Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Mandi Busa Aromatik


__ADS_3

Selama di rumah sakit, Ariana lebih memperhatikan gadis yang menjadi pasiennya, yang ternyata bertempat tinggal di kawasan tak jauh dari pondoknya. Gadis itu sudah selesai diberikan darah transfusi, tapi masih perlu istirahat total satu hari agar kondisinya benar-benar membaik setelah keluar dari rumah sakit.


Banyaknya pekerjaan yang harus ditangani membuat jam kerja Ariana tidak bisa berakhir sore. Ia harus menangani operasi bedah berat dan butuh waktu setidaknya tiga jam. Ariana mengeluh dalam hati, stok darah di lemari pendinginnya tidak akan cukup untuk makan malam Evander.


Seharusnya Ariana membeli lebih banyak darah kemarin, sebagai persiapan karena jam kerjanya kadang tidak terduga. Pondoknya cukup jauh dari rumah sakit dan sekarang ia mulai takut kalau vampir yang tinggal bersamanya keluyuran untuk mencari mangsa.


Evander mungkin benar, apa yang dilakukannya hanyalah mencari makan. Tapi berapa banyak yang sudah menjadi santapan Evander sekarang? Hanya satu gadis, atau lebih banyak lagi? Ariana sampai mengecek seluruh data pasien rumah sakit, memeriksa apakah ada yang bergejala sama dengan pasien yang ditanganinya. Ia belum bisa terlalu percaya pada Evander.


Dan untungnya hanya satu, dan semoga tidak bertambah, dan gadis itu tidak akan pernah didatangi Evander lagi!


Namun, jika gadis ini sekarang ada di rumah sakit dan Evander di pondoknya dalam kondisi kelaparan, bukan mustahil vampir penjelajah waktu itu akan mengingkari janjinya. Evander pasti akan berburu! Ariana sungguh dalam dilema tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Bagaimana kondisi pasienmu?" tanya dr. Steven setelah Ariana bebas dari pekerjaannya.


"Baik, besok bisa pulang. Tidak ada tanda-tanda medis yang menunjukkan kalau dia sakit. Ada keluarga yang menjaga dan perawat yang mengontrol perkembangan kesehatannya, aku bisa pulang dan istirahat di rumah. Aku lelah," ujar Ariana sembari memijat tengkuknya yang terasa kaku.


Dokter Steven berjalan mengiringi Ariana keluar, menyusuri lorong rumah sakit yang lengang. Hari telah malam, dan hal itu membuat Ariana semakin gelisah.


"Ehm … Evander masih tinggal di pondokmu?" tanya dr. Steven


"Ya, dia masih belum menemukan jalan pulang. Aku berharap ada seseorang yang membantunya mendapatkan informasi, bukankah dia vampir yang mengenaskan?"


"Berapa banyak darah yang dikonsumsinya setiap hari?"


Ariana menarik nafas berat sebelum mengeluhkan pengeluarannya, "Aku membawakan lima setiap hari, tapi Evander meminta enam hingga tujuh kantong. Darah tidak murah, Steven! Jika dia lama tinggal di pondokku, yakinlah … aku akan menumpuk hutang dimana-mana."

__ADS_1


"Kau curiga dengan luka pasienmu? Apa Evander pelakunya?"


"Aku belum pernah melihat langsung bekas gigitan vampir, tapi memang tidak ada alasan untuk tidak curiga pada Evander. Terlebih gadis itu adalah tetangga jauhku," terang Ariana muram. "Sejujurnya aku khawatir kalau Evander berburu lagi malam ini, aku pulang sangat terlambat dan di rumah tidak ada persediaan darah."


"Kau berharap Evander bisa menahan rasa hausnya?"


"Yeah, apa salahnya dengan berharap, Steven?"


"Bolehlah aku berkenalan dengannya? Aku akan berkunjung di akhir minggu jika kau tak keberatan!"


"Aku akan senang sekali, Steven! Kau memang harus melihatnya langsung, mungkin kau bisa meneliti giginya, mengambil darahnya untuk dicek atau mengamati kebiasaannya pada saat siang dan malam hari!"


Dokter Steven berhenti sebentar, menatap Ariana yang juga berhenti karena mereka sudah sampai parkiran. "Apa dia ramah?"


"Sangat ramah. Sebelumnya memang agak dingin karena kami belum kenal, tapi setelah itu dia pria yang cukup baik … ya aku rasa begitu," kata Ariana, dan entah kenapa dia merona, merasa panas pada kedua pipinya.


