
Setelah dua sesi percintaan yang panas, Ariana hanya memejamkan mata sambil mengusap dada Evander yang ada di sebelahnya. Kepalanya berbantal lengan dingin Sang Count untuk mendapatkan kenyamanan.
Ariana ingin bicara mengenai kunjungan Jonathan yang berakhir ricuh tadi. Waktunya sudah tepat karena mereka dalam suasana gembira setelah melepas semua ketegangan dalam kenikmatan bercinta.
“Evan … Jonathan mengatakan akan menikahiku minggu depan! Aku takut itu akan menjadi kenyataan karena dia mengantongi izin dari ayahku.” Ariana membuka pembicaraan.
Evander berdecak malas ketika berbicara, “Menikahlah denganku, Ana!”
“Kau serius akan menikahiku?” tanya Ariana dengan intonasi kurang percaya. Evander terdengar terlalu santai, tanpa antusiasme sama sekali ketika menanggapi ceritanya. Persis seperti pria brengsek yang hanya bicara manis setelah rasa laparnya hilang.
“Sial! Aku melakukannya secara serampangan.” Evander membuka kedua matanya, bergerak sedikit agar Ariana tidak berbantal lengannya. Ia menyesali sesuatu setelah mendengar Ariana bertanya dengan suara aneh. “Seharusnya aku lebih sopan ketika meminta seorang wanita menikah denganku.”
Ariana kebingungan karena Evander tiba-tiba duduk, “Apa maksudmu, Evan?”
Evander turun dari ranjang, lalu berlutut dalam keadaan telanjang. Ia menerangkan lebih dulu bagaimana adab bangsawan vampir jika ingin menikah. “Maukah kau menikah denganku, My Lady?”
Ariana spontan cekikikan, tapi ia menyambut uluran tangan Evander dan membiarkan pria itu mengecup jari-jarinya. “Kau terlalu formal, Evan!”
“Jangan tertawa, Ana! Seharusnya permintaan ini memang tidak dilakukan dalam keadaan tidak berpakaian begini. Tapi sudahlah … kita sedang tidak hidup di zamanku. Anggap saja aku sedang berimprovisasi," ujar Evander dengan cengiran tak bersalahnya. "Jadi apa jawabanmu, My Lady? Maukah kau menikah denganku?”
“Tentu saja aku mau, Evan. Kapan?” Ariana menarik tangan Evander agar mereka kembali tiduran di atas ranjang ketika mengobrol.
“Dua hari lagi, paling lambat tiga hari. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya, tidak boleh ada yang terlewat karena kita akan melakukan pernikahan ala vampir, ada ritual darah yang akan kita jalani. Bolehkah aku meminta bantuan Steven untuk memanggil pendeta? Aku juga ingin dia menyaksikan pernikahan kita yang sederhana.”
Ariana merasakan tangan Evander yang mengelus punggungnya berhenti, “Kau bisa menelpon Steven kapan saja, dia akan membantu dengan senang hati.”
“Kau belum punya cincin, gaun pernikahan dan juga hadiah khusus untuk mempelai wanita.”
“Hadiah? Kau sudah memberiku mobil, Evan!” ujar Ariana antusias.
“Aku belum memberikan perhiasan mewah, dan seharusnya aku juga memberikanmu tempat tinggal. Bukan aku yang menumpang di pondokmu seperti ini. Kau ingin aku membangun kastil untukmu di sini, Ana?”
Ariana men-desa-h malas, “Ayahku akan marah jika ada kastil di tanah miliknya ini, Evan!”
“Bagaimana dengan bulan madu di atas kapal?” tanya Evander, kembali mengusap punggung polos Ariana hingga atas bokong. “Apa aku juga harus membeli kapal pesiar?”
__ADS_1
“Kau berlebihan, Evan!”
“Aku bingung menghabiskan uang dari penjualan kalung itu, Ana! Nominalnya masih sangat banyak di bank, mintalah sesuatu yang berharga padaku!”
“Hm … aku tidak sabar menunggu pernikahan itu tiba! Aku tidak butuh hal lain selain bisa bersamamu selamanya ….”
Evander tersedak, “Ehm kita memang akan menikah, Ana. Tapi ada satu masalah yang harus kita bicarakan dengan serius. Hubungan kita tidak mungkin abadi untuk selamanya.”
“Apa karena aku mortal dan kau adalah makhluk yang tidak bisa mati?”
“Bukan, aku ingin membicarakan kemungkinan perceraian yang akan terjadi antara kita.”
