Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Sang Perawan Suci


__ADS_3

“Jadi kau bersedia ikut denganku?” tanya Evander serius.


“Baiklah, kita akan menikah di sini agar ayahku tahu apa yang terjadi dengan putrinya, terlepas beliau suka atau tidak dengan keputusanku ini. Selanjutnya aku setuju untuk ikut ke masa lalu, aku juga mencintaimu, Evan! Aku tidak mungkin bisa berpisah denganmu!”


Ariana membelai rambut perak Evander yang jatuh menutupi dahi. Tangannya juga mengusap pipi dingin yang halusnya melebihi pipi wanita, men-desa-h pelan untuk mengagumi ketampanan Sang Count.


Evander tersenyum lebar, ia langsung mengecup bibir Ariana sekilas sebagai ungkapan terima kasih. “Ehm … apa orang yang sudah menerima lamaran bisa disebut tunangan?”


“Ya kita bertunangan sekarang, lebih dari sekedar kekasih!” jawab Ariana lirih. Ia sedikit menjauhkan bibirnya dari Evander saat bicara.


“Apa sepasang kekasih yang sudah bertunangan boleh melakukan tindakan seperti pasangan yang sudah menikah? Aku menginginkanmu malam ini, Ana!” Evander berbicara di depan bibir Ariana. Sangat dekat dengan mata menyorot meminta. Jika Ariana bergerak sedikit, mungkin bibir mereka langsung bisa bergesekan.


Ariana dalam kebimbangan, ia sudah sangat dewasa dalam hal itu. Usianya sudah 25 tahun, sudah matang dan sangat siap untuk berpetualang dengan hal-hal baru dalam hidupnya. Ia bukan lagi gadis belia yang terkurung dalam perpustakaan dan hanya berkencan dengan buku.


Di negara tempat Ariana tinggal, mencari perawan di usianya bisa dibilang sudah sulit. Remaja umur 18 tahun kebanyakan sudah memiliki pasangan untuk berhubungan intim.


Hm, hubungannya dengan Jonathan memang salah kaprah karena tidak ada kehangatan di dalamnya. Wajar jika pria itu akhirnya memilih asistennya sebagai tempat untuk menyalurkan hormon yang dirasa berlebih.


Evander sengaja bertanya untuk menghargai prinsip Ariana yang cenderung tak biasa. Evander tidak bisa memaksa Ariana untuk menghabiskan malam indah di atas ranjang bersamanya setelah bertunangan, jika Ariana tidak berkenan. Ia tidak harus menuruti ide Steven meski hasratnya sudah mulai membludak kemana-mana.


“Aku belum pernah melakukannya, Evan! Aku harap kau tidak tertawa!” Ariana menjawab dengan sedikit cengiran meskipun ada ketegangan dalam suaranya.

__ADS_1


“Aku akan membuatnya indah dan berkesan untukmu,” ucap Evander sensual. Nafasnya menghembus menyapu hidung Ariana.


Detik berikutnya bibir Evander menyusul, memagut Ariana dengan sangat perlahan. Ciuman Evander sama sekali tidak menuntut. Ia serius mengajak bercinta tunangannya dengan sangat sopan, tidak menggebu apalagi terburu-buru. Tangannya pun hanya membelai pipi dan rambut Ariana, menunggu hingga si perawan suci tergoda dan menyambutnya.


Ariana merasakan dada Evander turun naik ketika menciumnya, tapi yang mengagumkan … Sang Count mampu mengontrol dirinya dengan baik. Ciumannya pun lebih banyak memberi, dengan kelembutan dan romantisme. Tidak meminta untuk dibalas.


Sungguh, Ariana tidak mampu menolak kedekatan mereka yang akhir-akhir ini terasa dingin. Ariana menginginkan sentuhan Evander lebih dari yang pernah ia bayangkan. Ia tersiksa selama seminggu karena merindukan bibir dingin Sang Count.


Evander bukan baru pertama kali ini menciumnya, tapi setelah lamaran pribadinya beberapa menit yang lalu … semua terasa indah, nyata dan memabukkan. Ariana merasa sangat nyaman, dan perasaan seperti itu tidak pernah didapatkan selama bersama Jonathan. Fix, ia mencintai Evander lebih besar dari pada pria yang gagal dijodohkan ayahnya.


