aku tidak akan menikah denganmu, Jonathan! Silahkan pulang dan sampaikan pada ayahmu kalau aku menolakmu!” ucap Ariana kesal, gusar dan hampir menangis.


“Kau tidak bisa menolakku, Ariana! Ini bukan soal ayahku, ini soal ayahmu yang ingin kita kembali bersama,” tukas Jonathan berkeras.


Dulu ayah Jonathan juga menginginkan Ariana mengikat hubungan dengan putranya lewat pernikahan. Tapi sejak Jonathan berpisah dengan Ariana, ayahnya sudah tidak mau ikut campur lagi. Padahal, ayah Jonathan mengenal Doug dan memiliki hubungan bisnis.


Tapi keberuntungan tidak pernah jauh dari sosok Jonathan, dan kesempatan kedua yang diberikan Doug tidak akan disia-siakannya. Ia sekarang hanya perlu menikahi Ariana dan semua kepentingannya di rumah sakit akan terealisasi.


Ariana menaikkan dagunya sombong, “Dan aku sama sekali tidak peduli, keluar dari pondokku sekarang atau aku akan meminta seseorang untuk mengusirmu!”


“Seseorang? Aku tidak melihat siapapun di sini.” Jonathan menyeringai menang. Ia memaksa memegang pergelangan tangan Ariana agar bisa ditarik dan ditaklukkan dengan pelukan, atau mungkin dengan kegiatan intim lainnya.


Ariana nyaris berteriak gembira ketika melihat lampu mobil mendekati pondok. Tidak hanya satu, tapi ada dua mobil beriringan. Ya tuhan, Ariana tidak pernah mengundang orang lain lagi untuk mengunjunginya sekarang. Ia juga tak berharap yang datang adalah ayahnya.


Namun, kelegaan membanjiri benak Ariana. Steven terlihat turun dari mobil yang ada di depan. Lalu dari mobil di belakangnya, dari mobil berwarna jingga dengan pita manis tersimpul di atas atapnya, turun Evander dengan segala pesonanya.


“Lepaskan aku!” Ariana menarik kuat tangannya lalu pergi ke arah pintu untuk menyambut dua pria lain yang berjalan sambil menatapnya penuh tanya.


"Steven, Evan!" pekik Ariana gembira. Ia merasa terselamatkan tepat waktu.


Jonathan mengejar Ariana dan kembali menangkap tangannya. Memegang erat, lalu tangannya berpindah, berubah merangkul bahu Ariana, sebagai penunjuk kalau mereka sudah bersama lagi sebagai sepasang kekasih.


“Jonathan?” tanya dr. Steven heran. Ia melihat skeptis dan juga bingung ke arah Ariana.


“Ana? Apa yang terjadi?” Mata Evander menatap lembut ke wajah panik Ariana, lalu menyorot tajam ke arah Jonathan. "Kau Jonathan?"


Evander pernah mendengar nama Jonathan disebutkan sebagai pria yang pernah menjalin hubungan dekat dengan Ariana. Pria yang memilih asistennya karena Ariana tidak bisa memberikan kehangatan. Evander menatap dengan ekspresi jijik pada Jonathan yang balas menatapnya dengan sinis.


“Aku ada urusan pribadi dengan Ariana, Steven! Kau dan temanmu ini tidak perlu ikut campur!” jawab Jonathan tegas. Ia bergeming, menantang Evander dengan seringai mengejek.

__ADS_1


“Lepaskan Ana!” perintah Evander, suaranya bernada kejam, mengancam seperti singa kelaparan. Matanya berkilat merah melihat Ariana menangis dengan sikap semena-mena Jonathan.


“Aku tidak ada urusan denganmu, pria pucat! Ariana kekasihku dan kami akan segera menikah! Ya, aku dan Ariana akan menikah minggu depan. Kau dengar?” Jonathan memprovokasi Evander dengan sangat lancang.


Doug sudah menyebutkan ciri-ciri Evander padanya, kalau pria yang menjadi kekasih Ariana berwajah pucat seperti bukan manusia, dan Jonathan sangat mudah menebaknya.


“Namaku Evander, aku tunangan Ana. Apa yang sudah kau lakukan pada tunanganku sampai dia menangis? Kau bangsat sialan!” ujar Evander, dingin dan menakutkan. Ia sungguh ingin meraih leher Jonathan dan mematahkannya di depan Ariana jika diberi kesempatan.


“A-apa kau bilang? Tunangan?” ejek Jonathan dengan raut malas. Ia bahkan sengaja terkekeh untuk membuat Evander berang.


Evander menggertakkan gigi gerahamnya, “Kau tuli? Aku pikir kau mendengarnya dengan jelas kalau Ariana adalah tunanganku! Dengar ini bajingan, kau sudah menyakiti Ariana dengan menjalin affair dengan wanita lain, kau meninggalkan Ariana dengan luka dan kepedihan. Dia patah hati karena ulahmu, Brengsek!"


"Kau salah paham, kami sudah kembali bersama lagi mulai hari ini!" kata Jonathan tenang.


“Ariana bersamaku sekarang jadi jangan harap kau bisa mengubah keadaan dengan pikiranmu yang tolol itu!” gertak Evander.


