
Minggu berikutnya, kapal khusus pesanan Evander sudah selesai dibuat dan siap dipakai berlayar ke laut lepas. Kapal itu kini bersandar di dermaga tak jauh dari pantai, hanya beberapa kilometer dari pondok Ariana.
Evander seharusnya bahagia karena pada akhirnya hari yang ditunggunya tiba. Besok, bulan iblis akan muncul kembali, dan ia akan pergi meninggalkan Ariana untuk kembali ke masa lalu.
Alih-alih merasa bahagia, Evander justru merasa sakit dan luar biasa kalut. Ia tidak percaya kalau pondok Douglas dan Ariana adalah dua hal yang sangat sulit ditinggalkan. Evander sudah berusaha sebaik mungkin mengatasi pergulatan batinnya sendirian. Ia ingin Ariana kuat karena melihatnya yang juga kuat dan mampu mengatasi kenyataan pahit perpisahan.
Evander belum beranjak dari ranjang, ia masih memandangi istrinya yang lelap karena kelelahan setelah bercinta dua kali tanpa istirahat. Evander hanya mencium pipi Ariana sekilas, niatnya untuk membangunkan wanita yang membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya itu diurungkan.
Padahal, ia ingin bercinta sekali lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali karena Evander tidak pernah merasa puas ketika bersama istrinya.
Ya, Evander sama sekali tidak puas hari ini. Ia ingin merasakan istrinya lebih banyak di malam terakhir mereka bersama. Evander ingin mengenang rasa wanitanya untuk besok, lusa, sepanjang waktu, selamanya.
“Ada apa, Evan?” tanya Ariana malas ketika menyadari Evander melepas pelukan dan hendak turun dari ranjang.
“Tidurlah, aku harus mengerjakan sesuatu di dermaga,” jawab Evander. Ia memang harus membuat persiapan akhir setelah memetakan rute perjalanannya. Ariana tak menjawab, tapi melanjutkan tidurnya setelah bergumam tak jelas.
Jika penjelajahan waktu Evander berhasil, ia akan kembali ke masa lalu sekitar 24 jam dari sekarang. Ramalan mengatakan ia akan tiba di tempat yang sama, di malam yang sama ketika kapalnya karam. Jadi, saat itu juga Evander harus meyakinkan semua awak kapal untuk menjauhi rute yang seharusnya, bisa jadi ia akan mengarahkan mereka agar kembali lagi ke Transylvania. Demi keselamatan.
Evander juga tidak boleh berada dalam peti seperti sebelumnya, ia harus memperingatkan kapten kapal agar tidak sampai masuk ke dalam pusat badai. Huh, Evander sedikit menyesal karena sudah menghisap darah 12 awak kapal dalam perjalanan menuju London beberapa waktu lalu.
Jika mereka yang mati masih hidup, setidaknya bisa membantu menyelamatkan kapal agar tidak sampai karam, entah bagaimana caranya.
Banyak hal yang mengganggu pikiran Evander. Terutama ketika ia memikirkan istrinya yang akan tinggal sendirian di pondok itu setelah kepergiannya. Ariana pasti akan sangat sedih. Tapi Evander sudah memberitahu Steven untuk mengajak istrinya tinggal di pondok Ariana untuk sementara waktu.
__ADS_1
Evander mengatakan pada Ariana kalau istrinya itu mungkin akan mendapatkan gejala perubahan kebiasaan. Hal itu disebabkan karena racun yang diberikan Evander berjalan lambat dalam tubuh Ariana. Ia sengaja memberikan racun dalam jumlah sedikit agar Ariana tetap bertahan hidup ketika hamil anaknya.
Mengandung bayi vampir tidak pernah mudah, Ariana bisa mati kehabisan darah sebelum persalinan jika tidak memiliki racun vampir dalam tubuhnya. Evander mempersiapkan istrinya dari kemungkinan buruk tersebut.
Terakhir, Evander hanya bisa berharap bibitnya akan tumbuh dalam rahim Ariana. Jika itu terjadi, Evander baru bisa bertemu anaknya seribu tahun lagi, itupun jika ia tidak mati diburu saat menjalankan misi di London.
Ah, Evander sungguh ingin memberikan anak, sebagai hadiah terakhir pada istrinya agar tidak lagi kesepian. Tapi entahlah … setelah bercinta dua kali tadi, istrinya mengeluhkan kram perut. Gejala yang umum dipahami sebagai pe-em-es pada wanita.
