Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Hidupku Untukmu, Ana!


__ADS_3

“Evan sayang … siapa wanita ini?”


“Namaku Sheila, aku kekasih Evander!” Sheila terkikik geli setelah menjawab pertanyaan Ariana.


Ariana menaikkan satu alisnya, ekspresinya malas ketika menanggapi ucapan Sheila, “Aku bertanya pada suamiku, Nona Vampir! Kau tidak perlu menjelaskan siapa dirimu dan apa hubunganmu dengan Evan di depanku. Kau bukan hal penting yang harus aku waspadai!”


Sheila bersedekap dengan senyum mencemooh, “Jadi kau tau kalau aku adalah bagian dari makhluk yang tidak mati? Sementara kau hanya seorang mortal! Kebersamaanmu dengan Evander berbatas waktu, Ana. Suatu hari nanti kau akan pergi dari dunia ini, dari kehidupan Evander, dan saat itu tiba … kau tidak bisa mencegahku untuk memiliki suamimu yang tampan ini!”


Evander menghalangi Ariana yang sudah maju untuk membungkam mulut berbisa Sheila, mungkin dengan cara menampar atau menjambak! Evander lalu memeluk Ariana erat, membenamkan wajah istrinya di dada agar tidak bisa melihat Sheila. “Jangan habiskan tenagamu untuk melayani wanita ini!”


“Hm, rupanya kau terobsesi dengan suamiku ya? Sayang sekali kau bukan rival yang sepadan. Kau hanya vampir kesepian yang bisanya menggoda suami orang. Ketahuilah Sheila, suamiku tidak akan pernah jatuh hati padamu!” ujar Ariana sinis. Ia terpaksa berbicara dari balik tubuh suaminya.


Evander menukas tajam agar dua wanita di ruang tamu itu menghentikan perdebatan. “Sebaiknya kau pulang sekarang, Sheila! Sampaikan salamku untuk Peter, katakan aku akan berkunjung bersama istriku di lain kesempatan!”


“Kau mengusirku setelah semua bantuan yang aku berikan? Aku datang jauh-jauh ke desa ini atas permintaan Peter, mengantarkan hadiah untuk rumah barumu … dan ini balasannya?” tanya Sheila geram.


“Sheil, aku tidak pernah meminta bantuan apapun padamu. Kau yang datang menawarkannya padaku. Jika kau berharap aku akan mengganti bantuan yang kau berikan dengan menjadi kekasihmu … aku tidak bisa, aku sudah mengatakan ini padamu jauh-jauh hari. Mengertilah! Soal hadiah, kau bisa membawanya pulang!” jawab Evander, berusaha sabar.


Sheila mendengus, “Kau ternyata tak lebih brengsek daripada Darren! Setidaknya kau menghargai undangan Peter, Evander!”


“Aku tidak ada urusan apapun dengan Darren, apa yang sudah ia lakukan padamu sama sekali bukan tanggung jawabku! Soal Peter, aku akan menelponnya segera.”


Sheila berbicara dengan intonasi jijik, “Darren Constantine adalah Count Drakula keempat belas! Kalian bersaudara, pantas saja kalau kalian sama brengseknya!”


Evander membalik tubuhnya, menghadapi Sheila yang sedang getol menghinanya, “Apa kau tidak mendengarku? Aku tidak bertanggung jawab atas putusnya hubunganmu dengan Darren! Oh ya jangan berani menunjukkan kekuatan di depan istriku, Sheil! Aku tidak ingin kau menyesal, karena aku pasti membelanya!”


Mata Sheila sudah berubah semerah darah, giginya menahan bunyi gemeretak dan kedua tangannya mulai terkepal, menunjukkan emosinya yang sedang memuncak.


“Jadi kau lebih memilih membunuhku jika aku mengganggu istrimu, Evander? Apa kau lupa kita saudara satu ras?” tanya Sheila bernada anarkis. Ia bingung. Apakah pesona kecantikannya sudah luntur total hingga Evander sama sekali tidak ingin mempertimbangkan kehadirannya?


“Kenapa tidak? Aku memiliki alasan kuat untuk melakukan itu. Peter akan memahami masalah ini dengan mudah. Oleh karena itu, aku ingatkan padamu sekali lagi, jangan pernah berani mengusik istriku!”

__ADS_1


Sheila mendengus kasar, “Dengan senang hati aku akan menunggu kematian istrimu, Evander! Aku ingin melihatmu sengsara karena kehilangan cinta yang kau agungkan itu. Aku akan hadir di pemakaman Ana dengan satu truk bunga. Istrimu suka mawar, kan?”


“Sheil, cukup!” Evander membentak Sheila. Suaranya menekan dan ekspresinya sedingin es karena kehabisan kesabaran.


Tanpa takut, Sheila melanjutkan ucapannya. “Aku akan menghangatkan ranjangmu dan menjadi pelipur lara di malam pertama kau kehilangan Ana! Aku janji kau akan lupa pada istri mortalmu saat itu juga ….”


Sheila lalu tertawa-tawa, mengejek dan memprovokasi. Matanya berkilat menantang ketika Ariana berusaha lepas dari Evander. Gigi taringnya terlihat sangat runcing, dan ia terus saja menyeringai sinis.


Ariana ingin sekali merobek mulut tajam Sheila. Tapi Evander terlalu erat merangkul bahunya, sehingga ia tidak bisa bergerak.


