Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Gangguan Kecil


__ADS_3

Sebenarnya, Ariana lega bisa mengambil cuti hari ini. Tapi kesibukan di sekitar pondok membuat kepalanya pusing. Terlalu banyak orang lalu lalang untuk menyiapkan acara pernikahan. Semakin pusing ketika ingatannya kembali ke pendopo yang ada di tengah taman semalam.


Hadiah kejutan yang dimaksud Evander ada di sana, dan sukses membuat wajah Ariana menyala merah di depan Steven, ahli taman dan pekerja dekorasi. Evander dengan gilanya menyiapkan tempat tidur berkelambu merah transparan di dalam pendopo yang sudah diubah layaknya kamar pengantin bangsawan vampir abad ke sepuluh. Dengan banyak kado berbungkus kertas merah yang ditata rapi. Entah apa saja isinya, Ariana tidak ingin bertanya.


“Apa ini, Evan?” tanya Ariana bergidik ngeri. Ia bertanya bukan karena tidak tahu, tapi karena ingin mendengar alasan Evander memberinya hadiah aneh untuk pernikahan mereka.


Mendengar Evander yang penuh semangat ketika menjelaskan bahwa tempat itu adalah kamar pengantin vampir, langsung membuat Ariana cegukan. Ia memutuskan kembali ke pondok dan pergi tidur sebelum Steven menertawakan wajah bodohnya lebih jauh.


Ariana benar-benar dalam kesulitan karena Evander tidak bisa dihentikan. Ariana tidak tahu berapa banyak rencana dan persiapan Evander untuk mendapatkannya. Semua sangat berlebihan, seluruh area pondoknya di ubah menjadi tempat romantis untuk … bercinta? Dasar sinting!


Namun, Evander sama sekali tidak mengusik pondoknya, tidak membuat perubahan apapun di dalamnya. Sang Count sengaja memanfaatkan lahan sekitar rumah Ariana agar apa yang dibangun olehnya bisa dibongkar kapan saja jika Ariana merasa tidak suka nantinya. Ia tidak sedikitpun menyentuh pondok milik orang tua Ariana agar Doug tidak memiliki alasan untuk marah pada putrinya.


Pekikan histeris Ariana semalam ditertawakan oleh Steven dan semua pekerja yang sedang menyelesaikan tempat paling istimewa itu. Huh, Ia sungguh tidak pernah membayangkan akan bercinta di tempat terbuka seperti itu, di tengah taman bunga dengan seorang vampir gila yang sialnya sangat jantan dan menawan.


Ariana menggeliatkan tubuh. Ia malas beranjak, tapi kandung kemihnya terasa tidak nyaman karena penuh. Ia tidur bersama Evander setelah debat panjang mengenai kamar pengantin mereka.


“Kita tidak akan menikah, Evan!” gumam Ariana. Sengaja merusak pagi dengan pertengkaran.


“Tenanglah, My Love! Kau harus sedikit santai, kau terlalu tegang akhir-akhir ini.” Evander memeluk rapat ketika Ariana hendak turun dari ranjang.


“Aku butuh sarapan, Evan! Aku juga mau buang air kecil.”


“Hm, apa kau ingin aku menemani?”


Ariana ingin melotot, tapi tidak jadi karena Evander bertanya dengan mata terpejam. “Tidak, tidurlah! Matahari sudah tinggi, kau bisa terbakar jika keluar kamar!”


“Kau tidak ingin memberiku sarapan? Aku sedikit lapar, semalam kita sudah libur!” bisik Evander sembari mengeratkan pelukan.


Ariana langsung menyingkirkan tangan Evander dengan sedikit kasar, “Aku sedang tidak ingin melakukannya.”

__ADS_1


“Ana, kau hanya sedang frustasi. Aku yakin bisa membantu meredakan stress yang mengganggu mood baikmu itu!”


“Kau terdengar seperti seorang dokter jiwa!” sindir Ariana sarkastik.


“Semua orang tahu kalau gairah yang datang harus dilepaskan! Menghalangi gairah tubuh yang sedang mengalir akan menghambat pori-pori dan mengotori pikiran.”


Ariana menyahut sambil terkikik geli, “Sekarang kau terdengar seperti seorang pakar ilmu hormon pria dan wanita serta cara melepaskannya untuk menghindari stress. Kau luar biasa dan tiada duanya, Evan!”


“Aku membacanya di komputermu, Ana! Seksolog yang mengatakannya, aku hanya mengutip,” balas Evander dengan seringai bangga. “Dan karena hari ini kau libur, aku akan mengajakmu … berkencan!”


“Astaga, apa kau mendapatkan ide kencan dari membaca di komputer?” tanya Ariana skeptis.


“Yeah, orang Amerika melakukannya untuk menyenangkan pasangan mereka. Jadi apakah kau mau berkencan denganku hari ini?”


Ariana mengerang, bagaimana ia akan menolak ide konyol yang menyenangkan ini? Ia sudah lama tidak keluar untuk berkencan. Dulu Jonathan jarang sekali mengajaknya keluar untuk menikmati hubungan mereka. Kencan seperti itu hanya dilakukan oleh remaja, itu yang dulu didengarnya dari mulut Jonathan.


Hm, Evander adalah makhluk yang hanya aktif di malam hari, lalu bagaimana mereka bisa berkencan di tempat terbuka pada siang hari?


