Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Penjelajahan Waktunya Gagal


__ADS_3

Ada yang salah dengan pelayaran Evander. Penjelajahan waktunya gagal. Evander baru menyadari fakta itu ketika hari menjelang pagi, ketika ia harus berenang lagi untuk mencari daratan. Mata vampirnya menatap jauh, dan ia mengenali bukit-bukit yang berjajar di sebelah selatan pesisir pantai pondok Ariana.


Bangunan tinggi dan rumah-rumah modern mulai tampak jelas dari kejauhan. Evander berenang tanpa putus asa, tapi ia lelah secara fisik dan juga mental. Jiwanya terguncang, meninggalkan kekalutan yang dalam, menghanguskan semangatnya untuk mencapai tepian laut.


Matahari sebentar lagi muncul, siap menerangi tempatnya mengapung dengan cahaya hangat pagi. Evander hanya bisa memandang angkasa, pasrah jika ia harus terbakar. Ia sudah terlalu lemah untuk berenang ke pantai.


Malam itu, bulan iblis muncul sesuai ramalan, petir menyambar kapalnya hingga hancur berkeping-keping. Evander terhisap pusaran air, sama persis seperti dulu. Ia harus berjuang dari gelombang besar yang menenggelamkan kapalnya agar tetap hidup, lalu berenang menuju permukaan.


Namun, begitu ia muncul di atas air … tidak ada kapal yang dulu membawanya ke London.


Ia tidak tahu apakah penjelajahan waktunya berhasil sampai menemukan pemandangan perbukitan Maine pagi ini. Semua yang terjadi benar-benar mirip dengan pengalaman sebelumnya, tapi kenapa portal waktu tidak terbuka dan mengantarkannya kembali ke masa lalu?


Evander pasrah, ia masih mengapung kelelahan sambil menatap langit yang mulai cerah. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh. “Beri aku pertanda ya … Tuhan, beri aku pertanda! Apakah aku harus mencoba lagi penjelajahan waktu ini, sekali lagi, dua kali lagi, atau berapa kali lagi? Aku butuh tanda kebesaran-Mu … karena aku lelah jika harus berenang dari tengah laut ke daratan setiap kali gagal!”


Dengan perasaan hampa, Evander memperhatikan perubahan waktu demi detik sambil menunggu sebuah tanda yang akan diberikan Tuhan padanya. Entah bagaimana ia sangat percaya kalau takdir tidak akan mengombang-ambingkan hidupnya seperti ombak di laut itu.


Dalam keputusasaan, Evander melihat benda hitam melayang tak jauh darinya. Seekor burung. Camar. Ya, camar itu terbang rendah di sekitarnya, semakin rendah hingga akhirnya singgah di atas dadanya yang tidak terendam air. Evander membiarkan hal itu terjadi, lalu sebuah tanda muncul. Tanda yang sangat menjijikkan.


Mungkinkah pertanda buruk?

__ADS_1


Camar itu membuang kotoran di dadanya, lalu terbang ke atas lagi seraya berkicau, mungkin tertawa terbahak-bahak melihat Evander yang tercengang bodoh. Mengejeknya dengan kotoran karena kehidupan Evander disia-siakan dengan hanya diam, menunggu mati terbakar matahari tanpa mencari pertolongan.


Evander menyumpahi camar itu, mengumpat, berserapah, berteriak marah karena jubah mewahnya mengeluarkan bau tidak sedap, khas kotoran burung. Ia benci dengan sesuatu yang menjijikan, apalagi yang membuatnya mual seperti bau kotoran.


Tak lama, Evander mendengar suara mesin, ia mengawasi kaki langit sekitarnya sampai dua kepala nelayan muncul dari kapal motor pribadi mereka.


Salah satunya menyapa dengan raut khawatir, “Hai sobat, kau kecelakaan atau sengaja berenang sejauh ini dari bibir pantai? Apa kau yang berteriak barusan? Pekikan marahmu seperti suara iblis yang baru keluar dari neraka!”


