
Evander tidak tahan melihat Ariana tidur pulas sementara dirinya hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Otaknya kembali bekerja untuk mengisi malam pengantin yang masih panjang. Ia mendapatkan ide menggelitiki hidung Ariana dengan ujung selimut.
Setelah Ariana bergerak gelisah karena terganggu, Evander dengan jahil menyentuhkan ujung jarinya tepat di puncak dada Ariana. Menggelitik berputar searah jarum jam beberapa kali, berhenti untuk menekan lembut ke dalam dan mempermainkannya lagi dengan sentuhan ringan. Terus diulang hingga Ariana akhirnya benar-benar bangun dan menyingkirkan tangannya yang masih ingin menjajah kekenyalan istrinya.
“Berapa lama aku tidur?” tanya Ariana. Udara dingin menyentuh kulitnya yang terbuka. Bahunya tidak tertutup selimut, tapi Evander memeluknya erat sebagai penghangat yang … dingin?
“Entahlah, aku rasa belum satu jam! Kau kedinginan?” tanya Evander di dekat telinganya. “Aku punya ide bagus untuk menghangatkan badan. Kau mau mendengarnya?”
Ariana menatap mata Evander yang mengisyaratkan ajakan untuk bercinta. “Belum satu jam ya? Dan kau sudah memiliki ide baru untuk memanaskan suasana?”
“Yeah … kita belum mencoba lokasi lain, My Love. Kau tau, aku menciptakan banyak tempat romantis untuk bercinta di sekitar pondokmu! Kita bisa keliling taman untuk pemanasan, ada beberapa hal yang menarik di ujung taman!”
Memikirkan berjalan-jalan bersama Evander di taman tanpa mengenakan pakaian sungguh membuat Ariana tergelak. “Kau konyol, Evan!”
“Tidak ada yang akan melihat kita, ini kawasan pribadi. Atau mungkin kau lebih suka kita melakukannya di dekat tebing, sambil melihat laut? Hm … bagaimana jika bercinta di atas kapal?” tanya Evander dengan mimik serius tapi tetap menyunggingkan senyum jenaka untuk menggoda Ariana.
Astaga! Ariana ingin sekali menolak ide-ide Evander yang sedikit keterlaluan. Ariana menjawab sambil cekikikan, “Fantasimu sungguh luar biasa, Evan! Kau berhasil membuatku takjub!”
Evander mencium bibir Ariana lembut, lalu meneruskannya dengan sedikit ber-naf-su, lalu tertawa terbahak-bahak. “Aku pikir itu ide yang cukup kreatif, kau akan menyukainya! Kita patut mencoba hal-hal baru yang mengasyikkan bersama-sama, Ana! Ranjang … sedikit membosankan untukku!”
“Tidak, idemu pasti akan menyiksaku!” … kau memberikan kenikmatan terlalu banyak, Evan! Aku bisa semakin serakah. Hanya saja, Ariana melanjutkan kalimatnya di dalam hati.
Evander menaikkan sebelah alisnya, “Kau menikmatinya!”
“Kau tidak pernah puas!” sergah Ariana. Menutupi dirinya sendiri yang juga tidak pernah puas ketika bersama Evander.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa puas denganmu, kau wanita-ku seutuhnya! Aku mencintaimu, katakan padaku kalau kau tidak mencintaiku maka aku akan berhenti mengajakmu bercinta sekarang juga!” Evander meregangkan pelukan untuk melihat raut ceria Ariana.
“Oh Evan … kau tau aku sangat mencintaimu!” kata Ariana menyurukkan kepala ke leher Evander. “Jadi apa saja idemu untuk mengisi malam ini?”
Hati Ariana mengembang dan dipenuhi cinta untuk Evander. Ia sudah menyerah pada rayuan Sang Count dan semua rencana pernikahan mereka. Tapi masih belum siap untuk melepas Evander pergi beberapa minggu lagi.
Tapi malam ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan tidur atau berdebat dengan Evander. Ariana ingin menikmati kebersamaan dalam cinta semalam penuh.
“Bagaimana jika menikmati malam ini di haluan kapal? Melihat bintang.”
“Sambil telanjang?” tanya Ariana mengulum senyum, lalu mengecup leher Evander sebagai jawaban setuju.
