Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Romantisme Setelah Menikah


__ADS_3

Ketika cahaya senja akhirnya menggelap di batas cakrawala. Evan dan Ariana sudah berdiri di depan pendeta untuk melakukan pemberkatan pernikahan. Beruntung Evander sudah mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan lebih awal, termasuk gaun merah darah berbahan sutra yang dipakai Ariana.


Hanya dua orang yang mendampingi pengantin. Dokter Steven dan istrinya, mereka berdua sekaligus menjadi saksi pernikahan antar ras tersebut. Pendeta menyatakan pernikahan mereka sah setelah janji suci kedua mempelai terikrar. Evander mencium Ariana setelah menyematkan cincin pernikahan.


“Maafkan aku Steven, tidak ada pesta pernikahan kecil-kecilan seperti rencana awal. Pesta akan menarik perhatian orang. Aku tidak ingin ayah Ariana atau Jonathan datang untuk merusak suasana pesta yang kita buat,” kata Evander dengan wajah menyesal.


Dokter Steven menepuk-nepuk bahu Evander, “Pesta bukanlah hal penting untukku, Evan. Aku hadir di sini untuk melihat Ariana bahagia, ia berhak mendapatkan pernikahan dan memiliki waktu terbaik dalam hidupnya meski hanya beberapa minggu. Jadilah suami yang selalu membuat Ariana tersenyum, Evan! Dia sudah cukup menderita dan kesepian selama ini.”


“Aku tidak akan melewatkan nasehat bijakmu, Steven!” sahut Evander dengan seringai terima kasih. Ia lalu mengantar dr. Steven dan istrinya, juga pendeta yang menikahkannya dengan Ariana, sampai ke mobil. Evander baru kembali ke tengah taman setelah mobil mereka menjauh.


Di pendopo taman, Ariana masih membeku, belum sepenuhnya percaya jika ia sudah menjadi seorang istri bagi Evander. Pernikahan sederhana yang diberikan Evander membuatnya terharu. Pria bodoh dari abad kesepuluh itu tidak ditolaknya di depan pendeta sesuai rencana, padahal hampir setiap waktu ia selalu mengatakan tidak bersedia menikah dengan Evander.


Meski tidak sesuai impian karena ia tidak didampingi ayahnya, tapi Ariana tidak mampu membendung kebahagiaan yang diberikan Tuhan padanya. Ia menangis setelah bersumpah setia pada Evander. Ritual darah dilewatkan Evander karena takut Ariana tidak merasa siap. Mereka menikah normal layaknya manusia biasa.


Ariana masih berpakaian pengantin ketika membuka satu persatu kado dari Evander. Hadiah mahal itu jumlahnya terlalu banyak dan berlebihan. Ia tersenyum, merona dan kadang cekikikan ketika membuka amplop merah berisi pesan romantis dari dalam kotak. Ariana tak berhenti tersipu sendiri dirayu dengan cara kuno seperti itu.


[My Lady, kau seperti api yang membakarku dalam kelembutan!]


Ariana menemukan kata-kata indah itu di dalam kotak yang berisi perhiasan. Lalu menemukan lebih banyak lagi di tiap kotak yang berisi sepatu, tas, piyama atau pernak-pernik wanita lainnya. Dengan kalimat-kalimat lucu yang membuatnya semakin mencintai Sang Count.


[Kau cantik dan aku jatuh cinta padamu, Ana!]


[Bersamamu, aku seolah terjebak dalam pusat badai asmara]

__ADS_1


[Gairahku padamu setinggi angkasa seluas samudra, My Love!]


Ariana memasukkan semua kertas dengan tulisan tangan Evander itu ke satu amplop besar dan menyimpannya. Ia akan membacanya beberapa minggu lagi ketika perpisahan tiba.


Terakhir, Ariana mendapati hadiahnya yang lain sudah berlutut di depannya, mengulurkan tangan, lalu mencium punggung tangannya ketika ia menyambut. Sialnya Evander dalam kondisi telanjang dan sedang sangat terng-sang! Ariana tidak melihat kapan Evander meloloskan pakaian pengantinnya.


Ariana bukan wanita yang suka berfantasi seksual, tapi yang ada di depan matanya sungguh membuatnya merasa seperti ratu yang sedang diinginkan. Ia seketika menjadi liar dengan pikiran nakalnya yang selama ini tersembunyi.


“Ehm … sepertinya aku tidak perlu membuka hadiahku yang terakhir!” Ariana tak bisa menahan rona merah di seluruh wajahnya. Ia mengulum senyum manisnya.


“Izinkan aku melakukan tugasku untuk menyempurnakan pernikahan ini, My Lady!” ucap Evander sensual. Ia berdiri, lalu menuntun Ariana masuk ke dalam pelukannya. Evander ingin mencium Ariana dalam suasana paling romantis dalam hidupnya.


