
Dokter Steven uring-uringan karena Ariana izin cuti hingga satu minggu. Sahabatnya itu mengatakan perlu berkabung untuk 'kematian' Evander. Dan Ariana sungguh-sungguh menikmatinya dengan larut dalam kesedihan dan kehilangan, mengenang suaminya setiap waktu tanpa mau diganggu.
“Jangan bunuh dirimu dengan hal konyol, Ariana! Aku sangat tidak suka kau mengurung diri di dalam kamar dan menghabiskan waktu hanya dengan memandang laut seperti ini!” ujar dr. Steven dengan nada sedikit keras.
“Aku memang ingin mati, Steven! Aku merasa tidak bisa hidup tanpa Evander. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana sakitnya aku di dalam sini!” kata Ariana sambil mengusap dadanya. Dengan air mata yang kembali meleleh perlahan. Mulanya tanpa suara, tapi lama-lama menjadi sebuah isak yang memilukan.
“Aku mengerti, tapi kau harus kuat! Kau sudah berjanji pada Evander untuk menunggunya jika mungkin ada takdir pertemuan kedua.”
Steven memeluknya, menenangkan dengan beberapa kalimat lembut dan usapan di bahu, hingga tangis Ariana sedikit mereda. “Aku sangat tertekan dan kehilangan, Steven!”
“Aku sangat paham, Ariana. Kau wanita kuat, kau pasti bisa melewati semua kesedihan ini.”
Ariana menceritakan semua kisah dan perasaannya yang ikut pergi ke masa lalu bersama Evander. “Aku tidak berharap kau percaya, tapi aku merasa kurang enak badan selama satu minggu ini. Maksudku, seperti orang yang benar-benar sakit.”
“Kau ingin aku memeriksamu?”
“Ya, lakukanlah! Aku butuh pemeriksaan intensif. Aku kehilangan selera makan,” keluh Ariana.
Mendengar itu istri dr. Steven langsung membuatkan bubur hangat. “Kau ingin aku membuat susu juga?”
“Aku tidak ingin makan ataupun minum,” decak Ariana sembari menggeleng.
__ADS_1
“Gejala apa yang kau alami? Yang paling mengganggu, setidaknya kau tau penyebab medis dari sakitmu, kau seorang dokter!”
“Aku mulai tidak bisa tidur di malam hari, Steven! Mimpi buruk perpisahan di dermaga sangat menggangguku. Aku mendadak tidak suka bau bawang … dan aku merasa gusiku gatal! Kau tau maksudku, tepat di atas gigi taring?” tanya Ariana penuh maksud.
“Astaga … kenapa aku tidak berpikir sejauh itu? Apa Evander menggigitmu?” Steven menyibak syal Ariana, mencari bukti bekas gigitan Evander.
“Ya, di sini!” Ariana meraba lehernya, mencoba menunjukkan sesuatu pada Steven.
“Bekasnya tidak ada sama sekali, menghilang begitu saja …?” desis dr. Steven tak yakin.
Ariana mengerang, “Benarkah? Bagaimana dengan gigiku? Periksa juga kelopak mataku, Steven! Jangan sampai racun Evander mengubahku menjadi penghisap darah!”
Dokter Steven secara memeriksa menyeluruh apa yang diminta Ariana, mengenai ciri-ciri khusus yang biasanya melekat erat dengan vampir. Ia baru menyimpulkan pendapatnya setelah satu jam berkutat dengan buku dan gejala yang dikeluhkan Arana.
“Jangan biarkan aku minum darah manusia, Steven! Sekali aku menyukainya, aku takut tidak bisa berhenti dan tidak bisa mengendalikan diri untuk menghisap darah secara langsung. Oh … Steven, bagaimana bisa aku bersuamikan pria brengsek yang tega mengubahku menjadi vampir di saat dia pergi?”
Dokter Steven memicingkan mata, “Hm, apa Evander mengatakan kemungkinan adanya perubahan ini padamu?”
“Tidak! Evan mengatakan racunnya hanya sedikit yang masuk ke dalam tubuhku, racun itu dia berikan untuk memberiku kekebalan, bukan untuk mengubahku menjadi seperti dirinya. Evan lebih suka aku tetap menjadi manusia biasa, gejala ini sama sekali tidak seperti yang dikatakan olehnya. Aku belum lupa apa saja yang disampaikan Evander!”