"Oke! Sampai ketemu besok, Steven!" Ariana masuk ke dalam mobil, membunyikan klakson sebagai ungkapan perpisahan. Ia melaju cepat menuju pondoknya, seperti seorang ibu yang takut anaknya akan mati jika tidak segera disusui.


Pondok Ariana terlihat lebih bersih dan rapi dari luar. Sepertinya Evander benar-benar menepati janji, bekerja sesuai kemampuan pada dini hari ketika Ariana terburu-buru ke rumah sakit.


Ariana tersenyum, ada kebahagiaan kecil saat membayangkan ada yang akan menyambutnya sebentar lagi.


"Evan!" Ariana membuka pintu yang tidak terkunci. Rumahnya sepi seperti biasanya, tapi tidak dalam keadaan gelap. "Evander … kau di rumah?"


Huh, Ariana langsung kesal karena tidak ada sahutan. Ia meletakkan darah dalam lemari pendingin, lalu membuka bajunya di depan kamar mandi. Ariana ingin berendam air hangat lalu tidur. Ia tidak peduli dengan Evander yang mungkin sedang berburu. Hati kecilnya mengatakan kalau pria tampan berambut perak itu pasti akan pulang ke pondoknya nanti.

__ADS_1


Ariana menggeser pintu kamar mandi dan melangkah masuk, lalu menjerit keras karena kaget. Di dalam bathtub-nya, Evander sedang berendam dengan banyak busa dan minyak aromatik miliknya. Ariana spontan meraih handuk kamar mandi untuk menutupi tubuh telanjangnya, "Evan, apa yang kau lakukan?"


"Aku sedang membersihkan diriku, My Lady. Mau bergabung denganku disini? Bak mandi ini cukup besar untuk kita berdua." Evander menatap penuh minat pada paha Ariana yang tak tertutupi handuk. Tangan Evander sedang memainkan busa, menggosok pelan pada tubuhnya, persis seperti pria yang sedang syuting iklan sabun. Seksi dan menggoda! Ya ampun!


Ariana nyaris tak berkedip menatap bahu Evander yang sedang bersandar, juga pada salah satu kaki yang dengan tidak sopannya menggantung di bibir bathtub. Benar-benar pose yang mampu membuat wanita berpikiran nakal.


Ariana sungguh ingin masuk ke dalam bathtub dan duduk di depan Evander, bersandar di dada bidangnya sambil … bercinta?


Ya Tuhan, Ariana merasa dia mulai gila karena terlalu banyak membayangkan beradegan mesum bersama Count Drakula!


Ariana keluar kamar mandi dengan wajah panas. Sialnya, si vampir brengsek itu menertawakan dirinya yang tampak bodoh karena menatap terlalu lama, pun dengan ekspresi mendamba. Ariana mengutuk Evander yang berani menggodanya dengan sangat mempesona.


Ketika akhirnya Ariana mendapatkan kesempatan untuk mandi, ia memutuskan tidak jadi berendam. Ariana hanya mandi kilat dan segera berganti baju. Ia tidak makan malam karena masih kenyang.


Ariana mengucapkan selamat malam pada Evander sebelum masuk kamar. Ia terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Ariana tidak perlu merasa khawatir karena pria bodoh itu ada di pondoknya, tidak sedang berburu seperti yang ia duga.


Tidur Ariana terlalu singkat. Ia harus pergi ke rumah sakit di waktu pagi untuk kembali bekerja. Ia meninggalkan Evander yang tidur di dalam lemari karena mendapatkan kabar buruk. Pasien yang kemarin sudah ia nyatakan sehat kembali sakit, harus ditransfusi lagi dengan beberapa kantong darah.


Setibanya di kamar pasien, Ariana disambut dr. Steven. Ia langsung membuka syal gadis yang terbaring dengan wajah pucat. Ia mendapati luka gigitan gadis itu kembali terbuka dan basah. Ariana langsung menduga kalau Evander pelakunya. Hanya saja, kapan Evander datang untuk menghisap darah pasiennya?


Ariana hanya meninggalkan gadis itu selama tiga jam untuk melakukan operasi, lalu pulang. Dan menemukan Evander ada di rumah. Gadis muda yang jadi pasiennya juga ditunggui salah satu keluarganya.


Apakah Evander sungguh datang ke rumah sakit hanya untuk meminum darah gadis itu? Lalu kenapa vampir sialan itu tak bercerita apapun padanya semalam?


"Aku butuh belati perak, Steven!"

__ADS_1


***


__ADS_2