Evander mengecup bibir Ariana perlahan, lembut, tapi dengan intensitas yang sangat rapat hingga Ariana mabuk dan melayang. Berikutnya kecupannya jatuh ke leher, menelusuri seluruh bagian sensitif itu dengan ciuman basah.


Ariana berada dalam titik trance, ia sadar tapi juga setengah melayang seperti orang mabuk, tidak ada rasa sakit yang dirasakan di lehernya. Ariana justru merasa seperti sedang mendapatkan pelepasan. Dan itu adalah nikmat tertinggi yang pernah mampir ke tubuhnya, mengalahkan ‘the big o’ dalam sesi bercinta yang liar dan panas.


Evander menghisap darah Ariana tak lebih dari satu sendok makan. Ia sengaja memberi racun agar gigitannya terasa nikmat untuk Ariana. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat pengantin wanitanya mabuk kepayang seperti baru menenggak obat perang-sang.


“Apa kau siap untuk malam luar biasa ini, My Love?” tanya Evander setelah menyelesaikan gigitannya.


“Tidakkah kau sedikit terlalu terburu-buru, Evan? Ini masih sore … aku takut akan ada orang datang ke pondok ini!”


“Aku bisa mendeteksi bau tubuh manusia dari jarak cukup jauh, My Lady. Kau tidak perlu khawatir, tidak ada orang yang berani masuk kawasan pondok ini kecuali ayahmu,” kata Evander meyakinkan. “Aku sudah mengamankannya, kau dengar suara anjing menggonggong?”

__ADS_1


“Ya, bukankah itu pertanda ada vampir di sekitar mereka?”


“Aku membuat mereka berjaga untuk kita.” Evander menyeringai sembari mengangkat tepian gaun pengantin Ariana hingga sebatas pinggang. Dengan sigap ia juga menurunkan celana mini Ariana, melemparnya sembarangan.


“Evan! Kau bisa merusak gaun indah ini!” Ariana terpekik kaget, ia bahkan masih mengenakan pakaian pengantin abad ke sepuluhnya, yang sudah didesain dan dimodifikasi modern sehingga lebih nyaman saat dikenakan. Ariana jelas tidak ingin merusak gaunnya. Tapi Evander sepertinya tidak peduli. Pria itu tampak terburu-buru, tidak setenang biasanya.


“Seharusnya ada permainan cinta yang menarik di malam pertama pernikahan kita. Kau berhak mendapatkan rayuan, sentuhan lembut dan kata-kata romantis dariku. Tapi masa bodoh … itu terlalu lama, sedangkan aku ingin bermain cepat karena sudah tidak tahan!” kata Evander memajukan pinggulnya dan langsung mendesak Ariana hingga bagian terdalamnya. Basah. Sempurna!


Ariana berteriak tertahan, Sang Count yang dicintainya kembali mengisi kerapatannya tanpa bisa ditunda sebentar saja. Evander menempelkan dahinya ke dahi Ariana yang berkeringat, menatap dalam jarak dekat sambil menghentak teratur namun sangat dalam.


Ariana berusaha memfokuskan pikiran, ia nyaris jatuh jika Evander tak menahannya. Terlalu banyak getaran yang dirasakan di pusat sensasinya dalam posisi berdiri seperti itu. Ia harus mengerang berkali-kali karena perasaan luar biasa yang didapatkan dalam penyatuan tersebut.


Evander menarik bokong Ariana ke atas dan Ariana langsung mengangkat kakiknya, melingkarkannya di pinggang Evander. Menyesuaikan posisi mereka lagi agar ia bisa mengakomodir ukuran Evander yang membuatnya merasa sangat penuh dan nikmat.


Ariana merangkulkan tangannya ke leher Evander dengan gelisah. Ia men-desa-h semakin kuat ketika Evander membopongnya ke ranjang. Dengan gerakan lincah, Evander menjatuhkan Ariana ke ranjang pengantin tanpa melepas pelukan, lalu menindihnya, memberi apa yang istrinya inginkan, yaitu kecepatan dan ketepatan erotisme bercinta.


Setiap sel yang berada dalam tubuh Ariana bergetar hebat … ia bergumam karena Evander mendadak diam, “Kenapa kau tidak menekan lagi, Evan?”


“Aku tidak bisa … aku segera mencapai puncak jika lebih banyak bergerak!” jawab Evander terkekeh-kekeh. Menertawakan dirinya yang sangat tergesa-gesa, seperti remaja yang baru mengenal sensualitas wanita.


“Aku juga,” balas Ariana. Ia malu terlihat sangat terang-sang dengan sentuhan Evander. Namun, kaki dan tangannya bergerak bersama, memberikan kode agar Evander menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.


***

__ADS_1


__ADS_2