“Yeah … kapalku terbalik dan hilang entah dimana, aku butuh pertolongan!” jawab Evander dengan seringai memelas. Ia kembali menerima kehidupan yang ditawarkan dua nelayan tersebut.


Satu orang lainnya membantu menarik tangan Evander, “Naiklah, kami akan mengantarmu sampai pantai. Ehm … tanganmu dingin sekali, kau hampir membeku karena terlalu lama berada di dalam air. Ada penjaga pantai nanti, kau bisa minta tolong padanya. Kau baik-baik saja …?”


“Hm, aku rasa aku baik-baik saja!” bual Evander. Tentu saja ia sedang tidak baik-baik saja. Ia hampir mati.


Nelayan itu memberikan selimut kering padanya, juga minuman hangat yang Ariana sebut sebagai kopi susu.


“Tahun berapa ini, kawan? Namaku Evander,” tanya Evander untuk memastikan dugaannya.


“Panggil aku Fredy, dan dia Mike. Ini tahun 2023, apa kau lupa ingatan? Beruntung kau masih ingat namamu!”

__ADS_1


“Aku rasa kepalaku terbentur, agak pusing, telingaku juga berdengung,” jawab Evander sambil memiringkan kepala dan mengetuk-ngetuknya seperti ingin mengeluarkan air dari telinga.


“Tenggelam kadang membuat orang linglung, aku paham dengan keadaanmu! Aku juga pernah tenggelam waktu kecil dulu … aku bahkan lupa kalau ibulah yang menyelam untuk menyelamatkanku. Aku berpikir yang menarik tanganku adalah bidadari dari surga,” ujar Fredy sambil terkekeh-kekeh.


“Kau lapar? Kau sangat pucat,” tanya Mike dengan pandangan kasihan. “Kami punya biskuit untuk mengganjal perut, tidak hangat … tapi lumayan bisa menolong rasa laparmu.”


Evander menggeleng, “Kalian punya pizza?”


Evander berdecak, sepotong pizza tidak akan membuatnya mati. Ia bahkan mulai menyukai makanan itu. Dan itu lebih baik daripada pasta cacing masakan Ariana. Soal biskuit, ia masih enggan mencobanya.


Fredy tergelak, “Kau bisa membelinya setelah sampai di pantai. Sepertinya kau juga lupa kalau kita ada di tengah laut!”


“Bagaimana dengan darah? Dimana aku bisa mendapatkan darah untuk transfusi?” tanya Evander sopan. “Tapi aku tidak memiliki uang untuk membeli, aku butuh menjual koin kuno koleksiku lebih dulu. Ini sangat langka, dimana aku bisa menjual cepat barang ini? Semua hartaku tenggelam bersama kapal.”


“Kau terluka di dalam? Kau butuh perawatan medis?” tanya Mike panik. Ia tidak melihat luka luar, mungkin karena Evander mengenakan jubah panjang. Tapi ia menerangkan dimana Evander bisa membeli darah. Dan Mike terpaksa melotot karena koin-koin yang ditunjukkan Evander di telapak tangan pucatnya.


Hm, beberapa koin Evander yang tak jadi dijual bersama kalungnya ternyata masih bisa menguntungkan. Evander memang sengaja menyimpan koin sisa yang terdiri dari, tiga koin emas dan lima koin perak itu di dalam kantong jubah. Rencananya untuk membayar awak kapal, agar mau kembali ke Transylvania jika penjelajahan waktunya berhasil.


Ternyata koin itu juga enggan kembali ke masa lalu. Evander malah harus menjualnya untuk ditukar dengan kepentingan lain di zaman ini. Karena, semua sisa uang dari penjualan kalung sudah diatasnamakan Ariana dengan bantuan kerabat Steven.

__ADS_1


Siapa sangka ia malah jatuh miskin di hari pertama gagal menjelajahi waktu?


***


__ADS_2