
“Bagaimana aktingku, Cecil?” tanya Ariana pada istri Steven. Panggilan video dari ayahnya baru saja berakhir. “Apa riasanku terlalu bagus? Sepertinya ayahku mudah ditipu!”
“Kau cantik sekali dengan gaun merah itu, tapi … kau akan menikahi Jonathan, aku tak habis pikir kenapa kau memakai gaun pengantin yang sudah kau pakai ketika menikah dengan Evander untuk mengelabuhi ayahmu!” puji Cecil, tapi wajahnya berkerut heran.
Ariana tersenyum, “Aku hanya harus tampak sedang merias diri ketika ayahku melakukan panggilan video sebelum pernikahan, dan sudah kulakukan. Ayahku akan datang menjemputku dua jam lagi, kau sudah menyiapkan surat dan video perpisahan yang kita ambil kemarin?”
“Aku sudah meletakkannya di atas meja makan. Ayahmu akan langsung melihatnya ketika memeriksa pondok ini!” jelas Cecil bersedih. “Kau yakin tidak ingin memberikanku alamat? Aku bisa mengunjungimu saat senggang.”
“Aku akan mengabarimu setelah semua situasi memungkinkan. Kau tidak akan bisa berbohong pada ayahku jika beliau sudah menekanmu. Lebih baik kau tidak pernah tau kemana aku akan pergi. Yeah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi di sini selain kenangan … dan taman bunga pemberian Evander, aku harus berganti pakaian lagi dan bersiap pergi, Cecil. Bantu aku!”
Ariana hampir terlonjak ketika kepala Steven muncul setelah pintu dibuka dengan sangat kasar dan tergesa-gesa. “Ariana?”
“Kau mengagetkanku, Steven!” pekik Ariana, yang langsung dibenarkan Cecil.
“Ada seseorang yang datang untuk menjemputmu!” kata Steven terburu-buru. Ia bahkan hampir jatuh tersungkur ketika mendorong pintu dengan tenaga yang sebenarnya tidak perlu.
Ariana menatap geram, ia melihat Steven yang mendadak aneh. Menutup mulut dengan punggung tangan, sedikit terbatuk dan salah tingkah. Satu lagi, wajahnya pucat seperti baru saja melihat hantu.
“Ini masih terlalu pagi, Steven. Ayahku mengatakan akan menjemput dua jam lagi. Kalau yang datang adalah orang suruhan Jonathan, usir dia! Katakan aku hanya akan pergi ke pernikahan dengan ayahku!” gerutu Ariana. Rencananya untuk kabur bisa gagal total jika sampai Jonathan mengirim orang untuk menjemputnya.
“Maksudku … apa kau bisa bepergian di bawah sinar matahari? Kau sudah dua minggu ini tidak keluar rumah pada siang hari,” tanya Steven tak sabar.
“Tentu saja Steven, kulitku tidak akan terbakar sinar matahari. Aku masih manusia, ramuan obat yang kita teliti bereaksi padaku. Aku tidak berubah menjadi vampir, hanya saja aku masih merasa sangat silau dengan cahaya siang, aku bisa memakai kaca mata hitam nanti. Apa kau akan memukul orang suruhan Jonathan dan memintaku pergi sekarang?”
“Menurutku kau sendiri yang harus mengusir pria ini, Ariana! Ehm, dia terlalu tangguh untuk kulawan! Jujur saja aku agak takut!”
__ADS_1
Ariana menimpali tajam, “Steven, kau mendadak sakit jiwa hanya karena bertemu dengan seorang bodyguard? Kau tau pasti, kadang-kadang otot tidak diperlukan untuk menundukkan pria berbadan besar. Perhatikan cara wanita mengusir tamu yang tidak diundang ini!”
Sebelum Steven memotong kalimatnya, Ariana sudah keluar kamar. Berjalan cepat melewati ruang tamu, membuka pintu pondok lalu berkacak pinggang. Siap mengusir tamunya dengan ucapan paling kasar yang sudah disiapkan di ujung lidah.