Evander menunduk dan mengecup Ariana, menggigit bibir bagian bawah istrinya dengan gemas. “Yeah … dan bergoyang!”
“Dan bergoyang?” tanya Ariana kembali cekikikan.
Ariana menggeleng sambil mengerang, “Aku tidak tau tapi … baiklah, biarkan aku berpakaian sebentar.”
“Aku akan menyiapkan kapalnya! Tidak perlu membawa apapun, Ana! Semua keperluan kita sudah ada di dalam kapal,” ujar Evander dengan satu seringai nakal.
“Kau sudah merencanakannya?” Ariana menurunkan selimut lalu mencari pakaian tidur hadiah dari Evander yang dikeluarkannya dari kotak dua jam lalu.
“Tentu saja, malam pengantin harus berisi hal-hal menakjubkan yang tak terlupakan, Ana! Kita akan mengingat momen romantis ini setiap saat,” jelas Evander percaya diri. Ia memang menyiapkan sejuta ide untuk menghabiskan empat minggu yang mengesankan untuk dinikmati bersama Ariana.
Dua puluh menit kemudian, Evander sudah mengemudikan kapal kecilnya dengan perasaan bahagia, sekaligus bangga. Pengalamannya tersesat di masa depan ternyata memberikan banyak keuntungan. Ia bisa menyetir mobil, bisa membawa kapal ke tengah laut, bisa menikmati kemajuan teknologi yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
__ADS_1
Evander bahkan tidak mengira ia akan jatuh cinta lagi setelah sekian lama menyendiri.
Sayangnya, situasi yang dihadapinya bersama Ariana cukup rumit. Seandainya tidak ada misi yang harus diselesaikan, Evander tidak akan keberatan untuk tinggal bersama Ariana. Seandainya Ayah Ariana bisa menerima keadaan dirinya yang bukan manusia normal, Evander pasti berusaha beradaptasi dalam dunia modern ini demi Ariana.
Sebuah penerimaan akan mengubah segalanya, begitu juga dengan penolakan. Evander tidak ingin diburu di zaman ini dan mati konyol tanpa bisa melakukan apapun. Terlebih lagi, yang melakukan itu adalah mertuanya sendiri. Lebih baik jika ia mencoba mengadu takdirnya sekali lagi untuk kembali ke masa lalu, ke tempat seharusnya Count Drakula berada.
“Kau melamun?” Ariana memeluk Evander dari belakang. Sang Count baru saja mematikan mesin kapal, tapi diam saja tanpa melakukan hal lain.
Mereka kini terombang-ambing di tengah laut berombak kecil, cukup tenang dan aman. Udara tidak terlalu dingin, malam pun cerah bertabur bintang. Bulan menggantung sayu di langit sebagai hiasan. Indah sekali.
Evander seketika tersenyum, ia tidak boleh menampakkan kegalauan ataupun kesedihan di depan Ariana. Evander harus membahagiakan Ariana di sisa waktu mereka sebelum bulan iblis tiba.
“Mau makan? Kau belum makan apapun dari sejak pemberkatan!”
“Aku tidak ingin makan, aku ingin melihat bulan. Kau benar … ini sangat mempesona dan romantis, Evan!” Ariana mendongak menatap langit malam.
Melihat itu, Evander mengusap bekas gigitannya di leher Ariana. “Kau akan baik-baik saja, jangan khawatirkan bekas gigitan ini!”
“Yeah, aku percaya padamu! Aku sama sekali tidak menyangka kalau rasa gigitanmu luar biasa erotis,” ujar Ariana dengan kerlingan nakal.
“Itu karena racunnya hanya sedikit. Beberapa orang akan mengalami halusinasi dan mimpi buruk berkepanjangan, demam dan juga tersiksa. Pola hidup akan berubah ketika racun jahat vampir mengambil alih seluruh metabolisme tubuh manusianya.”
“Seperti tidur di siang hari dan berburu di malam hari?” tanya Ariana. “Aku tidak akan berubah jadi sepertimu, kan?”
Evander memeluk dan mencium puncak kepala Ariana. “Aku lebih suka kau tetap normal sebagai manusia, Ana.”
__ADS_1
***