Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Mencintai dan Kehilangan


__ADS_3

Selama tiga minggu berikutnya, cinta Ariana dan Evander mekar dengan indahnya, seperti mawar yang mendominasi taman bunga di sebelah pondoknya.


Ariana tidak pernah sebahagia ini seumur hidupnya. Evander memberikan seluruh dirinya yang penuh cinta untuk Ariana. Waktu mereka yang singkat dimanfaatkan dengan saling berbagi keceriaan dan kasih sayang.


Namun, di beberapa malam terakhir setelah tiga minggu yang sangat bahagia, Ariana mulai merasakan penderitaan. Menyadari bahwa semua kebahagiaan yang didapatnya dari Evander semakin menipis jumlahnya. Terenggut oleh waktu yang tinggal beberapa hari saja.


Hanya tinggal menunggu waktu, dan semua perasaan yang membuatnya ceria dan banyak tertawa akan menghilang. Berganti dengan air mata yang entah sampai kapan bisa mengering. Ariana bahkan tak pernah setakut dan semenderita ini sebelumnya.


Ariana tidak pernah lagi mempertanyakan keputusan Evander untuk kembali ke negerinya. Ia memahami. Ia tidak ingin mengubah suasana bahagia mereka menjadi suram. Selama Evander masih bersamanya, Ariana tetap akan tampak ceria meski hatinya mulai rapuh dan hancur.


Evander bukannya tidak tahu apa yang dirasakan Ariana, ia juga sedang menahan rautnya yang dingin untuk tetap bisa tersenyum untuk istri tercintanya. Ia tidak ingin menorehkan luka di hati Ariana sebelum waktunya tiba.


“Apa yang sedang kau baca?” tanya Ariana bergelayut manja di lengan Evander. Memasang wajah cerah meski sebenarnya sedang muram karena layar monitor komputer di depan Evander menunjukkan ramalan jadwal kedatangan bulan iblis.


“Aku hanya mencari literatur yang membahas kesalahan perhitungan bulan iblis, mengenai pergeseran semesta dan juga celah waktu yang ditimbulkannya. Hanya memeriksa, sekali lagi … untuk memastikan!”


Evander menarik Ariana agar masuk ke dalam pelukan. “Apa aku salah karena memaksamu melakukan semua ini, Ana? Menjadikanmu seorang istri hanya dalam beberapa minggu saja? Memaksamu untuk bersamaku meski pernikahan kita tidak memiliki masa depan?”


Ariana menyatukan pandangan, matanya menangkap kesedihan di wajah Evander. “Mengapa kau bertanya demikian setelah kita menjalani pernikahan ini, Evan? Tidak ada yang bisa di ubah lagi … bagiku tidak ada penyesalan, aku menikah denganmu karena cinta. Dan aku siap dengan segala resikonya.”

__ADS_1


“Aku memiliki Diane di masa lalu tidak dalam waktu lama, hanya beberapa minggu saja. Aku kehilangan Diane selamanya, tapi aku memiliki kenangan indah yang tak pernah bisa aku lupakan, Ana! Rasanya sangat sakit ketika ia pergi, tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku merasa mendapatkan anugrah ketika takdir membawa Diane padaku, meskipun waktunya sangat singkat. Cerita ini tidak jauh beda dengan kita, bukan? Aku jadi bertanya-tanya, apakah aku salah karena menikahimu?”


Ariana membeku, sungguh ia tidak ingin membahas sesuatu yang berbau perpisahan. Tema obrolan itu sudah mati-matian dihindarinya selama tiga minggu. Ia tidak ingin kedapatan menangis karena tidak ingin ditinggal suaminya pergi.


Namun, Ariana terlanjur terperangkap dalam pelukan Evander. Ia tidak bisa melarikan diri untuk menghindari topik menyakitkan tersebut. Lebih parah, air matanya mulai menggenang, menggantung di bulu mata lentiknya dan siap jatuh kapan saja.


Evander menggeleng keras seraya mengusap air mata itu dengan bibirnya, dengan kecupan di sekitar mata dan hidung Ariana. “Jangan, My Love! Jangan menangis!”