“Tidak, aku ingin menghabiskan waktu di pondok. Aku ingin memasak untuk melampiaskan stress, setelah itu makan sebanyak mungkin, pergi ke loteng dan tidur sampai sore!” jawab Ariana tegas.


Ia memang harus menolak Evander! Semakin banyak waktu bersama dan menciptakan kenangan bersama pria ini, semakin membuat Ariana tidak akan bisa melepas Evander dengan mudah. Ariana belum siap dengan perpisahan. Dan bayangan pernikahan yang disiapkan Evander sangat menghantuinya.


Ketika bisa melepaskan diri dari Evander, Ariana membersihkan diri dan siap membuat sarapan di dapur. Apron menutupi pakaian seksinya. Ah … biarpun hatinya marah, tapi cinta Ariana tidak ikut padam. Ia sengaja mengenakan pakaian itu untuk mengganggu tidur siang Evander. Sang Count harus dihukum karena sudah membuat pusing kepalanya.


Namun, suara ribut-ribut di depan pondok menghentikan kegiatan memasak Ariana yang baru saja selesai. Ahli taman terdengar sedang berdebat dengan seseorang. Dari suaranya, Ariana menebak kalau yang datang adalah … Jonathan?


Ariana berlari ke depan, membuka pintu, lalu tercengang. Jonathan datang dengan seorang asisten pendeta. Dengan jas mahal putih yang biasa dipakai oleh pengantin pria. Ia membawa kotak besar, sebuah hadiah?


Dengan tatapan jengah, Ariana menunduk untuk melihat hot pants tipis dan atasan satu tali yang mengekspos keseluruhan punggungnya. Beruntung bagian depan tubuh yang mencetak puncak dan are-ola tertutup apron masaknya. Jika tidak, ia yakin Jonathan akan memelototinya dengan penuh hasrat.

__ADS_1


“A-apa maksud kedatanganmu, Jonathan?” tanya Ariana gagap saking terkejutnya.


“Kita akan menikah satu jam lagi,” jawab Jonathan datar. “Pergilah berpakaian sekarang juga! Kita akan ke gereja pusat kota, ayahmu sudah menunggu kita di sana! Ini gaunmu!”


Jonathan mengulurkan kotak besar berisi gaun pengantin, perhiasan dan sepatu yang harus dikenakan Ariana.


“Aku tidak akan menikah denganmu!” Ariana menggeleng, menolak kotak yang diulurkan Jonathan dengan cara mendorongnya balik. “Pergilah! Katakan pada ayahku kalau aku menolak datang ke gereja untuk menikah dengan siapapun. Dia tidak bisa memaksaku, aku sudah dewasa.”


Ariana menjerit histeris ketika Jonathan menyentak tangannya hingga tubuhnya masuk ke dalam pelukan Jonathan. Suara Jonathan seperti orang yang sedang menahan geram ketika bicara di depan bibir Ariana. “Jangan membuatku marah, Ariana! Aku akan memaksamu jika kau membangkang perintah ayahmu! Kau tidak perlu menguji kesabaranku! Pakai gaunmu sekarang atau aku akan membopongmu dalam keadaan seperti ini. Kau yang akan malu nanti!”


Jonathan datang dengan banyak perhitungan. Siang hari adalah waktunya vampir tidur. Ia tidak mau berduel dengan pria gila yang mengaku tunangan Ariana. Untuk menjaga situasi tetap terkendali, Jonathan mengajak asisten pendeta yang membawa air suci yang bisa dipakai untuk melumpuhkan vampir.


“Ehm … lepaskan Ana jika kau tidak ingin tanganmu patah, Sialan!” perintah Evander garang. Matanya berwarna merah darah dan gigi taringnya meruncing seperti harimau buas. Ia berdiri hanya tiga meter dari Jonathan.


“Siram vampir gila itu!” perintah Jonathan terkejut.


Air suci yang disemprotkan oleh asisten pendeta ke arah Evander terlalu mudah dihindari. Evander bergerak secepat angin untuk menghindar. Asisten pendeta bukanlah seorang pemburu, tidak gesit dan juga tidak berpengalaman menghadapi penghisap darah.


Pria kurus itu lari meninggalkan Jonathan yang tubuhnya mendadak terangkat, melayang karena tangan Evander dan siap dibanting ke tanah untuk diremukkan.


“Evan, kumohon hentikan! Jangan lakukan ini padaku, jangan membuat keributan di sini, Evan! Evan … hentikan!” Ariana menarik tangan Evander sambil menjerit-jerit histeris. Menghalangi Sang Count membunuh Jonathan dengan keji.


“Bagaimana jika aku melempar bajingan ini ke laut dari atas tebing? Kau lebih suka melihat dia berenang dan mati kehabisan tenaga daripada remuk oleh tanganku?” tanya Evander dingin. Tapi ia menurunkan kasar tubuh Jonathan dan mendorongnya hingga menabrak pintu dan jatuh berlutut. Ia menurut karena Ariana menangis.


Jonathan merangkak keluar pintu, lalu berjalan terpincang-pincang ke arah mobilnya. Tergesa-gesa. Ariana langsung menutup pintu sebelum ahli taman yang berdiri di depan pondok ikut campur urusannya.


Evander berteriak dari dalam pondok, ditujukan untuk ahli taman. “Selesaikan semua pekerjaan sore ini. Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari harga kemarin. Terakhir tinggalkan tempat ini sebelum gelap, aku tidak mau diganggu satu orang pun! Aku akan menikah setelah senja berakhir hari ini.”


***

__ADS_1


__ADS_2