Namun, tidak ada yang tidak mungkin bagi Evander. Kalau ia bisa sampai di pondok Ariana melewati kejadian mustahil, maka tidak mustahil juga bagi Ariana hamil anaknya. Meski peluangnya sangat kecil.
Sampai dermaga, Evander memeriksa kapal dengan teliti, diulang sekali lagi dan akhirnya merasa puas dengan hasilnya. Semua telah siap untuk perjalanan besok. Kecuali hatinya.
Evander kembali ke pondok, ke kamar Ariana untuk memeluk istrinya yang masih lelap dan bermimpi.
“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Ariana dengan suara parau. Ia terbangun dan menatap Evander dengan wajah sangat mengantuk.
“Ya, aku mencintaimu, Ana! Selamanya,” bisik Evander sambil membelai pipi istrinya.
Ariana langsung masuk ke dalam pelukan Evander dan melanjutkan tidurnya. Menolak ingat kalau malam ini adalah terakhir ia bisa tidur dengan Sang Count, kalau hanya ada sisa sedikit waktu untuk bersama suami tercintanya.
Ariana memeluk lebih erat, mengunci Evander dalam dekapan, seolah tak mau ditinggalkan sendiri. Ia masih ingin memiliki pria itu di sini, di sisinya, selamanya.
**
__ADS_1
Senja menggelap dengan cepat pada keesokan harinya. Evander dan Ariana masih berpelukan erat, saling menatap dalam kebisuan. Air mata membasahi wajah mereka, dan isakan sedih Ariana tak lagi terelak.
Ah, Ariana dan Evander tidak pernah memperkirakan besarnya cinta yang tumbuh di antara mereka dalam waktu yang begitu singkat. Bagaimana mungkin mereka bisa dengan mudah saling melepaskan? Sementara hati mereka sudah menyatu padu.
Pada akhirnya, mereka berpelukan sebagai suami-istri untuk terakhir kalinya dengan tangan dan tubuh. Selanjutnya mereka akan terus saling memeluk dan mencintai hanya dengan jiwa, selamanya.
“Biarkan seperti ini lima menit lagi, Evan! Aku masih ingin memelukmu, kau tahu tidak ada lagi esok di sini untukku, hatiku rasanya mati,” ucap Ariana perih.
“Ah … Ana, kau adalah hatiku! Aku tidak akan pernah melupakanmu, aku akan mencintaimu sampai takdir mempertemukan kita lagi di sini,” bisik Evander menenangkan.
Lima menit yang diminta Ariana sudah berkembang menjadi lima belas menit. Mereka akhirnya mengurai pelukan dengan banyak ciuman dan kata cinta.
Dokter Steven dan istrinya mengingatkan Evander untuk segera berangkat untuk mengejar bulan iblis yang akan muncul tengah malam nanti. Karena, pada saat itu tiba, Evander harus sudah ada di tengah laut lepas untuk menyeberangi celah waktu.
“Aku berangkat, My Love!” pamit Evander di dermaga. Ia mencium tangan istrinya sambil berlutut, layaknya bangsawan muda yang sedang menyatakan cinta . Evander lalu menitipkan Ariana pada Steven dan istrinya sebelum melangkah masuk ke dalam kapal.
Cuaca sangat cerah, bulan purnama bersinar terang di langit, mengiringi kepergian kapal Evander. Namun, kecerahan itu tidak menular pada hati Evander. Ia menoleh beberapa kali ke dermaga untuk melihat Ariana yang berdiri rapuh di antara Steven dan istrinya. Memandang dengan mata panas dan hati hancur.
Sudah terlalu banyak kisah perpisahan yang Evander lalui selama 400 tahun hidupnya, tapi tidak ada yang memberinya kesedihan mendalam seperti ini. Ia bahkan menjulurkan lehernya sekali lagi untuk melihat Ariana yang semakin mengecil seiring menjauhnya jarak mereka.
Kemudian, Evander dibuat panik ketika Ariana jatuh berlutut dan kehilangan kesadaran. Kapal Evander telah melewati garis pantai, beban berat mendera dadanya, dan ia juga jatuh berlutut untuk sesaat lamanya.
***
__ADS_1