Api cinta mulai memijar dan memanaskan gairah mereka berdua. Evander memeluk Ariana, menyentuh kelembutan Sang Perawan Suci di bagian dada dan menelusuri setiap inci kulit halusnya setelah melepas piyamanya.


Suhu tubuh yang kontras ternyata memberikan efek tak terduga, Ariana harus mengakui itu. Ia setuju dengan alasan Evander memilih tubuh manusia yang hangat untuk jadi pasangan bercintanya. Karena Ariana juga merasakan kalau tubuh dingin Evander membakarnya dengan sensasional.


“Kau boleh menjerit jika terasa sakit!” bisik Evander sambil mencium basah leher Ariana.


Ariana terkikik geli, “Aku bukan perawan kencur, Evan! Aku cukup tua untuk menahan diri dari jeritan memalukan seperti itu. Aku juga tidak akan mencakarmu!”


“Kalau begitu men-desa-hlah yang kencang nanti! Aku ingin mendengarnya,” ucap Evander serak. Ia sebenarnya sudah tidak tahan, tapi masih memberikan lebih banyak rang-sangan agar gelombang gairah Ariana ada di ambang batas.


Ketika akhirnya Evander menyatukan dirinya, Ariana hanya menyeringai beberapa detik. Tidak ada yang buruk, semua langsung normal dan ia bisa menikmati keindahan dalam bercinta. Ariana bahkan bisa mendapatkan pelepasan yang hebat, sesuatu yang katanya jarang terjadi ketika ‘hal itu’ baru dilakukan pertama kali.

__ADS_1


Evander memeluknya erat setelah penyatuan mereka selesai. Sang Count tidak banyak melakukan banyak gaya bercinta untuk membuat Ariana nyaman dan tidak kesakitan. Ia bisa melakukan hal mudah itu nanti, esok dan hari-hari selanjutnya selama tinggal bersama Ariana.


Vampir bisa bercinta dengan liar, tapi jika itu dilakukan dengan sesama vampir, yang memiliki kekuatan sama besar. Mereka bisa bercinta dimana saja, di atas pohon sekalipun karena memiliki kemampuan. Tapi Evander tidak akan begitu gila dengan mengajak Ariana bercinta ala vampir saudaranya yang tinggal di kastil Transylvania.


Ariana manusia biasa, dan Evander sangat suka kelembutan. Ia bercinta dengan hati, bukan hanya dengan birahi.


“Kau menyesal?” tanya Evander lirih di dekat telinga Ariana. Ia memeluk mantan perawan suci-nya dari belakang, dalam satu selimut yang sebenarnya tidak diperlukan.


Ariana mengulum tawanya, “Tidak sama sekali. Kau nikmat, Evan! Ibarat hidangan, kau menempati urutan teratas. Aku merasa kecanduan, padahal baru mencicipinya sekali.”


“Kau bisa memakanku setiap hari, My Love!” bisik Evander lembut dan sangat sensual. “Kau juga boleh minta lagi malam ini jika masih kurang!”


Ariana menarik tangan Evander agar memeluknya lebih erat, “Aku butuh tidur sebentar! Jangan pergi kemana-mana, tetap peluk aku sampai aku bangun lagi!”


“Aku tidak akan meninggalkanmu!” janji Evander dalam kekalutan. Janji yang sepertinya tidak bisa ia tepati.


Evander baru saja berpikir kalau lorong waktu bulan iblis belum tentu bisa mengantarkannya pulang ke masa lalu. Ia tidak mungkin membawa wanita yang dicintainya untuk menyeberangi waktu, lalu tersesat di tempat lain.


Ariana juga bisa mati sebelum berpindah ke zamannya, seperti para awak kapal yang pernah berlayar bersamanya. Dan Evander tidak akan sanggup melihat Ariana dalam bahaya, dalam badai dan petir yang mengganas di laut lepas.


Evander tahu pasti, Ariana akan marah jika ia membatalkan niatnya mengajak Ariana ke masa lalu. Apalagi Ariana sudah menyerahkan diri padanya.

__ADS_1


Tapi sebuah pilihan harus tetap dibuat ….


***


__ADS_2