Pria suruhan Jonathan berdiri memunggungi pintu. Ariana menatap mulai dari sepatu kasual, celana jeans, lalu kemeja biru gelap yang membungkus punggung dan bahu bidangnya. Rambut pria ini berwarna perak, bercukur seperti model shampo pria. Keren dan sangat modern.
Jantung Ariana berhenti berdetak, lalu berdetak lagi dengan sangat kencang ketika pria itu berbalik dalam gerakan lambat. Lalu sepasang mata hazel menatapnya dengan pandangan memuja dan penuh kerinduan. Pria berambut perak itu ternyata bukan orang suruhan Jonathan.
Darah seolah terkuras dari kepala Ariana, rasa pening mendera. Ariana bahkan mundur selangkah, harus berpegangan pada pintu agar tidak jatuh pingsan. Matanya mengerjap satu kali, dua kali, berkali-kali untuk memastikan bahwa ia sedang tidak berhalusinasi di pagi hari.
Pria di hadapannya tidak hilang diterpa angin, tetap berdiri kokoh dan menatapnya lembut. Menunggu untuk dikenali oleh istrinya.
Evander tidak memakai jubah abad kesepuluhnya, ia sudah menjualnya di London, dengan harga sangat mahal di salah satu pelelangan.
“My Love,” ujar Evander parau. Ia tidak tahan hanya diam menatap Ariana yang mulai terisak.
“Aku kembali, Ana!” Evander memeluk erat hingga kaki Ariana nyaris terangkat dari tanah. “Aku merindukanmu!”
Sekejap sebelum Ariana masuk ke dalam pelukannya, Evander agak terkejut karena istrinya memakai gaun sutra merah pernikahan mereka, dan berdandan cantik seperti mempelai wanita.
Evander ingin bertanya tapi ditahan sekuat tenaga. Ia memilih untuk memejamkan mata, menikmati gelombang pelepas rindu yang melandanya.
Penderitaannya karena terpisah dengan Ariana seketika sembuh hanya dengan satu sentuhan. Berganti dengan getaran sarat cinta dan kasih sayang.
Evander semakin mengetatkan pelukan hingga kaki Ariana terangkat dari tanah. Kepalanya membenam di leher istrinya, menghirup aroma yang hilang selama satu bulan dari penciumannya.
__ADS_1
Sambil men-de-sah, Evander mengangkat kepalanya. Ia tidak tahan untuk tidak menempelkan bibirnya, untuk memberikan kecupan ringan pertemuan. Evander merasa hampir mati karena sangat bahagia, karena akhirnya ia bisa kembali pada takdirnya, bisa kembali ke pelukan Ariana.
Dengan segera, ciuman lembut dan ringan berubah menjadi penuh gairah. Sudah terlalu lama … terlalu lama Evander tidak merasakan istrinya.
Suara decak dan deheman keras menghentikan Evander, ia menarik bibirnya dari mulut Ariana dengan ekspresi dingin. “Kau sangat tidak tahu waktu, Steven!”
“Ariana akan dijemput ayahnya dua jam lagi untuk menikah dengan Jonathan. Sebaiknya kau bercinta dengan gaya cepat lalu tinggalkan rumah ini satu jam lagi! Aku dan istriku akan memasak sarapan di dapur!” kata Steven sambil berjalan kembali ke dalam.
“Yeah, aku tau apa yang harus dilakukan seorang suami, Steven!” sahut Evander tak peduli.
I wanna love you and treat you right
I wanna love you every day and every night
We'll be together with a roof right over our heads
We'll share the shelter of my single bed
We'll share the same room, yeah! - for Jah provide the bread.
Is this love - is this love - is this love
Is this love that I'm feelin'?
(Bob Marley - Is This Love?)
__ADS_1
***