Ariana seketika mendelik tajam, “Tunggu sebentar! Kau baru saja melamarku, lalu mengajakku menikah dan dalam waktu bersamaan kau menginginkan perceraian. Apa maksud semua ini, Evan? Apa kau memerlukan perjanjian pranikah untuk kebersamaan kita di masa depan?”
Evander mengeratkan pelukan, “Aku akan meninggalkanmu di malam bulan iblis pertama setelah kita menikah, Ana! Aku sedang membicarakan statusmu setelah kita berpisah nanti.”
“Kau berniat pergi? Kupikir kau akan tinggal ….”
“Aku harus menyelesaikan misi, Ana! Aku berjanji akan kembali atau setidaknya menjalani hidup selama seribu tahun lagi dari masa di zamanku agar bisa bertemu denganmu lagi,” janji Evander.
“Selain bodoh, kau memang tidak waras, Evan!” Ariana menepis tangan Evander, memakai piyamanya dan pergi keluar kamar. Air matanya meleleh deras.
Evander tergesa memakai boxernya dan mengejar Ariana yang sedang berjalan naik ke loteng, ke kamarnya. “Aku hanya tidak ingin kau bersedih ketika aku pergi, Ana!”
“Aku tidak akan bersedih, karena kita tidak akan menikah!”
“Ana … jika aku tidak kembali lagi padamu atau mungkin aku tidak selamat melewati lorong waktu, setidaknya statusmu jelas bukan istriku, kau bisa menikah lagi nanti, kau masih muda!” terang Evander pelan. Ia berjalan tepat di belakang Ariana.
“Persetan dengan ide konyolmu!” tukas Ariana sambil menaiki tangga.
“Kau tidak mungkin hidup selibat setelah kepergianku, Ana! Kau akan menikah lagi!”
Ariana tertawa miris, “Kau sangat luar biasa, Evan! Kau menyatakan cinta dengan romantis, mengajakku bertunangan lalu menawarkan pernikahan sekaligus perceraian setelah beberapa minggu menikah! Kau memang gila! Itu pendapatku!”
“Tapi kau tidak punya pilihan, Ana!”
__ADS_1
“Aku akan ikut kau ke masa lalu! Itu pilihanku!”
“Aku tidak bisa mengajakmu, Ana!”
“Kau sudah tiga kali mengajakku ikut ke masa lalu beberapa waktu lalu, Evan! Bulan bahkan belum berganti, tapi kau sudah lupa janji.”
“Beberapa waktu lalu aku belum menyadari kalau aku sangat mencintaimu. Sekarang aku tidak bisa membahayakan dirimu dalam perjalanan melintasi waktu.”
Ariana berbalik menghadap Evander sambil berkacak pinggang, “Baiklah jika begitu maumu. Dengar ini baik-baik Evander, aku menolak menikah denganmu, aku tidak sudi menjadi istrimu!”
“Kau akan menikah denganku, Ana!” ujar Evander yakin.
“Maka kau akan tinggal di zaman ini, atau kita pergi ke masa lalu!”
“Ana … aku tidak bisa membawamu ke zamanku! Aku takut kau tidak selamat seperti para awak kapal.”
“Artinya tidak akan ada pernikahan, selamat malam!” Ariana tergesa masuk dan membanting pintu kamar loteng di depan wajah Evander.
“Kau akan menikah denganku, My Love!”
Ariana berteriak marah dari dalam kamar, “Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Kau pria brengsek, egois, sialan!”
“Kau mencintaiku, Ana!”
“Itu tidak ada hubungannya dengan menikah, aku bisa mencintaimu sepanjang waktu, bisa bercinta denganmu setiap hari tanpa menikah, semua orang melakukan itu di zaman ini! Sekarang pergilah ke kamarmu! Aku butuh berpikir,” usir Ariana dengan suara parau karena menahan tangis.
“Aku akan menunggumu di sini!”
Ariana membuka pintu, lalu berbicara sarkas. “Dengar Evan, kau harus tinggal di Maine atau aku ikut pulang ke Transylvania jika kau masih ingin menikah denganku. Itu keputusanku!”
“Aku mencintaimu, Ana!”
“Dan aku mencintaimu, Evan!” bisik Ariana sambil menutup pintu kamar.
Evander duduk termenung di depan pintu. Keputusannya menikahi Ariana sudah final. Begitu juga dengan rencananya yang lain. Siapapun tidak bisa mengubah keinginannya, tak terkecuali Ariana.
__ADS_1
***