
Evander merebahkan dirinya di kamar, memejamkan mata agar tidak kembali muntah. Ia berniat tidur sebentar agar rasa tak nyaman pada tubuhnya berkurang.
“Kau sakit?” Ariana duduk di tepi ranjang, memegang lengan Evander. Merasa bersalah.
Sebagai dokter, baru kali ini Ariana tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengatasi mual dan muntah Evander. Tubuh Sang Count tetap dingin, wajahnya juga tidak menunjukkan perubahan, pucat seperti yang Ariana lihat setiap hari.
Ariana tidak berani memberikan obat manusia pada vampir di depannya. Ia tidak ingin menjadikan Evander sebagai bahan percobaan. Sudah cukup pasta mie dan darah sapi yang membuat Evander sakit, ia tidak akan menambah rasa sakit itu dengan memberikan sembarang obat.
“Aku akan membaik setelah beristirahat!” jawab Evander. “Jangan terlalu khawatir, Ana! Setengah piring pasta cacing tidak akan membunuhku!”
“Jangan bercanda, Evan! Kata-katamu sangat tidak lucu,” gerutu Ariana. Ia mengusap-usap lengan Evander yang masih memejamkan mata. “Maafkan aku, Evan! Aku sengaja tidak menyimpan darah manusia di lemari pendingin, maksudku … agar kau terbiasa tidak minum darah manusia.”
“Aku tidak masalah, Ana!”
“Manusia masih bisa hidup sehat dan normal hanya dengan menjadi Vegetarian. Aku pikir kau juga bisa survive dengan darah hewan,” terang Ariana menyesal.
Evander masih sempat menertawakan ekspresi cemas di wajah Ariana, “Kau tidak perlu merasa bersalah, aku memang harus beradaptasi jika ingin beristrikan dirimu! Kau manusia … wajar jika menginginkan seorang pria yang juga bisa berkelakuan normal seperti manusia.”
“Maksudku tidak sejauh itu!” potong Ariana tegas. “Aku hanya mencoba mencari solusi untuk mengganti makanan utamamu!”
“Kau tidak mungkin bisa bercerita dengan bangga ketika mengatakan ‘kekasihku seorang penghisap darah’. Rekanmu pasti akan lari dan kau dicap gila!” tutur Evander, melanjutkan kalimatnya yang dipotong Ariana.
“Aku sungguh tidak berpikir seperti itu, Evan!”
Evander menebak, “Kau masih takut aku menghisap darah manusia secara langsung! Benar?”
“Ya, aku takut kau diburu karena melakukan hal itu, meski kau sudah mengatakan yang kau lakukan hanyalah untuk bertahan hidup, seperti gelandangan yang harus mencuri karena kelaparan, tapi aku tetap khawatir dan harus mengantisipasi yang belum terjadi, Evan!”
__ADS_1
“Aku sudah berjanji padamu untuk tidak mengganggu manusia selama tinggal di zamanmu, Ana! Tidakkah kau percaya padaku? Aku hanya menggigit satu gadis dan tidak menebar racun, gadis itu masih hidup normal, kan?”
Ariana membenarkan, “Ya … tapi tetap saja aku khawatir, entahlah! Mungkin kau benar, aku tidak akan bangga jika memiliki kekasih seorang vampir penghisap darah! Mungkin aku egois karena memaksa kau harus hidup seperti aku.”
“Jadi kau tidak bersedia menjadi kekasihku karena aku seorang vampir?”
“Aku akan memikirkannya!” jawab Ariana lirih. Tak yakin dengan dirinya sendiri. Ia sangat menyukai Evander, tak bisa dipungkiri lagi.
Evander menyambung, “Aku bahkan ingin menikahimu!”
Ariana spontan tertawa, “Kau sungguh pandai bercanda, Evan!”
“Aku mencintaimu, Ana! Aku serius.”
Ariana membeku, ia memang tertarik … sangat tertarik dengan Evander. Tapi untuk bersama dalam cinta selamanya serasa tidak mungkin. Hubungan mereka tidak memiliki masa depan yang jelas, apalagi sebuah pernikahan. Evander akan kembali ke masa lalu sendirian, dan Ariana akan tetap melanjutkan hidupnya yang sepi di zaman ini. Sendiri.
Evander sama pusingnya dengan Ariana. Ia memikirkan benang takdir yang menjerat hidupnya. Evander mulai ragu kalau takdirnya adalah menjadi pemimpin klan vampir yang menguasai London. Jangan-jangan takdirnya adalah bertemu Ariana dan jatuh cinta, memiliki keluarga yang hangat dan hidup bahagia!
Bukankah selama ini keluarga besar Count Drakula hanya menganggapnya sebagai pangeran tak berguna? Vampir cacat yang tidak memiliki kelebihan mengendalikan cuaca dan lainnya? Padahal sihir dasar itulah yang selalu bisa menyelamatkan para vampir dari pemburu.
“Aku tidak akan menyakitimu, Ana!”
“Aku tahu, kau sudah membuktikannya!”
“Jadi apa kau mau menjadikanku kekasih? Kau bisa mencobanya seperti aku berusaha makan pasta cacingmu, kita hanya perlu terbiasa satu sama lain untuk mendapatkan kecocokan, Ana!”
“Kau benar! Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya,” kata Ariana yakin. Mungkin ia sudah gila karena berani menjalin hubungan cinta dengan vampir yang tersesat di rumahnya.
__ADS_1
Evander tersenyum lebar, “Steven mengatakan kapalku besok datang, aku harus latihan bersama instruktur. Kau mau menemani?”
“Ya, jika aku sedang tidak ada pekerjaan! Bukankah aku harus memberi semangat pada kekasihku?”
Evander menarik Ariana masuk ke dalam pelukan hingga rasa mualnya hilang. “Terima kasih, aku akan membayarnya dengan ciuman yang hangat setiap hari!”
Ariana memeluk erat Evander, tidur berbantalkan lengan kokoh kekasihnya, “Boleh aku tidur? Aku harus kerja pagi sekali besok!”
“Ya!” jawab Evander tersiksa.
Gambaran bercinta dengan Ariana terus saja menggoda dan terbayang, dan terbayang dan terus saja terbayang. Evander bergerak gelisah dan tak nyaman. Tak bisa tidur, sementara Ariana sudah lelap dalam mimpi indahnya.
Keesokan harinya, Steven datang bersama seorang instruktur. Pria berbadan besar, berambut cepak seperti tentara itu mengajari Evander teori mengemudikan kapal selama dua jam.
“Apa kau sudah paham, Evander?” tanya Sang Instruktur, menatap tajam pada vampir yang memasang wajah bosan padanya.
“Ya aku paham! Sejauh ini belum ada pertanyaan.”
Evander sudah sangat tidak sabar untuk praktek membawa kapal di laut lepas. Pelajaran teori seperti itu bisa dibacanya di komputer Ariana. Ia yakin memiliki kecepatan untuk belajar sesuatu dengan membaca.
Sang Instruktur membawa Evander ke laut ketika matahari telah terbenam. Mereka menghabiskan waktu hampir tiga jam malam itu, dan diulang setiap harinya untuk berlatih.
Instruktur tidak lagi datang di hari ketujuh, setelah Evander mahir membawa kapal kecil ke tengah laut dan mengatasi kemungkinan kerusakan sendiri.
Evander patut berbangga diri, rencana dan persiapannya untuk pulang ke masa lalu semakin matang. Sementara Ariana semakin terjebak oleh rasa takut kehilangan dan tak siap dengan perpisahan.
***
__ADS_1