
Evander harus membujuk Ariana agar memahami siklus hamil anak vampir. Di beberapa kasus, tidak ada manusia biasa yang bisa bertahan sampai melahirkan, bayi penghisap darah di dalam perut si wanita adalah penyebabnya. Bayi itu hidup dengan menghisap darah ibunya. Dan akhirnya si wanita mati sia-sia.
Evander memang sudah memberikan racun pada Ariana untuk bertahan dalam kehamilan ketika ditinggalkan, tapi racun itu sebagian sudah dinetralkan Ariana karena ketidakpahamannya.
Ariana menerima satu kapsul dari tangan Evander, mengamati sejenak, lalu mengendus baunya. Menimbang sebelum memutuskan meminumnya. Sedikit banyak, rasa laparnya tiba-tiba menyeruak, bayinya seolah meronta karena mencium bau darah manusia dalam kapsul tersebut.
“Apa aku akan berbau karat nantinya?” tanya Ariana, dalam keraguan.
“Aku akan tetap mencintaimu meski kau berbau kambing sekalipun, Ana!” Evander terkekeh sambil mendorong tangan Ariana, mengarahkannya ke mulut agar kapsul segera masuk ke dalam perut istrinya. Evander lalu memberikan minum dan ciuman singkat.
Setelah selesai, Ariana menggigit tangan Evander gemas, “Kambing betina ini selalu bisa membuatmu horny, Evan!”
“Yep … meski sebenarnya aku tidak begitu suka bau kambing. Binatang itu lebih buruk daripada bau kerbau yang tidak pernah dimandikan. Apa kau ingin aku membangun peternakan untuk hiburan? Kita punya lahan yang sangat luas di sini!”
“Seberapa luas?” tanya Ariana tertarik.
“Sepuluh hektar. Apa itu kurang?”
“Kau gila, untuk apa kau membeli lahan seluas itu, Evan? Kau berniat membangun kastil di sini lalu mengundang semua saudaramu agar datang dari Transylvania?”
Evander semakin terbahak, “Aku memang ingin membangunnya nanti, sebagai hadiah untuk kelahiran putra kita. Dan karena kau bisa hamil anak vampir, aku berencana memberimu anak yang banyak. Tidak banyak manusia yang bisa hamil oleh vampir, Ana! Kalaupun ada, mereka tidak bertahan hidup sampai melahirkan!”
Ariana melotot kesal, “Jadi yang kau maksud membangun peternakan adalah peternakan vampir?”
“Tentu saja bukan, kita bisa beternak sapi penghasil susu, ayam, bebek atau mungkin kuda? Kau suka naik kuda?” Evander menghentikan pertanyaannya. Ia berencana membeli kuda putih untuk istrinya, sebagai hadiah yang lain. Ah … andaikan istrinya tidak hamil, Evander akan langsung mengajari Ariana menunggang kuda seperti yang biasa dilakukannya di masa lalu.
“Hm, aku pikir kau serius akan memproduksi vampir dalam jumlah banyak! Aku akan merasa menjadi mesin pencetak anak kalau sampai itu terjadi.”
“Anak kita akan disebut dhampir, ras campuran antara manusia dan vampir. Ras setengah-setengah seperti itu tidak akan diterima di keluarga besar Count Drakula. Kecuali kau mau aku ubah menjadi vampir!”
__ADS_1
Ariana menggeleng, “Bagaimana jika aku melakukan penelitian untuk mengubahmu menjadi manusia? Apa kau keberatan menjadi tua dan mati suatu hari nanti?”
Evander berpikir sejenak, “Memiliki pasangan mortal beresiko patah hati berkali-kali selama hidup. Aku akan merasakan sakitnya kehilangan orang-orang yang aku sayang secara terus menerus selama ribuan tahun ke depan. Jika bisa, aku memang ingin menjadi manusia biasa, My Love! Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu.”
“Aku akan melakukan penelitian mulai minggu depan!”
Selanjutnya Evander menutup obrolan dengan ciuman dan percintaan panas di sofa belakang rumah. Ia baru membopong Ariana ke kamar setelah dahaganya terpuaskan. Istrinya butuh tidur sejenak sebelum ia memberikan hadiah kejutan yang sudah disiapkan.
Satu jam berlalu, Evander menepuk-nepuk pipi Ariana perlahan, menciumnya beberapa kali untuk mendapatkan perhatian.
“Ana … My Love, bangunlah!” bisik Evander di depan wajah istrinya.
Ariana menguap, membuka mata malas lalu memicing menatap Evander yang memandanginya dengan senyum nakal menggoda. “Astaga … apa yang sedang kau pikirkan, Evan? Senyummu membuatku curiga!”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!” ujar Evander sambil menaik turunkan kedua alisnya bergantian.
Evander terbahak-bahak, ia memang sengaja ingin menggenapi hukuman untuk istrinya minggu ini. Jadi dalam sehari mereka harus melakukannya tiga kali. “Ehm … bukan delapan, kita sudah bercinta sebanyak sembilan kali, My Love!”
