
Evander melewati waktu pagi di atas kapal motor nelayan dengan mengobrol panjang dan minum kopi susu. Ia cukup menikmati keramahan dua penyelamatnya, mereka bertukar cerita dengan asik, hingga Evander tidak sadar sinar matahari sudah menyentuh kulit wajahnya.
Evander baru terkejut ketika kapal motor masuk ke area pantai, dua penyelamatnya yang baik bahkan mengantarkannya ke toko benda antik untuk menukar koinnya, agar bisa digunakan untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Evander berjalan di bawah matahari pagi, tidak terbakar, tidak merasakan sakit. Hanya sedikit hangat, dan ia merasa sangat takjub.
Ternyata, dibalik gelarnya sebagai Count Drakula dengan seribu kecacatan, ia masih memiliki kelebihan yang tidak dimiliki vampir lain. Ia seorang daywalker, yaitu vampir yang mampu hidup normal di bawah sinar matahari seperti Count Drakula generasi pertama. Kelebihan yang tidak diwarisi oleh seluruh keluarga Count Drakula.
Andai saja Evander tahu hal ini dari dulu … ia tidak perlu bersembunyi atau tidur dalam peti yang pengap untuk menghindari pemburu. Lagi pula siapa yang mau ambil resiko terbakar untuk menguji hal seperti itu? Sama dengan perumpamaan, manusia mana yang mau berendam di air mendidih hanya untuk mengetes kekuatan kulitnya?
Toko barang antik di dekat pantai hanya berani membeli dua koin perak milik Evander. Tidak berani menawar koin perak lainnya apalagi koin emas. Pemilik toko tidak memiliki cukup uang untuk menipu Evander yang sudah pintar setelah tiga bulan tinggal bersama Ariana.
“Aku berterima kasih atas bantuan kalian,” ujar Evander memaksa membayar mahal tumpangan yang diberikan penyelamatnya. Pembayaran senilai pembelian satu unit perahu motor itu diterima dua nelayan dengan mulut ternganga. Menurut mereka, Evander terlalu murah hati.
“Hei, kau memberi kami terlalu banyak sobat! Kau membutuhkannya untuk rumah sakit dan perjalanan selanjutnya!” kata Fredy. Mike langsung setuju kalau mereka akan malas hari ini karena mendapatkan kelebihan uang dari Evander.
__ADS_1
“Aku berhutang nyawa, jadi aku pantas memberi kalian hadiah. Sampai bertemu lagi, Fred! Ohya salam buat putrimu, Mike! Kau memang harus pulang sekarang untuk merayakan ulang tahunnya. Jangan lupa belikan hadiah untuknya!” ujar Evander menutup perbincangan. Ia tidak pergi ke rumah sakit, tapi mencari penginapan setelah membeli baju di sekitar pantai.
Evander menghabiskan waktu seharian untuk tidur karena kelelahan. Ia membayar seorang pesuruh penginapan untuk membelikan lima kantong darah. Si pesuruh tidak sempat bertanya atau curiga setelah menerima sejumlah uang dari Evander. Ia begitu bersemangat pergi ke tempat yang dikatakan Evander.
Dengan gilanya, si pesuruh penginapan, gadis remaja yang terlihat kumuh itu malah menawarkan diri untuk bekerja sebagai pelayan pribadi Sang Count, yang sudah sangat royal membayar jasanya dan tentu saja karena … pria pucat yang butuh darah itu terlihat kaya?
“Apa ada yang harus aku kerjakan lagi untukmu, Sir? Menyemir sepatu mungkin?” tanya gadis remaja itu sambil mengulurkan kantong belanja pada Evander.
“Aku belum membutuhkan jasamu sekarang, aku akan memanggilmu jika ada yang harus dibeli lagi nanti. Terima kasih bantuannya,” kata Evander ramah, tak mengecilkan niat baik gadis kecil yang butuh pekerjaan tersebut.
Pertanyaannya masih sama dengan sore tadi, apa yang harus ia lakukan setelah gagal melintasi portal waktu?
Yang terbersit pertama kali dalam benak Evander adalah ia akan mengulangi penjelajahan waktunya, mencoba sekali lagi pada bulan iblis berikutnya. Hanya saja beranikah ia kembali pada Ariana sekarang dan meninggalkannya lagi pada malam bulan iblis berikutnya?
__ADS_1
Tidak! Ariana bisa mati karena sedih yang berulang. Namun, bukankah ia menjadi sangat kejam kalau hidup di zaman yang sama tanpa memberitahu istrinya?
Ah, Evander dalam kekalutan, ia sibuk memikirkan semua langkah dan persiapannya kemarin hingga terjadi kegagalan. Apa yang salah? Apa yang harus diperbaiki? Bagaimana ia bisa memastikan kalau perjalanan menjelajah waktu berikutnya akan berhasil?
Butuh waktu beberapa jam ketika akhirnya Evander memutuskan untuk pergi ke London. Istrinya pernah mengatakan kalau ia harus ke bandara jika ingin ke London. Ya, tentu saja Evander akan pergi dengan pesawat. Ia sedang sedikit alergi dengan kapal laut.
Evander tersenyum mengingat wajah Ariana ketika mereka pertama kali bertemu. Lalu wajahnya berubah muram ketika mengingat istrinya pingsan di dermaga.
Yeah … aku harus ke London dengan pesawat. Mungkin ada sesuatu yang aku temukan di sana, sesuatu yang berhubungan dengan misiku.
Merasa terinspirasi, Evander pergi meninggalkan penginapan keesokan paginya, menuju bandara dengan taksi. Ia tak lagi takut dengan matahari, ia juga bisa makan pizza untuk sementara jika lapar melanda. Perbekalannya sedikit, hanya dua kantong darah yang disimpan dalam tabung khusus dan juga beberapa baju ganti yang dibelinya dari Wall-Mart tak jauh dari penginapan.
Evander memberikan uang lagi pada pesuruh penginapan, ia mengatakan akan menghubungi gadis remaja itu jika kembali ke Maine. Ia berencana mempekerjakan remaja tersebut di pondok Ariana sebagai teman untuk merawat taman bunga, dan juga tukang masak.
__ADS_1
Ketika pesawat terbang akhirnya lepas landas, Evander menatap kosong ke luar jendela. Ia merindukan Ariana. Dan untuk kesekian kalinya ia berdoa dalam hati. Sebuah permintaan kecil, yaitu jalan pulang ke pelukan istrinya setelah ia menyelesaikan misi di London.
***