Ariana menutup matanya, terisak lirih karena sesak yang tidak mampu ditahan. “Kau tidak salah, Evan! Sama sekali tidak salah. Menikah denganmu selama tiga minggu ini adalah hal terindah yang pernah aku rasakan selama hidup, aku tidak bisa membandingkannya dengan apapun di dunia ini. Memilikimu adalah kebahagiaan sejati, semua sempurna. Mungkin Tuhan memilihkan takdir singkat ini untuk mengganti rasa sepi yang sering aku keluhkan, kau adalah anugrah untukku.”


Evander menyahut pelan, “Aku tidak pernah menyangka kalau aku mencintaimu sebesar ini, Ana. Aku berusaha menghentikan waktu dengan menyingkirkan semua jam dinding di pondok ini. Aku memanipulasi pikiranku sendiri karena tidak ingin berpisah denganmu … terlalu cepat. Ya, sejujurnya aku masih ingin di sini bersamamu!”


“Aku ingin merekam setiap waktu dalam ingatanku tanpa terbebani dengan detik-detik jam dinding yang mengejekku, Ana! Aku ingin mengingatmu tanpa batasan waktu,” ucap Evan sambil menyusurkan jarinya di pipi Ariana hingga turun ke rahang dan leher. Membersihkan bekas basah air mata Ariana.


“Kau memanjakanku seperti seorang ratu, Evan! Aku tidak tahu apakah akan ada pria lain yang bisa menggantikan dirimu setelah ini,” gumam Ariana parau. Ia tak yakin bisa jatuh cinta lagi sebesar ini pada pria lain setelah Evander pergi.


“Andai aku bisa membawamu, Ana! Tapi tetap saja aku tidak bisa membayangkan apakah kau akan bisa beradaptasi dengan cara hidup manusia abad kesepuluh. Aku tidak memiliki mobil, kau akan kemana-mana naik kereta kuda. Tidak ada televisi, ponsel dan sebagainya. Dan bayangkan kau hidup di kastil yang berisi banyak vampir. Meskipun kita tidak tinggal di kastil Transylvania, tapi sisi manusiamu akan menjadi masalah besar dalam keluarga besar Count Drakula. Nyawamu terancam setiap detiknya!”


“Ya … aku memahami itu, Evan! Tidak perlu dibahas lebih dalam lagi. Intinya kau tidak bisa tinggal di sini karena satu alasan, sama mustahilnya denganku yang memaksa ikut menjelajahi waktu bersamamu untuk pergi ke masa lalu,” tukas Ariana menutup diskusi. Ia tahu Evander hanya menakutinya dengan membahas kehidupan yang tidak nyaman di masa lalu.

__ADS_1


Evander mengecup tangan Ariana, “Takdir langit membuka lorong waktu dan mempertemukan kita, lalu memisahkan kita. Jika Tuhan masih ingin kita bersama, kita pasti akan dipertemukan lagi untuk kedua kalinya, Ana.”


“Sudahlah, Evan! Jangan berbicara yang membuatku berharap lebih pada Tuhan. Yah … meski aku masih berdoa kalau Tuhan akan kasihan padaku dan menghalangimu kembali ke masa lalu,” tukas Ariana dengan senyum sarat kasih sayang.


“Jadi kau benar-benar ikhlas dengan kepergianku?”


Ariana mengangguk. “Ya pergilah, aku akan menjalani hidup yang seharusnya di abad dua puluh ini.”


“Seperti apa yang dikatakan filsuf, aku lupa siapa namanya. Dia mengatakan lebih baik mencintai dan berbahagia walaupun bersedih karena perpisahan,” ucap Evander tak yakin. Ia menggaruk pipinya untuk mengingat kata-kata yang sudah dibacanya dan sempat meresap ke kepala. Ia sungguh ingin menyampaikan pada istrinya sebagai penguat.


Ariana mengerutkan dahi, lalu terkikik geli, “Dasar bodoh!”


“Apa aku salah ketika mengutip kata-kata itu?” tanya Evander dengan seringai lucu.


“Begini bunyi kutipannya, lebih baik mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah mencintai sama sekali, itu adalah kata-kata dari Tennyson!” jawab Ariana, membenarkan kalimat bijak yang berantakan dari suaminya.


“Ehm, ya maksudku seperti itu. Intinya aku tidak menyesal karena mencintaimu, My Love!”


“Aku juga tidak! Aku mencintaimu, Evan … sangat mencintaimu!”

__ADS_1


***


__ADS_2