“Dasar wanita murahan!” balas Ariana sengit. “Aku beritahu satu hal mengenai suamiku, Evan hanya suka pada perawan suci. Jika kau sudah sering membuka paha mulusmu itu untuk pria lain … sampai matipun Evander tidak akan bertekuk lutut padamu! Jangan terlalu percaya diri Sheila, kau sama sekali bukan selera Evander!”


Mengingat ia bukan perawan suci, Sheila terbakar emosi. Ia langsung melesat cepat ke arah Ariana. Tangannya yang mengepal, siap menghancurkan perut Ariana dengan tinjuan keras. Ia ingin membunuh calon bayi Ariana setelah mendengar detak jantungnya. Sebagai pembalasan penghinaan yang diterimanya.


Namun, sebelum tangan Sheila menyentuh perut Ariana, Evander mendorong tubuh istrinya hingga bergeser selangkah. Tinju Sheila akhirnya mendarat di perut bawah Evander.


Lalu, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata Ariana, Evander sudah menangkap tangan Sheila. Detik berikutnya, tubuh Sheila terangkat dari lantai, lalu terbanting di lantai. Menimbulkan suara debam cukup keras dan juga retakan di bawah lututnya.


“Jangan mengira dirimu hebat, Sheil! Aku memang tidak sering keluar kastil, tapi bukan berarti aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan vampir petarung sepertimu! Sebaiknya kau minta maaf pada istriku!” seru Evander murka. Matanya sudah sewarna dengan mata Sheila. Merah membara. Evander mengamati gerak-gerik Sheila yang baru saja terbanting dalam posisi tengkurap, nyaris mencium ujung jari kakinya.


Sheila segera berdiri, lalu merapikan dandanannya seraya terkekeh senang. “Calon suami masa depanku memang bisa diandalkan!”


“Calon suami? Kau sedang berhalusinasi?!” ejek Ariana dengan seulas senyum meremehkan.


“Kita lihat saja nanti, Ana! Ah ya, aku lupa! Tentu saja kau tidak akan bisa melihat kebersamaan kami nanti, karena kau telah mati. Tapi … aku akan mengantarkan undangan ke nisanmu ketika aku menikah dengan mantan suamimu, sebagai penghormatan!” ledek Sheila memprovokasi.


Sheila keluar rumah Evander dan berubah wujud serupa dengan anjing, lalu lolongan panjang serigala terdengar menjauh. Sheila pun menghilang dalam hitungan detik.


Ariana bergidik ngeri, “Apa aku harus berubah menjadi vampir agar bisa melawannya, Evan?”


“Melawan vampir petarung?”

__ADS_1


“Wanita binal itu harus melangkahi mayatku jika ingin merebutmu dariku!” ujar Ariana berapi-api. Marahnya langsung meluap karena provokasi Sheila. “Aku sangat ingin menghajarnya dengan kedua tanganku!”


Evander membopong Ariana ke dalam kamar, “Tidak perlu! Temukan saja ramuan obat yang bisa menyamakan metabolisme tubuh vampir menjadi seperti manusia biasa, aku ingin menua bersamamu, Ana! Aku yakin jika wajahku penuh keriput, ketampananku akan luntur. Dengan begitu, tidak ada lagi wanita yang berminat menjadi pasanganku!”


“Aku janji akan menemukan ramuan obat itu! Aku akan berusaha mengubahmu menjadi manusia, aku akan melakukan penelitian secepatnya! Mungkin akan sulit karena kau darah murni, tapi tidak ada yang mustahil,” kata Ariana seraya mengecup pipi suaminya.


Evander menurunkan Ariana, mendudukkannya di tepi ranjang. “Mana baju hangatmu? Kita akan keluar cari angin! Jangan membahas Sheila lagi agar momen indah kita tidak rusak! Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Ana! Selama aku masih hidup, tidak ada satu vampir pun yang bisa menyentuh kulitmu! Kau tidak perlu khawatir. Aku janji!”


Ariana kembali mengenakan baju hangatnya, “Baiklah! Apa kita akan bercinta di bawah bintang malam ini?”


“Hm, bagaimana jika bercinta di kebun anggur? Atau di pondok tengah hutan? Atau sambil mandi di sungai buatan?” goda Evander dengan mata mengedip nakal.


“Astaga Evan, ide tempat bercinta kita sangat banyak!” Ariana menggeleng sambil berdecak.


“Jadwalnya pun sangat padat!” sahut Evander dengan seringai penuh gairah.


“Aku tidak ingin kelelahan!”


Evander tersenyum lembut, “Tentu saja tidak, My Love! Aku pastikan kau dan bayimu tetap nyaman. Aku ahli menahan diri meski harus tersiksa sendiri.”


“Aku mencintaimu, Evan!”


“Hidupku untukmu, Ana!”


T A M A T


***


^^^Hai kak, kisah cinta Evander - Ariana sampai sini aja ya! Terima kasih tak terkira untuk semua dukungan pada novel pendek ini, i love u full.^^^


^^^Novel selanjutnya sedang dipikirkan hehehe, bisa follow author di NT untuk mendapatkan notifikasi karya terbaru. Bisa gabung di GC NT untuk silaturahmi dengan reader lain atau follow IG saya : al_orchida66^^^

__ADS_1


^^^Dah dulu ya, ^^^


^^^cium jauh dari Surabaya - Al^^^


__ADS_2