“To-lol? Darimana kau mendapatkan gagasan kalau kau bisa merebut Ariana dariku?”


Jonathan terbatuk, ia nyaris kehabisan nafas karena cekikan kuat di lehernya. Ia menabrak meja ruang tamu ketika Evander mendorongnya keras. “Aku akan menuntutmu!”


“Hadapi saja aku sekarang atau tinggalkan pondok ini dan jangan pernah kembali lagi, Pengecut!”


“Kau tidak waras!” umpat Jonathan.


“Sepertinya kau memang punya masalah pendengaran, baiklah … mungkin kepalamu perlu dibenturkan ke lantai agar otakmu bisa memikirkan kalimatmu yang sangat menyinggungku itu!”


Namun, sebelum Evander maju, Steven dan Ariana menghalanginya. Mereka berdua memberikan jalan untuk Jonathan keluar pintu pondok dengan tergesa.


"Pergilah sekarang, Jonathan!" Steven berusaha melerai sebelum Evander menjadi tak terkendali.

__ADS_1


Jonathan mengumpat kasar sambil memegang lehernya yang memar, ia berjalan cepat menuju mobil sambil berbicara lantang. “Ayah Ariana tidak menyukaimu, pria pucat! Seharusnya kau bercermin, Vampir! Ah ya … apa kau tidak punya bayangan? Dasar vamp ….”


Evander menyeringai sinis, gerakannya terlalu cepat untuk dicegah Steven. Evander sudah membenturkan kepala Jonathan ke pintu mobil sebelum kalimatnya selesai, lalu menekannya dengan keras. “Jangan sekali-kali kau berani mendekati rumah ini, mendekati Ariana, mengintimidasi, apalagi mengambil kesempatan menyentuh kulitnya! Kau akan sangat menyesali hidupmu jika itu sampai terjadi. Aku memang vampir, penghisap darah yang sangat kejam! Kau sedang berhadapan dengan Count Drakula dari Transylvania, pangeran kegelapan generasi ketujuh!”


“Kau pikir kau siapa? Count Drakula hanya makhluk rendahan tak berpendidikan! Vampir tidak memiliki kecerdasan sebagai manusia. Kau tidak bisa memerintahku! Aku akan membunuhmu,” pekik Jonathan histeris.


“Aku pria yang akan menghabisimu lebih dulu jika kau berani mengganggu wanitaku!” jawab Evander geram, tekanannya pada kepala Jonathan nyaris tak bisa ditahan.


Jonathan langsung membuka pintu mobil dan kabur begitu dilepaskan Evander. Ia menyumpah dan sangat marah karena diperlakukan seperti remaja ingusan yang tidak bisa melawan ketika mendapat tekanan di lingkungannya. "Dasar makhluk rendah!"


Butuh waktu beberapa saat bagi Evander untuk meredam amarahnya. Ia mengatur nafasnya agar kembali normal, juga memperbaiki raut wajahnya yang sedikit tegang. Setelah berhasil menguasai dirinya, Evander berjalan ke arah Ariana dengan satu senyum mematikan.


“Apa kau masih mencintai Jonathan, Ana?” tanya Evander dengan sorot iba tapi penuh perlindungan.


“Aku bukan keledai, Evan! Aku tidak bodoh mau kembali pada Jonathan meskipun dunia ini runtuh. Aku tidak memiliki rasa percaya padanya seperti dulu. Dia mau menikahiku karena terobsesi dengan jabatan!”


Evander mengusap air mata Ariana yang meleleh dengan kedua ibu jarinya, “Tapi kau menangis karena aku menghajarnya! Air mata berhubungan erat dengan cinta, Ana! Aku takut kau masih mencintai pria bajingan itu.”


Ariana ingin mengumpat kasar. Apa vampir memang terlahir bodoh dan tidak memiliki kepekaan perasaan? Bagaimana bisa Evander menerjemahkan air matanya sebagai cinta pada Jonathan? Ia menangis karena tertekan!


“Wanita kadang menangis oleh alasan yang tidak logis, Evan! Jadi biarkan aku menangis, jangan tanya alasannya apa!” Ariana masuk ke dalam pelukan Sang Count dengan isak semakin kencang.


“Kau tidak boleh bersedih untukku, Ana! Kau harus bahagia. Aku membelikan hadiah untukmu, hadiah untuk calon pengantinku!” Evander meregangkan pelukan, menunjuk mobil berwarna jingga yang dipesan khusus untuk Ariana. “Kau suka?”


“Ya, aku sangat menyukainya, terlihat mewah dan manis.” Ariana merasa diperlakukan seperti anak kecil, diberi permen ketika sedang bersedih. Tapi ia tetap mengulas senyum untuk Evander.


“Aku juga sangat menyukai penampilanmu, My Love. Kau seksi, kau sengaja menggodaku dengan pakaian yang sedikit nakal ini?” Evander menggendong Ariana ke dalam tanpa memperdulikan dr. Steven.


“Pulanglah, Steven! Maaf aku tidak bisa menemani berbincang, aku sibuk!”

__ADS_1


***


__ADS_2