Dokter Steven berpikir keras, “Bisa saja apa yang dikatakan Evander salah, maksudku tidak terlalu tepat. Kau terbukti mengalami gejala yang sama dengan manusia yang akan berubah menjadi vampir. Pola tidurmu juga mulai berubah. Jika kau mampu mengkonsumsi darah manusia … bisa dipastikan kau adalah bagian dari Evander.”
__ADS_1
Ariana menggeleng marah, “Aku tidak akan pernah sedikitpun minum darah kaumku sendiri, Steven! Jangan biarkan aku jadi penghisap darah yang kejam! Bawakan saja aku darah sapi setelah kau selesai bekerja, atau aku akan menghisap darahmu sebagai gantinya!”
“Ayahmu bisa mati berdiri jika mengetahui fakta ini, Ariana! Kau tahu dia sedang mengatur pernikahanmu dengan Jonathan. Pesta besar bulan depan, semua orang sudah tahu berita ini … maaf aku tidak berani mengatakannya padamu!” tutur dr. Steven dengan ekspresi menyesal.
“Astaga!” Ariana mengacak-acak rambutnya, menjambaknya sendiri dengan frustasi. Sepertinya ayahnya harus diberitahu dengan cara lebih keras. Berapa kali lagi ia harus menolak Jonathan? Dan kenapa ayahnya itu cinta mati dengan Jonathan? Apa tidak ada pria lain lagi di Amerika yang bisa menikahinya selain Jonathan? Ariana merasa gila memikirkan rencana ayahnya.
Douglas memang sangat gembira ketika mengetahui kalau suami Ariana dinyatakan hilang. Kepingan bekas kapal Evander yang ditemukan di garis pantai menunjukkan kalau kapal itu hancur karena disambar petir.
Bersamaan dengan itu, pemberitaan badai petir aneh yang melanda laut lepas tapi sama sekali tidak meluas ke daratan Maine dimuat di media elektronik. Evander diberitakan sebagai nelayan yang tak selamat ketika sedang memancing, karena kapalnya terjebak di pusat badai dan hancur berkeping-keping.
“Maafkan aku, aku tidak tahu apakah masih bisa menolongmu lolos dari Jonathan kali ini. Doug mengancam karirku di rumah sakit jika aku mempengaruhi keputusanmu,” kata Steven masam.
“Aku akan mengatasi sendiri soal ayahku dan Jonathan,” sahut Ariana tak kalah masam. “Kau hanya perlu menyimpan rapat semua kisahku. Aku tidak ingin dianggap gila karena menikahi vampir penjelajah waktu. Aku rasa bukan hanya aku yang akan dibawa ke rumah sakit jiwa, tapi kau dan istrimu juga karena sudah membenarkan dan percaya dengan ceritaku yang terkesan mengada-ada!”
“Aku tidak pernah berpikir kalau cerita ini akan menjadi rumit.”
“Dan aku senang memiliki teman berbagi, setidaknya aku tidak gila sendirian. Kau dan istrimu yang terbaik, Steven!”
Seharusnya proses penyembuhan hati Ariana berjalan lancar karena Steven dan istrinya tidak pernah membiarkannya sendiri. Mereka selalu bertukar cerita dan penuh canda setiap hari. Hanya saja, Ariana memang masih sulit menerima kenyataan pahit hidupnya.
Tiga hari berikutnya, Ariana memutuskan menjalani perubahan rutinitas, baik di rumah ataupun bekerja. Ia mulai mengatur jadwal kerja di rumah sakit pada waktu malam dan menghabiskan siang dengan tidur. Ia tidak banyak mengkonsumsi makanan manusia, tapi menggantinya dengan minum darah segar dari binatang ternak, untuk memudarkan rasa hausnya.
__ADS_1
Ariana tidak tinggal diam dengan kondisi tubuhnya. Ia dan dr. Steven melakukan sejumlah penelitian untuk menghentikan perubahan metabolisme tubuhnya. Banyaknya kesibukan itulah yang membuat Ariana bisa sedikit melupakan kesedihannya.
***