Ariana terbelalak sampai matanya seperti hendak copot, “Dan kau sudah mau menunjukkan sesuatu-mu lagi agar genap menjadi sepuluh? Aku baru tiga hari tinggal di sini, Evan!”
“Aku memiliki kejutan lain untukmu, bagaimana jika kita melihat bintang di luar rumah. Kau terlalu banyak mengurung diri selama di sini,” usul Evander dengan senyum yang tak lepas dari bibir. “Udara segar baik untuk bayi kita!”
“Lebih tepat kau yang mengurungku di dalam kamar, Evan! Kau terus saja menagih janji bercinta 20 kali seolah aku tidak berniat membayar,” dengus Ariana.
Namun, Tawaran Evander mengusik hatinya. Ia memang belum sempat melihat rumah barunya secara keseluruhan, hanya menyambangi taman bunga yang indahnya tak kalah dengan taman di samping pondok orang tuanya di Maine.
Evander baru mengatakan kalau lahan milik mereka cukup luas, dan Ariana penasaran, ingin menjelajahi tempat tersebut. Entah apa yang dipikirkan suaminya ketika memilih tinggal di desa. Apa karena melihat Ariana menikmati tinggal di pondok orang tuanya yang sepi?
“Mau berkeliling? Tidak ada laut dan tebing di lahan kita, tapi ada sungai buatan dan hutan kecil, juga keb ….” Evander tidak melanjutkan kalimatnya. Ia selalu tidak bisa menyimpan rahasia dari Ariana. Kebun anggur dan pondok kecil tengah hutan tidak akan menjadi kejutan jika ia kebablasan bercerita.
__ADS_1
“Keb … apa?”
Ariana mendadak mengernyit karena telinganya mendengar bel pintu berbunyi. Ia spontan bertanya, “Kau ada janji dengan orang? Apa tamu ini termasuk salah satu kejutanmu untukku?”
Evander membelai pipi Ariana lalu mencubit mesra dagunya, “Pakai baju hangatmu, aku akan melihat siapa yang datang. Aku tidak mengundang siapapun ke rumah ini … maksudnya belum. Kita akan jalan-jalan malam setelah aku mengusir orang iseng yang membunyikan bel rumah! Aku tidak akan lama!”
Ariana mengangguk setuju, ia memang harus memakai baju hangat jika akan keluar rumah. Udara terlalu dingin untuknya. Tapi tidak ada salahnya memakai teddy seksi kesukaan Evander lebih dulu.
Sambil menahan tawa, Ariana mengeluarkan pakaian dinas nakalnya dari lemari. Teddy hitam transparan menjadi pilihannya malam ini. Sembari memakai baju dan berdandan cantik, Ariana mendengarkan percakapan Evander dengan tamunya. Seorang wanita, yang sepertinya membawakan banyak hadiah untuk Evander, sebagai ucapan selamat untuk rumah barunya.
Semakin disimak, percakapan di ruang tamu semakin membuat Ariana curiga. Wanita itu terus saja memaksa Evander untuk mengunjunginya di akhir pekan. Undangan makan malam dan pesta kecil? Apakah wanita itu tidak tahu kalau Evander adalah pria beristri? Bukankah bertamu selarut ini bisa disebut tidak sopan?
Ariana tidak jadi mengenakan baju hangatnya. Ia hanya memakai kain tipis untuk menutup pinggul hingga paha. Bagian atas tubuhnya yang menonjol, menantang dan sangat molek dibiarkan hanya tertutup teddy transparan. Ia menyusul Evander ke ruang tamu setelah memastikan penampilannya sangat panas dan sensual.
Beberapa wanita penggoda suami orang memang harus diberitahu etika bertamu dengan cara yang berani, kan?
Benar saja, di ruang tamu, wanita yang mengobrol dengan Evander menatap suaminya dengan ekspresi tergila-gila. Sebenarnya Ariana tidak begitu heran, karena sepanjang perjalanan darat dari Maine ke London pun, Evander selalu mengusik ketenangan wanita di sekitar mereka. Suaminya terlalu menarik perhatian kaum perempuan karena ketampanan dan posturnya yang sempurna.
Ariana langsung menyela pembicaraan di ruang tamu yang luas itu. “Sayang … siapa wanita ini? Bisakah dia bertamu di lain waktu? Lihat, aku siap untuk berpetualang denganmu! Kau sudah janji malam ini tidak akan ada yang bisa mengganggu kita!”
Bau karat yang menguar dari nafas tamu Evander tercium oleh Ariana. Wanita cantik ini jelas-jelas jenis yang sama dengan suaminya. Seorang vampir. Sangat cantik dan super seksi.
Evander tersenyum lebar pada istrinya. Ia senang Ariana berpenampilan nakal dan panas di depan tamunya. Pakaian itu mengundangnya untuk datang, yang artinya mengusir tamu wanitanya agar segera angkat kaki dari rumahnya.
“Ana?” Evander menatap dengan penuh minat. “Kau sudah tidak tahan?”
Ariana menatap tajam pada vampir wanita yang juga menatapnya tak kalah tajam. “Evan sayang … siapa wanita ini?”
***
__ADS_1